Cinta Tuan Muda Impoten

Cinta Tuan Muda Impoten
Bab 63


__ADS_3

Pagi ini Venus uring-uringan karena kesal pada para pelayan yang salah memberikan pengharum ruangan di kamarnya. Ia sampai mengumpulkan para pelayan agar ia bisa tahu siapa yang sudah salah memberikan aroma pengharum di kamarnya.


"Katakan padaku, siapa yang sudah mengganti aroma pengharum kamarku?" sentak Venus pada para pelayan sampai - sampai para pelayan menunduk ketakutan. Dan dari semua orang yang dikumpulkan tak ada satu orang pun yang mengaku, menyebalkan.


"Ayo jawab!" Tapi sayangnya tak ada satu orang pun yang menjawab, mereka semua masih diam dan menundukan kepalanya.


"Astaga kalian benar - benar ingin dipecat rupanya ya!" ucap Venus sambil bertolak pinggang dan memarahi mereka semua. Alma yang baru saja selesai mandi, mendengar ada keributan di depan kamarnya. Karena penasaran ia pun langsung keluar dari kamarnya dengan keadaan rambut masih basah dan menggunakan kimono.


"Kenapa pagi-pagi planet itu sudah ribut," gumam Alma. Moza yang merasa terganggu dengan teriakan Venus pun langsung menghampiri adik ipar durjananya, itu. Untung saja Jupiter saat ini masih berada di luar kota, jika tidak sudah pasti mereka akan ribut. Karena Jupiter sangat tidak menyukai perbuatan yang semena-mena, begitu juga dengan Bramana sayangnya ia dan Jupiter sedang melakukan pekerjaan di luar kota dan akan kembali besok. Jadi, saat ini tidak ada yang bisa menghentikan kemarahan Venus kecuali Alma.


"Hei planet cerewet! Kenapa pagi - pagi kau sudah berisik, kasihan bayiku tahu!" sentak Moza, ia sangat kesal dengan tingkat Venus yang masih suka semena - mena itu, hanya masalah pengharum ruangan saja. Bibir planet ini tidak mau berhenti mengomel.


"Kau diamlah jangan ikut campur!" hardik Venus, yang menjauhi Moza karena tidak tahan dengan aroma parfum yang digunakan oleh Moza. Padahal aroma parfum yang digunakan oleh Moza sangatlah lembut. Tapi planet ini menganggap jika Moza ini sangat bau. Ia terus menutup hidungnya, dan menyuruh Moza untuk pergi.


"Mozarella, pergilah jangan dekat - dekat kau bau!" ucapnya tanpa filter dan sambil menuntup hidungnya. Tingkah Venus ini sungguh membuat Moza tersinggung. Bisa-bisanya berkata seperti itu pada seorang ibu hamil yang perasaannya sangatlah sensitif.


"Apa kau bilang? Kau bilang aku bau!" tunjuk Moza pada dirinya sendiri.


"Iya! Pergilah menjauh ... astaga hidungku sampai nyut-nyutan begini, gara-gara kau yang bau," ucapnya lagi, semakin memancing kemarahan dari Mozarella.


"Oh Ya ampun mulutmu itu memang harus diberi pelajaran!" perempuan mungil yang sedang hamil itu kini mendekati Venus. Dan hampir saja mencekiknya, akan tetapi dengan cepat dihentikan oleh Alma karena ia khawatir dengan keadaan Moza yang sedang hamil.


"Moza, tahan dirimu jangan marah-marah kasihan bayi yang sedang ada di dalam perutmu ia pasti shock melihat ibunya yang marah-marah," ucap Alma.


"bagaimana aku tidak marah, jika pria jelek ini mengatakan kalau aku ini bau. Padahal aku sudah mandi dan memakai minyak wangi yang sangat wangi, tapi dengan seenaknya dia mengatakan kalau aku ini bau! Atau jangan-jangan hidungnya yang rusak! Seharusnya kau periksa hidung suamimu itu, kalau perlu operasi saja sekalian. Dan jika hidungnya masih tidak berfungsi, maka buang saja hidungnya dan berikan kepada kucing yang kelaparan di jalanan!" cerocos Moza. Alma pun kemudian bertanya kepada Venus. Ada apa sebenarnya dengan dirinya yang sejak tadi hanya marah-marah saja, hanya hanya karena aroma itulah yang Alma dengar saat ia masih berada di dalam kamar tadi.

__ADS_1


"Pluto, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alma yang heran melihat banyak pelayan berjejer di depan kamarnya, belum lagi Moza yang marah-marah dan yang lebih menyebalkan lagi adalah, jika mertuanya hanya duduk manis melihat itu semua. Jika saja menelan mertua itu tidak durhaka, mungkin sejak dulu Salma sudah ditelan olehnya.


"Mereka membuat kamar menjadi bau, aku pusing dan mual jadinya. Gara-gara mereka mengganti pengharum kamarku, aku sudah tiga kali muntah-muntah." jawab Venus dengan nada dibuat turun satu oktaf, ia takut jika Alma mengeluarkan jurus saltonya yang akan membuat ketampanannya luntur.


"Oh ya ampun, bukan mereka yang mengganti tapi aku," ucap Alma.


"Apa!"


"Astaga, ayo minta maaf pada mereka!" titah Alma, tapi planet ini malah menggelengkan kepalanya, dan menolak meminta maaf.


"Seorang Venus tidak akan pernah minta maaf pada pelayan!" Salma yang sedari tadi diam saja pun kini buka suara. Ia tidak rela anak kesayangannya harus meminta maaf pada pelayan. Tidak ada dalam kamus Alma.


"Maafkan Nyonya manis, tapi putramu yang menyebalkan itu harus meminta maaf karena sudah menuduh dan memarahi orang yang salah." ucap Moza.


"Dia seorang Tuan Muda, dia tidak pantas melakukan hal rendah seperti itu!" hardik Salma.


"Kami ini keturunan terhormat! Bukan perempuan tak berkelas sepertimu!" sentak Salma pada Alma.


"Mah ..." Venus memanggil Salma, ia tidak suka jika Salma menghina Alma. Ia merasa tersinggung dan tidak terima, karena istrinya seolah dihina oleh ibunya sendiri.


"Kenapa?" tanya Salma dengan angkuhnya pada Venus.


"Jangan bicara seperti itu pada Alma, dia istriku." ucap Venus sambil memegang tangan mungil Alma. Jujur saja saat Venus mengatakan itu sambil memegang tangannya, jantung Alma mendadak bersalto ria di dalam sana. Ia sangat bahagia karena planet miliknya itu membela dirinya dihadapan Ratu Dugong penguasa Bramana.


"Terima kasih My Pluto," ucap Alma sambil menyandarkan kepalanya di bahu Venus.

__ADS_1


"Kepalaku pusing, aku mau istirahat." ucap Moza sambil pergi ke dalam kamarnya, perutnya semakin membesar Moza memang tidak bisa berdiri lama-lama. Karena itu membuatnya pusing dan mual.


"Iya, istirahatlah kasihan bayimu." ucap Alma.


"Kau berani mengatakan hal itu pada Mamah mu?"


"Maaf ... "


"Sekarang kalian bubar lah, aku minta maaf atas nama suamiku ya." ucap Alma pada para pelayan yang sudah dimarahi oleh Venus hanya karena hal sepele.


"Aku tidak percaya, putraku sendiri menentangku sekarang!" Salma kesal kemudian pergi meninggalkan pasangan suami istri ini. Alma tahu jika sebenarnya Venus merasa tidak enak pada Salma. Untuk itu ia akan menghibur suaminya yang tadi sudah membelanya di hadapan mertua durjana. Sungguh itu adalah hal yang sangat langka, bahkan baru pertama kali terjadi di sana.


"Ayo masuk ke kamar," ajak Alma, tapi Venus malah menggelengkan kepalanya menolak.


" Kenapa tidak mau?".


"Di sana bau, aku tidak mau masuk."


"Ya sudah kalau begitu, matikan saja pengharum ruangannya," usul Alma. Tapi Venus masih terdiam, membuat Alma gemas pada suaminya yang mendadak phobia bau.


"Asataga ... Pluto, memangnya kau tidak mau minum susu," tawar Alma dengan nada menggoda.


"Aku mau!" jawab Venus semangat, memangnya siapa yang bisa menolak minum susu di pagi hari. Bujukan Alma ini sangat dahsyat pengaruhnya.


"Kalau begitu ayo," bagai kerbau yang di cocok hidungnya, Venus menurut dan mengikutiku Alma masuk kedalam kamar.

__ADS_1


****


Vote .... vote ... vote 😘😘😘


__ADS_2