
"Aku sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi padaku nanti, yang penting bagiku adalah saat ini kau hancur!" senyum jahat ia perlihatkan pada Salma
"Oh tidak ... " Salma menggelengkan kepalanya, untuk kali ini ia benar-benar merasa takut. Ia tidak pernah menyangka jika Cindy akan melakukan hal seperti ini padanya.
Cindy mulai menyerang Salma dengan pisau yang ia bawa, Salma yang tidak siap pun tangannya terluka, karena ia menghela serangan Cindy dengan tangannya.
"Jangan lakukan itu, Lepaskan dia!" Moza yang takut mertuanya itu kenapa-kenapa berusaha menolong. Namun, ia malah di dorong oleh Cindy.
"Aaaarrrrkkkhhhhh ... " Moza terjatuh terjengkang kebelakang, ia meringis kesakitan. Melihat Moza terjatuh dan mungkin saja ia terluka, Cindy pun panik. Karena jika Moza yang terluka maka hukuman yang akan ia dapatkan dari Jupiter pasti akan lebih berlipat-lipat. Akan tetapi semuanya sudah terlanjur, apa tidak ia bereskan saja semuanya. Karena apapun yang terjadi sudah pasti ia tidak akan selamat. Lagi pula selama ini kehidupannya yang sangat menderita itu akibat dari ia melukai Moza saat itu.
Kenapa tidak ia luapkan saja amarahnya hari ini pada Moza, dengan begitu sekali tepukan maka dua lalat akan mati begitu pikirnya. Pikiran wanita ini sudah sangat di luar normal, dendam yang ada dalam hatinya membuat ia gelap mata. Dan akan melakukan apa saja demi memuaskan hatinya.
Cindy yang hendak menyerang Salma pun akhirnya mengurungkan niatnya dan berbalik untuk menyerang Moza terlebih dahulu, sepertinya menyerang Moza akan jauh lebih menyenangkan. Karena akibat perbuatannya dulu kepada Moza yang telah membuatnya mendapatkan hukuman dari Jupiter, dan karena hal itu membuat hidupnya sangat menderita.
"Mau apa kau?" tanya Moza, ia beringsut ke belakang sambil memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. Ia juga merasakan ada sesuatu cairan hangat keluar dan membasahi kakinya. Tidak ... Moza takut terjadi hal buruk pada anaknya.
"Aku akan membuatmu menderita Moza, bagaimana kalau anakmu aku keluarkan saja. Sepertinya dia sudah mau keluar," ucap Cindy dengan tawa menyeramkan. Sungguh ia sangat takut saat ini, kenapa wanita ini mempunyai dendam yang amat sangat padanya. Kenapa ia tidak introspeksi diri dan malah menyalahkan orang lain. Kenapa Cindy terlihat seperti orang yang memiliki gangguan kejiwaan.
"Jangan macam-macam, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu pada anakku!"
__ADS_1
"Cindy jangan berbuat gila!" sentak Salma.
"Diam kau! Dan kau Moza ... aku sama sekali tidak butuh maafmu! Rasakan pembalasanku hari ini padamu Moza!" Cindy mulai mengangkat pisaunya, ia benar-benar akan melukai Moza. Salma pun berlari langsung menolong Moza, bagaimana pun ia tidak menyukai Moza, tapi ia sama sekali tak pernah menginginkan Moza dan bayinya terluka. Jadi Salma terus melawan Cindy meskipun ia terluka. Di saat seperti ini Salma merutuki kebodohannya karena ia sangat tidak suka diganggu hingga ia tidak membiarkan satu pelayan pun mendekati atau pun hanya lewat ke tempat ia selalu menghabiskan waktunya tanpa ingin diganggu. Hingga saat terjadi sesuatu padanya seperti sekarang ini, tak ada satu orang pun yang menolongnya.
Dan hanya satu nama yang ia ingat di saat seperti ini, yaitu Alma. Karena hanya ia yang mampu menolong mereka. Dimana Moza sudah terluka dan Salma sendiri tak mampu melawan Cindy. Tenaga gadis gila ini benar-benar kuat. Hingga di detik terakhir ia menatap Moza dengan tatapan bersalah. Jika sampai terjadi sesuatu pada Moza dan juga bayinya, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Mati kau!" teriak Cindy dan hampir saja pisau itu ia tancapkan di dada Salma. Moza panik dan shock tapi ia tak mampu bergerak karena rasa sakit di perutnya. Ia tak sanggup melihat Salma terluka apalagi sampai ia tiada. Tidak ... itu tidak boleh terjadi, Moza benar - benar takut saat ini takut akan terjadi hal buruk pada dirinya anaknya dan juga mertuanya.
"Mamah ... !" teriak Moza. Untuk saat ini Moza benar-benar tulus memanggil Salma dengan sebutan Mamah. Jika biasanya ia selalu memanggilnya dengan ejekan, tapi tidak dengan hari ini. Ia sangat tulus dan hatinya sakit melihat Salma terluka karena menolongnya.
"Jangan Cindy!"
Buukkkk ....
"Tidak akan aku biarkan kau melakukan hal itu!" Alma datang dan menendang Cindy hingga terjungkal. Alma yang sudah membersihkan kamarnya berniat untuk menemui Moza. Karena setiap pagi ia memang selalu menemani Moza berjalan-jalan atau pun untuk berbincang dan menghilangkan rasa jenuhnya. Karena hanya dengan Moza ia bisa saling berbagi dan saling menyayangi dan juga melindungi. Mereka sudah seperti saudara, dan Alma juga masih tetap menjaga Mozaz meskipun kini statusnya sudah berubah menjadi adik iparnya.
"Beraninya kau!" teriak Cindy tidak terima karena Alma sudah menendangnya. Bukannya takut melihat Cindy, Alma justru menghampirinya dan memberikan beberapa bogem mentah di wajahnya dan beberapa bagian tubuhnya yang lain hingga Cindy terkapar tidak berdaya.
Demi apapun Salma sangat bahagia melihat kedatangan Alma, ia sangat yakin jika Alma akan dengan mudah mengalahkan Cindy yang hanya seorang perempuan. Jangankan hanya perempuan, putranya saja Venus yang memiliki tubuh tinggi kalah oleh Salma yang bertubuh mungil.
__ADS_1
"Kemampuanmu hanya seperti anak kucing, tapi sudah berani membuat orang terluka!" Alma memberikan pu - kulan terakhir pada Cindy dan berhasil membuatnya terluka dan tak sadarkan diri. Tubuh Cindy limbung karena tak mampu menahan serangan Alma yang notabene ahli bela diri.
Alma kaget saat melihat Moza dan juga Alma yang terluka, ia segera meminta para pelayan untuk membantunya membawa mereka berdua ke rumah sakit.
"Ikat wanita gila itu, dan beritahu Kak Jupi dan juga calon suamiku!" teriak Alma. Hingga Salma yang kesakitan merasa terkejut saat mendengar Alma menyebutkan calon suami yang berarti itu suaminya. Kenapa menantunya ini masih berniat menikahi suaminya pikir Salma.
"Maaf Mamah mertua aku hanya bercanda," ucap Alma dan kemudian ia masuk ke dalam mobil untuk membawa Salma dan moza segera ke rumah sakit.
"Aaaarrrrkkkhhhhh ...!" teriak Moza, sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
"Moza ..." Salma mengusap peri Moza yang terasa kencang itu.
"Ini sangat sakit hiks ... " Moza sudah berderai air mata karena menahan rasa sakit yang amat sangat di perutnya.
"Bertahanlah aku akan membawa kalian ke rumah sakit." Alma pun mulai menjalankan mobilnya. Di tengah keramaian kendaraan di jalan raya, Alma terus menyalib mobil-mobil yang ada di jalan itu. Hingga banyak orang yang mengumpat padanya. Namun, ia sama sekali tidak peduli karena yang ia pikirkan saat ini adalah keselamatan Moza dan juga bayinya.
***
Besok senin waktunya vote ya jangan lupa 😘😘😘
__ADS_1