
Di kantor Jupiter mendapat kabar jika Hendrik meminta Alma untuk tidak hamil dulu, dan memintanya untuk kuliah dan menggapai cita-citanya karena ia masih muda masih memiliki masa depan yang panjang. Yang Jupiter herankan adalah kenapa baru sekarang Hendrik memikirkan hal itu, kenapa tidak dari dulu ia memikirkan hal itu. Dulu saja ia terlihat tidak peduli pada putrinya itu, tapi sekarang ia terlihat pura-pura peduli, menyebalkan. Sikapnya itu membuat Jupiter marah dan ingin mengajak mertuanya itu berduet saking kesalnya. Jupiter mengetahui semua itu dari Alex, yang mendapatkan pesan dari Alma yang memberikan laporan pada Alex tentang apa saja yang dilakukan oleh Moza dan apa yang dibicarakan oleh Hendrik pada Moza.
"Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Hendrik, apa yang ia rencanakan?" ucap Jupiter, kini ia mulai berpikir tentang apa yang akan dilakukan oleh mertuanya itu. Karena sejak awal pernikahan ia sama sekali tidak pernah mengusik pernikahannya dengan Moza. Akan tetapi sekarang ia tiba-tiba saja ikut campur bahkan meminta Moza untuk tidak mengandung anaknya dulu Jupiter benar-benar tidak terima, Jupiter tidak pernah mempunyai keinginan untuk menunda memiliki anak, jika Moza menginginkan kuliah maka Jupiter tidak akan pernah melarangnya. Akan tetapi jika Moza harus menunda dulu kehamilannya, maka Jupiter tidak akan pernah setuju dengan hal itu. Ia akan bersikukuh mencegahnya dan tidak akan membiarkan Hendrik mengatur kehidupan pernikahannya dengan Moza, karena bagaimanapun juga Jupiter adalah suaminya dan Moza adalah tanggung jawabnya Jupiter, bahkan ia sudah tidak memiliki tanggung jawab apapun lagi terhadap putrinya itu.
"Mungkin ia ingin memisahkan anda dengan Nona Moza, Tuan." ucapan Alex sungguh membuat planet ini ingin meledak sekarang. Kenapa asistennya ini malah mengatakan hal yang membuat hatinya panas, kenapa Alex tidak mengatakan hal yang membuat pikiran jepitan menjadi tenang saja.
"Apa kau bilang?" tanya Jupiter dengan tatapan tajam saat melihat kearah Alex. Ditatap seperti itu oleh Jupiter membuat jantung Alex mendadak salto ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan hingga hampir saja jantungnya itu menyentuh ginjal milik Alex.
'Astaga apa aku salah bicara,' gumam Alex dalam hati. Perasaan seorang jomblo memang tidak peka, ia hanya berbicara tentang apa yang ia pikirkan. Padahal seharusnya ia mengatakan sesuatu yang menenangkan hati pada pria bucin yang baru saja merasakan indahnya cinta dan manisnya bercinta. Ahhh, jomblo seperti Alex mana paham hal seperti itu. Ia kan tidak mempunyai istri, jangankan istri pacar saja Alex tidak punya.
"A-aku, aku hanya berpikir apa mungkin Tuan Hendrik ingin menjodohkan Nona Moza dengan pria lain. Dan pura-pura memintanya untuk kuliah dan memintanya untuk jangan hamil dulu," ucap Alex, astaga makhluk jomblo ini senang sekali memancing kemarahan makhluk planet ini, tidak tahukah ia jika sejak kebangkitan gagang sapunya itu Jupiter tidak bisa hidup tanpa Moza.
"Alex!"
"I-iya Tuan,"
"Sebaiknya kau menikah agar kau mengerti apa yang sekarang aku rasakan!"
"Tapi Tuan, aku tidak punya pacar,"
"Kalau begitu menikahlah dengan kambing!
__ADS_1
"Astaga, semoga aku tidak bertemu kambing betina. Aku takut planet bucin menyuruhku menikah,"
*
*
*
Sedangkan di rumah Mirzha masih tidak bisa menerima dengan ucapan Moza, tentang Alma dan Venus. Ia tidak rela Alma menikah dengan pria matang. Ia lebih rela jika Alma menikah dengannya, aiihhh ...
"Moza kenapa Alma harus menjadi Ibu tiri planet gila ini?" tanya Mirzha.
'Kenapa tidak jadi ibu dari anakku saja,' gumam Mirzha dalam hati.
"Alma kau tidak boleh jadi ibu tiri planet gila ini aku mohon, kalau kau suka pria matang aku juga pria matang. Aku pria matang dan juga mapan," ucap Mirzha tiba - tiba. Sayangnya, otak Alma selalu loading lama jika menyangkut masalah pria dan perasaan, jadi ia sama sekali tidak peka terhadap perasaan Mirzha yang baru tumbuh itu.
Akan tetapi planet gila itu otaknya langsung waras jika ada yang bicara tentang Alma, entah kenapa hatinya selalu gatal jika mendengar itu hingga membuat ia tak nyaman. "Hei... hei kau bicara apa barusan Patrick?" tanya Venus.
"Siapa yang kau panggil Patrick?" tanya Melvian, ia sedari tadi memang diam dan menyimak saja. Akan tetapi saat Venus menyebut nama tokoh yang sangat ia tidak sukai itu, pemuda tampan itu pun langsung angkat bicara.
"Saudaramu memangnya siapa lagi, Garry!" jawab Venus dengan penuh penekanan saat menyebut nama siput nakal dan sambil melihat ke arah Melvian. Melvian langsung tersinggung berat saat dirinya yang sangat tampan dipanggil sebutan nama siput nakal dan menyebalkan, peliharaan dari makhluk kuning kotak bergigi seksi itu.
__ADS_1
"Wahhh, kau memang suka mencari masalah rupanya ya. Apa kau pernah disapa oleh pria tampan sepertiku? Maksudku disapa dengan menggunakan ini!" ucap Melvian sambil memperlihatkan bogem mentahnya dihadapan Venus. "Maaf sebelumnya, tapi aku tidak suka disapa oleh pria yang mengaku dirinya tampan. Tapi aku sering bahkan sangat sering disapa wanita cantik," jawab Venus bangga.
"Lama-lama jantungku bisa mengkerut jika terus berlama - lama bicara dengan makhluk langka sepertinya." gumam Mirzha , tapi masih terdengar oleh Melvian dengan jelas.
"Kau benar, kewarasanku saja hampir saja berkurang," jawab Melvian. Tidak ingin membuat keributan apalagi sebentar lagi suaminya pulang, Moza pun akhirnya meminta kedua kakaknya pulang saja. Karena berdebat dengan Venus tidak akan pernah ada habisnya.
"Kakak kalian sebaiknya pulang saja, aku takut otak kalian tinggal separuh jika kalian terus melayani planet kurang waras ini," ucap Moza.
"Moza benar, sebaiknya kalian pulang sebelum otak kalian terkontaminasi oleh virus planet gila yang berbahaya.,"
"Iya, cukup Alma saja yang menghadapinya. Hanya dia yang bisa menghentikan kelakuan tidak warasnya," sambung Moza.
"Tapi..." ucap Mirzha dan Melvian yang tidak rela jika Alma harus selalu berinteraksi dengan Venus.
"Sudah aku tidak apa-apa, sana pulang sayangi jantung dan otak kalian." ucapan Alma terdengar seperti perhatian untuk kedua pria tampan itu, hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang saja.
"Baiklah kami pulang, kalian hati-hati." ucap Melvian.
"Alma, Moza kami pulang dulu," pamit Mirzha sambil menatap Moza dengan tatapan yang aahhh susah sekali untuk diutarakan. Melihat Melvian dan Mirzha yang terus menatap Alma, otak dan hati Venus kini semakin tidak nyaman. 'Lihatlah tatapan kedua pria sok tampan itu pada Alma, membuat otak dan hatiku semakin gatal saja. Astaga bagaimana cara menggaruknya ya,' gumam Venus dalam hati.
****
__ADS_1
Jangan lupa besok senin Vote nya kirim ke novel ini ya 😘😘😘