
Keesokan harinya Alma sudah diizinkan untuk pulang beserta dengan bayinya, lebih tepatnya Alma lah yang ingin segera pulang ke rumah dan tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit. Alma merasa sangat tidak betah berada di sana, untuk itu ia merengek kepada Venus agar ia segera dibawa pulang ke rumah dan mendapat perawatan di rumah saja. Toh ia juga merasa jika dirinya baik-baik saja, akhirnya setelah diperiksa lebih lanjut Alma pun akhirnya diizinkan pulang oleh dokter karena tidak ada sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan.
Dan di sinilah ia berada sekarang di kamarnya yang menjadi tempat ternyaman selama ini untuk Alma. Kamar yang sudah dimodifikasi oleh Venus, agar ia dan juga bayinya merasa lebih nyaman tinggal di kamar itu. Alma sangat bahagia karena ternyata suami planetnya ini sangat perhatian, dan juga sangat mementingkan kenyamanan untuknya dan juga bayinya.
"Terima kasih sayang," ucap Alma dan mengecup bibir Venus sekilas.
"Sudahlah jangan menggodaku, kau tahu untuk empat puluh hari hari ke depan Ilham mu itu tidak bisa aku siram jadi jangan menggodaku dan membuat gagang sapu ku tersiksa kau mengerti," jawab Venus lemas, karena gagang sapunya akan libur selama itu, sangat luar biasa bukan. Alma hanya tertawa melihat planet itu merana.
"Jangan bersedih seperti itu, wajahmu Jadi terlihat sangat jelek," ejek Alma.
"Kau memang sangat tidak peka apa kau tidak bisa membayangkan bagaimana selama empat puluh hari hari gagang sepupu tidak akan muntah-muntah, dia pasti akan sangat merana dan juga sangat bersedih," Venus bicara dengan di dramatisir.
"kenapa kau harus bersedih bukankah kau bisa mencekiknya sendiri sampai ia muntah,"
"Rasanya akan beda!" jawab planet itu merajuk, hingga akhirnya Alma memilih untuk diam karena jika ia terus menimpa air ucapan Venus maka tidak akan pernah ada ujungnya. Planet itu akan terus merajuk dan juga terus mengeluh karena tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Makanya diam adalah jalan terbaik untuk Alma agar tidak mendengar rengekan - rengekan dari planet itu.
"Oh ya apa kau sudah punya nama kepanjangannya dari Baby V?" tanya Venus.
"Sudah," jawab Alma sambil tersenyum pada Venus, membuat Venus curiga. Semoga Istrinya yang kurang pintar ini menggunakan otak warasnya untuk memberikan nama pada bayi kecilnya.
"Kau tidak memberikannya nama Pluto kan? Nama itu tidak akan cocok untuk putriku yang manis dan cantik!" planet menyebalkan ini mulai dari sewot lagi.
__ADS_1
"Hei dasar planet menyebalkan! Meskipun aku ini bodoh dan juga tidak pintar, tapi aku ini masih bisa membaca! Pluto itu huruf awalnya P bukan V!" jawab Alma tidak mau kalah.
"Ahh syukurlah ternyata otakmu itu masih ada isinya," ucap Venus, tapi sedetik kemudian ia pun langsung melihat lagi ke arah Alma.
"Astaga kenapa lagi planet ini," ucap Alma.
"Kau tidak akan memberikan nama pada anak kita dengan nama Vaturnus atau Vuranus kan? atau veptunus!" ucapnya lagi pada Alma, hingga kesabaran Alma yang setipis tisu tersiram air itu sirna begitu saja.
"Aku ini bukan meteor, kenapa aku harus memberikan nama untuk anakku nama -nama Planet yang tidak ada dalam susunan tata Surya itu!" bantah Alma.
"Lalu? Siapa namanya? Cepat beritahu aku! Jangan rahasia - rahasiaan segala!". Astaga bicara dengan suami planetnya ini memang sangat menguji kesehatan dan kesejahteraan jantungnya.
"Namanya Valencia! Bagus kan?" ucap Alma, hingga akhirnya Venus pun bisa bernapas dengan lega karena nama putrinya sangat cantik, seperti Istrinya. Melihat wajah Alma yang semakin cantik membuat Venus menjadi ingin ehem-ehem saja dengannya.
"Tahan Venus tahan, jangan sampai kau tergoda. Kuatkan iman dan jantung ku Ya Tuhan," ucapnya. Alma lebih memilih diam saja dari pada ia menanggapi ucapan suaminya ini.
"Kak Jupi, apa hari ini Alex bekerja?" tanya Moza.
"Iya dia kerja, jadi kau tidak usah ke kantor sayang." jawab Jupi - Jupi-jupi takut jika Moza mengikutinya lagi ke toilet.
"Jadi Kak Jupi tidak suka aku datang ke kantor?" tanyanya dengan ekspresi wajah nano-nano. Antara kesal, marah, sedih dan juga kecewa pada suaminya ini. Jupiter dibuat kalang kabut oleh sikap Moza, sungguh Jupi - jupi sama sekali tidak bermaksud membuat hati istrinya bersedih.
__ADS_1
"B-bukan begitu sayang, aku ... aku senang kau datang ke kantor. Hanya saja aku kasihan padamu dan juga Jizzy," bujuk Jupiter.
"Kau bohong, aku tahu kalau aku memang sudah tidak cantik lagi bahkan mungkin sekarang aku menjadi gemuk tetangga kau sudah tidak mencintaiku lagi. Aku tidak menyangka kalau kau akan meninggalkanku secepat ini," ucap Moza sambil menangis, membuat sang planet menjadi kelimpungan, ia benar-benar tidak bermaksud seperti itu ia masih sangat mencintai Moza dan akan terus mencintainya,mana mungkin dia akan meninggalkan Moza hanya karena gemuk saja.
"Tidak sayang, aku tidak begitu aku sangat mencintaimu," ucapnya sambil memeluk Moza.
"Kau bohong!"
"Tidak! Aku tidak bohong sayang, aku masih sangat mencintaimu walaupun sekarang kau lebih berisi," ucap jupiter.
"Huwaaaaa, benar kan aku gemuk,"
"Tidak kau tidak gemuk kau hanya tambah berisi saja, dan kau malah terlihat seksi," ucap Jupiter jujur, karena memang saat ini tubuh Moza lebih berisi dari saat pertama Ia menikah dengannya yang cenderung kecil dan juga kurus tapi saat ini tubuh manusia menjadi lebih seksi dan lebih terlihat indah serta nyaman saat ia sentuh.
"Berbohong boleh tapi jangan keterlaluan juga, Aku tahu aku memang jadi kamu karena aku merasa pakaianku yang dulu menjadi sempit dan bahkan ada yang sudah tidak muat lagi!" Jupiter masih hanya diam dan membiarkan istrinya untuk mengutarakan apa yang ada dalam hatinya. Dia masih terus memeluk Moza dengan sayang dia tidak mungkin meninggalkan Moza ia sangat mencintaimu aja apalagi sekarang ada Jizzy yang menjadi pengikat antara hubungan pernikahannya. Sebuah pengikat hubungan yang kuat antara dirinya dengan Moza adalah anak perempuannya yang sangat cantik itu.
"Kak Jupi..." rengek Moza.
"Kenapa?"
"kalau aku operasi sedot lemak bagaimana?"
__ADS_1
"Apa! Tidak boleh, Aku suka dengan tubuh gemooooyyy mu sangat nyaman untuk dipegang!" tolak Jupiter.
"Dasar planet pelit!"