
"Apa kau setuju, jika aku menjadi istri kedua suamimu, Kakak madu," ucap Alma, ia sangat puas karena sudah berhasil memporak-porandakam hati sang mertua durjana.
"A-apa ..."
Sedangkan Venus, ia pun sangat terkejut ia tidak mau istrinya menjadi ibu tirinya.
"Tidak! Kau tidak boleh menikah dengan papaku! Yang benar saja, kau istriku kau tidak bisa menjadi ibu tiriku!" pekik Venus, ia sampai ketakutan bahkan tubuhnya gemetar karena sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Kata siapa tidak bisa? Lagi pula ini keinginan Mamahmu sayang, dia tidak suka aku jadi menantunya. Jika begitu aku akan melanjutkan perjuanganku untuk mengejar cinta papamu itu," ucap Alma santai, padahal dalam hatinya ia ingin sekali terbahak-bahak melihat ekspresi ibu dan anak yang sama-sama takut kehilangan, belum lagi ekspresi dari si ulat bulu yang bingung dan putus asa. Sepertinya ia jadi pesimis untuk bisa mendapatkan Venus. Karena ia melihat jika Salma tengah bimbang, antara membiarkan pernikahan anaknya atau mempertahankan rumah tangganya.
"Tante," panggil Tessa, Salma yang sedang melamun seolah lupa jika disampingnya ada calon menantu yang penuh dengan kebimbangan.
"Ada apa?" tanya Salma, jujur saja ia juga merasa tidak enak pada anak sahabatnya ini. Karena perjodohan terancam gagal.
"Tante, tidak apa mereka tidak usah bercerai. Aku jadi istri kedua pun tak apa," ucapan Tessa bagaikan pelangi di tengah badai yang tengah menimpa Salma. Salma tersenyum bangga, pada calon menantu yang ia harapkan itu. Ia sangat mengerti dengan apa yang dirasakan hati Salma, ia berpikir memang tidak salah memilih Tessa karena ia sangat pengertian. Tidak seperti Alma yang hampir setiap hari membuatnya jantungnya shock depan ucapan-ucapan dan juga tingkahnya. Tapi tentu saja Alma tidak akan semudah itu membiarkan ulat bulu menebar gatal di bahtera rumah tangganya.
"Hei kau ulat gatal, kau pikir aku mau berbagai gagang sapu suamiku dengan kebun milikmu!"
"A-apa!" jawab Tessa.
__ADS_1
"Jika memang kebunmu itu gatal, kenapa tidak mencari gagang sapu yang tidak punya sarang saja! Kenapa kau menginginkan milik suamiku!" sentak Alma, jika menghadapi Salma Alma mungkin masih memikirkan sopan santun dan tidak mungkin ia membentak Salma yang notabene mertuanya. Akan tetapi tidak dengan wanita pengganggu rumah tangganya, Alma tidak akan bersikap lembut apalagi sopan padanya.
"Hei jaga bicaramu, aku bukan wanita gatal!" jawabnya.
"Lalu apa namanya, wanita yang ingin menikah dengan suami orang jika dia tidak gatal!"
"A - aku ... "
"Hei kalian semua sedang apa di taman bunga milikku!" terdengar suara Moza yang memekikan telinga semua orang, ia memasang wajah yang kesal pada mereka yang berada di taman bunganya.
"Sayang jangan berteriak, kasihan bayi kita ia pasti terkejut dengan suara teriakanmu." ucap Jupiter sambil memegang perut Moza dengan kedua tangannya, seolah ia sedang menutup telinga sang bayi.
"Apa yang kalian lakukan di sini! Jangan mengganggu bunga-bunga milik istriku!" sentak Jupiter.
"Aku ... "
"Jangan mencari masalah dengan membawa wanita lain ke rumah ini, kau tahu bagaimana konsekuensinya!" ucap Jupiter penuh penekanan, dan tentu saja ia mengatakan hal itu pada Salma dan juga Tessa, karena ia tidak akan segan-segan menghukum mereka berdua. Jika mereka mengganggu rumah tangga Alma dan Venus. Jupiter sudah berjanji pada Alex, jika ia akan menjaga Alma seperti adiknya sendiri. Dan Venus, Jupiter mulai melihat banyak perubahan dalam dirinya. Dan semua itu berkat Alma, jadi planet Jupi-jupi ini akan melindungi mereka berdua dari berbagai serangan ulat bulu dan mertua durjana.
Salma yang mengerti arti dari tatapan tajam Jupiter langsung pergi diikuti oleh Tessa di belakangnya. Sedangkan Alma dan Venus kemudian duduk di kursi yang tadi mereka tempati.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa nenek sihir itu selalu saja membuat masalah!" kesal Moza sambil terus mengusap perutnya.
"Nenek sihir itu ibuku!" jawab Venus.
"Aku tahu, yang bilang dia nenekmu siapa?" jawab Moza.
"Huweekkk ... " Venus hampir saja muntah karena ia mencium aroma Moza dan Jupiter.
"Kau selalu saja membuatku tersinggung!" kesal Jupiter pada adiknya ini, seolah ia adalah makhluk paling bau saja. Padahal nyatanya ia sangat tampan dan wangi.
"Itu karena kau memang sangat bau! jawab Venus sambil menutup hidungnya. Hingga satu puku la dari Jupiter pun mendarat di kepala Venus.
Bugh...
"Hei apa yang kau lakukan! Kau merusak rambutku!"
"Pluto, sebaiknya kita periksa aku takut hidungmu ada kelainan." ajak Alma.
"Benar ajak periksa sana, mungkin saja jika hidungnya dioperasi akan sembuh dan berhenti memfitnah kita bau," sambung Moza.
__ADS_1