CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)

CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)
Hancur berkeping-keping


__ADS_3

Rudi


Kegelisahan ku benar, sejak semalam ku fikir kemana adik ku tertidur,tapi rasa oleng karena mabuk mengalahkan pemikiran, memaksa ku menundanya lebih dulu


"Bangsat kamu Bim, bangsaaatttt"


bugg


sebuah pukulan tak ayal melesat mengenai rahang kiri ardhan, Rudi mungkin sudah kesetanan saat mendapati tubuh Ayudia tidak mengenakan apapun, bangun dengan perasaan bingung Kemudian menangis sambil bertanya


"Kenapa aku disini? ada apa ini?"


bicara sambil tangan kirinya terus memegangi kepalanya, kemudian Ayudia menangis histeris saat tahu yang terjadi, noda darah tampak masih bersisa di atas kasur yang mereka tiduri


mama Ainun menatap marah, memeluk Ayudia dengan erat. papa Cakra tampak kehilangan kata-kata.


seingat Rudi semalam anak ini salah minum, dia sudah memperingati ardhan agar kembali lebih cepat untuk mengawasi Ayudia tapi bukan dengan cara menidurinya


"Bangsat kamu Bim,apa yang kau lakukan Bim?kamu memanfaatkan anak di bawah umur karena mabuk,bahkan dia belum tamat SMA dia masih anak-anak, kamu bahkan lebih pantas jadi bapak nya"


buggg


Rudi kembali menghantam ardhan dengan pukulan nya, laki-laki itu sempat terhuyung tapi mencoba bertahan. Dion dengan kuat mencoba memegangi dirinya seakan berkata istiqfar rud, istiqfar


"Rud nyebut, nyebut"


Rudi menangis histeris


"Itu adik gua Dion, adik gua"


"Maafkan aku rud, aku... benar-benar tidak sadar aku pasti sudah gila"


ucap ardhan masih dengan perasaan Bingung

__ADS_1


******


Ardhan


Sekelebat ingatan dipaksanya untuk mengingat soal semalam, efek anggur yang dia minum membuat adrenalin nya tiba-tiba memuncak, belum lagi memang hasrat itu muncul beberapa waktu tanpa dia ketahui alasan nya,semalam antara sadar dan tidak dia merasa ada Ayudia di sampingnya, sejurus kemudian dia lupa apa yang telah dia lakukan, dia pasti sudah gila.


Tidak dia pedulikan lagi sakit karena pukulan yang diberikan Rudi, dia hanya menatap kasur yang masih menyisakan noda nya Kemudian menatap ayudia dengan sejuta perasaan bersalah, dia meraup kasar wajahnya, menarik kesal rambutnya sendiri.


"Maafkan aku rud, aku... benar-benar tidak sadar aku pasti sudah gila"


ucap ardhan masih dengan perasaan Bingung


plakkk


bahkan tamparan yang di berikan mama nya pun sudah tidak berada lagi untuk dirinya


"Kau membuat mama kecewa, Bim"


"mama bagaimana menjelaskan nya pada abas?bahkan adik mu Jerry... Bima...dia menyukai ....oh ya Allah astagfirullahhul'adzim"


tampak kesedihan mendalam terpatri di wajah mama nya


"Kembali ke Jakarta sekarang, kita akan selesaikan semuanya disana"


papa nya bicara dengan nada ditekan, kilatan api amarah tampak begitu jelas Dimata papa nya itu


"Kau ingin membuat papa kehilangan muka, bahkan di hadapan Abas juga semua orang"


*******


Ayudia


Saat semua orang masuk ke kamar, dia tampak bingung, pak Dirut juga seperti orang Ling Lung, masih sempat menutupi tubuhnya agar tidak terlihat oleh siapapun, seakan bertanya ada apa dengan kita.

__ADS_1


Seketika karena rasa sakit mendera di bawah sana,dia menangis tidak mau berhenti, apalagi samar-samar ingatannya soal semalam masih terasa di dalam Kepala nya


jadi itu bukan mimpi


Fikir nya


karena semalam dia fikir dia sedang bermimpi, dia fikir wajah pak Ardhan yang tiba-tiba berada di hadapannya juga hanya bayangan semu, ketika dia membalas ciumannya dia fikir hanya sejumput mimpi tapi rupanya semuanya bukan mimpi, semuanya nyata, dan itu semua karena apa yang dia minum semalam, yah dia fikir pasti karena apa yang sudah dia minum semalam hingga membuat kesadaran nya menjadi sangat kacau dan tidak normal.


dia tidak juga terlalu bodoh saat melihat noda darah di atas kasur dia yakin itu pasti adalah miliknya, karena menurut beberapa teman juga laman yang dia baca,orang yang pertama kali melakukan nya rata-rata akan seperti itu, meskipun tidak dipungkiri ada juga yang sama sekali tidak mengeluarkan noda seperti itu karena sebuah kecelakaan kecil seperti saat sedang bersepeda dan lain nya.dan Seketika dia menangis histeris, dia fikir dia pasti sudah gila!


Ditambah lagi saat kak Rudi masuk dengan wajah yang begitu penuh kemarahan, menatap dia dengan tatapan yang tidak dia mengerti, kemudian mama Ainun yang tampak kecewa, belum lagi papa Cakra, belum lagi kak Rudi yang tiba-tiba memukul pak ardhan beberapa kali, mama juga yang menampar ardhan membuat ayudia semakin bingung, dia menangis tanpa berani bicara.


bahkan papa nya Dirut dengan cepat memerintahkan mereka pulang ke Jakarta pagi ini juga, semuanya harus di selesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya. bahkan selama berada di pesawat tidak ada yang saling bicara, membuat Ayudia semakin merasa kacau dan frustasi dalam seketika.


dia bingung apa yang akan terjadi selanjutnya, ini kesalahan besar, bagaimana sekolah nya, bagaimana dengan magangnya,bagaimana dengan mang Abas, bagaimana dengan Mak dan bapak nya bahkan bagaimana dengan cita-citanya?


patutkah dia membenci pak ardhan?dapatkah di bilang laki-laki itu telah mengambil kesempatan dalam kesempitan? tapi laki-laki itu juga malah terlihat bingung dengan Semua nya.


********


Mama Ainun


Saat Rudi bertanya dimana ayudia mama ainun merasa cukup terkejut, dia fikir bukankah anak itu semalam pulang bersama Dion? lalu kenapa anak itu tidak ada di kamarnya?


mereka tanpa sadar kehilangan anak itu sejak semalam,dan ardhan belum juga kelihatan batang hidungnya.saat di tanya pada sang sekretaris juga asisten kepercayaan nya si Dion, bujangan itu berkata semalam pintu kamar Ayudia terkunci dari dalam,dia mengantar tidur anak itu ke kamar ardhan.


Tidak tahu kenapa,tapi firasat seorang ibu seakan berkata jangan-jangan telah terjadi sesuatu kepada kedua anak itu, jangan-jangan ardhan....


tapi buru-buru mama Ainun membuang dan menepis semua pemikiran tidak masuk akalnya, tapi tidak tahu kenapa firasat suaminya mengatakan hal yang sama, dengan cepat meminta Card ID cadangan pada pihak resepsionis dan membuka paksa pintu hotel kamar ardhan


Dan mereka mendapatkan kenyataan jika ardhan benar-benar telah tidur satu kasur dengan gadis itu tanpa menggunakan apapun. saat mereka masuk masih dengan memegangi kepalanya putra sulungnya itu bertanya bingung ada apa, namun begitu sadar ada ayudia disamping nya dia langsung kehilangan kata-kata, bahkan ketika melihat noda darah di atas kasurnya dia pun hanya bisa mengucap istighfar berkali-kali.


Dia merasa bersalah,sangat merasa bersalah. memeluk Ayudia dengan erat, membiarkan anak itu menangis meraung-raung dipelukan nya. dia hanya berfikir bagaimana nasib anak ini besok, bahkan dia belum menyelesaikan SMA nya, mereka harus mencari keputusan paling bijaksana sehingga Jagan sampai membuat masa depan anak itu musnah seketika Karena kesalahan satu malam yang telah dilakukan putra sulungnya.

__ADS_1


__ADS_2