Cinta Tuan Muda Impoten

Cinta Tuan Muda Impoten
Bab 36


__ADS_3

Seharian ini Alma hanya menghabiskan waktunya di kamar, Moza yang tampak khawatir pun selalu memantau keadaan Alma. Tapi Alma bilang jika ia tidak apa-apa dan hal ini tentunya sudah biasa ia alami.


"Alma kau yakin tidak apa-apa?" tanya Moza khawatir karena melihat wajah Alma yang pucat. Alma menggelengkan kepalanya, "aku tidak apa-apa memang selalu seperti ini kok," jawabnya sambil duduk di samping Moza.


"Aku bawakan obat pereda nyeri, biasanya aku selalu meminum obat ini jika sedang sakit. Tapi sudah sebulan lebih aku tidak datang bulan, kenapa ya?" tanyanya.


"Mana aku tahu, aku kan bukan dokter. Mungkin karena kau sudah punya suami jadi sekarang kau tidak datang bulan," jawab Alma sekenanya. Moza pun hanya mengangguk - anggukan kepalanya saja. Tapi kemudian ia pun berpikir kembali.


"Tapi, apa hubungannya aku sudah punya suami dan juga tidak datang bulan?"


"Emmmm ... mungkin saja karena, karena kau sudah punya suami," jawab Alma terbahak, Moza pun langsung menoyor kepala Moza. Sesuatu yang sangat diinginkan oleh Venus, karena ia selalu gemas dengan cara bicara Alma yang kadang membuat seorang menjadi senang jantung bahkan kram otak saat mendengarnya.


"Ishh kau ini," ucap Alma sambil mengusap - usap keningnya, begitulah hubungan Moza dan Alma yang terlihat seperti sahabat sekarang. Moza tidak ingin dipanggil Nona oleh Alma, karena mereka sebenarnya seumuran. Hanya saja mereka tidak melanjutkan kuliah, jika Moza tidak mau kuliah karena memang ia tidak mau dan malas. Tetapi Alma tidak melanjutkan kuliah karena ia memang ingin menjeda satu tahun. Biarlah tahun depan ia mendaftar kuliah, itu karena ia ingin mengistirahatkan otaknya sejenak. Begitulah alasan yang diberikan Alma pada Alex, dan Alex pun setuju-setuju saja yang terpenting adiknya yang aneh ini mau kuliah.


Mereka berdua asik mengobrol di kamar, hingga bunyi ponsel Moza berbunyi dan memperlihatkan seseorang yang tak pernah menghubunginya selama ini. Bahkan mungkin setelah sekian purnama nomor itu tertera di sana, hingga Moza sendiri lupa jika ia pernah menyimpan nomor itu di ponselnya. Moza pun kemudian menggeser icon berwarna hijau di ponselnya, kemudian mendengar suara yang selama ini sudah tidak pernah Moza dengar.


"Hallo, Moza ini Papa." ucap nya dari sebrang sana, hatinya berdesir saat mendengar suara Papanya Hendrik. Sudah sekian lama Hendrik tak pernah menghubunginya, jangankan menghubunginya menanyakan kabarnya pun tidak pernah akan tetapi hari ini tiba-tiba saja Hendrik menghubungi Moza. itu adalah hal yang luar biasa yang tak pernah Moza bayangkan.


"Iya Pah, ada apa?" tanya Moza.


[Bisa kita bertemu, ada yang ingin Papa bicarakan. Pulanglah sekarang] Sejenak Moza berpikir untuk pergi atau tidak, tapi ia tetap harus meminta ijin dulu pada Jupiter. Bagaimana pun juga Jupiter adalah suaminya, kemana pun ia pergi suaminya harus tahu.


"Baik, tapi aku akan menghubungi dulu Kak Jupi,"


[Iya baiklah, papa tunggu kedatanganmu] Moza pun kemudian mengakhiri panggilannya dengan Hendrik. Setelah itu Moza pun kemudian menghubungi Jupiter untuk meminta izin pulang sejenak ke rumahnya. Awalnya Jupiter merasa aneh, akan tetapi bagaimanapun juga Hendrik adalah Papanya Moza. Tidak mungkin Jupiter menghalangi hubungan ayah dan anak itu, mungkin saja Hendrik mulai sadar dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Moza.

__ADS_1


Untuk itu Jupiter pun mengizinkan Moza untuk bertemu dengan Hendrik di rumahnya asalkan ada Alma yang menemani, Moza pun setuju karena ia pun akan pergi mengajak Alma, ia juga tidak mau pergi ke sana sendiri entah kenapa Moza merasa takut pulang ke rumahnya sendiri, ia malah merasa lebih aman tinggal di rumah Jupiter walaupun di rumah ini selalu ada gangguan dari Salma dan juga Venus.


*


*


*


Setelah mendapatkan ijin dari Jupiter Moza pun berangkat ke rumahnya, untuk pertama kalinya ia pulang dan akan menginjakkan kakinya lagi di rumahnya. Selama ini ia memang tidak pernah pulang, jika ingin bertemu dengan Ibunya Delisa. Maka Delisa kah yang selalu menemui Moza di kediaman Bramana ditemani Mirza atau Melvian kakaknya Moza. Sebenarnya hubungan Moza dan kedua kakaknya sangat baik, entah kenapa hanya ayahnya saja yang tidak bisa menerima kehadirannya. Padahal Moza tumbuh menjadi seorang gadis cantik.


Kini Moza dan Alma sudah sampai di pintu gerbang rumah Moza, rumah yang besar dan megah tapi sayang sekali di rumah ini Moza merasa sangat kesepian. "Benarkah ini rumahmu, ternyata kau anak orang kaya. Beruntungnya hidupmu," ucap Alma sambil tertawa.


"Beruntung apa? Beruntung kepalamu, sudahlah ayo kita masuk." ajak Moza, Alma pun mengiyakan. Moza pernah bercerita jika hubungannya dengan sang ayah tidak pernah terjalin dengan baik. Seketika Alma pun merasa beruntung karena meskipun ia bukan terlahir dari orang kaya, bahkan kedua orang tuanya sudah tiada, tapi ia memiliki kakak yang sangat menyayanginya. Meskipun terkadang Alex sangat cerewet padanya, tapi Alma yakin karena semua itu Alex lakukan karena ia memang sangat menyayangi Alma.


Moza dan Alma mulai melangkahkan kakinya ke rumah itu, dan benar saja apa yang diucapkan oleh Hendrik karena ia sedang menunggunya, aneh sekali pikir Moza tidak biasanya Hendrik seperti itu. Melihat putrinya datang Delisa langsung menyambut hangat putri kesayangannya itu.


"Aku juga sangat merindukan Mamah,"


"Oh ya siapa dia?" tunjuk Mirza pada Alma.


"Dia teman sekaligus pelindungku," jawab Moza sambil menepuk-nepuk bahu Alma.


"Apa kabar," sapa Alma.


"Kami baik,"

__ADS_1


"Baiklah, bisa kita mulai bicara." ucap Hendrik, mereka semua pun mengangguk. Seperti biasa Alma duduk di samping Moza. Ia takut jika papanya Moza yang katanya seperti banteng ini akan melukai Moza. Padahal itu tidak mungkin dilakukan oleh Hendrik, bagaimana pun ia tak mengharapkan Moza. Ia tidak mungkin melukai Moza.Tatapan Moza kini beralih pada kedua kakaknya dan juga Ibunya, akan tetapi mereka bertiga menggelengkan kepalanya seolah tidak tahu tentang apa yang akan dibicarakan oleh Hendrik.


"Moza, ada yang ingin Papa bicarakan denganmu. Papa sudah memikirkan semua ini dengan matang, usiamu masih muda Moza, Papa ingin kamu melanjutkan kuliahmu dan menunda kehamilanmu. Kau masih muda, tidak seharusnya kau hanya menghabiskan waktumu hanya di rumah. Lanjutkan pendidikanmu, Papa akan mengatur semuanya." ucap Hendrik tegas, entah kenapa tiba-tiba Hendrik meminta Moza untuk melanjutkan kuliah, bukankah dulu ia pernah mengatakan jika kuliah ataupun tidak anak perempuan akan tetap sama saja, tidak berguna. Kata-kata yang selalu membuat hati Moza terluka jika mengingatnya.


"Apa, kenapa Papa tiba-tiba memintaku untuk kuliah. Sekarang aku sudah menikah dan aku tidak mau kuliah," jawab Moza, enak saja pikirnya kenapa tidak dari dulu saja sekarang semuanya sudah terlambat bagi Moza.


"Kalau begitu kau jangan dulu, kau masih muda Moza."


"Loh kenapa aku tidak boleh hamil, jika aku hamil suamiku juga pasti bertanggung jawab."


"Moza!" sentak Hendrik.


"Oh ya ampun, aku diminta pulang hanya karena aku tidak boleh hamil. Ada-ada saja Hulk ini. Lihat saja aku akan lebih sering mencetak anak agar aku bisa cepat hamil," gumam Moza.


"Baiklah jika tidak ada yang akan dibicarakan lagi lebih baik aku pulang saja sekarang," ucap Moza kemudian Ia pun bangkit dan pergi meninggalkan rumah itu diikuti oleh Alma.


"Moza kau mau kemana? Papa belum selesai bicara!" sentak Hendrik. Moza yang hendak pergi pun menghentikan langkahnya dan berbalik lagi melihat Hendrik yang terlihat kesal.


"Aku mau pulang dan mencetak cucu untukmu!"


"Apa! Astaga anak itu,"


****


Mampir juga di karya baru Mimin ya, cerita tentang Zein dan Aliana di SUAMI BAYARAN 😘😘

__ADS_1



__ADS_2