
Kabar kehamilan Moza kini sudah sampai ke telinga Hendrik, ia tidak habis pikir pada pemikiran anak dan menantunya itu. Apa mereka tidak menyadari jika Moza masih belum cukup umur untuk hamil dan punya anak. Tapi mereka berdua bersikukuh untuk memilikinya, ia ingin sekali bicara tentang pada anak dan menantunya tentang kehamilan Moza. Untuk itu ia memutuskan untuk datang ke kediaman Bramana.
Malam ini Hendrik sengaja datang menemui putrinya tanpa sepengetahuannya Delisa, ia sengaja datang malam-malam karena hanya saat malam lah Jupiter ada di rumah. Dan di sinilah ia sekarang sedang duduk di ruang keluarga kediaman Bramana.
"Ada apa Papa malam-malam ke sini?" tanya Moza, sungguh ia merasa sangat aneh dengan kedatangan papanya malam-malam. Tidak biasanya papanya ini repot - repot untuk menemuinya. Bahkan dulu saat mereka tinggal dalam satu rumah pun, Hendrik tak pernah sekalipun menemui Moza.
"Apa benar kau hamil?" tanya Hendrik langsung pada intinya, ia juga tidak berniat menjawab pertanyaan putrinya itu.
"Iya, aku sedang hamil."
"Apa kau lupa dengan apa yang Papa katakan, Moza!" Moza hanya mencebikkan bibirnya kesal. Jujur saja ia tidak pernah lupa dengan semua ucapan maupun sikap papanya yang selalu menyakiti hatinya itu.
"Kata - kata yang mana?" Moza pura - pura tidak tahu.
"Akun sudah mengatakan padamu, untuk menunda kehamilanmu!"
"Memangnya kenapa?" Jupiter mulai angkat bicara, tadinya jika pembicaraan tentang ayah dan anak Jupiter tidak akan ikut campur. Tapi pembicaraan Hendrik menyinggung tentang kehamilan istrinya, itu artinya mertuanya ini menyinggung tentang calon anaknya. Pandangan Hendrik kini mengarah pada Jupiter.
"Apa kau lupa atau kau memang sengaja, Moza itu masih remaja. Seharusnya dia mengemban dulu pendidikan bukannya malah mengurus bayi,"
"Bayi ini cucumu!" sambung Moza.
"Kau itu belum cukup umur untuk mengandung, apa kau tidak tahu jika kehamilan dini itu sangat bahaya!"
"Memangnya kenapa kalau bahaya, sejak kapan kau peduli. Asal kau tahu saja, aku akan tetap menyayangi anakku. Aku akan selalu memberikan kasih sayang pada anakku, dan yang jelas aku tidak akan pernah melakukan hal yang selama ini kau lakukan padaku!" sentak Moza menahan tangisnya. Selama ini Moza tidak pernah menangis bagaimana pun Hendrik menyakitinya, akan tetapi sekarang ia terlihat rapuh. Mungkin ini akibat dari efek kehamilannya yang membuatnya menjadi sensitif.
__ADS_1
"Tuan, sebaiknya anda pergi dari sini. Apa kau tidak tahu, jika menjaga mood perempuan yang sedang hamil itu sangat penting. Jika kau benar-benar peduli pada anakmu, berhenti bersikap seperti itu. Dan kau jangan lupa, jika setelah akad tanggung jawab putrimu sudah beralih padaku. Untuk kehamilan Moza kau tidak perlu khawatir, karena aku akan menjaga anak dan istriku dengan nyawaku," ucap Jupiter dengan tenang, padahal hatinya kini sedang dipenuhi dengan amarah pada mertuanya ini. Jika saja ia tidak mengingat jika saat ini yang dihadapannya adalah ayah dari perempuan yang sangat ia cintai, mungkin sejak tadi tangannya sudah melayang di wajah Hendrik.
"Kau mengusirku?"
"Jika itu yang ada dalam pikiranmu, terserah." ucap Jupiter masih dengan tenangnya. Hendrik merasa tidak percaya dengan sikap menantunya itu. Hendrik hanya khawatir saja, akan tetapi kekhawatiran Hendrik justru malah melukai hati Moza. Seolah ia tidak menginginkan anak yang ada dalam rahim putrinya, cucu ia sendiri. Bukan seperti itu maksud dari Hendrik, lalu apa sebenarnya yang pria ini inginkan. Hanya ia sendiri yang tahu. Karena sudah mendapatkan hal yang tidak menyenangkan dari menantunya. Hendrik memutuskan untuk pergi tanpa berkata apapun pada mereka berdua. Moza melihat kesedihan dalam mata papanya, akan tetapi mengingat apa yang diucapkannya barusan pada Moza membuat Moza berusaha untuk tidak mempedulikannya.
Cairan hangat kini meleleh di pipi mulus Moza, Jupiter yang menyadari itu langsung mengusap lembut pipi Moza dan kemudian mencium seluruh wajahnya dengan sayang. " Jangan menangis, dan jangan khawatir kalau aku akan terus menjagamu," Jupiter berusaha memberikan kenyamanan hati padanya. Hati Moza langsung menghangat dengan apa yang dilakukan oleh Jupiter. Ia merasa sangat dicintai dan juga disayangi oleh suaminya ini.
"Kak Jupi harus bertanggung jawab atas kehamilanku," ucapan Moza berhasil membuat Jupiter tertawa. "Tentu saja aku akan bertanggung jawab, memangnya siapa yang akan bertanggung jawab atas anakku ini. Tetangga? Aku tidak rela," dan kini ucapan Jupiter berhasil membuat Moza tertawa. Kini kedua orang itu malah bermesraan di sana, tanpa menyadari jika ada dua pasangan yang sedang melihat ke arah mereka. Tepatnya mereka menguping apa yang dibicarakan oleh Hendrik yang tiba - tiba datang ke sana.
"Sebenarnya yang dikatakan oleh Hendrik itu benar, Moza masih terlalu muda untuk hamil." ucap Salma pertama kali membuka suara.
"Memangnya kenapa kalau Moza hamil, lagi pula suaminya bertanggung jawab dengan kehamilannya," jawab Alma ia tidak suka dengan ucapan mertua durjananya itu.
"Aku tahu cara mencetak bayi dan mengeluarkan bayi! Iya kan Papa mertua," ucap Alma sambil tersenyum manis pada Bramana. Bramana pun tersenyum.
"Tentu saja semua perempuan tahu cara mengeluarkan anak Alma, karena itu sudah tuntutan alami." jawab Brama sambil terkekeh, membuat Salma menjadi cemburu pada Alma menantunya. Sepertinya Alma memang suka melihat menantu perempuannya terkena serangan jantung, ginjal, paru-paru bahkan lambung. Ia sangat suka membuat mood Salma hancur bahkan jungkir balik.
"Hentikan senyum bodohmu itu, kau ingin menggoda siapa di sini!"
"Aku tidak menggoda siapa-siapa, memangnya siapa yang akan tergoda. Suamiku saja tidak tergoda melihatku." ucap Salma sambil tergelak membuat Bramana ikut tertawa karena merasa jika menantunya ini sangat lucu. Ia merasa beruntung mempunyai menantu seperti Moza dan juga Alma.
'Dia bilang aku tidak tergoda, astaga justru setiap malam aku harus menerima amukan pisang tanduk milikku karena terus meronta-ronta." batin Venus. Tapi demi rasa gengsi yang tinggi tidak mungkin jika ia mengajak Alma untuk ritual aye-aye. Oh tidak, harga dirinya akan runtuh jika itu terjadi.
Mereka berempat pun tak sengaja melihat Jupiter dan Moza sedang berciuman di sana. Hingga mereka pun langsung pergi dengan cara mengendap-endap, takut disangka mengintip.
__ADS_1
Padahal sebenarnya Jupiter dan Moza tahu, jika mereka berempat tengah melihat dan menguping pembicaraan mereka.
"Dasar tukang intip," ucap Jupiter.
"Kak Jupi, sepertinya malam ini aku mengidam."
"Apa! apa ada yang kau inginkan?" tanya Jupiter dan Moza pun mengangguk.
"Iya, aku ingin sekali makan pisang goreng."
"Pisang goreng?"
"Iya,"
"Kenapa harus pisang goreng?"
"Memangnya Kak Jupi ada rekomendasi ngidam untukku?" tanya Moza.
"Iya, kenapa tidak pisang gantung saja. Kita kan tinggal pergi ke kamar." jawab Jupiter santai. Moza yang tahu apa artinya itu hanya mencebikkan bibirnya kesal.
"Dasar planet mesum!"
***
Beuuhh Jupi mulai nackal ya ngomongnya 😌😌
__ADS_1