
Beberapa bulan kemudian, Moza sudah sembuh dan keadaannya semakin membaik. Jizzy juga tumbuh menjadi bayi yang sangat cantik dan lucu, bayi itu rupanya menarik perhatian Hendrik. Entah kenapa ia sangat suka pada Jizzy, seolah ia melihat Moza waktu bayi. Hanya saja wajahnya lebih condong pada Jupiter. Tapi tetap saja, pria yang mencoba untuk berubah menjadi lebih baik untuk putrinya ini sangat menyayangi Jizzy. Moza pun sangat bahagia melihat Papanya yang berubah lebih baik padanya, akan tetapi hubungannya dengan Jupiter masih belum lah baik, mereka berdua masih sering saling menyindir dan juga saling adu mulut jika bertemu. Seperti saat ini, Hendrik sedang berkunjung ke rumah kediaman Bramana untuk melihat anak dan cucunya. Ia juga membawa hadiah yang banyak untuk Jizzy.
"Hai cucu Opa yang cantik, apa kabarmu?" ucap Hendrik pada Jizzy, sambil terus menciumi wajah lucu bayi itu. Jupiter hanya mencibir melihat mertuanya yang masih setengah durjana menurutnya itu.
"Sudah tua, masih ingin dipanggil Oppa dasar tak tahu malu," gumam Jupiter, tapi masih terdengar jelas oleh Hendrik gumaman dari menantunya itu. Oppa yang dimaksud oleh Jupiter, Oppa-Oppa tampan yang banyak digandrungi para gadis cantik. Karena yang Jupiter yang banyak gadis muda bahkan yang sudah tua pun sangat suka Oppa- Oppa. Untung saja Istrinya tidak menyukai Oppa-Oppa dan suka Jupi-jupi saja.
"Memangnya cucu ku ini harus memanggilku apa? Dasar cerewet.
"Panggilan yang sesuai dengan umurmu saja! Sadar dirilah sedikit!" hardik menantu durhaka ini pada mertuanya.
"Astaga apa ada yang salah dengan Opa, bukankah Opa memang panggilan untuk Kakek. Aku kan memang sudah menjadi kakek," jawab Hendrik tak mau kalah. Moza dan Jizzy hanya jadi penonton saja dari adu mulut antara mertua dan juga menantu ini.
"Sangat susah sekali bicara dengan orang tua," ucap Jupiter dengan penekanan di akhir kalimatnya. Saat tanduk Hendrik sudah mulai keluar, Moza berusaha mencairkan suasana. Ia juga membisikkan sesuatu pada Hendrik dan menerangkan apa yang di maksud Oppa yang disebutkan oleh Jupiter. Hendrik pun langsung mengeluarkan taringnya, bisa-bisanya menantunya itu mengira jika dirinya ingin terlihat seperti Oppa tampan yang banyak disukai oleh para gadis.
"Dasar menantu kurang ajar!" ucapnya, tapi jupiter sama sekali tidak mempedulikan kekesalan Hendrik dan hanya berdecih saja menanggapinya.
"Sudahlah Pah, Kak Jupi memang tidak tahu. Dan Kak Jupi juga, jangan terus mengejek Papa. Apa kalian tidak bisa akur walaupun sebentar saja," rengek Moza.
"Tidak!" jawab mereka berdua serempak, membuat Moza hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Terserah kalian saja,"
*
__ADS_1
*
*
Di kamarnya Alma juga sedang beristirahat, kehamilannya yang semakin membesar membuat ia kesusahan dalam beraktivitas. Ia juga jadi sering merasa lelah dan juga selalu pusing. Untuk itu sekarang Alma lebih sering menghabiskan waktunya di kamar apalagi berjalan naik turun tangga membuat ia selalu merasa kelelahan. Venus sudah menyarankan untuk pindah kamar di lantai bawah saja, tetapi Alma tidak mau. Ia sangat suka dengan kamarnya yang sekarang. Dan juga ia tidak mau pindah ke kamar lantai bawah karena kamar yang berada di bawah terasa sempit baginya.
Venus tidak mempermasalahkannya karena baginya adalah semua tentang kenyamanan Alma. Mau di atas atau pun di bawah sama - sama nyaman baginya. Salma, kini mulai memperbaiki hubungannya dengan Alma. Sejak kejadian waktu itu membuat Salma berpikir jika tidak ada yang lebih baik untuk putranya selain Alma. Ia juga mulai menerima Moza dan juga Jupiter. Karena ternyata siapapun yang memegang perusahaannya, tetap tidak membuat kehidupannya menjadi kekurangan.
Ia tetap bisa mendapatkan apapun yang selalu ia inginkan dan kegiatan sehari-harinya untuk berkumpul dengan teman-teman sosialitanya, tak pernah Jupiter usik. Nyatanya Jupiter tidak pernah mengusik kehidupan dirinya ataupun mengungkit semua yang telah digunakannya selama ini, mulai dari tempat tinggal, ATM dan semua perhiasan yang ia miliki saat perusahaan masih dipegang oleh Bramana. Jupiter sama sekali tidak pernah mempertanyakan hal itu. Jupiter selalu memperlakukannya dengan baik. Meskipun mereka jarang sekali bertegur sapa bahkan hampir tidak sama sekali.
Ketakutannya selama ini ternyata tidak beralasan, Salma sempat berpikir jika Jupiter akan mengungkit semua harta yang telah ia gunakan. Dan juga semua nafkah yang telah diberikan oleh ayahnya , ia juga berpikir jika Jupiter akan mengusirnya dari rumah itu, serta membiarkannya hidup dalam kesusahan. Nyatanya semua itu tak pernah Jupiter lakukan, dan ia tetap bisa mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa campur tangan dari Jupiter. Karena anak sambungnya itu hanya fokus pada pekerjaannya dan juga keluarganya, ia tidak pernah mengurusi hal-hal yang bukan berada di ranahnya.
Siang ini Salma sengaja membawakan Alma susu khusus untuk ibu hamil dan juga beberapa vitamin serta, beberapa camilan sehat untuknya, Salma sengaja membuatkan semua itu khusus untuk Alma karena ia ingin memperbaiki hubungannya dengan menantunya itu. Meskipun hatinya masih merasa malu untuk mengakui Alma sebagai menantunya, malu dalam artian merasakan rasa ego yang tinggi. Ia masih belum bisa bersikap manis pada menantunya, tapi setidaknya ia akan memberi perhatian kepada Alma, dan juga kepada calon cucunya yang berada dalam kandungan Alma.
Salma tiba - tiba masuk dan memberikan makanan dan minuman yang ia bawa untuk Alma, Alma yang melihat mertuanya tiba - tiba masuk ke kamarnya merasa sangat bingung. Ia sampai mengucek matanya beberapa kali, dan melihat cuaca di luar yang saat ini sedang sangat cerah.
"Aku membawakan makanan untukmu, eh tidak maksudnya untuk cucuku." ralat Salma sambil menyimpan nampan yang ia bawa di meja yang berada di samping tempat tidur Alma. Alma mengangkat alisnya sebelah setelah mendengar ucapan Alma itu, karena tiba-tiba saja telinganya mendadak gatal mendengar Salma mengatakan jika bayi yang ada dalam kandungannya adalah cucunya. Sejak kapan Yang Mulia Ratu Dugong mengakui anaknya sebagai cucunya.
"Aku tidak salah dengar kan?"
"Ehemm ," Salma hanya menjawabnya dengan deheman saja.
"Oh ya ampun, tapi aku tidak mau memakannya," ucapan Alma membuat mertua yang sedang bertaubat itu tersinggung.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kau tidak mau memakannya, padahal aku sudah susah payah membawanya kemari." keluh Salma, sepertinya perempuan cantik ini tersungging dengan ucapan Alma.
"Siapa yang menjamin, jika di dalamnya tidak ada racun yang berbahaya untukku dan juga bayiku,"
"Apa! Oh ya ampun, tuduhanmu itu sangat kejam," jawab Salma, seolah ia lupa jika ia juga mertua yang kejam. Tapi itu dulu, saat sebelum Salma mendapatkan serangan dari negara api, maksudnya adalah Cindy. Yang kini mendekam di rumah sakit jiwa karena memang kejiwaannya terganggu.
"Benarkah?"
"Iya, kau sangat jahat padahal aku sedang berbuat baik padamu,"
"Apa buktinya kalau kau berbuat baik?" tanya Alma.
"Ini buktinya, makanan ini adalah bukti kebaikanku," jawab Salma. Alma pun melihat kearah makanan yang ada di mejanya. Ia pun kemudian tersenyum melihatnya, sebenarnya ia tahu jika Salma sedang mencoba untuk berubah. Namun, ia hanya ingin sedikit mengerjainya saja. Anggap saja, itu adalah balasan kecil karena kesalahannya yang telah ia perbuat di masa lalu.
"Ahhh ..." Alma tiba-tiba memekik sambil memegang perutnya, membuat Salma menjadi panik saja.
"Ada apa? Apa kau akan melahirkan?" tanya Salma.
"Tidak, mungkin bayiku terkejut melihat neneknya berada di jalan yang benar," jawab Alma asal.
"Apa..."
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya 😘😘😘, maaf kalau 3 novel yang lainnya masih slow up. Karena aku mau tamatin dulu Jupi-jupi akhir bulan ini biar bisa konsentrasi sama cerita aku yang lainnya 😊, sambil nunggu novel ini up. Kalian bisa baca cerita aku yang lainnya ya, cek di profil aku ❤️
Love you all ❤️❤️❤️