
Malam ini di luar turun hujan, meskipun tidak lebat tapi mampu membuat orang-orang bergelung di dalam selimutnya untuk mendapatkan kehangatan. Bahkan di cuaca seperti ini banyak orang- orang memutuskan untuk tidur lebih awal karena cuaca seperti ini selalu membuat sebagian orang-orang mengantuk.
Akan tetapi semua itu tak berlaku untuk Alex, pria tampan serta mainly ini tidak bisa tidur karena ia terus terbayang dengan apa yang ia dan Kinan lakukan tadi saat hendak makan malam dengannya. Bibir mungil itu masih terasa sampai sekarang di bibirnya, hingga Alex tidak bisa tidur dan terus membayangkan hal tadi saat ia dan Kinan berada di restoran. "Aku tidak pernah menyangka jika aku adalah pria yang sangat romantis, ya ampun tidak sia-sia aku menonton Drakor dan Dracin karena ternyata aku bisa mempraktekkannya pada Kinan. Dan Kinan pasti bangga mempunyai kekasih sepertiku," gumam Alex sambil berguling-guling di atas kasurnya sambil tertawa-tawa seperti orang kurang satu ons. Akan tetapi beberapa saat kemudian, ia pun terlihat berpikir dan terdiam.
"Apa aku dan Kinan sudah bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih ya?"
"Tapi kan kami sudah berciuman?" gumamnya lagi.
"Tapi diantara kami belum ada kesepakatan kalau kami pacaran, aahh aku sungguh pusing. Apa aku bertanya saja, tapi aku malu. Tapi aku juga butuh kepastian. Astaga kepalaku terasa mau meledak! Bagaimana ini?" Alex berdiam diri sebentar, setelah itu ia tersenyum sendiri seperti orang bodoh.
"Sebaiknya besok aku tanyakan saja pada Tuan Jupi, astaga kenapa aku jadi memanggilnya Jupi, seperti nama permen saja," ucap Alex sambil terbahak sendiri di dalam kamarnya. Dasar jomblo gila, eh tidak status Alex masih belum jelas. Berarti kini ia makhluk setengah jomblo.
"Sebaiknya sekarang aku tidur agar besok saat bangun dan bekerja aku terlihat tampan," gumamnya sambil terkikik geli, untung saja tidak ada orang yang melihat tingkah bodoh Alex saat ini. Jika tidak, runtuhlah sudah sebagian harga dirinya yang tidak seberapa itu.
*
*
"
__ADS_1
Keesokan harinya dengan rasa penasaran dan juga tidak sabar ia ingin bercerita pada Jupiter, saat menjemput Jupiter ia sudah gelisah ingin cepat-cepat bertanya. Akan tetapi di rumah itu masih ada Alma dan Moza, Alex tidak ingin kedua makhluk aneh itu mendengarkan ceritanya, bisa kacau kalau mereka mendengarnya.
Saat si kantor terlihat Alex ingin mendekati Jupiter, tapi rasa malu berdesir di hatinya. Tapi jika ia tidak bertanya, maka sampai kapanpun ia tidak akan pernah Mendapatkan jawaban. Dan Jupiter yang memang memiliki hati yang peka pun mengerti dengan gelagat dari asistennya ini. Ia pun mencoba untuk mendekatinya. "Alex, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jupiter langsung tanpa basa-basi. Ia sangat mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Alex, terlihat dari caranya yang terus mondar - mandir di hadapannya berharap di sapa oleh Jupi-Jupi.
"Aku ... aku ..."
"Cepat katakan jangan malu-malu kambing seperti itu, aku sangat geli melihatnya!" ucap Jupiter, kini mereka duduk di sofa yanga ada di ruangan kerja Jupiter. Alex langsung mengusap tengkuknya merasa semakin malu dengan tingkahnya. Apa ia sangat terlihat seperti orang yang jatuh cinta, pikir Alex. Pasti Jupiter bisa melihatnya, itu karena wajah Alex yang terlihat bersinar tidak seperti biasanya. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Alex. Menggelikan ...
Alex pun kemudian bercerita tentang apa yang ia alami beberapa terakhir ini, mulai dari mencari pacar sampai ia bertemu dengan Nayla kemudian ia di kenalkan pada Kinan. Tak lupa juga Alex bercerita jika semalam ia mengajak Kinan makan malam, sampai terjadilah adegan patuk-patukan dengan Kinan. Membuat pria yang sedang bercerita ini mencoba untuk menahannya agar tidak berguling - guling di hadapan Jupiter, saking malunya. Mungkin lebih tepatnya saking bahagianya sampai Alex terus merasa gelisah karena ia bingung mengekspresikan kebahagiaannya.
"Jadi ... Menurut mu Tuan bagaimana hubunganku dengan Kinan. Apa kami sudah sah menjadi sepasang kekasih," tanya Alex sambil mengigit dasinya karena gugup mendengar jawaban Jupiter. Yang ditanya pun tak langsung menjawab dan hanya mengusap dagunya, memperlihatkan jika ia sedang berpikir keras. Astaga, andai saja Alex bisa menilai tentang menimbang rasa dan pengalaman. Sebenarnya Jupiter masih bisa dibilang Junior. Karena ia hanya menang pengalaman main jungkat-jungkit saja. Sedangkan untuk menilai tentang suatu hubungan, ia masih belum mampu karena hubungannya dengan Moza pun, Moza lah yang sering mengatakan cinta duluan pada Jupiter saat itu.
"Ada apa? Diamlah, aku sedang berpikir karena kasus mu cukup sulit," jawab Jupiter serius.
"Benarkah?" Jupiter pun mengangguk mantap pada si Junior kedua yang tidak punya pengalaman apa-apa tentang wanita.
"Iya, kasusmu ini sangat sulit. Kalian belum ada kata sepakat pacaran tapi sudah emmm, main patuk - patukan. akan tetapi, hanya orang pacaran saja yang bisa mengijinkan seorang laki-laki memberinya sebuah patukan,"
"Ciuman Tuan, bukan patukan," ralat Alex, ia merasa jadi anak ayam saat Jupi-jupi mengatakan hal itu padanya.
__ADS_1
"Sama saja, sama-sama adu mulut!" jawab Jupiter.
"Bukankah adu mulut itu bertengkar," gumam Alex.
"Berarti anda juga tidak tahu solusi masalahku ini ya Tuan?" Alex hanya ingin memastikan jika bos nya tidak bisa menjawab pertanyaan yang semalaman mengganggu tidurnya.
"Tidak, aku tidak tahu. Masalahmu sangat rumit aku tidak membantumu, maaf,"
"Tidak apa-apa Tuan, saya mengerti. Karena jangankan Anda ,bahkan saya pun yang bersangkutan merasa sangat bingung dengan statusku sendiri. Apakah kami sudah menjadi pasangan kekasih ataukah kami hanya sekedar teman tapi mesra? Tapi ... aku berharap jika Kinan menjadi istriku, dan jika nanti ia menjadi istriku, berarti saat ini status Kinan adalah calon istriku bukankah benar begitu Tuan?" tanya Alex berbelit-belit membuat otak Jupiter mendadak kusut.
"Astaga Alex, kasusmu semakin rumit saja," jawab Jupiter geleng-geleng kepala, seolah ia mengerti dengan apa yang Alex rasakan. Padahal ia sendiri tidak mengerti. Memangnya apa yang diketahui oleh Junior satu ini tentang percintaan, ia hanya menang pengalaman pencelupan gagang sapu saja. Kasihan sekali Junior dua ini, ia terlunta-lunta dengan pertanyaan yang belum terjawab hingga memenuhi isi kepalanya saat ini.
*
*
*
Jangan lupa dukungannya ya 😘😘😘
__ADS_1