
"Aku merasa pusing dan mual, apa aku hamil anakmu?"
Byuuuuurrr
Susu yang Venus minum langsung tersembur keluar. Ia terkejut saat mendengar Alma hamil. Bagaimana mungkin ia hamil jika, main jungkat-jungkit saja ia belum pernah. Atau jangan-jangan hamil anak Mirzha atau Melvian. Kalau benar begitu, Venus tidak akan pernah memaafkan Alma. Ataukah mungkin Istrinya ini hamil anak papanya. Pikiran Venus sudah melayang kemana-mana, jika itu benar anak yang dikandung oleh Alma adalah adiknya. Astaga, kepala planet ini terasa berputar-putar. Lebih baik ia tanyakan saja pada Alma, siapa sebenarnya yang menghamilinya.
"Alma, sekarang jujur padaku. Kau hamil anak siapa?" tanya Venus, dan pertanyaan bodoh Venus membuat Alma sangat murka. Hingga tanpa menjawab pertanyaan Venus, pria yang sedang bingung dengan kehamilan istrinya itu langsung memberikan serangan smack down padanya. Belum puas melakukan itu, Alma pun langsung menindih dan juga mencekiknya.
"Dasar suami kurang aja! Kau bertanya aku hamil anak siapa? Aku hamil anakmu planet bodoh!"
"Tidak mungkin!" jawab Venus sambil mencoba melepaskan tangan Alma yang kuat mencengkram lehernya.
"Lalu anak siapa memangnya yang aku kandung, karena hanya kau saja pria yang aku ambil kesuciannya!" sentak Alma. Astaga kenapa Venus bisa lupa dengan drama yang ia buat sendiri. Jika ia menikah dengan Alma karena fitnah kejam yang ia lontarkan. Yaitu karena Alma sudah mengambil keperjakaannya. Ya ampun, untung saja Istrinya yang bar-bar ini mengingatkannya.
"Iya ... iya kau hamil anakku, lepaskan aku sekarang. Apa kau mau anak kita lahir tanpa ayah?" bujuk Venus, Alma pun langsung melepaskan cengkramannya di leher Venus. Namun, ia masih duduk di atas perut Venus. Napasnya terengah, tentu saja karena ia sedang tidak enak badan. Begitu juga dengan Venus yang napasnya tersengal-sengal gara-gara cekikan Alma yang kuat.
"Sekarang kau minggirlah, kau sedang sakit kan? Ayo tidur lagi,". bujuk Venus. Seumur hidupnya Venus tidak pernah membayangkan jika ia akan mempunyai istri yang sangat bar-bar. Yang tidak segan-segan mencekik bahkan mengajaknya bergulat jika marah. Astaga ... untung saja tubuh Venus tidak remuk akibat serangan- serangan dari Alma.
Alma beranjak dari perut Venus dan kemudian menyandarkan kepalanya yang terasa semakin pusing. "Meskipun begitu, tenaga adik perempuan dari asistent jomblo itu masih sangat kuat.
"Alma kau tidak apa-apa?"
"Aku pusing," jawabnya sambil menutup matanya. Venus yang merasa kasihan kemudian menggendong Alma untuk ia baringkan kembali ke atas kasurnya. "Tidurlah, dan jangan berpikiran yang macam-macam."
__ADS_1
"Kau yang membuatku marah tahu!"
"Kau yang sentimentil, dasar lebah galak! Belum apa-apa kau main sengat saja!" Venus kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya dan waktu menunjukkan jika meeting sebentar lagi di mulai. Ia merasa bingung karena meeting ini sangat penting. Tapi ia juga tidak tega meninggalkan Alma sendirian saat sedang sakit seperti ini. Menitipkan pada Moza bukan ide yang baik, karena kakak iparnya itu juga sedang hamil. Jika Venus menitipkan Alma pada mamahnya Venus takut jika istrinya ditelan hidup-hidup oleh mamahnya yang tidak baik itu. Lalu apa yang harus ia lakukan, Venus jadi bingung.
"Alma minumlah obat dulu,"
"Aku tidak mau,"
"Kau harus minum obat, memangnya kau ingin terlihat lemah di mata Mamahku. Jika ia tahu kau dalam keadaaan lemah begini. Ia bisa saja menyerangmu dan juga mengalahkanmu," ucap Venus menakut-nakuti Alma. Mendengar ucapan Venus Alma pun kemudian berpikir jika memang yang diucapkan venus adalah benar. Jika ia tidak boleh terlihat lemah, karena jika ia terlihat lemah maka akan dengan mudah Salma akan menyerangnya. Bukankah selama ini Salma adalah ibu mertua yang durjana, untuk itu ia harus bisa menjaga dirinya agar tidak mudah dikalahkan oleh mertuanya yang jahat itu.
"Baiklah, kemarikan obatnya." Venus pun kemudian memberikan obat itu pada Alma, dan dengan cepat Alma pun langsung meminumnya.
"Maaf aku harus meninggalkanmu, karena meeting ini sangat penting. Jika meetingnya selesai aku janji aku akan segera kembali." Kata-kata yang terucap dari bibir Venus terasa begitu hangat di hati Alma, entah kenapa ia sangat senang dengan perhatian Venus yang tidak seberapa itu.
"Baguslah, aku pergi dulu." ucap Venus, Alma pun menganggukan kepalanya. Venus pun kemudian dengan segera pergi meninggalkan rumah dan berangkat ke kantor. Iya tidak mau terlambat di meetingnya yang penting ini, karena meeting ini akan menentukan kemajuan perusahaan yang telah Ia bangun dengan susah payah.
*
*
*
"Kak Jupi nanti saat pulang belikan aku rambut nenek ya," rengek Moza sambil bergelayut manja pada Jupiter.
__ADS_1
"Rambut Nenek?"
"Iya, belikan aku yang warna ungu. Atau warna-warni juga tidak apa-apa,"
"Untuk apa rambut nenek-nenek kau makan. Kau mau membuat anak kita pusing di dalam? Kasihan sekali anakku harus memakan rambut, dan kenapa rambut nenek-nenek itu harus warna ungu dan warna warni segala. Seharusnya biarkan saja warnanya berwarna putih. Karena itu akan terlihat alami." ucap Jupiter. Moza mencebikkan bibirnya kesal karena suaminya ini masih saja kurang pintar dalam menangkap apa yang ia inginkan.
"Rambut nenek itu kembang gula, yang terlihat seperti rambut. Masa makanan itu saja Kak Jupi tidak tahu!"
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah mendengar nama makanan yang disebut rambut nenek, apalagi rambut kakek-kakek!"
"Oh ya ampun, aku tidak mau tahu pokoknya Kak Jupi harus membelikan aku rambut nenek dan sarang laba - laba!"
"Apa! Apalagi itu sarang laba-laba, kenapa tidak minta makan sarang singa saja sekalian!"
"Kalau begitu tambah lagi dengan kapal selam aku mau Kak Jupi membelinya saat pulang nanti!"
"Astaga, istriku yang hamil kenapa aku yang jadi gila. Sudah minta rambut nenek-nenek lalu minta sarang laba-laba. Dan yang lebih parah sekarang minta tambahan dibelikan kapal selam. Apa kau gila, mau di simpan dimana kapal selam sebesar itu. Bahkan kolam renang di belakang saja tidak akan muat menyimpannya, Mozarella!" gemas Jupiter.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus membelinya. Lagi pula kenapa kapal selamnya harus disimpan di kolam renang. Simpan saja di mangkuk pasti rasanya sangat segar saat kuahnya masuk ke dalam mulut," Moza sudah membayangkan makanan yang ia inginkan itu, bahkan air liurnya hampir saja menetes.
"Memakan kapal selam dengan kuahnya di mangkuk, apa kuahnya terbuat dari air laut, astaga." gumam Jupiter sambil geleng-geleng kepala membayangkan Moza memakan kapal selam dengan kuah air laut.
***
__ADS_1
Like dan komentarnya jangan lupa 😘😘😘