Cinta Tuan Muda Impoten

Cinta Tuan Muda Impoten
Bab 84


__ADS_3

Sore ini Jupiter merasa enggan untuk pulang, karena sore ini ia harus pulang menuju rumah mertuanya dimana anak dan istrinya berada. Meskipun dengan berat hati, ia harus melakukannya karena ia memang tidak bisa berjauhan dari anak dan istrinya. Malam ini pasti akan terasa sangat sepi jika ia tidak ikut tidur sendirian. Untuk itu walaupun ia malas karena harus bertemu dengan Hendrik, terpaksa ia lakukan demi anak dan istrinya. Planet Jupi-jupi memang benar-benar seorang papa sejati.


Deru suara mobil Jupiter terdengar sudah sampai di halaman rumah Moza, Moza yang hafal betul bagaimana suara mobil suaminya ini sangat senang, karena sang suami tercinta sudah tiba. Moza benar - benar tidak menyangka jika Jupiter akan mau menginap bersamanya.


"Kak Jupi, kau sudah pulang." ucap Moza sambil memeluk tubuh suaminya yang selalu ia rindukan.


"Iya sayang, demi kau dan juga Jizzy aku rela masuk ke sarang buaya." jawabnya.


"Apa yang kau maksud sarang buaya?" tanya Hendrik yang sedang menggendong putri cantik Jupiter.


"Rumahmu ini, memangnya apalagi," jawab Jupiter santai, tak perduli jika mertua durjananya tersinggung.


"Dasar menantu durhaka," sinis Hendrik.


"Terima kasih, aku suka julukanmu Papa mertua Durjana," jawab Jupiter, yang sepertinya memang sengaja ingin membuat mertuanya sangat kesal. Moza yang tidak ingin ada keributan antara menantu dan juga mertua itu, langsung mengajak Jupiter untuk pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Karena sebelumnya Moza juga sudah mempersiapkan semua perlengkapan dirinya dan juga Jupiter. Untuk perlengkapan Jizzy, semuanya sudah tersedia di sana karena semua sudah disiapkan oleh Danisa.


"Kak Jupi, kau pasti sangat lelah. Sebaiknya kau mandi dulu, setelah itu aku akan buatkan kau kopi ya," bujuk Moza, Jupiter pun tersenyum ke arah Moza. Tatapannya yang penuh cinta selalu mampu membuat hati Moza berbunga-bunga.


"Tentu sayang, apa kau juga bersedia memandikanku." bisik Jupiter, hingga Moza menepuk dada suaminya yang keras itu. Ia malu karena ada Hendrik di sana, yang sedang menatap ke arah mereka. Bahkan mungkin saja barusan ia mendengar, apa yang dikatakan oleh Jupiter.


"Kak Jupi..."


"Ayolah sayang antar aku ke kamar, aku sangat lelah,"


"Baiklah, ayo." Moza pun langsung menggandeng tangan Jupiter untuk mengajaknya ke kamar. Namun, sebagai menantu yang mempunyai tata krama dan juga kesopanan Jupiter pun pamit pada mertuanya.

__ADS_1


"Aku permisi dulu, Papa mertua. Aku ingin mencoba mandi di kolam buaya milikmu," pamit Jupiter pada Hendrik, dan disambut dengan ucapan yang tak kalah pedas olehnya.


"Seharusnya aku memelihara, buaya betulan saja. Karena buaya pasti sangat suka memakan planet yang menyebalkan sepertinya." jawab Hendrik, baru saja Jupiter akan melawan ucapan Hendrik, tangan Moza langsung menariknya untuk menjauh dari Papanya itu. Karena jika tidak urusannya pasti akan panjang.


"Sudahlah Kak Jupi, sebaiknya kau mengalah saja dia itu mertuamu," bujuk Moza.


"Tapi sayang mertuaku itu sangat menyebalkan..."


"Kalau kau mau aku mandikan, sebaiknya kau menurut!" perkataan Moza sepertinya berhasil membujuk Jupiter. Terbukti dari wajahnya yang mendadak sumringah saat mendengar kata akan dimandikan, itu artinya akan ada kesejahteraan gagang sapu sebentar lagi.


"Baiklah," jawab Jupiter senang karena ia akan dimandikan oleh istrinya sekarang.


"Dasar bayi besar tak tahu malu," ucap Hendrik, Jizzy yabg yang mendengar ayahnya dikatai oleh Opanya pun langsung melihat heran ke arah Hendrik. Mata polos itu terlihat sangat lucu, hingga membuat Hendrik sangat gemas.


"Ya ampun kau lucu sekali Nak, sayang sekali wajahmu terlalu banyak mirip dengan planet itu. Kasihan sekali kau sayang,"


"Kau sangat tampan planetku, jadi jangan dengarkan apa yang diucapkan oleh mertuamu. Karena yang dia bilang lucu itu putrimu bukan dirimu," Jupiter sebenarnya ingin membantah, tapi melihat wajah cantik Istrinya ia jadi mengurungkan niatnya untuk menjawab perkataan dari Hendrik. Sudahlah lebih baik ia cepat-cepat pergi, agar segera dimandikan oleh Moza. Akhirnya Moza pun bernapas lega, karena akhirnya suaminya ini mau mendengarkannya dan tidak mengajak lagi papanya berdebat.


'Ya ampun jika begini terus, lama-lama aku terkena serangan lambung,' batin Moza.


*


*


*

__ADS_1


Hari berganti hari, minggu pun terus berlalu hingga bulan pun terus berjalan. Kehamilan Alma kini sudah menginjak usia sembilan bulan, itu artinya ia sudah masuk ke trimester ketiga dimana ia harus selalu siap siaga. Karena bahkan ia tidak tahu kapan ia melahirkan, semuanya bisa lebih cepat atau lambat dari waktu yang diperkirakan oleh dokter.


Ia mengikuti jejak Moza yang selalu berjalan-jalan santai di taman rumah, dan karena Venus takut terjadi sesuatu pada Alma ia selalu menemaninya. Kejadian saat Cindy menyerang mereka, meninggalkan bekas dalam ingatan mereka semua. Padahal kini Cindy sudah berada di rumah sakit jiwa, tapi tetap saja Venus merasa khawatir jika Cindy akan kabur dan kembali kesana. Bukankah kabar orang gila melarikan diri selalu ada, seperti yang selalu ia tonton di sinetron-sinetron.


"Sayang kalau kau lelah duduk dulu," ucap Venus.


"Aku bahkan baru berjalan lima menit, mana mungkin aku lelah. Oh ya kenapa kau tidak pergi ke kantor selama satu minggu ini. Harusnya saat kau lebih rajin bekerja, anakmu ini sebentar lagi akan lahir harusnya kau makin giat bukan makin malas," cibir Alma pada Venus, karena yang ia perhatikan sudah hampir seminggu Venus tidak ke kantor. ia tadinya tidak ingin bertanya, karena mungkin suaminya ini sedang tidak enak badan. Tapi ini sudah lama dan Venus pun terlihat baik-baik saja. Untuk itulah Alma bertanya pada Venus sekarang.


"Siapa bilang aku tidak bekerja, ini aku sedang bekerja." jawab Venus sambil meminum kopinya yang masih hangat itu, di depannya memang ada laptop. Dan tangannya hampir tak berhenti mengetik sesuatu dan Alma tak tahu apa itu. Memangnya apa yang Alma tahu selain memu-kul orang dan membuat orang kesal.


"Memangnya kau kerja apa?"


"Sudahlah kau tidak akan mengerti, otakmu itu kan pendek. Kasihan, dia tidak akan sanggup menggapainya," jawab Venus santai, ia terkadang sangat heran jika Alex terlihat sangat pintar dalam bekerja. Ia juga sangat profesional, berbanding terbalik dengan Alma yang tidak tahu apa-apa. Apa mungkin mereka lahir dari jalan yang berbeda, jika Alex lahir jalan depan mungkin Alma lahir dari jalan samping, pikir Venus.


"Aku ini pintar, hanya saja aku memang malas belajar," Alma mulai membela dirinya karena ia tidak mau dianggap bodoh oleh suaminya ini.


"Siapa yang bilang?"


"Tentu saja Kakak-ku memangnya siapa lagi,"


"Astaga, dia itu hanya menghiburmu saja!"


"Apa!"


'*Oh ya ampun sepertinya aku salah bicara,'

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan komentarnya ya 😚😚😚 biar Mimin semangaaaattt ngetiknya 💃💃💃*


__ADS_2