Cinta Tuan Muda Impoten

Cinta Tuan Muda Impoten
Bab 82


__ADS_3

Untuk mendekatkan dan mengakrabkan diri Salma dengan Alma, kini sedang pergi berbelanja bersama. Mereka kini sedang berbelanja untuk keperluan bayi Alma, karena kebetulan Alma juga belum membeli satu barang pun untuk calon anaknya ini, Baby V.


"Kita pergi ke tempat teman Mamah, kebetulan dia menjual barang-barang perlengkapan bayi Barangnya bagus-bagus, pasti Baby V akan terlihat tampan," ucap Salma pada Alma.


"Dari mana Mamah tahu kalau Baby V itu tampan?" tanya Alma.


"Karena Venus juga tampan, pasti anaknya juga tampan," jawab Salma sangat yakin seyakin-yakinnya pada apa yang ia ucapkan.


"Kalau anakku perempuan lalu ia berwajah tampan bagaimana, bukankan itu akan terlihat aneh,"


"Apa! Oh ya ampun aku sama sekali tidak berpikir kesana, apa saat diperiksa kau tidak melihat jenis kelaminnya?" tanya Salma lagi memastikan.


"Tidak karena anakku selalu menutupi rasa malunya itu. Makanya aku tidak tahu dia perempuan atau laki-laki, biar saja menjadi kejutan nanti,"


"Rasa malu, apa itu?"


"Supaya terdengar lebih sopan saja mengatakannya,"


"Tapi itu terdengar sangat aneh tahu!"


"Ya sudah jangan didengarkan,"


Astaga, menantu dan mertua ini masih saja sering berdebat dan juga tidak sependapat. Selalu saja adu mulut, hingga sopir yang membawa mereka ingin sekali menutup telinganya, karena suara mereka berdua sangat menggangu kedamaian gendang telinganya.


'Tahu begini aku memakai headset tadi,' batin supir itu.

__ADS_1


*


*


*


Sesampainya di tempat yang dituju, Salma langsung menuntun Alma dan membawanya ke tempat pakaian bayi yang lucu - lucu itu. Tempatnya sangat luas dan juga barang - barangnya sangat bagus. Warna - warna yang tersedia juga warna pastel yang kalem dan indah. Membuat menantu dan mertua itu berdecak kagum saat melihatnya.


"Wooaahh, aku bisa khilaf kalau begini," ucap Salma.


"Jangan beli baju banyak-banyak, karena kita tidak akan membuka toko," ucap Alma. Namun, Salma hanya berdecih menanggapinya.


"Tapi barang disini semuanya bagus, aku jadi ingin memborongnya,"


"Mau di simpan dimana?"


"Terserah mamah saja," jawab Alma, ia tidak ingin merusak kebahagiaan mertuanya ini. Biarlah yang melakukan sesuatu hal yang ia suka, Alma pun kemudian ikut memilih barang - barang yang akan ia beli, mulai dari pakaian sepatu aksesoris dan barang-barang lainnya.


Tapi Alma tidak banyak memilih barang, ia hanya memilih beberapa da n selanjutnya yang menyerahkan semuanya kepada Salma. Terlalu lama berdiri membuat kepalanya terasa pusing, sehingga ia memutuskan untuk duduk dan melihat apa saja yang dilakukan oleh Salma. dan membiarkan Salma saja Ymyang memilih barang-barang apa saja yang akan mereka beli.


*


*


*

__ADS_1


Setelah puas berbelanja, mereka berdua merasa lapar dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke restoran, makan siang di sana. Semua barang belanjaan kini telah dimasukkan dalam mobil oleh sopir, dan mereka pergi ke restoran setelah sebelumnya menghubungi Venus untuk makan siang bersama.


Mendengar kabar istri dan ibunya sedang menunggunya untuk makan siang, Venus merasa senang karena akhirnya mereka bisa akur juga. Dan tidak membuat pikiran Venus kusut serta senam jantung setiap hari, bagaimanapun juga Salma dan Alma adalah wanita yang istimewa bagi Venus. Venus sangat menyayangi ibu dan istrinya, oleh karena itu menjadi bahagia. Dengan perasaan bahagia, akhirnya Venus pun membereskan pekerjaannya, dan kemudian pergi menyusul wanita - wanita kesayangannya itu yang kini sudah berada di restoran untuk menunggu.


Salma dan Alma kini sudah sampai duluan, mereka langsung memesan makanan agar saat Venus sampai makanan sudah terhidang.


"Ya ampun aku lelah sekali," ucap Alma sambil mengusap-usap perutnya, yang memang terasa tegang.


"Apa perutmu sakit?" tanya Salma, yang memang selalu khawatir kepada keadaan menantunya ini. Ia takut jika Alma tiba-tiba akan melahirkan, padahal ia pun sendiri pun tahu jika melahirkan tidak semudah itu, tidak saat terasa sakit maka bayinya akan langsung keluar. Semuanya ada proses, tapi tetap saja Salma selalu merasa khawatir dan membayangkan jika Alma akan melahirkan tiba-tiba.


"Perutku tidak sakit, hanya tegang saja. Mungkin Baby V lelah karena terus berjalan-jalan dari tadi," jawab Alma, tumben sekali kali ini jawaban Alma sangatlah waras tidak seperti biasanya yang selalu membuat lambung Salma terkejut saat mendengarnya.


"Oh, kalau ada yang sakit katakan. Mamah takut kau melahirkan tiba - tiba," jawab Salma. Alma hanya tertawa saja mendengarnya, kenapa mertuanya ini sangatlah parno. Dan tidak bisa jika tidak khawatir, setelah berubah sifatnya mendadak menjadi sangat manis tidak seperti biasanya yang selalu terasa kecut dan pahit.


"Alma," terdengar suara seseorang yang sangat familiar terdengar di telinga Alma. Alma dan Salma pun menoleh, ke arah orang yang memanggil mereka berdua.


"Mirzha," panggil Alma tersenyum, Kakak laki-laki dari Moza itu pun tersenyum padanya, tapi tetap saja ada gurat sedih saat melihat Alma. Dimana untuk pertama kalinya ia menaruh hati kepada seorang gadis, akan tetapi dengan cepat gadis itu menjadi milik orang lain. Dan lebih menyedihkannya lagi adalah kini telah tumbuh benih di rahim Alma. Rasanya sangat sakit akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain dijelaskan seseorang yang pernah sangat berharga di hatinya itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mirzha.


"Aku sedang makan siang," jawab Alma.


"Iya, kami berdua akan makan siang di sini dan kami juga sedang menunggu kedatangan Venus suami dari Alma," Salma bicara dengan penuh penekanan, berharap pria yang ada di samping Alma ini paham jika Alma adalah seorang wanita bersuami. Bahkan dia adalah seorang calon ibu dari cucunya.


"Oh begitu rupanya, kau juga sedang hamil selamat ya," ucap Mirzha, yang sebenarnya sudah satu sama sekali mereka tidak bertemu. Mirzha, memang sengaja untuk menjauhi Alma, bahkan ketika ia sedang menjenguk adik dan juga keponakannya ia sama sekali berusaha untuk tidak berpapasan atau tidak melihatnya. Karena itu akan melukai perasaannya, selama ini Mirza memang mencoba untuk menyembuhkan luka hatinya yang terluka karena Alma. Dengan cara menjauhinya dan sebisa mungkin untuk tidak berpapasan, bahkan bertatap muka. Akan tetapi jika melihat Alma secara langsung seperti ini, membuat hatinya menjadi berdenyut dan ingin menyapa wanita yang masih berada di tahta tertinggi di hatinya itu.

__ADS_1


***


Nanti lanjut lagi ya, Mimin lagi di jalan ini 🤭 sempet-sempetin buat nulis, yang masih nunggu kelanjutan yang lain sabar ya. Soalnya ini masih suasana lebaran Miminnya masih sibuk 😌


__ADS_2