Cinta Tuan Muda Impoten

Cinta Tuan Muda Impoten
Bab 83


__ADS_3

"Ehheeeemmmmm ... " sebuah deheman keras mengagetkan mereka bertiga. Yang ternyata suara deheman keras itu berasal dari sebuah planet yang cemburu. Tubuhnya terasa panas, begitu pun dengan hatinya. Otaknya pun ikut-ikutan mendidih saat melihat istri bar-barnya yang lucu tengah didekati pria lain, yang jelas-jelas ia tahu jika pria itu menaruh hati pada istrinya. Mirzha, adalah putra kedua Hendrik yang dikenal dengan ketampanan dan juga kecerdasannya dalam berbisnis. Ia bahkan sudah menjadi salah satu jajaran pebisnis muda yang sukses. Beda dengan Venus yang masih merintis, karena ia baru saja memulai usahanya.


Kini planet yang hampir gosong karena cemburu itu menyesal, karena sudah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh papanya Bramana. Jika ia seharusnya belajar bisnis dari dulu, dan jangan mengandalkan perusahaan miliknya yang memang milik Jupiter. Dulu ia merasa jika semuanya akan menjadi miliknya, oleh karena itu ia tidak perlu susah payah dalam bekerja. Nyatanya, semua yang Bramana miliki adalah milik dari mendiang istrinya dahulu, Maura ibu kandung Jupiter yang adalah kakak sambungnya. Yang semua itu dikembalikan pada sang pemilik saat ia mulai merintis kehidupan barunya, saat berumah tangga dengan Moza.


Dari situ lah Venus mulai membangun usahanya dari bawah, akan tetapi Bramana maupun Jupiter selalu mendukung dan berada di belakangnya. Hingga akhirnya, sedikit demi sedikit ia mulai bangkit dan perusahaan barunya sudah mulai banyak dikenal. Jupiter sebenarnya senang melihat kegigihan Venus yang tidak menyerah saat ia membangun usahanya sekarang. Dan ia lebih suka dengan Venus yang sekarang, karena sikap dan sifat egoisnya sudah mulai hilang. Itu semua berkat kerja keras Alma dalam mendidik suaminya, meskipun dengan cara yang keras dan juga ekstrim. Nyatanya, Alma mampu membuat Venus menjadi orang yang lebih baik.


"Venus, sejak kapan kau sampai?" tanya Alma tersenyum melihat suaminya yang terlihat seksi itu ada di dekatnya.


"Kau lupa dengan panggilanmu?" planet itu merajuk, seolah ia ingin menunjukkan jika kini ia sedang cemburu. Alma memutar bola mata malas, mendengar rajukan planet itu. Tak tahukah ia jika saat ini hati planet itu mulai matang bahkan hampir gosong.


"Sayang, sejak kapan kau berada di sini?" tanya Alma, lebih baik ia mengalah daripada nanti malam ia tidak mendapatkan jatah. Karena posisinya yang sedang hamil besar, membuat Alma tidak bisa memaksa Venus. Ya ampun, kok kebalik ya kok istri yang maksa minta jatah 😆😆😆.


"Sejak hatiku terpanggil, karena ada suatu tanda bahaya." jawab Venus dan kini duduk di samping Alma sambil mengusap perutnya yang besar itu. Melihat interaksi Venus dan Alma, rasa perih menghampiri hati Mirzha. Kenapa rasa ini tidak mudah hilang pikirnya. Ia merasa tersiksa jika melihat perempuan yang ia cintai telah menjadi milik orang lain.


"Bahaya apa?" tanya Alma tidak mengerti.


"Kau memang tidak pernah peka, ada aroma pebinor di sini." jawabnya sambil melihat ke arah Mirzha, mendengar itu Mirzha ingin sekali menyumpal mulut planet yang menyebalkan itu. Bagaimana pun kuatnya perasaan Mirzha pada Alma, tidak akan membuat ia menjadi seorang pria yang merebut istri orang lain. Ia masih punya etika, dan tidak mungkin melakukan hal itu.


"Alma, aku permisi dulu." pamit Mirzha dan kemudian ia pun pergi meninggalkan mereka bertiga, dengan perasaan yang entahlah. Ia sendiri pun tak tahu, karena kini hatinya tengah dipenuhi dengan rasa marah, kesal, sakit bahkan sangat cemburu. Suasana hatinya mendadak sangat tidak baik. Untuk itu ia lebih memilih untuk pergi dan mengurungkan niatnya untuk makan siang, saat ini ia sudah tidak berselera lagi. Padahal tadi ia merasakan perutnya terasa sangat lapar. Tapi kini, ia bahkan tak ingin memakan apapun.


"Kenapa kau malah mengobrol dengannya? Apa kau tahu hatiku sampai matang melihatnya!" protes Venus, setelah Mirzha pergi ia bertanya pada Alma.


"Aku tidak mengobrol tapi memang dia bertanya dan menyapa, mana mungkin aku tidak menjawabnya," jawab Alma santai, ia kini malah makan duluan karena ia sudah sangat lapar.

__ADS_1


"Sudahlah Venus, Alma benar kita memang tidak sengaja bertemu dengannya," ucap Salma, karena ia tidak ingin melihat anak dan menantunya bertengkar dan merusak suasana makan siang mereka.


"Tapi aku cemburu Mah," rajuk Venus


"Astaga Venus!" sentak Salma kesal, kenapa putranya ini sangat manja. Padahal sebentar lagi ia akan mempunyai anak.


"Sudahlah sayang, yang penting pria yang aku cintai itu adalah suamiku seorang." ucap Alma sambil mencium pipi Venus. Hingga sang calon ayah menjadi bahagia.


"Kau juga satu-satunya wanita yang aku cintai. Istri bar-bar ku," jawab Venus, kini gantian ia yang mencium pipi Alma. Hingga Salma merasa menjadi obat nyamuk bakar di sana, gara-gara melihat kemesraan anak dan menantunya.


*


*


*


Saat sampai di rumah, ia bergegas mandi karena ingin bermain dengan cucunya. Jangan sampai ada bakteri dari luar, yang akan mencemari cucunya. Setelah ia selesai mandi, ia langsung menggendong bayi lucu itu. Seolah tahu jika ia adalah Kakeknya, Baby J pun sangat antusias saat melihat Hendrik.


"Hai cucu Opa yang cantik, apa kau merindukan Opamu yang tampan ini," ucapnya mencium pipi gembul Baby J. Baby J pun malah tertawa karena merasa geli dengan ciuman Opanya.


"Iya Opa," jawab Moza,


"Oh ya Moza, kenapa tidak menginap saja di sini," ucap Denisa, dan Hendrik pun setuju dengan usulan istrinya itu. Karena itu berarti ia akan bermain lebih lama dengan cucunya.

__ADS_1


"Iya menginap saja," sambung Hendrik. Moza terlihat berpikir karena ia juga harus meminta ijin pada suaminya dulu.


"Nanti aku tanyakan dulu pada Kak Jupi,"


"Bilang padanya, kalau aku sangat merindukan cucu ku," ucap Hendrik, Moza pun kemudian mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Jupiter, apa boleh ia menginap atau tidak di rumahnya. Tak membutuhkan waktu lama, Jupiter langsung menerima panggilan Moza. Moza pun langsung mengutarakan keinginannya untuk menginap di sana.


"Apa! Menginap! Oh tidak Moza ku sayang. Aku tidak mau satu rumah dengan Papamu itu. Kau tahu kan bagaimana hubunganku dengannya," ucap Jupiter di sebrang sana.


"Tapi Kak Jupi, bukankah selama ini aku juga tidak keberatan tinggal bersamamu. Ayolah hanya satu malam saja ya," bujuk Moza dengan suara memelas. Membuat planet Jupi-jupi tidak tega mendengarnya, akhirnya dengan berat hati Jupiter pun mengijinkan Moza untuk menginap. Mendengar persetujuan dari suaminya Moza pun sangat bahagia Namun, Jupiter nelangsa, raut wajah Jupiter yang terlihat tidak bahagia itu dilihat oleh Alex, hingga mantan jomblo itu pun bertanya padanya.


"Ada apa Tuan?" tanya Alex.


"Ada kabar buruk, karena malam ini aku harus uji mental,"


"Uji mental? Kenapa?" tanya Alex penasaran.


"Karena malam ini aku harus berhadapan dengan mertua durjana ku,"


"Artinya malam ini akan ada pertikaian antara, Menantu Durhaka Vs Mertua Durjana," jawab Alex terbahak, hingga ia mendapatkan tatapan tajam dari Jupiter dan langsung menutup mulut lucknutnya rapat- rapat.


"Diam atau aku kunyah kau,"


"B-baik Tuan,"

__ADS_1


"Astaga dasar mulut lucknut," batin Alex.


__ADS_2