
Mengetahui kini ia sedang hamil, Alma sangat bahagia karena hal yang selama ini ia inginkan ternyata bisa terwujud berkat kerja keras gagang sapu Venus. Dokter pun kemudian memberitahukan dirinya jika semua yang dialami oleh Venus adalah sindrom dimana, yang mengidam itu bukan sang ibu dari si calon bayi tapi justru menimpa ayah calon bayinya.
Alma tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter itu, yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah jika dirinya sedang hamil. Dan itu artinya ia akan segera mempunyai seorang anak dengan Venus. Mengingat hal itu, Alma harus semakin berusaha agar Salma tidak menggangu lagi rumah tangganya. Karena mulai saat ini ada bayi yang harus ia perjuangkan, jangan sampai anaknya kehilangan sosok ayahnya nanti. Alma tidak mau itu terjadi.
Setelah dokter selesai memberikan penjelasan, dan juga mencetak hasil USG barusan, Alma kembali ke ruangan dimana suaminya dirawat. Dan di sana Alex masih setia menunggu. Melihat adiknya yang baru datang, mantan perjaka ini terus mengomel karena kesal.
"Kau ini lama sekali! Kau pikir aku tidak ada pekerjaan lain apa. Aku ini bukan perawat yang harus menjaga bayi besarmu itu!"
"Aku tahu, maaf ... tadi dokter memeriksaku Kak,"
"Diperiksa? Kenapa kau diperiksa?" kini Alex yang jadi panik, bagaimana pun menyebalkannya Alma. Tapi ia sangat menyayangi adiknya ini. Ia tidak mau terjadi sesuatu padanya.
"Dokter curiga jika sakitnya Venus dan semua yang dialaminya itu ada sangkut pautnya denganku, maka dari itu dokter memeriksaku,"
"Lalu apa katanya?" tanya Alex tidak sabar.
"Dokter bilang, jika aku sedang hamil Kak," ucap Alma dengan senang, sungguh ia sangat bahagia dengan kehamilannya ini.
"Apa! Kau hamil?" tanya Alex dan Venus secara bersamaan. Ternyata suami planetnya ini sudah sadar.
"Iya aku hamil, ya ampun aku bahagia sekali," ucap Alma, Alex yang mendengarnya pun ikut bahagia. Karena sebentar lagi ia akan mempunyai keponakan. Ia pun memeluk adiknya dan mengucapkan selamat.
"Selamat, sebentar lagi kau akan jadi ibu. Jadi jangan nakal lagi," ucap Alex sambil memeluk erat adiknya, ia sangat terharu karena adiknya yang sangat nakal ini sebentar lagi akan punya anak. Venus yang melihat istrinya dipeluk oleh Alex merasa tidak terima. Meskipun ia adalah kakaknya Alma, tetap saja ia tidak ikhlas perempuan yang selalu ia peluk dan cium setiap malam berada dalam pelukan orang lain.
"Minggir Kau!" ucap Venus mendorong Alex.
__ADS_1
"Hei Kenapa kau mendorong kakakku?"
"Karena hanya aku yang boleh memelukmu tidak boleh ada orang lain yang berani menyentuhmu. Aku tidak suka!" ucap planet itu merasa kesal.
"Menyebalkan kau!" jawab Alex, tapi apa peduli Venus iya malah menarik Alma ke dalam pelukannya, dan tidak mempedulikan Alex yang menatapnya dengan kesal. Hatinya saat ini sedang merasa bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah, ternyata tidak sia-sia selama ini Alma selalu memaksanya bercocok tanam karena ternyata ia mampu menghasilkan anak dengan gagang sapu miliknya itu.
"Aku bahagia karena sebentar lagi aku akan jadi ayah, ya ampun jadi saat ini aku sedang mengidam. Aku jadi terharu," ucap Venus yang masih memeluk Alma dan kemudian memberikan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah cantiknya. Melihat pemandangan itu, hati Alex menghangat dan juga merasa tenang. Karena melihat cara Venus memperlakukan Alma, ia menjadi yakin jika sebenarnya Venus sangat mencintai Alma. Dan melihat Alma yang hanya tertawa diperlakukan seperti itu oleh Venus, Alex pun yakin jika Alma pun memiliki perasaan yang sama dengan Venus. Syukurlah, ia bahagia melihat adiknya bahagia. Ia tidak pernah menyangka jika akan ada pria yang kuat dengan sikap dan sifat Alma yang tidak biasa, dan orang yang kuat itu adalah orang yang tak pernah Alex sangka-sangka, karena sejak dulu ia tidak pernah menyukai Venus yang manja dan arogan. Akan tetapi sikap Alma yang tidak mudah, dikalahkan mampu mengalahkan sifat Venus yang dulu arogan dan egois.
*
*
*
Alma berjalan dengan perlahan, sebenarnya Jupiter sudah menyarankan jika mereka pindah kamar saja. Tapi Moza menolaknya lantaran ia sangat suka kamar mereka tempati sekarang. Karena view nya yang indah jika dilihat dari kamar mereka. Jupiter pun akhirnya mengikuti keinginannya Moza, karena bagi Jupiter yang terpenting adalah kebahagiaan dan kenyamanan istrinya.
Saat sedang di taman benar saja, suami yang selalu ada dalam hati dan pikirannya ini menghubungi Moza. Moza tersenyum melihat panggilan video dari suaminya yang tampan itu.
"Hallo suamiku sayang, apa kau merindukan aku?" tanya Moza sambil tersenyum manis pada Jupiter. Ia sangat bahagia bisa melihat wajah suaminya itu.
[Aku sangat merindukanmu sayang, makanya aku meneleponmu]
"Ohhh ya ampun, jantung dan lambungku sampai bergetar mendengarnya," Jupiter tertawa di sebrang sana, ia tidak pernah menyangka jika ia akan sangat mencintai Moza. Gadis remaja yang belum lama ia kenal itu. Seorang anak perempuan yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Namun, Jupiter berjanji pada dirinya sendiri dan juga Moza jika ia akan selalu membahagiakannya.
[Melihatmu aku jadi ingin pulang cepat]
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa tidak pulang saja,"
[Pekerjaanku belum selesai]
"Padahal anakmu sangat merindukanmu Kak Jupi," rengek Moza, mendengar anaknya merindukan Jupiter. Akhirnya runtuh juga perasaan planet ini, karen jika sudah menyangkut soal anak ia pasti akan mengutamakannya. Karena kerinduan anaknya berarti sama dengan kesejahteraan gagang sapunya. Untuk itu Jupiter memilih untuk pulang saja, dan nanti ia akan meminta Alex untuk membawa pekerjaannya ke rumah.
[Baiklah, jika anak kita menginginkan kehadiran papanya. Maka aku akan datang sekarang juga] Mendengar suaminya akan pulang Moza sangat bahagia. Ia merasa sangat beruntung karena mempunyai suami yang sangat perhatian padanya.
"Aku akan menunggumu Kak Jupi," setelah itu panggilan pun diakhiri. Jupiter segera berkemas untuk pulang dan di saat yang bersamaan Alex pun kembali ke kantor. Ia pun mengernyit heran, waktu masih siang tapi Jupiter sudah bersiap untuk pulang. Alex pun kemudian bertanya padanya, mau kemana bosnya ini. Apa ada hal yang penting pikirnya, hingga ia buru-buru pulang.
"Tuan anda mau kemana?"
"Aku mau pulang dulu, ada hal darurat di rumah," jawabnya.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Iya, barusan Moza menelpon ku dan ia bilang jika anak kami sangat merindukan papanya. Aku tidak bisa membiarkan anakku menahan kerinduannya padaku," jawab Jupiter yang kini sudah selesai berkemas.
"Astaga ..."
'Bukan anakmu yang rindu, tapi gagang sapumu yang gatal,' batin Alex.
***
Pagi-pagi udah doble up nihh 😘😘😘 dukungannya jangan lupa dong. Mimin sedih udah capek - capek ngetik yang like sama komen dikitan yang kasih vote juga 😌 padahal di statistik yang baca banyak 🙃
__ADS_1