Cinta Untuk Alea

Cinta Untuk Alea
Terkenang Masa lalu


__ADS_3

Hari-hari Alea setiap detiknya terasa sangat membahagiakan untuknya. Ia bersyukur dengan memiliki Adrian di sisinya sebagai suami.


Adrian sangat memperhatikan Alea dan juga anak di kandungan Alea.


Adrian berubah menjadi suami posesif namun sangat menyayangi istri juga calon anaknya.


“Tuhan aku sungguh sangat berterimakasih kepadamu, dengan menghadirkan kak Adrian dalam hidupku. Kalau saja dulu aku tak pernah jatuh dalam keterpurukan, mungkin aku tak akan pernah merasakan kebahagiaan sebesar ini dalam hidupku” monolog Alea dalam hatinya.


Alea saat ini tengah berdiri di balkon, matanya menerawang jauh, kepingan-kepingan kenangan akan dirinya dan Adrian tergambar jelas dalam ingatannya.


Saat dulu pertama kali ia bertemu dengan Adrian, hingga akhirnya ia dapat menemukan kembali kebahagiaannya.


Tiba-tiba tangan kekar memeluk kedua bahu nya. Sejenak Alea menengok kepada si pemilik tangan kekar yang memeluknya dengan sayang, ia tersenyum bahagia tatkala melihat pria itu.


“Kak Adrian” ya pria itu adalah Adrian suaminya, memeluknya dengan cinta yang seakan tak pernah habis ia berikan pada istrinya.


“Kamu ngapain berdiri di sini, hemm?” Tanya Adrian.


“Aku hanya menikmati semilir angin, udara dari atas sini terasa sangat sejuk.” Jawab Alea.


“Nanti kamu bisa sakit sayang, kalau terus berdiri di sini, ingat ada anak kita di dalam sini.” Seru Adrian sambil mengusap lembut perut buncit Alea.


“Iya, aku tahu itu, Sebentar lagi ya sayang? Biarkan aku menikmati udara sejuk ini sebentar lagi, setelah itu aku akan kembali masuk ke dalam.” Jelas Alea pada suaminya.


“Baik lah, aku akan menemanimu di sini,” ucap Adrian.


“Sayang, terimakasih.” Ucap Alea.


Adrian mengernyit mendengar ucapan terimakasih dari istrinya, ia sedikit heran dengan apa yang di ucapkan istrinya baru saja.


“Terimakasih untuk apa sayang?” Tanya Adrian bingung.


Alea pun memutar tubuhnya menghadap Adrian, menangkup wajah Adrian dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Terimakasih, karena telah memilihku menjadi istrimu, terimakasih kau telah menjadi ayah yang penuh cinta dan perhatian padaku dan juga anak kita.” Ucap Alea tulus.


“Itu semua sudah menjadi tugas dan kewajibanku sayang, untuk membuatmu dan anak kita selalu bahagia, akan ku lakukan apapun demi membahagiakan kalian berdua.” Ucap Adrian mengelus lembut perut Alea yang sudah mulai membuncit.


Perut Alea memang sudah terlihat sedikit buncit, mengingat usia kandungan Alea sekarang sudah memasuki usia tiga bulan lebih dua minggu, rasa mual muntah yang kerap ia rasakan setiap pagi pun mulai berangsur menghilang.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Di sisi lain saat ini seorang pria tengah merutuki kebodohannya sendiri, karena telah melepaskan wanita yang sangat ia cintai.


Pria itu bertekad, apapun yang terjadi ia akan memperjuangkan kembali cintanya pada gadis itu.


Jika Alea saat ini tengah menikmati kebahagiaannya bersama suami juga calon anak yang sedang ia kandung, tidak dengan Jery.


“Maafkan aku Lea, maafkan aku, andai saja aku punya keberanian untuk menolak Hera sejak dulu, mungkin saja saat ini kita sudah bahagia, mungkin kita juga sudah memiliki sorang anak.” Ucap Jery pada dirinya sendiri.


Jery sudah memutuskan untuk meninggalkan Alea, dan menikahi Hera wanita pilihan keluarganya.


Namun Jery terus mencintai Alea, tak pernah sedikitpun ia melupakan cintanya pada Alea.


dokter yang memeriksa kesehatan istrinya beberapa bulan lalu pun mengatakan jika istrinya akan sulit mendapatkan keturunan.


Tidak sulit bagi Jery untuk mengetahui semua itu, karena Jery juga merupakan seorang dokter tentara. Ia bertugas di rumah sakit khusus tentara.


Semenjak ia mengetahui kondisi sang istri, Jery semakin merutuki kebodohannya, ia sangat menyesal karena pernah menyetujui permintaan ayahnya menikahi Hera wanita yang telah neneknya jodohkan dengannya.


“Lea, aku masih mencintaimu, rasa cinta ini tak pernah hilang sedikitpun sampai sekarang aku masih sangat mencintaimu.” Ucap Jery pada selembar foto seorang gadis.


Kini ucapan Jery terdengar getir dan melemah. Kelopak matanya pun semakin berkaca-kaca menahan gejolak rasa yang ada di dalam hatinya.


Jery tengah berada di dalam ruang kerjanya. Saat ia merindukan gadis yang telah menemaninya selama tiga tahun, ia akan mengunci dirinya di dalam sana, tidak


seorang pun di perbolehkan masuk ke dalam sana kecuali asisten rumah tangga yang dia pilih secara husus membersihkan tempat itu.

__ADS_1


Bahkan, Hera wanita yang telah ia nikahi juga tidak di perbolehkan memasuk ke dalam ruang kerja miliknya.


Jery berpikir dengan ia memandang foto Alea, ia berharap kerinduan yang ia rasakan pada Alea akan sediitit terobati, walau hanya dengan memandang fotonya saja.


“Kenapa aku dulu meninggalkanmu Lea, kenapa?” Teriak Jery pada dirinya.


“Bahkan dulu, kamu sangat ingin berjuang bersamaku agar kita dapat bersatu dan mendapatkan restu dari nenekku..... tapi kenapa aku begitu bodoh, aku meninggalkanmu dan menyakitimu begitu dalam.


“Apa kau tahu, betapa kacaunya hidupku tanpamu?” Bahkan saat kamu datang menghampiriku ketika aku sedang bersama Hera, kamu berubah begitu membenciku.” Racau Jery marah pada dirinya.


“Lea, maafkan aku... maafkan semua kebodohanku.” Isak Jeri semakin pilu.


Sementara di luar ruang kerja Jery, ada seorang wanita yang menangis pilu. Mendapati suaminya menangis, menyesali perbuatannya karena telah meninggalkan wanita yang sangat ia cintai dengan memilih menikahinya, hanya karena keluarganya telah memaksanya menikahi Hera.


Ya, wanita itu adalah Hera, istri Jery.


Saat Hera akan memanggil suaminya karea makan malam telah siap, awalnya Hera berniat menunggu suaminya di meja makan.


Namun jam sudah menunjukan pukul tujuh, sedangkan Jery belum terlihat batang hidungnya di meja makan, atau keluar untuk makan malam pun tidak di lakukannya. Lalu Hera pun memutuskan menyusul suaminya di ruang kerjanya.


Hera berniat mengetuk pintu ruangan itu, namun ia mendapati pintu ruang kerja milik suaminya sedikit terbuka, saat ia memegang knop pintu, tiba-tiba saja Hera mendengar suaminya menangis memanggil nama Alea.


Ia mendengar semua pengakuan suaminya, yang tidak pernah di ungkapkan suaminya padanya.


Seketika Hera mengurungkan niatnya memanggil suaminya, napsu makannya pun hilang tak berbekas.


Hera berlari meninggalkan ruangan itu dan duduk di taman belakang rumahnya.


“Mas, apa aku tidak berharga di matamu, aku pikir dengan aku memintamu untuk menikahiku, kamu akan bisa belajar mencintai dan menerima keberadaanku mas.” Ucap Hera pada dirinya.


“Aku fikir kamu akan mencintaiku dengan tulus mas, ternyata aku salah. Cintamu padanya tak pernah hilang sedikitpun.


“Aku harus bagaimana mas, agar aku bisa mendapatkan cintamu, segala macam cara pun telah aku lakukan. Namun kau tak pernah melihat keberadaanku sedikitpun.” Gumam Hera sedih pada dirinya.

__ADS_1


Bersambung,


__ADS_2