
Hari ini adalah hari yang di nanti-nanti oleh Alex dan juga Jupiter, karena hari ini pekerjaan mereka telah beres. Tinggal dua hari di luar kota membuat kedua pria tampan ini tersiksa. Mereka berdua sangat merindukan istri mereka masing - masing. Jupiter dan Alex sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istri mereka yang kini sedang menunggu mereka di rumah.
"Alex, setelah mengantarku ke rumah kau boleh langsung pulang." ucap Jupiter.
"Baik Tuan, terima kasih," ucap Alex senang karena ia juga sudah tidak sabar ingin segera sampai. Perjalanan menuju pulang pun sangatlah lancar, sepertinya dunia memang sedang berpihak pada kedua pria tersebut. Hingga mereka bisa sampai lebih cepat di luar dugaan.
Sesaat sampai di rumah, Jupiter disambut bahagia oleh Moza. Tidur dua hari tanpa pelukan sang suami membuat rindu di hatinya kian membuncah saja. Dengan keadaan perut yang semakin membesar Moza menghampiri suaminya. Jupiter yang takut istrinya kenapa - napa itu, langsung segera menghampirinya.
"Hati - hati sayang," Jupiter terlihat panik melihat Moza.
"Aku merindukanmu, Kak Jupi." ucap Moza sambil memeluk Jupiter. Jupiter menyambut pelukan hangat sang istri yang. Namun, tubuh mereka terhalang oleh perut Moza yang besar.
"Aku juga sangat merindukanmu," jawab Jupiter, Alex pun kemudian pamit pulang. Melihat mereka berdua berpelukan membuat Alex ingin segera sampai ke rumah.
"Ayo masuk, kita luapkan rindu kita. Karena aku sangat merindukanmu dan juga bayi kita," bisik Jupiter. Moza tersenyum, tentu ia tahu maksud dari ucapan Jupiter tentang merindukan bayinya di dalam sana. Moza pun langsung menganggukan kepalanya setuju. Saat hendak masuk ke dalam kamar mereka berpapasan dengan Venus. Melihat kedatangan Jupiter, pria yang sedang sensitif ini langsung menutup hidungnya. Dan tentu saja tindakannya itu membuat pasangan suami istri ini tersinggung.
"Kenapa kau?" yang Jupiter.
"Kau bau, minggirlah dan mandi sana!" ketus Venus.
"Apa! Bau?" Jupiter mengernyit heran dan langsung mencium tubuhnya, yang menurutnya sama sekali tidak bau, justru wanginya sangat maskulin menurut Jupiter.
"Kau jangan mulai ya! Terus saja mengeluh tentang orang-orang yang bau, padahal sebenarnya tidak. Aku kan sudah bilang periksa sana hidungmu!" Moza kembali di buat kesal oleh kelakuan adik iparnya ini. Namun, Venus malah semakin menutup hidungnya.
"Astaga kalian berdua bau sekali," ucapnya sambil pergi meninggalkan Moza dan Jupiter tanpa mempedulikan jika kedua orang itu tersinggung dengan ucapannya.
"Astaga, menyebalkan sekali dia!" ucap Jupiter. Venus yang akhir-akhir ini sering merasa tidak nyaman dengan aroma yang melintas di indra penciumannya, kini lebih sering menghabiskan waktunya di taman belakang rumahnya yang terdapat sebuah kebun bunga milik Moza. Di sana ia merasa cukup nyaman, karena udara di sana cukup segar dan tidak menyiksanya.
Baru saja ia merasa nyaman dengan situasi di luar ruangan, kini kenyamanannya itu malah diusik oleh kedatangan Salma dan seorang gadis cantik yang datang menghampirinya. Venus berdecak kesal, karena baru saja ia mendapat udara segar. Kini malah terganggu lagi oleh kedatangan ibunya dan perempuan yang entah siapa.
"Venus, Mamah tahu kau pasti sedang berada di sini," ucap Salma tersenyum ke arah putranya.
"Ada apa Mah?" tanya Venus mencoba untuk bersikap biasa saja. Untung saja kini ia sedang berada di luar, jadi ia tidak terlalu tersiksa dengan aroma kedua perempuan yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
"Kenalkan, ini Tessa anak teman Mamah." pandangan Venus pun kemudian mengarah kepada gadis cantik di samping ibunya, gadis ini tersenyum sangat manis pada Venus. Cantik ... itulah yang ada dalam pikiran Venus. Tapi ia sama sekali tidak tertarik. Gadis itu pun langsung mengulurkan tangannya pada Venus. Venus pun mengulurkan tangannya pada Tessa.
"Tessa," ucapnya.
"Venus,"
"Nama yang sangat bagus," ucap Tessa.
"Terima kasih," jawab Venus.
"Oh ya, ada apa Mamah datang mencariku?" tanya Venus.
"Mamah sengaja ingin mengenalkan anak teman Mamah ini padamu,"
"Untuk apa?" tanya Venus heran, jujur perasaannya mulai tidak enak. Ia takut jika Alma melihatnya dan kemudian salah paham. Bisa habis ia di hajar oleh istrinya itu.
"Supaya kalian bisa berteman dengan dekat, siapa tahu kalian cocok." jawab Salma sangatlah santai, seolah lupa jika putranya ini sudah mempunyai istri.
"Memangnya kenapa kalau kau sudah menikah, kau bisa bercerai dengan perempuan bar-bar itu. Lagi pula Mamah tidak pernah setuju jika kau menikah dengannya." Venus menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya jika ibunya akan mengatakan hal itu. Selama ini Venus tahu, jika Salma memang tidak pernah menyukai istrinya. Akan tetapi, ia tidak pernah berpikir jika Salma akan nekat untuk memintanya bercerai dan menyuruhnya menikahi wanita pilihannya.
Tidak ... Venus tidak mau, karena ia sudah sadar jika selama ini ia mencintai Alma dengan segala kekurangan dan juga kelebihannya. Ia tidak mau, menikah lagi apalagi menceraikan Alma.
"Tidak! Aku tidak mau menceraikan Alma, dan aku juga tidak mau mengenal perempuan lain selain istriku!" tegas Venus.
"Venus, jaga bicaramu!" ia merasa tidak enak pada anak gadis dari temannya ini.
"Maafkan Venus Tessa, pasti saat ini ia sedang bimbang." ucap Salma pada Tessa, sambil mengusap bahunya lembut. Venus hanya berdecih saja, sudah tahu kedatangan mereka mengganggu penciumannya. Kini malah mengatakan hal-hal yang justru mengganggu pendengarannya. Menyebalkan. Saat sedang berperang dengan indra penciuman juga pendengarannya. Terdengar suara cempreng yang akhir-akhir ini malah terdengar sangat merdu.
"Plutoooooo ....!" teriaknya. Dari kejauhan Venus melihat sang istri yang terlihat cantik itu menghampirinya. Sepertinya ia baru saja mandi, celana hot pant dan switer berwarna hijau sage (warna yang lagi viral wkwkwkw) yang digunakannya membuat Alma terlihat menggemaskan. Rambut panjangnya yang setengah basah, juga menambah kesan cantik alami pada wajah Alma. Aahhhh, hati Venus bergetar saat melihat istrinya ini.
"Aku di sini," jawab Venus sambil melambaikan tangan pada Alma. Alma pun kemudian menghampiri Venus, yang sedang duduk dengan dua orang perempuan. Yang satu ia sudah mengenalnya, sudah pasti Salma sang mertua durjana. Dan yang satu lagi entah siapa ia tidak tahu, tapi dari raut wajahnya yang malu-malu kambing pada Venus membuat Alma yakin jika perempuan itu calon ulat bulu yang dibawa oleh mertuanya.
"Pluto, sedang apa kau di sini?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku sedang mencari udara segar, kau tahu kan akhir-akhir ini bagaimana keadaanku," jawab Venus. Alma pun mengangguk mengerti.
"Alma," panggil Salma.
"Kenapa?"
"Kenalkan, ini Tessa calon istri Venus." ucap Salma membuat Venus terkejut tapi tidak dengan Alma. Ia justru terlihat bias saja, dan tidak memperlihatkan suasana hatinya yang mendadak kesal pada mertuanya ini.
"Mah ...!" pekik Venus.
"Maksudnya, dia adalah calon maduku? Begitu?" tanya Alma santai. Salma tersenyum licik pada Alma, wanita ini sudah tidak sabar ingin menghantam mental Alma. Karena jika ia membalasnya dengan kekuatan fisik jelas ia akan kalah. Salma sadari betapa kuatnya Alma.
"Kau salah, Venus harus bercerai denganmu dan kemudian menikah dengan Tessa!" ucap Salma, wanita yang bernama Tessa itu terlihat sekali berbunga-bunga. Sepertinya taman bunga yang ada di belakangnya pindah masuk ke dalam hati Tessa.
"Ck ... ck ..ck, jadi Mamah mertuaku yang terhormat ini ingin aku dan suamiku berpisah dan kemudian suamiku harus menikah dengan ulat keket itu?" tanya Alma masih dengan santai.
"Benar! ceraikan Venus, asal kau tahu saja selama ini aku tidak pernah menginginkan kau menjadi menantuku!" hardiknya, Alma pun menganggukan kepalanya membuat Venus ketakutan, takut jika ia dan Alma akan benar-benar bercerai. Ia tidak mau berpisah dengan istri bar-barnya.
"Baiklah, jika kau tidak suka aku menjadi menantumu tidak apa-apa. Mungkin kau lebih suka aku menjadi madumu!" jawaban Alma sangat cetar bukan, lihatlah nenek sihir yang baru saja mengeluarkan jurusnya kini hampir pingsan dengan jawaban sang menantu.
"A-pa kau bilang?" tanya Salma gemetar, ia jadi takut jika Alma menjadi madunya dan menikah dengan Bramana. Apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Apa kau setuju, jika aku menjadi istri kedua suamimu, Kakak madu," ucap Alma, ia sangat puas karena sudah berhasil memporak-porandakam hati sang mertua durjana.
"A-apa ..."
Sedangkan Venus, ia pun sangat terkejut ia tidak mau istrinya menjadi ibu tirinya.
"Tidak!"
****
Hayooo like sama komentarnya mana bestie, biar Mimin semangaaaattt up 💃💃💃 yang belum kasih vote ditunggu ya 😚😚😚
__ADS_1