
Akhirnya, setelah beberapa hari Jupiter bisa menemui Moza. Ia sudah sangat merindukannya, karena beberapa hari ini ia tidak diperbolehkan untuk menemui istrinya bahkan sudah berapa hari ini Moza pun masih belum sadar. Jupiter sangat khawatir terhadap keadaan Moza ia selalu merasa ketakutan jika ia akan kehilangan istrinya itu. Jupiter tidak akan pernah sanggup kehilangan Moza. Namun, ia buang jauh-jauh pikiran itu demi kewarasannya. Juga ada bayi kecil yang kini menjadi tanggung jawabnya, ia tidak boleh lemah dan harus tetap kuat demi mereka.
Dan di sinilah ia sekarang berada di samping Moza yang masih betah memejamkan matanya, " sayang, cepat buka matamu apakah kau masih marah kepadaku karena aku tidak menemanimu. Ayolah sayang ... buka matamu dan lihatlah aku, lihatlah ada aku dan juga anakmu yang sedang menunggumu. Apa kau tidak ingin melihat putri cantik kita," ucap Jupiter dengan sedih. Setiap ia bicara dengan Moza, Jupiter selalu tak mampu menahan air matanya. Di hadapan Moza hatinya yang selalu kuat mendadak menjadi lemah. Bahkan untuk menahan satu tetes air mata pun ia tak mampu menahannya.
"Moza, ayo bangunlah. Aku sangat merindukanmu. Dan anak kita juga, ia sangat ingin melihat Bundanya. Apa kau tidak kasihan padanya?" ucap Jupiter lagi. Ia benar-benar merasa sedih saat ini, wajah cantik itu kini masih terpejam dan masih betah dengan tidur panjangnya. Dokter selalu meyakinkan jika Moza akan sadar, akan tetapi melihat Moza yang terus memejamkan matanya membuat Jupiter menjadi pesimis, akankah Moza bangun dan bisa kembali bersamanya. Ataukah, ia akan betah dengan tidur panjangnya.
"Jupiter," panggil Zayan, ia sengaja datang menjenguk Jupiter bersama dengan Zaira juga Rafa dan juga Rheina. Mereka semua terkejut mendengar apa yang menimpa Moza. Jupiter pun berbalik dan melihat jika ada mantan rival yang kini menjadi teman dekatnya. Juga ada Zaira, wanita yang dulu pernah mendapatkan tahta tertinggi di hatinya. Namun, nama itu kini bergeser dengan kehadiran Moza yang menjadi sang pemilik hati Jupiter yang seutuhnya.
"Masuklah," ucap Jupiter, mereka berempat pun masuk ke dalam ruangan Moza. Dokter memang menyarankan jika Moza di kelilingi oleh orang - orang terdekatnya agar bisa menjadi semangat hidupnya.
"Bagaimana sekarang keadaan Moza?" tanya Zaira. Jupiter menghela napas kasar.
"Seperti yang kau lihat, dia masih betah dengan tidurnya." jawab Jupiter dan kemudian menghampiri mereka berempat untuk ikut bergabung di sofa yang ada di ruangan itu.
"Aku yakin dia akan baik-baik saja," ucap Rheina.
"Semoga ... aku tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang sangat buruk padanya. Aku akan hancur,"
"Kau tidak boleh menyerah, apa kau lupa jika aku juga pernah ada di posisimu," ucap Rafa sambil melihat ke arah Rheina. Ia mengingat saat itu Rheina mengalami kecelakaan dihadapan matanya sendiri. Membuat dunia Rafa serasa hancur, ia merasa jika hidupnya sudah tak berguna lagi. Ia merasa gagal sebagai seorang suami, karena tidak mampu melindungi istrinya.
__ADS_1
Diingatkan hal itu, lamunan Jupiter kembali ke beberapa waktu lalu dimana ia pun melihat Rheina terlempar hingga terkapar tidak berdaya. Hati Jupiter pun berdenyut saat mengingat hal itu, ia tidak akan sekuat Rafa jika sampai Moza seperti itu.
"Aku harus kuat," ucap Jupiter.
"Jangan lupakan putrimu Jupi, dia masih sangat membutuhkanmu." ucap Zayan.
"Apa kau sudah memberikan nama untuk putrimu?" tanya Zaira, Jupiter pun menggelengkan kepalanya. Ia memang belum memberikan nama untuk putrinya. Karena ia memang tidak sempat, dan belum terpikirkan akan nama putrinya. Ia selalu memanggilnya dengan nama Baby J, tapi kepanjangannya ia belum memikirkannya.
"Tapi bukankah namanya Baby J?" tanya Rheina yang saat itu melihat nama putri Jupiter yang ada di bagian depan box nya yang bertulisan Baby J.
"Itu inisialnya, aku belum memikirkan nama kepanjangannya. Baby J adalah panggilan untuk anak kami saat ia masih ada dalam kandungannya Moza. Rheina pun mengangguk mengerti.
*
*
*
Malam ini Jupiter meminta ijin pada dokter, agar ia dan putrinya bisa satu ruangan dengan Moza. Ia ingin sekali bisa berkumpul dengan anak dan juga istrinya. Dan berharap dengan dekatnya Baby J dengan Moza, akan membuat Moza sadar karena adanya ikatan batin antara Baby J dan juga Moza.
__ADS_1
Namun, seperti biasa Hendrik selalu menghalangi apa yang diinginkan oleh Jupiter, pria yang berstatus sebagai mertuanya ini memang senang sekali membuat masalah dengannya dari awal mula kehamilan Moza. Sepertinya ia memang tidak siap untuk menjadi seorang kakek, untuk itu ia selalu bicara hal yang selalu membuat Jupiter tersinggung. Dengan embel-embel ia sangat peduli pada Moza, padahal Jupiter sangat tahu jika pria ini tidak pernah menaruh perhatian kepada putrinya. Dan juga Jupiter pun belum bisa percaya jika Hendrik menyesal karena sudah tidak memberi perhatian dan menyayangimu Moza selama ini.
"Kau ingin membuat putriku tidak nyaman, kenapa kau malah membawa bayi itu ke ruangan Moza!" sentak Hendrik.
"Istriku bukan kau yang tidak akan nyaman dengan kehadiran putrinya!" balas Jupiter tak kalah pedas, ia mulai jengah dengan tingkah mertuanya yang senang membuat suasana ricuh itu. Kenapa pria ini sepertinya sangat membencinya akhir-akhir ini. Mendengar ucapan Jupiter Hendrik malah menatap menantunya itu dengan sinis, ia kesal karena ucapan menantunya ini selalu memberi puku-lan telak di hatinya. Sangat sakit ... untuk pria yang sebenarnya penuh luka dan penyesalan di masa lalu ini.
"Seolah kau tahu saja apa yang terbaik untuk Moza," sergah Hendrik yang masih tak mau kalah.
"Tentu saja aku tahu, bahkan sangat tahu apa yang ia inginkannya selama ini, aku berani bertaruh bahkan makanan kesukaannya pun kau pasti tidak tahu. Dasar ayah durjana, sebaiknya kau diam dan jangan mencoba mengaturku. Karena di dunia ini hanya aku saja yang tahu tentang apa yang terbaik dan dengan apa yang ia inginkan. Apa kau mengerti Tuan Hendrik yang terhormat!" ucap Jupiter penuh penekanan. Setelah bicara dengan mertuanya itu Jupiter pergi dan meminta dokter dan perawat untuk menyiapkan tempat Baby J di kamar Moza.
"Dasar menantu sialan!" umpat Hendrik.
"Jika aku punya mertua seperti itu, aku pasti sudah mengutuknya jadi biri-biri," gumam Alma, yang memang kebetulan sedang berada di sana dengan Venus, Salma dan juga Bramana. Karena mereka memang ingin melihat keadaan Moza saat ini dan juga ingin melihat keadaan Baby J. Salma yang mendengar ucapan Alma mendadak terkena serangan lambung, karena ia juga salah satu contoh mertua durjana.
'Oh ya ampun, semoga menantuku tidak mengutukku jadi kuda lumping,' batin Salma.
****
Maafkan lama up nya reviewnya lama bangeeeeettt, padahal Mimin udah up tepat waktu 😌😌😌
__ADS_1