
Baru saja Venus akan meluapkan kekesalannya, dokter keluar dari ruang operasi dan menghampiri mereka semua. Jupiter dengan cepat bertanya pada dokter tentang keadaan Moza. "Dokter bagaimana keadaan istriku?" tanya Jupiter gelisah. "Bagaimana keadaan putriku?" apa dia baik-baik saja?" tanya Hendrik yang juga menghampiri dokter itu.
"Mohon tenang Tuan-tuan, operasinya berjalan dengan lancar. Ibu dan bayinya selamat. Hanya saja ..."
"Hanya saja apa?" tanya Jupiter tidak sabar.
"Keadaan Nona Moza sangat lemah, kita banyak berdoa saja Tuan " jawab dokter itu kemudian ia pun pamit lagi dan masuk kembali kedalam ruangan itu. Baru saja Jupiter merasa senang karena mendengar anak dan istrinya selamat, tetapi diujung pembicaraannya dokter itu malah mengatakan jika keadaan Istrinya sangat lemah. Ya Tuhan cobaan apa lagi ini, Jupiter benar - benar dibuat frustasi.
Venus yang melihat istrinya semakin pucat pun langsung menggendongnya dan membawanya untuk diperiksa, ia bahkan tidak bertanya apa-apa pada Alma karena ia sangat khawatir pada istrinya. Begitu pun juga dengan Alma yang hanya diam saat Venus menggendongnya, ia malah melingkarkan tangan mungilnya di bahu Venus.
Sedangkan Bramana juga ia cepat - cepat menemui dokter istrinya, mendapatkan kabar jika istrinya diserang, Bramana sangat khawatir.
"Salma," panggil Bramana yang kini baru saja sampai di ruangan dimana Salma dirawat. Salma yang sedang melamun pun langsung melihat kearah suaminya. Ia ingin sekali menangis saat melihat Bramana, sedari tadi ia ketakutan dan hanya Bramana lah saja yang bisa memberikannya ketenangan. Selama ini Bramana adalah suami yang sangat baik dan juga bertanggung jawab, ia selalu sabar menghadapi sikapnya yang pemarah dan egois. Ia selalu merasa jika Bramana sangat mencintainya dan tidak akan mungkin meninggalkan dirinya. Untuk itu selama ini selalu ia selalu bersikap sesuka hati dan tidak pernah mempedulikan perasaan orang lain.
Akan tetapi sejak Alma mengibarkan bendera perang padanya untuk merebut suaminya, dari situlah Salma merasa ketakutan. Ia tidak sanggup kehilangan Bramana, ia tidak mau jika Bramana sampai menjadi milik wanita lain, apalagi Bramana adalah sosok laki-laki yang sangat istimewa, sangat jarang sekali ada pria seperti itu dan selama ini ia selalu memperlakukannya seenaknya. Salma sangat menyesal sekali, ia tidak akan mengulanginya lagi dan akan berubah menjadi lebih baik untuk menjadi seorang istri.
"Pah ... "
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Bramana khawatir, ia melihat tubuh istrinya penuh luka dan perban dimana-mana. Itu semua karena ia menghalau serangan dari Cindy dengan tangannya. Ia melawan Cindy yang memegang senjata tajam dengan tangan kosong. Apalagi saat Cindy mengangkat pisaunya untuk melukai Moza ia tidak berpikir panjang dan langsung menyelamatkannya tanpa mempedulikan rasa sakit yang dialaminya.
"Ini semua karena Cindy, dia tiba-tiba saja datang dan menyerang dan melukaiku, dia juga melukai Moza. Dan ini semua gara-gara aku," ucap Salma dengan menangis, ia tak pernah menyangka jika apa yang ia lakukan di masa lalu akan membuat masalah di hari ini, masalah yang sangat fatal. Brama langsung memeluk Salma dan memberikan ketenangan padanya, ia mengerti dengan apa yang dirasakan oleh istrinya saat ini. Akan tetapi ia juga tidak membenarkan dengan perbuatan Salma di masa lalu, yang justru berimbas kepada nya dan juga kepada Moza. Hingga membahayakan nyawa Moza dan juga bayinya, saat ini Jupiter pun pasti sangat terluka mendapati keadaan istrinya yang tidak baik-baik saja. Apalagi ia dengar tadi dia keadaan Moza masih sangat lemah, Bramana berharap semua akan baik-baik saja. Dan semoga saja dengan kejadian ini membuat Salma menjadi berubah lebih baik lagi, dan tidak melakukan hal-hal bodoh seperti sebelum-sebelumnya.
Bukannya selama ini Bramana tidak tahu dengan perbuatan istrinya, akan tetapi Bramana memang sengaja tidak melakukan apa-apa, karena ia sangat yakin jika anak dan menantunya akan mampu menghadapi Salma. dan akan membuatnya jera. Ia juga tahu jika selama ini Alma selalu mengancamnya untuk merebut dirinya dan menjadikan Salma menjadi madunya, jujur saja Bramana merasa geli dengan hal itu, dan selalu ingin tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi ia hanya diam saja menanggapinya, dan berharap Salma akan ketakutan dengan ancaman yang Alma berikan, dan ternyata memang benar jika selama ini Salma merasa takut dengan ucapan-ucapan Alma yang akan merebut dirinya.
__ADS_1
"Jadikan semua ini pelajaran, dan kau jangan pernah berulah lagi. Apa kau mengerti!" ucap Bramana tegas.
"Aku mengerti, maafkan aku," ucap Salma sambil menangis dan kemudian memeluk Bramana.
"Jangan sampai kau sampai melakukan hal bodoh seperti dulu lagi, jika tidak aku akan menikahi Alma," ucap Bramana menahan tawanya.
"Jangan ... jangan lakukan itu, aku mohon ..."
*
*
*
"Lihatlah bayi kalian, sangat cantik dia sama seperti Moza. Sangat cantik dan juga lucu," ucap Danisa, kini mereka tengah berada di luar dinding kaca dan melihat bayi cantik itu sedang mencari tertidur. Ya ... Moza telah melahirkan bayi yang sangat cantik dan juga lucu. Dia cantik seperti Moza dan memiliki garis wajah seperti Jupiter.
"Iya, baru melihatnya saja aku sudah sangat menyayanginya. Aku malah heran dengan seorang ayah yang tidak mau memberikan kasih sayang pada anaknya, dan selalu menyakitinya selama bertahun-tahun. Aku ragu kalau dia adalah manusia," ucap Jupiter, sengaja menekankan ucapannya agar ada seseorang yang mengerti, dan berharap ucapannya menjadi puku-lan telak untuk hatinya.
Hendrik mengerti jika apa yang diucapkan oleh Jupiter memang sengaja ditujukan padanya. Namun, untuk saat ini ia hanya diam saja. Selain tidak ingin mengagetkan cucunya dengan amarahnya. Ia pun sengaja diam, karena apa yang diucapkan oleh Jupiter memang benar adanya, jika ia tidak pernah menyayangi Moza sejak ia lahir. Dan itu menjadi penyesalannya sampai saat ini.
*
*
__ADS_1
*
"Kau tadi menghajar orang, bagaimana aku tidak khawatir! Astaga semoga jantung anakku baik-baik saja," ucap Venus yang kini sedang mengomel pada Alma. Namun, Alma hanya diam dan tidak mau menanggapi ucapan suaminya yang membuat kepalanya tambah pusing saja.
"Jantungnya saja belum tumbuh, tapi kau sudah meributkannya!" jawab Alma.
"Apa kau bilang, jadi jantung anakku belum tumbuh?" tanya Venus.
"Iya," jawab Alma.
"Oh astaga, istriku benar-benar makhluk aneh luar biasa. Umur kehamilanmu ini sudah 4 bulan, tentu saja sudah tumbuh. Ya ampun Nak, apa kau baik-baik saja di dalam?" tanya Venus sambil mengusap-usap perut Alma.
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu,"
"Itu karena Kakakmu itu pasti menyogok wali kelas mu, supaya kau lulus sekolah, makanya hal begitu saja kau tidak tahu!" jawab Venus kesal.
"Aku akan bertanya pada Kakak,"
"Jangan!" Planet ini takut jika sampai istrinya ini mengadu pada kakak iparnya yang sangat wow itu. Bisa-bisa ia menjadi gulai planet nanti.
****
Jangan lupa like dan komentarnya 😚😚😚
__ADS_1