
Jupiter dilanda kebingungan yang amat sangat, dimana ia harus memilih antara operasi yang harus dijalani oleh Moza, akan tetapi ia juga tidak mungkin membiarkan istrinya kesakitan seperti ini. Tapi ia juga tidak mau melihat Moza ketakutan, Jupiter dibuat bingung saat ini.
"Tuan, waktu kita tidak banyak," Dokter mencoba menyadarkan Jupiter dari lamunannya. Jupiter melihat kearah dokter yang sedang gelisah menunggu jawaban darinya, tidak ada pilihan lain Jupiter harus menyetujui Moza untuk dioperasi.
"Lakukan yang terbaik untuk istriku," ucap Jupiter akhirnya pasrah. Tapi sebelumnya Jupiter menghampiri Moza dan memberikan dukungan padanya, jika semua yang akan ia lewati akan membuat ia dan anaknya baik-baik saja. Tak henti-hentinya Jupiter menciumi wajah Moza yang sangat pucat, hatinya sangat sakit melihat istrinya yang sangat ia cintai dan juga sayangi sedang bertaruh nyawanya dalam melahirkan anaknya. Dokter juga tidak bisa menjamin jika operasi yang akan dilakukan akan berhasil, ia hanya diminta untuk banyak berdoa.
"Kak ..." ucap Moza lemah, air mata tak henti - hentinya mengalir di mata indahnya. Hingga tak terasa Jupiter pun meneteskan air matanya, ini adalah kali kedua dalam hidupnya ia meneteskan air mata. Dulu ia menangis saat ibunya meninggal, dan kali ini ia menangis melihat istrinya yang sedang berada diantara hidup dan mati.
"Aku akan selalu menjagamu, aku tidak akan pergi dan menunggu mu di luar. Cukup sulit sebenarnya meyakinkan Moza, akan tetapi nalurinya sebagai ibu tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya yang bahkan belum lahir ke dunia. Hingga akhirnya Moza setuju untuk dioperasi. Dengan berat hati akhirnya Jupiter pun keluar dari ruangan, dan membiarkan dokter melakukan tugasnya untuk mengoperasi Moza dan menyelamatkan anak dan istrinya.
"Aku mencintaimu Moza," gumam Jupiter, hingga pintu itu perlahan menutup dan membiarkan Jupiter berdiri seorang diri disana dengan segala pikiran buruknya. Alex dan Alma yang tak berada jauh dari Jupiter pun menghampirinya, mereka juga tidak tega melihat keadaan Jupiter yang terlihat tersiksa dengan keadaan istrinya.
"Tuan," panggil Alex.
"Dia pasti sangat ketakutan di dalam sana, dan aku sama sekali tidak bisa menjaganya." ucap Jupiter, matanya menyiratkan kesedihan yang amat dalam. Terlihat jelas jika pria yang selalu terlihat tenang ini baru saja mengeluarkan air matanya.
"Semua pasti akan baik-baik saja," ucap Alma, Jupiter hanya mampu menganggukan kepalanya, meskipun dalam hatinya ia tidak yakin dan selalu membayangkan hal-hal buruk terjadi pada anak dan juga istrinya. Saat semua sedang terdiam dan memikirkan Moza, terdengar suara sentakan seseorang yang mereka kenal. Ia datang dengan wajah murka dan langsung memu-kul Jupiter dengan keras hingga sudut bibirnya robek.
Bugh....
"Aku sudah bilang padamu, tunda kehamilannya dia masih kecil dan kau malah bersikukuh untuk menghamilinya! Lihatlah sekarang apa yang terjadi pada putriku, apa kau ingin membu- nuhnya!!!" teriak Hendrik yang tak bisa mengontrol emosinya, ia baru saja mendengar kabar putrinya yang terluka, membuat ia sangat murka pada menantunya ini. Sejak awal pria yang tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya pada Moza ini, memang tidak pernah setuju dengan kehamilan Moza yang terlalu dini. Menurutnya Moza masih terlalu kecil untuk mengandung, bahkan usianya saja belum genap dua puluh tahun. Tapi ia sudah hamil dan harus melahirkan seorang bayi.
Mendapat serangan dari mertuanya, Jupiter sama sekali tidak melawan Ia pun menyadari dengan kesalahannya. Akan tetapi semua ini sudah terjadi, lagi pula Moza terluka bukan karena kehamilan yang terlalu dini, tetapi ia terluka karena serangan dari Cindy.
__ADS_1
"Tuan Hendrik, jaga sikap anda!" sergah Alex yang tidak terima jika ipar sekaligus bos nya itu tiba - tiba diserang begitu saja. Apalagi keadaan psikisnya sedang lemah, itu akan membuat Jupiter semakin terpuruk pikir Alex.
"Diam kau! Kau tidak mengerti bagaimana khawatirnya aku selama ini! Aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak dan menjalani hari-hariku dengan tenang, karena siang dan malam aku selalu memikirkan keadaan putriku!" Hendrik benar - benar tidak bisa mengontrol emosinya. Rasa khawatirnya pada Moza membuat ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Tapi bukan Kak Jupi yang membuat Moza terluka, kau tidak tahu bagaimana kronologinya dan langsung menyerang orang tanpa memastikan dulu, apa yang sebenarnya terjadi!" jawab Alma yang juga tidak terima dengan sikap Hendrik yang seenaknya.
"Sebagai suami dia memang tidak becus menjaga istri!" tunjuk Hendrik pada Jupiter. Pria ini masih saja menyalahkan Jupiter, atas terjadinya semua yang menimpa Moza. Alex dan Alma pun sampai dibuat geram olehnya.
"Aku ingin sekali menggoreng pria menyebalkan ini," gumam Alma kesal.
"Tahan emosi mu," ucap Alex menasihati adiknya, yang jika marah bisa menelan orang.
*
*
*
Mereka berdua khawatir terjadi sesuatu pada istri mereka masing-masing, apalagi Venus. Ia sangat khawatir karena mendengar Alma menghajar penjahat, istrinya itu sedang hamil ia takut jika bayi yang ada dalam kandungannya shock. Karena ibunya yang berkelahi menggunakan jurus tendangan seribu bayangan. " Semoga anakku baik-baik saja," gumam Venus, diperjalanan ia tak henti-hentinya terus berdoa agar semuanya baik-baik saja.
Mendengarnya kabar tentang keadaan adiknya, Melvian dan Mirzha pun menuju rumah sakit, di sana ia melihat Papanya Hendrik tengah berseteru dengan Jupiter dan Alex serta Alma. Untungnya ada Denisa ibu mereka yang terlihat terus berusaha menenangkan Hendrik.
"Pah ... Mah .. Bagaimana keadaan Moza?" tanya Mirzha.
__ADS_1
"Adikmu harus dioperasi gara-gara kecerobohan suaminya," jawab Hendrik sinis.
"Benar itu Jupiter?" tanya Melvian yang kini ikut geram.
"Tidak seperti itu kejadiannya hei ... astaga aku ingin sekali merebus kalian satu-satu dan mengunyahnya," jawab Alma, yang wajahnya mulai pucat. Ia terlalu lelah dengan kondisinya yang sedang hamil membuat ia tidak fit seperti biasanya.
"Alma ..." panggil kedua pria tampan yang masih belum bisa move on darinya itu. Namun, Alma hanya diam saja dan tidak menanggapi mereka berdua, kedua pria tampan itu melihat wajah Moza yang pucat membuat mereka berdua pun bertanya.
"Alma apa kau baik-baik saja?" tanya Mirzha.
"Aku baik, memangnya aku kenapa?" jawab Alma, Alex yang baru sadar jika adiknya sedang hamil pun langsung melihat kearah Alma yang memang terlihat pucat.
"Alma, sebaiknya kau istirahat," ucap Alex, Alma pun mengangguk karena ia memang merasa pusing. Baru saja ia berjalan dan hendak pergi meninggalkan tempat itu, tiba - tiba tubuhnya limbung. Untung saja tubuhnya ditahan oleh Melvian.
"Alma kau tidak apa-apa?" tanyanya.
"Lepaskan tangan gatalmu dari istriku!" sentak Venus yang tidak terima melihat istrinya hampir jatuh kedalam pelukan pria tampan lain, yang ia nobatkan sebagai rivalnya itu.
****
Venus
__ADS_1
Alma