CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)

CINTA TERPAUT 18 TAHUN (2 Musim Yang Berbeza)
All it's well "Percayalah semua baik-baik saja"


__ADS_3

Mama Ainun


Dua hari lebih di rawat dirumah sakit membuat diri sang mama terus galau, itu artinya waktu telah berlalu Beberapa hari dan urusan sang putra kesayangan belum juga tuntas di selesaikan dan hal itu lagi-lagi membuat nya khawatir begitu dalam.Tapi entah kenapa kekhawatiran itu menghilang sesaat setelah melihat Ayudia tertidur pulas di atas karpet yang di bentangan ardhan tadi sesaat setelah mereka datang karena bergantian untuk menjaga dirinya.


dia pura-pura tertidur saat Ardhan memakaikan Ayudia sebuah selimut tebal yang di bawa eta kemarin, anak laki-laki nya itu tampak menyentuh pelan rambut Ayudia, mencium lembut kening itu anak untuk beberapa waktu, kemudian langsung beranjak mendekati sang mama.


Dia fikir ardhan mungkin benaran suka Ayudia, jadi dia tidak mesti khawatir soal hubungan ini kan? soal Jerry nanti dia akan mencoba untuk menjelaskan nya secara bijaksana dia yakin anak itu akan menerima nya, dan Ayudia serta ardhan secepat nya harus dihalalkan,dia ingin sang suami memastikan semua persiapan pernikahan itu agar segera terlaksana.


Terlihat Ardhan duduk di pinggir ranjang dimana dirinya tidur, sang sulung juga menarik pelan selimut sang mama, ardhan diam sejenak kemudian membungkukkan tubuhnya pelan sambil berbisik


"InsyaAllah Bima akan menemui om Abas besok disusul nemuin orang tua ay lusa, mama cepat sehat ya"


setelah berkata begitu ardhan mencium hangat pipi sang mama kemudian beranjak pergi dari sana, terdengar suara pintu depan terbuka tidak lama terdengar pintu tertutup secara lembut.


sang mama secara berlahan membuka matanya, mengintip sejenak kemudian mengembangkan senyumnya. dia hampir menangis, fikirnya pada akhirnya sang anak bakal nikah lagi juga setelah 5 tahun hidup dalam ingatannya soal arletta, mungkin dia egois karena beberapa waktu ini terus mendesak sang anak agar segera menikah, bahkan dalam tiap sholat serta doanya selalu terucap agar sang putra diberikan jodoh yang terbaik sebelum dia tutup usia. Dan ini benar waktunya ardhan membuka lembaran baru meskipun sebenarnya rencana awal Ayudia bukan untuk si sulung melainkan untuk si bungsu, tapi dia tahu rencana Allah pasti lebih indah daripada rencana mereka


“…mereka membuat rencana, dan Allah pun membuat rencana(pula). Dan Allah sebaik-baik perencana". (Qs. Al-Anfal: 30)


“Dan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik-baik perencana.” (Ali Imran: 54)


all it's well, all it's well


mama Ainun terus berkata didalam hatinya kemudian lanjut memejamkan matanya


*******


Edo


Edo terus menatap nanar langit-langit kamarnya, ingatannya soal kak Abdullah yang bilang akan membuat kejutan dan mau nembak Ayudia malam tadi cukup membuat dirinya menelan kasar ludahnya, dia cemburu yah dia sangat cemburu, tapi apalah daya dia tidak bisa menyuarakan rasa cemburunya. kecemburuan nya semakin meningkat saat laki-laki dewasa itu menyanyikan lagu didepan semua pengunjung sambil memberikan buket bunga dan mempersiapkan taburan bunga dari atas kepala Ayudia, belum lagi saat ekspresi Laki-laki itu waktu nembak Ayudia dengan cara yang sok cukup romantis segala.


Tapi semua sirna seketika, ada yang membuatnya lebih merasa cemburu dan marah, kenapa sang direktur tempat dimana mereka magang tiba-tiba naik ke atas stage? mengulur kan tangannya dan minta ayudia untuk pulang? dan kenapa Ayudia bukannya menolak? gadis imut itu bahkan menerima uluran tangannya dan meninggalkan kak Abdullah begitu saja di atas stage.


otaknya tidak bisa bekerja dengan baik, pemikiran nya buntu seketika, dia fikir ada apa di antara dua sosok orang itu? bahkan ayudia belum juga pulang kekontrakan nya sejak pamit bilang untuk mudik ke kampung Mak bapak nya sejak Minggu kemarin, bahkan Ayudia belum juga masuk magang hingga hari ini.


Dia ingin bertanya, bertanya dengan perasaan menggebu-gebu pada gadis itu, dia penasaran bahkan terlalu penasaran dengan semua nya.


Sempat terlintas di kepalanya, apa mungkin Ayudia tiba-tiba jadi simpanan Laki-laki berwajah tampan itu? laki-laki duda dengan sejuta pesona, Laki-laki yang selalu di bicarakan di kantor dari lantai bawah hingga lantai atas oleh para pegawai perempuan nya dengan berbagai gosip yang menyebar jika si tampan itu menjadi banyak incaran para perempuan dari banyak kalangan selama beberapa tahun belakangan, apa mungkin ayudia benaran jadi sugar baby nya sang Dirut? dan sekelabat ingatan soal candaan ayudia tempo hari tiba-tiba muncul di otak nya


"Kalau uang mereka banyak, akan aku pertimbangkan lagi dah.tapi ingat harus banyak do,banyakkkkkkk banget NOL di belakangnya biar bisa jadi ATM berjalan buat ku"


Edo Seketika menggeleng-gelengkan kasar kepalanya, dia fikir itu tidak mungkin, Ayudia bukan type anak gadis seperti itu,Ayudia punya harga diri yang begitu tinggi. Sudah berapa puluh Laki-laki yang dia tolak sejak kelas 1 kemarin? bahkan dari anak orang biasa sampai anak saudagar kaya, dari yang wajahnya biasa saja hingga tampan nya subhanallah dengan usia yang muda-muda,jelas semua telah ayudia gelengkan kepalanya, jadi tidak mungkin tiba-tiba anak itu menerima laki-laki dewasa dengan usia yang terpaut begitu jauh darinya yang bahkan mungkin lebih cocok jadi bapak nya meskipun tidak dipungkiri wajah tampan itu bisa menggoda iman, tapi usia mereka terpaut terlalu jauh, jika Edo tidak salah hitung mungkin selisih sekitar 16 tahunan.


"Do"


dan sebuah suara cukup mengejutkan dirinya dari lamunannya

__ADS_1


sang ibu tau-tau sudah nongol didepan pintu kamarnya


"bantu ibu sebentar"


Edo mengangguk,berdiri dengan cepat dari tempat rebahannya sambil membuang pemikiran tidak-tidak nya.


******


Ayudia


"Pak"


Ayudia tampak menatap wajah pak ardhan dengan perasaan kacau balau, sejenak terlihat ekspresi nya menjadi aneh, dia tampak takut, menarik lengan sang Dirut cepat


"Tidak apa-apa"


laki-laki itu mencoba menyakinkan dirinya


mamang Abas nya sudah duduk di ruang tamu sejak 1 jam yang lalu, ngobrol dengan papa Cakra sejak tadi sambil ber main catur dan sesekali menyesap kopi yang ada disampingnya, sedangkan kak rudi tampak duduk dengan wajah gelisah. papa Cakra sengaja datang bertamu ke rumah Mamang nya dengan alasan untuk bermain catur, padahal niat lainnya untuk membicarakan soal Ayudia dan putranya itu.


Ayudia pagi-pagi sudah bertamu lebih dulu ke rumah Mamang itu, langsung melesat ke dapur membantu sang Tante istri mamang nya untuk membuat bolu pandan didapur, setelah selesai melesat cepat keluar pura-pura menyiram tanaman di halaman depan


Ayudia mengintip sejak tadi dengan perasaan kacau balau dari arah pintu depan, tangannya mulai terasa kaku, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


"Kalau bapak di pukul bagaimana?"


"Kamu itu bukan nya mikir soal kamu, malah mikir bagaimana kalau saya yang dipukul"


pak ardhan bicara sambil menjitak pelan kening Ayudia


sejenak Ayudia meringis sambil menyentuh keningnya yang habis dijitak sang Dirut


"percaya sama saya, ini akan baik-baik saja"


bisik laki-laki itu pelan


*******


Ardhan


Dia menarik nafasnya berat sejak tadi, dia fikir kapan kali terakhir perasaan seperti ini datang menghampiri dirinya? 8 tahun yang lalu, yah 8 tahun yang lalu. Waktu itu dia masih kuliah di semester 4 sama seperti arletta,dia melamar gadis yang sudah dekat dengannya sejak kelas 1 SMP dan sudah dia pacari sejak kelas 2 SMA itu,tapi kondisinya bukan seperti ini, dia sama sekali belum menyentuh arletta, gadis itu tidak dalam kondisi hamil seperti kebanyakan teman-teman nya dan mereka berada pada usia yang sama.


Perasaan waktu itu sama seperti saat ini, rasa takut mendomisili, tapi kali ini malah lebih parah lagi, dia sudah melakukan kesalahan fatal bahkan usia mereka malah terpaut hingga 16 tahun, bahkan benar mungkin ayudia lebih cocok jadi Putri nya dari pada jadi istrinya, ardhan fikir dia benar-benar sudah gila dan seakan-akan hal buruk mungkin akan terjadi.


Papa nya masih berusaha bersikap sesantai mungkin, bermain catur sambil bercanda bersama om Abas, sesaat dia mengucapkan salam hanya dibalas oleh om Abas dengan jawaban singkat, laki-laki itu masih fokus dengan permainan nya.bima duduk tepat dihadapan om Abas, sambil kedua tangannya naik di atas lututnya, menatal om Abas yang masih fokus dengan catur-catur nya

__ADS_1


"gimana Bim? sudah kepikiran buat nikah lagi?"


tiba-tiba om Abas bertanya sambil melirik ke arahnya


"Sudah 5 tahun ini"


candanya sambil menggeser pion catur miliknya, membunuh pion milik sang papa Kemudian tertawa


"kena ini"


"aduh"


sang papa pura-pura mengeluh


"kamu tahu intan nggak? anak Tante Widya? pramugari Garuda, dia berapa kali tanya soal kamu ke istri oom"


Om Abas bicara sambil mencoba membuat Bima agar ingat soal perempuan yang dimaksud


ardhan melirik ke arah papa nya dan Rudi secara bergantian, Kemudian dia menarik nafasnya panjang


"Om... sebenarnya"


ardhan langsung mencoba untuk bicara sebelum pembicaraan om Abas terlalu jauh soal perempuan lain itu


"kedatangan saya sama papa kesini"


sejenak om abas menaikkan alisnya


"kenapa Bim? kok jadi kayak serius benar"


wajah om Abas Seketika jadi tegang,apalagi saat dia menoleh ke arah Rudi sang putra nya itu, Rudi tampak menghela nafasnya berat, menatap papanya dengan sejuta perasaan bersalah, seakan-akan berkata


*maafkan saya karena telah gagal menjaga ay pa*


"Saya kemari mau melamar ayudia"


"saya ....."


Dan... benar-benar seperti petir di siang bolong, omongan Bima Seketika membuat pria itu melotot marah, menatap Wajah papa ardhan sambil mengeratkan rahangnya, Kemudian menatap Rudi dan ardhan secara bergantian, lantas tiba-tiba matanya mencari sosok sang keponakan


"Dimana ay?"


tanya nya tiba-tiba


"Om.."

__ADS_1


dan Bima paling takut jika diposisi ini Ayudia yang disalahkan, dia harus bertanggung jawab penuh atas kesalahan besarnya dan dia terus mencoba berucap dalam hati jika semua pasti baik-baik saja, yah semua pasti baik-baik saja.


__ADS_2