
Eta
Suasana rumah keluarga abimanyu tampak mencekam, Gadis yang bernama ayudia sejak kembali bersama mama,papa dan bang ardhan di bawa oleh mama agar segera beristirahat di sebuah kamar besar milik abang ardhan, membiarkan nya tidur untuk beberapa waktu kemudian dengan cepat mama turun ke lantai bawah menuju ke ruang tamu
eta yang sudah dihubungi mama Ainun sejak pagi langsung meluncur dengan cepat dari Bogor menuju ke Jakarta
"ini darurat"
itu kata mamanya tadi pagi saat ditelepon
Dia sulit menebak apa yang sebenarnya terjadi, namun saat melihat seorang gadis kecil dibawa mama nya masuk menuju ke kamar ardhan, seketika jiwa ke ibuan dan juga jiwa ke psikologisanya muncul.dia yakin telah terjadi sesuatu di antara mereka.
Apalagi ekspresi wajah papanya sungguh terlihat tidak baik, belum lagi akak rudi teman abang ardhan nya itu yang dulu sering mondar-mandir ke rumah dan begitu akrab dengan Kakak nya itu tiba-tiba menampakkan ekspresi yang sangat tidak bersahabat dan penuh kebencian.
"Kita akan cari jalan tengahnya, biarkan bima menikah secara sirih dengan ayudia"
ucap Rudi cepat
"Ini keputusan buruk rud, kita tidak mungkin menikahkan siri mereka"
"Lalu bagaimana Tante? menikah beneran? lalu bagaimana dengan masa depan Ayudia? dia masih punya banyak hal yang harus dia capai, bahkan ujian nya masih lama, semua nya hancur hanya dalam satu malam karena Bima"
"Apa Bima patut dirugikan? tidak! ayudia yang dirugikan disini"
"Rud"
ardhan mencoba bicara
"atau jangan-jangan kau tidak berniat untuk bertanggung jawab Sama sekali"
"Bukan seperti itu"
"Tante lihat jawaban nya? Dia tidak sedang tertarik untuk menikah, tapi hanya ingin menidurinya saja"
"Rud "
"Kalau begitu kau tahu harus berbuat apa"
"Aku tahu, tapi tolong beri aku waktu..."
"Waktu apa? waktu berfikir? waktu untuk menolak?"
"Biarkan aku menyelesaikan kata-kata ku dulu"
"Berhenti berdebat"
papa nya tampak marah
"kondisi semalam kita tidak tahu jadi nya bagaimana kedepan nya, jika anak itu hamil apakah dengan menikah sirih akan menyelesaikan masalah?"
papa bicara cepat ke arah Rudi
"Dan jangan pernah berfikir untuk pulang ke rumah hingga semua urusannya selesai"
"Jangan biarkan anak itu masuk ke kantor dulu untuk magang"
"Itu akan menambah kecurigaan pa"
terlihat abangnya ingin protes
"Kau hanya akan menambah tingkat trauma yang mendalam untuk nya"
"Pa"
eta sejak tadi Mencoba untuk mendengarkan semuanya lebih dulu baru berani ikuti bicara, dia paham cerita nya. didalam hati dia terus mengucap istighfar, merasa tidak percaya Abang nya bisa melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu bahkan terhadap anak di bawah umur. ini benar-benar gila fikir nya.
__ADS_1
"Pa"
eta menggenggam tangan papa nya hangat, menatap bola mata pria tua itu beberapa waktu
"Boleh eta yang menengahi? memberikan sedikit solusi?"
papa nya diam sejenak
"Eta sering menghadapi masalah begini di Bogor dan Bandung saat bersama mas Koba"
eta berusaha menyakinkan papanya
karena suaminya bekerja di bagian investigasi,belum lagi eta sering kebagian jatah mengurusi anak dibawah umur sering ter hep di kamar hotel dengan bukan pasangannya, maka untuk hal seperti ini terlalu sering ada didalam penanganannya jadi papa nya akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah
"Disini yang berlaku ada 2 orang kan? aku yakin Abang bukan type laki-laki pengecut kan?"
eta mulai bicara
"saling adu kekuatan ataupun berebut diri untuk menjadi orang yang egois juga bukan solusi"
eta bicara sambil melirik secara bergantian ke arah Abang nya dan kak Rudi, bisa dilihat Raut malu di wajah 2 orang dewasa itu
"sekarang yang paling penting bicara dulu sama anaknya, dia yang paling butuh suport saat ini bukan Abang atau kita"
"kenapa kita menghalangi anaknya bisa bergerak seperti biasanya? itu malah akan menambah tingkat stress untuk dia, biarkan anaknya bergerak seperti biasanya, menjalani hari normal dulu seperti biasanya juga, jangan buat tertekan dulu, dia belum 17 tahun kan? jiwanya masih begitu labil dan tertekan karena kejadian ini, so stop jadi orang-orang egois"
ucap era lagi
"he has the right to determine his own future (Dia punya hak untuk menentukan masa depannya sendiri) tapi bukan berarti Abang lepas dari tanggung jawabnya atau kita membiarkan dia berbuat se enakya. Biarkan eta bicara sama Ayudia lebih dulu, setelah itu baru kita susun pernikahan seperti apa yang dia mau, Karena dia juga punya hati, berhak mengeluarkan semua perasaan nya"
"Biarkan malam ini semuanya istirahat dengan normal semuanya, ayudia biarkan eta yang mengurus nya"
"eta yakin Abang juga butuh waktu mencerna semuanya di apartemen,akak Rudi butuh waktu menjernihkan fikiran dan menetralisir kan perasaan"
"Kita akan temui keluarga kakak dalam 2 hari, percayalah pada kami"
******
Ayudia
Setelah mendengar banyak keributan di bawah, tiba-tiba semua nya menjadi hening. Tidak tahu kemana semua orang, tapi semuanya seperti nya telah bubar.
Ayudia masih menangis sesenggukan, dia menekuk kakinya ke tepi ranjang, sambil kepalanya berada di atas lengan kirinya. dia hanya merasa seakan-akan menjadi pendosa dan begitu bersalah.
Saat pintu kamarnya tiba-tiba di ketuk oleh seseorang, lantas terbuka secara berlahan,Ayudia hanya menoleh sepintas kemudian kembali menekuk tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya.
sebuah tangan lembut mengelus hangat kepalanya
"Semua baik-baik saja,Ayo makan sama kakak"
suara itu terdengar begitu lembut di telinga nya, Ayudia mendongak, menatap orang yang bicara dengannya, seorang perempuan cantik yang usianya lebih muda dari pak ardhan
perempuan itu menggenggam hangat tangannya, tersenyum begitu lembut sambil menyentuh pelan wajahnya
"Ah ternyata wajah kamu cantik banget yah, nggak heran katanya favorit anak-anak di sekolah"
goda nya
Ayudia langsung tersenyum saat mendengar kakak itu bicara menggoda
"Pantas banyak yang patah hati, kakak juga kalau laki-laki pasti jatuh cinta sama kamu nih, jadi nambah satu saingan nya"
ucapnya lagi sambil tertawa kecil
Ayudia ikut tertawa mendengar candaan perempuan itu
__ADS_1
"Kakak lapar banget, tadi pulang bawa bakso sama soto, ay mau?"
Ayudia diam sejenak, menggigit bibir bawahnya. tiba-tiba perutnya mengeluarkan sebuah suara
"Nahhh lapar ternyata"
seketika rona pipinya memerah
"Makan sama kakak yah"
Ayudia mengangguk pelan, perempuan itu dengan cepat meraih tangannya agar ikut turun ke bawah
"Mama sama papa mama?"
suara serak Ayudia keluar berlahan, bertanya cepat ke arah perempuan itu setelah mereka sudah sampai di dapur
"Istirahat kayaknya, ee kakak belum memperkenalkan diri kakak sama kamu"
Ayudia diam sejenak
"kamu panggil kak eta, kakak adiknya bang ardhan,kakak perempuan nya si Jerry"
"Ah.."
Ayudia mengangguk-anggukkan kepalanya cepat
"mama sama Bapak Dirut pernah cerita soal kakak"
kak eta tertawa kemudian menghangatkan bakso ke dalam sebuah panci kecil disusul oleh kuah soto
******
eta
Tidak heran kalau Abang sampai begitu, sampai khilaf sama ini anak, wajahnya memang cantik alami bahkan bisa dikatagorikan ciptaan tuhan paling sempurna.
aku sampai pusing memikirkan nya,bagaimana cara Abang bisa bikin ini anak bisa tidur dengan dia meskipun dalam keadaan mabuk. masih sekecil ini, 17 tahun saja belum. oke seleramu bang aku acungin jempol, tapi usianya bikin aku geleng-geleng kepala, aku fikir kamu bakal kepincut perempuan high clas dengan usia di atas rata-rata, model, polwan, sekretaris, pramugari,dokter, perawat atau entah yang memang seperti almarhum kak arletta tapi ini seorang anak-anak.
eta sampai geleng-geleng kepala sejak tadi, bicara dari dalam hatinya sambil terus mengajak Ayudia ngobrol ngawur ngidul tapi masih dalam konteks nya.
"Abang Bima itu orangnya baik, tapi sedikit kaku dan pemarah"
Ayudia mengangguk-angguk
"Dia seperti beruang kutub berkulit bunglon"
ucap ayudia tiba-tiba
eta membelalakkan matanya
"Hah kok begitu?"
"Hatinya suka berubah-ubah, tapi wajahnya begitu kaku"
Ayudia mulai mau bicara terbuka, bicara sambil memonyongkan bibirnya
"Waktu pertama kali ketemu juga nggak enak banget, terus bilangnya ay ramah di depan ibu guru, padahal maksud pak Dirut itu menyinggung soal kesan pertama ketemu"
"Memangnya gimana ketemu pertama?"
eta malah tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ayudia
"Kak"
wajah ayudia malah memerah
__ADS_1
"Baiklah, kakak baru tahu dia punya julukan baru seperti itu"
Ayudia tetap tersenyum malu, seakan-akan lupa soal ke jadian semalam,eta terus mengajaknya mengobrol dan membicarakan soal Abang ardhan tentang banyak banyak hal, dia ingin tahu bagaimana perasaan anak itu soal Abang nya dan mau di bawa kemana hati nya setelah ini