
Ayudia
Seketika bola mata ayudia memerah, saat mendengar semua penjelasan ardhan, secara halus, berlahan dan sangat detil serta terdengar jelas sekali di balik ditelinga nya.
Jelas saja air mata ayudia langsung tumpah tanpa dapat dibendung, dia menangis histeris, terisak sambil tangannya mencoba menggapai apapun yang ada disekitarnya.
"Bapak sehat-sehat saja kok, bapak bilang akan ke Jakarta beberapa hari lagi, mau lihat Hanif"
ayudia berkata sambil berusaha berdiri, mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada, dia hanya bingung, bibirnya bergetar,air matanya tidak mau berhenti tumpah bahkan pandangan terus mengabur sejak tadi.
"Mak sendiri juga bilang bapak bakal ke sini sama Wulan dan Aidil, Abang sendiri yang bilang tempo hari bapak akan ke sini kan?"
ayudia terus menangis tersedu-sedu, mencoba mencari kopernya
"Kalau tidak kita pulang ke Palembang besok pagi, bapak sehat-sehat saja, bapak sudah janji mau lihat Hanif dulu"
setelah mendapat kan koper nya dia berusaha menarik nya keluar dari walk in closed
"Sayang"
ardhan ikut mengeluarkan air mata, mencoba terus mengejar langkah ayudia
"Bapak sudah janji Abang, mau lihat ay dan Hanif, bapak bilang rindu kami bang, Abang bohong kan, semua ini hanya mimpi kok"
ayudia terus bicara kemana-mana, hatinya hancur, dia yakin kalau ini cuma kebohongan atau bahkan mimpi belaka.
"Abang bohong sama ay, Abang bohong"
kali ini Ayudia berteriak histeris, dia memukul Berkali-kali tubuh sang suami
"ay istiqfar, istiqfar"
ayudia terus berteriak melengking, menangis meraung-raung tanpa bisa berhenti. ardhan meraih tubuh mungil itu secepat kilat,. mendekap dan memeluknya erat.
Ayudia terduduk, jatuh kedalam dada bidang sang suami, menangis tersedu-sedu tanpa mampu berhenti. tubuhnya lemas, kaki seperti tidak memiliki tenaga,jam didinding terasa sangat lama sekali berjalan,bahkan suara angin malam seakan menertawai dirinya.
__ADS_1
Kehilangan seseorang yang berharga itu seperti kehilangan pegangan, tiba-tiba saja seperti ditelan angin,kenangan bersama nya jauh pergi entah kemana, ingin menyentuh wajahnya tapi malah tahu-tahu menghilang begitu saja, bahkan moment yang tercipta kemarin terasa berputar dikepala tapi sama sekali tidak bisa kembali.
masih terpatri diingatan Ayana bulan kemarin setelah lahiran mereka melakukan Vidio call. sang bapak menangis bahagia, sesekali menghapus air matanya sambil melihat baby Hanif yang baru selesai di mandikan sama para perawat, sedangkan tubuh Ayana masih lemah.
"Belagak nian cocong nek nang (ganteng banget cucu kakek)"
"Lek neng nak ke rumah Abang Yo, tunggu nek nang nilek jingok cocong nek (nanti kakek ke rumah Abang ya,tunggu nanti kakek langsung lihat cucu kakek)"
"Ay sehat be? dak Ado masalah dengan kelahirannyo? ( ay sehat kan? nggak adaasalh sama kelahiran nya?"
"Alhamdulillah bak, sehat dak Ado masalah (Alhamdulillah pak, sehat tidak ada masalah)"
"Rindu nian samo ay, nak meluk cium anak bak sikok ini (Rindu banget sama ay, pingin peluk cium anak bapak satu ini)"
Tetesan air mata bapak masih terngiang di ingatan ayudia
"Bapak men latek halangan Minggu depan balek (bapak kalau nggak ada halangan Minggu depan pulang)"
tapi siapa sangka kalimat Minggu depan pulang bukan pulang ke Jakarta, namun pulang selamanya ke sisi Allah. Bahkan bapak belum sempat memenuhi keinginan nya untuk memeluk dan mencium Ayudia untuk yang terakhir kalinya.
"Bang... ayo kita pulang, pulang kerumah, lihat bapak"
******
Ardhan
Dapat dilihat sejuta kesedihan di balik bola mata Ayudia, lengkingan dan suara tangis memilukan menghantam relung hati ardhan yang paling terdalam, dia kehilangan kata-kata, bahkan tidak tahu harus bagaimana.
Waktu Ayudia meraung-raung sambil bergerak entah mencari apa Seperti orang kebingungan, ardhan hanya bisa berusaha menenangkan, mencoba meraih jemari-jemari kecil itu, mencoba menggapai tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam dekapannya.
Dia tahu kehilangan begitu sangat memberat, dia pernah berada di fase ini begitu lama, bersedih, menangis, merenung dan tidak tahu harus bagaimana. kehilangan pegangan, kehilangan sesuatu untuk dipertahankan. bahkan dunia rasanya berputar 180°, berharap semua hanya sekedar mimpi, dan saat bangun besok pagi semua akan kembali normal seperti biasanya.
apalagi saat Ayudia ngotot berkata kalau ini bohong, ini pasti cuma mimpi, ingin sekali rasanya ardhan menghibur dan berkata yah ini hanya mimpi, ingin berkata jika iya barusan dia hanya berkata bohong, tapi realita semua adalah kenyataan serta kebenaran yang tidak bisa dihindarkan lagi.
"Bang... ayo kita pulang, pulang kerumah, lihat bapak"
__ADS_1
Ardhan memeluk tubuh mungil itu, mendekapnya ke dalam dada bidangnya, terdengar jelas isakan tangisan yang tidak mau berhenti dari bibir imut sang istri.
"Iya, kita pulang besok sama Mak dan mama"
ucapnya pelan sambil memejamkan pelan matanya.
"Bersabarlah hati, yang datang dari nya pasti akan kembali padanya"
bisik nya pelan di balik telinga sang istri
********
Mak
Saat mendengar jeritan dan tangisan Ayudia dari arah kamar atas, dapat dipastikan ardhan pasti baru saja menyampaikan kenyataan soal bapak.
Mak hanya bisa menangis tertahan, menatap sang cucu Hanif yang tertidur lelap didalam box bayi, sang besan memeluk pelan tubuhnya, kemudian menggenggam erat telapak tangannya
"Semua baik-baik saja"
*******
Mama Ainun
Air matanya tumpah Seketika saat mendengar ayudia menangis histeris di atas, dia kehilangan kata-kata, hanya terpaku diam didalam gelap nya malam, menoleh ke arah mama Ayudia yang menatap dalam baby Hanif sambil menangis menahan isakan.
Dia hanya mampu mendekati wanita itu sambil memeluk nya erat, kemudian menggenggam telapak tangannya dalam jangka waktu yang lama.
"InsyaAllah semua akan baik-baik saja"
ucap nya pelan
*****
Cakra
__ADS_1
Dia hanya mampu menarik nafasnya Beberapa kali, tangisan Ayudia yang pecah di tengah malam membuat dirinya memejamkan pelan matanya, lantas dia beringsut mengambil wudhu untuk menunaikan sholat tahajud.