Cinta Tuan Muda Impoten

Cinta Tuan Muda Impoten
Hamil


__ADS_3

Melihat Moza pingsan Jupiter pun panik dan kemudian segera menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit. Alex dan Moza pun dengan sigap langsung menyiapkan mobil dan membawa mereka ke rumah sakit.


"Moza bangunlah," ucap Jupiter sambil menepuk - nepuk pipi Moza yang semakin terlihat bulat itu. Karena Moza pernah bilang meskipun terkadang kepalanya pusing tapi, ia menjadi suka sekali makan dan mudah lapar.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit, Moza dengan segera ditangani oleh dokter. Dan Jupiter memaksa jika yang harus memeriksa Moza adalah dokter perempuan. Karena ia tidak mau jika istrinya disentuh oleh pria selain dia.


"Dokter cepat periksa istriku!"


"Baik Tuan, silahkan anda tunggu di luar." ucap dokter itu sambil menutup pintu ruangan dimana Moza diperiksa.


"Astaga ada apa dengannya, kenapa dia pingsan?"


"Apa yang kalian lakukan di rumah Moza tadi?" tanya Alex, sedangkan Jupiter sedang berdiri dengan gelisah di depan pintu.


"Kami hanya duduk dan mengobrol, kami juga menikmati kue buatan ibunya Moza," terang Alma.


"Apa kuenya beracun?"


"Oh ya ampun, kalau pun kue nya beracun aku juga pasti sudah pingsan! Lagi pula mana mungkin Ibunya Moza memberikan racun pada anak yang sangat ia sayangi,"


"Benar juga,"


"Curiga boleh tapi bodoh jangan!" kesal Alma pada kakaknya, hingga toyoran pun mendarat di kening Alma.

__ADS_1


"Jaga bicaramu! Jangan sampai kau terkontaminasi oleh planet gila itu," Alma tidak menjawab ucapan kakaknya, ia hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Sedangkan Jupiter, ia merasa bersalah karena memang akhir-akhir ini istrinya sering mengeluh tapi ia tidak pernah menganggap keluhan Moza dengan serius. Karena ia pikir jika Moza merasa pusing dan lemas hanya karena kelelahan saja.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya dokter pun keluar dan langsung menemui Jupiter. "Dokter, bagaimana keadaan istriku?" tanya Jupiter dengan panik. Dokter pun belum menjawab dan malah meminta Jupiter untuk masuk kedalam ruangannya.


"Kita bicarakan, di ruangan saya Tuan." Dokter itu melangkah mendahului Jupiter. Jupiter pun mengikuti Dokter itu dari belakang. Sedangkan Alma dan Alex tetap menunggu Moza di sana. Ia takut jika Moza sadar dan di sana tidak ada orang.


"Baiklah silahkan duduk, Tuan."


"Apa yang terjadi pada Istriku, dia tidak apa-apa kan? Dia tidak mengidap penyakit yang serius kan Dokter?" Jupiter sudah sangat tidak sabar mendengar keterangan dari dokter tentang keadaan istrinya.


"Tidak Tuan, tenanglah. Istri anda baik-baik saja. Yang dialami istri anda itu wajar, karena biasanya masa kehamilan di trimester pertama memang seperti itu, pasien akan merasa pusing dan mual serta merasa lemas." keterangan dokter itu membuat Jupiter terkejut.


"Apa? Jadi Istriku hamil?" tanya Jupiter masih tidak percaya.


"Baik dokter aku mengerti, terima kasih." Jupiter sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Moza. Itu artinya ia akan segera menjadi papa. Ia senang karena nanti jika ia bertemu dengan Zayan maupun Rafa ia pun bisa ikut membicarakan anaknya. Ahh pasti sangat menyenangkan memiliki anak - anak yang lucu. Jupiter terus tersenyum karena membayangkan hal-hal yang belum terjadi.


Setelah memberikan keterangan serta resep obat, Jupiter pun kembali ke ruangan dimana Moza dirawat. Untungnya dokter memperbolehkan Moza untuk pulang karena keadaannya baik-baik saja. Moza kini sudah sadar, Jupiter yang tidak sabar pun langsung memberitahukan kabar baik ini pada Moza. Perempuan mungil nan cantik itu sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya. Ia tidak pernah menyangka jika ia akan memiliki anak dalam waktu dekat ini. Alma dan Alex pun turut bahagia mendengar kabar ini, bahkan Alex tidak pernah menyangka jika gagang sapu yang selalu tertidur itu bisa memproduksi bayi. Benar - benar luar biasa.


Moza pun dengan tidak sabar langsung memberitahukan kabar baik ini pada ibunya Delisa. Delisa sang at bahagia mendengar kabar anaknya mengandung dan berjanji jika esok ia akan menemui Moza di rumahnya. Dan kini mereka semua sudah pulang ke kediaman Bramana. Dan Alex pun pulang kembali ke apartemennya.


"Hati-hati sayang," ucap Jupiter pada Moza sambil memegang tangannya. Sangat romantis sekali, hingga Alma pun berkhayal mempunyai suami yang romantis. "Sadarlah Alma suamimu itu gila, mana paham apa artinya perhatian dan kemesraan," gumam Alma.


Dengan hati-hati Jupiter menuntun Moza, saking khawatirnya ia sampai menggendong Moza ke dalam kamarnya. Membuat hati Alma meronta - ronta melihat adegan manis di depannya. "Ya ampun... ya ampun, hatiku meleleh melihat kemesraan mereka," ucap Alma, karena ia hanya mengikuti Moza dan Jupiter sampai ia masuk ke dalam kamar. Setelah itu ia pun kembali ke kamar barunya, yaitu kamar Venus. Alma pun menghela napas kasar mengingat pernikahannya tak semanis gulali. Malah terasa sangat pahit seperti obat sakit kepala, ahh sudahlah terima saja nasibnya yang kurang beruntung ini. Baru saja ia membalikkan tubuhnya, terlihat penampakan menyebalkan di depan matanya.

__ADS_1


"Astaga kau membuatku terkejut!" Alma mengusap - usap dadanya karena ia terkejut melihat Venus kini berada di depannya sambil bersedekap dan menatapnya dengan tajam.


"Dari mana kau?" tanya Venus mulai menginterogasi istrinya. Ia merasa kesal lantaran mendapat laporan jika Alma pergi ke rumah Moza. Apa ia ingin bertemu dengan salah satu kakaknya Moza, yaitu Mirzha atau Melvian. Dimana kedua pria tampan itu menaruh hati padanya. Meskipun ia merasa belum mencintai Alma. Akan tetapi ia tidak mau jika Alma sampai bermain dibelakangnya.


"Aku dari rumah sakit," jawab Alma lemas, jujur saja ia pun merasa lelah hari ini.


"Jangan bohong! Aku dengar tadi kau pergi ke rumah Moza. Apa kau kesana untuk bertemu dengan Mirzha atau Melvian!" sentak Venus, tapi bukannya menjawab Alma malah melengos pergi ke kamar. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah itu.


"Hei bocah! Aku bicara denganmu!" Venus mengikuti Alma yang mengacuhkannya. Venus pun masuk ke dalam kamar dan menarik Alma hingga ia terjatuh ke atas kasur.


"Apa yang kau lakukan! Minggir sana!"


"Tidak! Sekarang jawab pertanyaanku, kau dari mana?" tanya Venus, kini pria tinggi dan tampan itu malah mengungkung Alma. Alma yang merasa lelah pun hanya diam saja, ia malas berdebat dengan suami planet nya ini.


"Aku sudah bilang, aku dari rumah sakit! Tadi Moza pingsan, kalau kau tidak percaya tanyakan pada kakakmu planet Jupi-jupi itu!" Alma sungguh kesal dengan sikap Venus yang tiba-tiba protektif itu.


"Benarkah?"


"Terserah kalau kau tidak percaya!" Venus baru sadar jika saat Jupiter pulang ia menggendong Moza. Dan kemudian ia berpikir jika Alma memang tidak berbohong. Namun, kini pandangan Venus malah melihat tertuju pada bibir mungil Alma yang setiap hari memarahinya.


"Astaga, bibir cerewet ini terlihat seperti Cherry, aku jadi ingin menggigitnya," gumam Venus.


****

__ADS_1


Sambil nunggu novel ini up, mampir juga di karya Mimin yang lainnya ya 😘😘😘


__ADS_2