Cinta Tuan Muda Impoten

Cinta Tuan Muda Impoten
Bab 46


__ADS_3

Pagi ini Venus baru saja selesai mandi, hari ini ia ada meeting penting dengan rekan bisnisnya yang baru. Tapi saat ia akan memakai pakaiannya, pakaian yang biasa sudah disediakan oleh Alma ternyata tidak ada di sana. Karena walaupun Alma sangat tidak menyukai Venus, akan tetapi ia selalu melayani Venus seperti layaknya seorang istri. Namun, hanya sebatas mempersiapkan apa yang akan dipakai oleh Venus saja tidak lebih dari itu.


Tapi pagi ini Alma tidak menyiapkan apapun untuknya, karena biasanya jika ia keluar dari kamar mandi maka secangkir kopi hangat dan juga pakaian kerjanya sudah siap di atas tempat tidur. Tapi pagi ini ia tidak menemukan apapun di sana. Pandangan Venus pun kemudian tertuju ke arah sofa dan melihat Alma yang masih bergelung dalam selimut di sana. Dia ingin bertanya kenapa pagi ini ia tidak menyiapkan apapun untuknya, karena bagaimana pun juga seorang istri seharusnya melayani suaminya dengan baik. Ya meskipun ia tidak melayaninya di tempat tidur, setidaknya Alma melayaninya saat ia bangun tidur untuk mempersiapkan keperluan yang lainnya.


"Hei bocah! Kenapa pagi ini kau tidak menyiapkan apapun untukku, kau mulai malas ya," ucap Venus sambil bertolak pinggang di dekat sofa yang Alma tiduri. Namun, Alma sama sekali tidak bergeming dan masih betah berada di dalam sana.


"Alma, ayo anak nakal siapkan pakaianku. Atau tidak buatkan aku kopi saja supaya aku bersemangat," Alma masih belum bergerak di sana, hingga kesabaran planet yang setipis tisu itu sudah tidak bisa di pertahankan lagi. Venus pun kemudian menarik selimut yang di pakai oleh Alma, hingga terlihatlah wajahnya yang pucat. Venus pun khawatir karena istri bar-barnya yang biasa berisik saat pagi-pagi malah diam membisu.


"Al ... Alma, kau kenapa?" tanya Venus, kemudian ia pun menempelkan tangannya di kening Alma yang ternyata sangat panas. Rupanya istri galaknya ini sedang demam. Karena tidak tega akhirnya Venus pun menggendong tubuh kecil Alma untuk ia pindahkan ke atas kasurnya yang super nyaman. Namun, sayangnya saat menggendong Alma handuk yang yang melilit di pinggangnya tiba - tiba lepas hingga membuat burung pelatuk celingukan di bawah sana.


"Oh astaga, kenapa pakai copot segala." ucapnya dengan panik. Ia pun segera menidurkan Alma ingin dengan cepat mengambil handuknya. Namun, belum juga melangkah Alma keburu membuka matanya dan melihat Venus tengah dengan keadaan yang sangat entahlah. Alma ingin pingsan saja saat melihat benda pusaka itu secara live.


"Jangan mengintip, tutup matamu!" ucap Venus panik dan berlari mengambil handuknya. Tapi Alma bukannya menutup matanya. Ia malah semakin membuka matanya lebar-lebar. Membuat Venus mendadak ingin berguru pada Naruto agar bisa menghilang saja.


"Oh ya ampun, dasar bocah tukang intip! Aku bilang tutup matamu, bukan buka matamu!" ucapnya dengan frustasi dan kemudian berlari ke arah lemari dan segera memakai pakaiannya.


"Oh ya ampun, apa itu tadi. Apa tadi itu ..."


"Jangan diingat - ingat! Dasar menyebalkan!" Venus terus saja menggerutu. Ia malu bercampur kesal karena Alma sudah melihat barang berharganya yang selama ini selalu ia sembunyikan dari siapa pun.


"Siapa yang mengingatnya, bahkan kepalaku terasa pusing sekarang," ucap Alma dengan lemah. Venus pun baru sadar jika Alma sedang demam, setelah selesai menggunakan pakaian Venus pun kemudian menghampiri Alma lagi dan memegang keningnya yang memang panas.


"Aku baru tahu, jika gadis bar-bar sepertimu bisa sakit juga,"


"Aku manusia tentu saja aku juga bisa sakit!"


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan obat untukmu. Eh tapi kau belum makan kan, tunggu sebentar," Venus pun kemudian pergi keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Di lantai bawah, tepatnya di ruang makan semua orang kini tengah berkumpul. Sepertinya mereka semua tengah menunggu Venus dan Alma yang belum turun sedari tadi.


"Venus, cepatlah sarapan dulu. Kami semua sudah menunggu," ucap Salma. Venus pun kemudian menyiapkan beberapa lembar roti yang ia olesi dengan selai dan kemudian menyiapkan susu. Dan menatanya ke atas nampan.


"Venus mau kau kemanakan makanan itu? Sebaiknya kau sarapan dulu," ucap Salma


"Nanti dulu saja Mah, Alma sakit aku akan menyiapkannya dulu makanan."


"Apa Alma sakit?" tanya Moza.


"Iya badannya panas dan juga demam," jawab Venus sambil mengoleskan selai tanpa melihat ke arah Moza. Wajah cantik yang dulu sangat menarik hatinya, kini malah terlihat biasa saja. Mungkin karena hatinya telah terisi wajah cantik yang lain atau bagaimana entahlah. Hanya Venus yang tahu tentang semua itu.


"Aku ke kamar dulu," pamit Venus sambil membawa nampan yang berisi sarapan untuk Alma.


"Kenapa anak itu?" gumam Salma karena tidak biasanya ia peduli pada orang lain. Apalagi pada Alma yang notabene musuhnya selama ini. Musuh berkedok istri.


"Ayo makanlah,"


"Kau tidak menaruh racun kan di sana?" tanya Alma dengan tatapan menyelidik, membuat planet itu tersungging. Hingga roti yang ia sodorkan untuk Alma kini ia suapkan sendiri. " Kau lihat aku memakannya dan aku masih hidup!"


Tanpa banyak bicara Alma pun meminum susu yang Venus bawa kemudian ia memakan rotinya sedikit karena mulutnya terasa pahit.


"Makan yang banyak,"


"Rasanya tidak enak,"


"Jangan manja! Cepat makan!"

__ADS_1


"Bujuk aku,"


"Tidak mau, aku tidak bisa membujuk seorang perempuan."


"Ya sudah kalau begitu aku tidak mau makan," rajuk Alma.


"Ya ampun, baiklah. Ayo makan anak nakal, supaya kau cepat sembuh dan tidak merepotkan aku,"


"Kenapa bujukanmu membuatku mual!"


"Aku sudah bilang tidak bisa membujuk orang!"


"Menyebalkan."


"Ayo cepat makan!"


"Venus," panggil Alma pada Venus yang sedang meminum susu yang tadinya ia bawa untuk Alma.


"Heemm ..."


"Aku merasa pusing dan mual, apa aku hamil anakmu?"


Byuuuuurrr


Susu yang Venus minum langsung tersembur keluar. Ia terkejut saat mendengar Alma hamil. Bagaimana mungkin ia hamil jika, main jungkat-jungkit saja ia belum pernah. Atau jangan-jangan...


***

__ADS_1


Hayoooo jangan - jangan apa 😦


__ADS_2