
Mirza dan Melvian menyusul Moza yang pulang dengan kesal, mereka khawatir terjadi sesuatu yang pada adiknya. Jadi mereka memutuskan untuk mengejar adiknya. Di rumah Delisa memandang suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kau mengatakan hal itu?" tanya Delisa pada Moza.
"Aku sudah menunjukkan jika aku peduli padanya, tapi anak itu malah marah-marah padaku. Dan mengatakan jika ia akan mencetak cucu untukku," Hendrik geleng-geleng kepala mengingat bagaimana kemarahan Moza putrinya.
"Kau bukan menunjukkan rasa peduli padanya, tapi dari sikapmu itu kau menunjukkan betapa kau sangat membencinya." Delisa menghela napas kasar dan kemudian memijat hidungnya. Hendrik yang berada di samping Delisa pun mendekati istrinya, namun Delisa malah menjauh karena kesal.
"Delisa, aku ingin bicara denganmu. Kenapa kau malah menjauh?"
"Aku kesal padamu, kenapa kau selalu menyakiti putriku!"
"Dia juga putriku!"
"Sejak kapan?"
"Apa maksudmu?"
"Sejak kapan kau menganggapnya sebagai putri?" pertanyaan dari Delisa sungguh menohok hatinya, Hendrik merasa sangat bersalah dengan semua sikapnya pada Moza selama ini. Untuk itu ia sengaja meminta Moza untuk datang ke rumahnya, dengan maksud ingin memperbaiki hubungannya dengan putrinya itu. Sayangnya nada bicara dan cara penyampaian Hendrik pada Moza, membuat Moza semakin mengira jika Papanya memang tidak pernah menyayanginya.
"Aku ... "
"Sudahlah, aku ingin istirahat dulu. Kepalaku juga sakit sekali, semoga saja putriku baik-baik saja," Delisa pun beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi meninggalkan Hendrik sendirian dengan perasaannya yang kacau saat ini.
*
*
*
__ADS_1
Mirzha menyetir mobil yang ditumpangi adiknya, namun pandangannya terus mengarah pada Alma yang sedang asik bermain ponsel sambil sesekali tertawa. Entah apa yang ia lakukan yang jelas, gadis cantik berwajah imut itu tapi yang jelas ia mampu menarik perhatian Mirzha.
"Kenapa kau terus memandangi sahabatku, Kak?" tanya Moza pada Mirzha, ia yang tertangkap basah pun langsung mengalihkan pandangannya.
"T-tidak, siapa yang memandang siapa," jawab Mirzha agak gugup, namun yang dibicarakan hanya fokus pada ponselnya. Moza pun menggelengkan kepalanya, karena menurut Moza jika perempuan lain dipandang intens akan merasa malu-malu kambing. Tapi Alma jangankan malu-malu kambing, malu-malu ayam pun tidak sama sekali.
Tak lama setelah itu mereka pun sampai di kediaman rumah Jupiter, Venus yang memang tidak pernah melihat Mirza maupun Melvian langsung mengira jika Moza dan Melvian tengah double date. Planet itu langsung merasa panas dan terbakar, entah karena apa yang jelas hatinya merasa tidak rela melihat Moza dan Alma tengah dekat dengan dua pria tampan yang kini ada di rumahnya, eh salah maksudnya rumah Jupiter.
"Hei ... Hei ada yang sedang berkencan rupanya di sini?" ejek Venus sambil bertolak pinggang dan menatap tajam ke arah Moza khususnya pada Alma. Ia tidak suka melihat calon ibu tirinya itu dekat dengan pria lain. Sepertinya perasaan Venus pada Moza sudah mulai luntur tanpa ia sadari.
"Siapa yang berkencan?" tanya Moza yang memang tidak mengerti.
"Apa yang kau bicarakan hei planet jelek!" sentak Alma.
"Aku sedang membicarakan kalian yang sedang berkencan di sini," ucap Venus menghampiri mereka,bdan kemudian sengaja duduk di samping Alma dan menatap tajam padanya.
"Apa! Ahh bocah ini, ingin aku telan kau!" ucap Venus sambil menjitak kepala Alma. Melihat sikap Venus pada Alma membuat Mirzha tidak suka, hingga ia menegur Venus.
"Kondisikan tanganmu, kau itu laki-laki. Bersikaplah lembut pada perempuan!"
"Maksudnya perempuan penggoda suami orang seperti bocah ini!" ucap Venus dan kemudian menoyor kembali kening Alma. Kesabaran Alma yang hanya setipis tisu basah itu akhirnya koyak juga. Dengan kesal ia langsung mendorong Venus hingga terjungkal dari sofa, belum hilang rasa terkejut Venus akibat perbuatan Alma. Alma lalu mencekik Venus dan menindihnya sebelum ia bisa bergerak dan bangun.
"Dasar planet jelek! Sudah bodoh aneh pula, apa kau tidak bisa bicara dengan benar! Kenapa setiap bicara kau selalu membuat jantungku kewalahan! Tidak bisakah kau berpikir dengan jernih, bagaimana kau bisa berpikir jika aku akan benar-benar menikahi Papamu dan menjadi ibu tirimu! Aku masih normal dan aku suka pria muda yang tampan, bukan pria yang kelewat matang seperti Papamu itu!" sentak Alma pada Venus.
Melihat cara Alma memperlakukan Venus, Moza dan Melvian malah tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Mirzha ia tidak suka melihat Alma menyerang Venus, apalagi kini gadis kecil itu tengah duduk di atas perut Venus dan mencekiknya. Mirzha berpikir kenapa tidak ia saja yang ia cekik, hingga bisa berdekatan seperti itu dengan Alma.
"Lepaskan aku bocah tengik!" sentak Venus. Mirzha yang tidak tahan pun langsung mendekati Alma dan mengangkat tubuh kecil itu agar menyingkir dari tubuh Venus.
"Sudah Alma hentikan," ucap Mirzha, hentikan dalam maksud berhenti bersikap seperti itu pada Venus karena hati Mirzha terasa gatal dan ia bingung bagaimana cara menggaruk hatinya yang gatal itu.
__ADS_1
"Aku kesal pria bodoh ini selalu saja bicara sembarangan!"
"Biarkan saja, kau yang pintar harus mengalah," sindir Mirzha pada Venus.
"Kau orang luar, jangan ikut campur!"
"Aku akan ikut campur jika ada pria yang berani menindas seorang gadis kecil," jawab Mirzha tidak mau kalah. Di sana Moza dan Melvian hanya menonton saja pertunjukan 3 orang itu.
"Hei kau orang asing, jangan pernah tertipu dengan tubuhnya yang kecil asal kau tahu saja gadis menyebalkan ini berani-beraninya ingin menjadi Ibu tiriku! Aku tidak terima jika ia berani merusak rumah tangga keluargaku. Untuk itulah aku hanya ingin memberi pelajaran kepada bocah ini!" ucap Venus dengan kesal.
"Oh astaga, aku hanya bercanda dan kau menganggapnya serius!"
"Kau pikir aku percaya! Sekarang saja kau mengatakan hal itu karena ada pria lain di sampingmu yang akan kau goda, tapi kemarin-kemarin sikapmu yang ingin merebut Papaku sampai membuat otak ibuku kram. Dan aku sebagai anak tentunya tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kehidupan ibuku!"
"Oh ya ampun kepalaku," gumam Alma yang mendadak sakit kepala gara-gara mendengar ucapan Venus. Melihat Alma memegang keningnya, Mirzha pun khawatir dan langsung menuntun Alma untuk duduk di sofa.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Mirzha, pria tampan ini memandang wajah cantik Alma dari dekat.
"Kepalaku mendadak pusing gara-gara dia!"
"Jangan pura-pura! Biasanya juga kau yang selalu membuat kepalaku pusing. Alma semakin mendelik pada Venus.
"Awas kau akan aku balas nanti," gumam Alma.
"Hei Pluto sudahlah, jangan mengganggu Alma lagi. Atau kau akan benar-benar ia jadikan anak tirimu!" ucap Moza berharap Venus berhenti mengganggu Alma. Namun, tanpa Moza sadari ucapannya membuat jantung Mirzha kram. Ia tidak rela jika Alma menjadi Ibu tiri Venus. Karena menurut Mirzha, akan lebih baik jika Alma menjadi ibu dari anak-anaknya.
***
Like .... like ... like 😘😘😘
__ADS_1