
Max terus mengetuk pintu kamar mandi. Saat ia akan kembali mengetuk pintu kamar mandi, tiba-tiba ia melihat pintu kamar mandi terbuka lebar, dan ia melihat istrinya baik-baik saja, pria itu juga terlihat menghembuskan nafas lga.
Alea terlihat keluar dari kamar mandi, wanita itu menundukan pandangannya, tidak mau menatap Max yang sudah resmi menjadi suaminya.
“Kau kenapa sayang? Apa kau sakit?” Max memberondong Alea dengan berbagai pertanyaan yang sejak tadi melintas di fikirannya.
“Tidak, aku tak apa ! Kau tak usah cemaskan aku.”
Max memandang istrinya dengan tatapan yang sulit di artikan. Lalu pria itu tiba-tiba mengatakan hal yang membuat Alea menyesal dengan sikap yang ia tunjukkan pada suaminya tadi.
“Apa kau menyesal menikah denganku? Apa menjadi istriku rasanya sangat menyedihkan, hingga kau terus menghindariku begini?”
Alea terkejut mendengar ucapan Max, Alea tidak tahu, jika sikap yang ia tunjukan pada suaminya akan membuat pria itu berfikir jika Alea menyesal menikah dengannya.
“Bu-bukan begitu maksudku, sungguh aku tak pernah menyesal menikah denganmu, hanya saja aku, em.—
Alea terlihat ragu mengungkapkan hal yang sebenarnya pada Max.
Max masih terus diam, dia menunggu penjelasan dari istrinya.
“Maafkan aku...., hanya saja aku tadi kembali teringat pada kak Adrian
Alea tampak sedikit ragu mengatakannya, ia takut Max akan marah padanya.
Sementara Max, masih terus diam tidak mengucapkan sepatah kata pun pada istrinya.
“Kenapa kau diam? Apa kau marah padaku?
Alea masih menatap wajah Max yang juga sedang menatapnya, menunggu jawaban dari suaminya atas pengakuan yang ia katakan pada Max tadi.
“Tidak, aku tidak marah padamu.” Di luar dugaan Alea yang berfikir jika Max akan marah dan merasa terluka dengan sikap yang dia tunjukan pada pria yang sudah menikahinya tpagi tadi.
Pria itu tersenyum, merengkuh tubuh Alea ke dalam pelukannya. Alea mendongakkan kepala dan menatap mata Max yang meneduhkan hati Alea.
“Berjanji lah kepadaku, apapun yang terjadi kau akan selalu mengatakannya padaku, aku tidak ingin mengotori fikiranku dengan mencurigai istriku sendiri.”
__ADS_1
“Maafkan aku, aku selalu saja menyakitimu. Maaf aku tidak bisa menghapus bayang-bayang Adrian dari ingatanku.
“Ssssst..... jangan kau katakan itu, Adrian pria yang baik, aku tidak pernah memintamu untuk menghapus ingatanmu tentangnya, dan aku pun juga tidak pernah memintamu untuk melupakannya.
“Adrian bagian dari hidup kita, aku hanya ingin menjalani hubungan ini dengan menggunakan caraku sendiri.
Aku tidak akan pernah menghapus hak Adrian sebagai ayah biologis dari Alexa. Namun aku akan menambahkan cinta yang ku miliki kepada Alexa.”
“Aku tak ingin kehilanganmu, aku takut kehilangan kau” Max mengatakan apa yang selama ini dia tahan untuk tidak mengatakannya pada Alea.
“Kau sangat berarti untukku.” Max mengatakannya dengan menangkup wajah Alea menggunaka kedua tangannya.
“Terimakasih, terimakasih kau sudah mencintaiku begitu dalam.”ucap Alea pada Max.
Setelah saling berjanji dan mengungkapkan apa yang mereka berdua rasakan. Max mencium bibir Alea dan menggiring Alea ke arah ranjang pengantin. Membaringkan tubuh Alea ke atas ranjang, Max menatap wajah Alea dengan tatapan sayu.
Alea yang mengerti maksud tatapan suaminya pun mengangguk pelan. Wanita itu tahu apa yang di inginkan suaminya kepadanya.
“Lakukanlah, apa yang sudah menjadi kewajibanmu kepadaku.”
Sepasang pengantin baru itu pun mulai melakukan aktivitas yang membuat mereka seakan terbang melayang melintasi awan. Merasakan indah nya syurga duniawi yang menjadi pengalaman pertama bagi Max.
Walau Alea sudah seringkali melakukannya bersama Adrian dulu, namun wanita itu masih saja merasakan sakit saat pusaka Max mencoba menembus pertahanan miliknya.
Alea meremas kuat seprei putih itu hingga kumal, Max seakan tubuhnya tak merasa lelah sedikitpun. Pria itu masih terus melakukannya berulang kali, hingga cairan kental miliknya sudah menyembur dan menyatu bersama milik Alea.
Tubuh Max ambruk di atas tubuh istrinya, dengan posisi kepemilikannya masih menyatu dengan milik Alea. Nafas mereka pun ter engah-engah karena kelelahan.
Lalu Max menarik tubuhnya dari milik istrinya. Max tersenyum pada Alea, mengecup kening wanita itu seraya berkata.—
“Terimakasih, kau sekarang seutuhnya milikku.”
Max pun tertidur pulas, setelah pergumulan panas yang mereka lakukan tadi.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
__ADS_1
Di tempat lain, seorang pria terlihat sedang berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumahnya.
Pria itu kembali merasa kesal saat setelah menonton acara Televisi yang isinya meliput acara pernikahan Alea dan Max. Dia merasa kesal kenapa wanita itu lebih memilih Max sebagai suaminya dari pada dirinya yang bahkan sudah sejak lama mengenalnya.
“Sial, kenapa kau selalu saja menolakku dan memilih pria itu dari pada diriku. Apa kurang nya aku, aku hanya membuat kesalahan kecil di masa lalu.
Kenapa kau tidak mau memaafkanku dan lebih memilih pria itu dari pada aku.”gumam pria itu pada dirinya.
“Tidak, aku tidak bisa kehilanganmu, aku benci harus mengakui kekalahanku.
Pria itu meremas dengan kasar rambutnya. Terkulai lemas di lantai, menangis meraung merasakan sakit. Menerima kenyataan pahit karena kehilangan wanita yang dia cintai.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Layung senja telah mencuatkan sinar indahnya. Ketika matahari mulai redup, sang awan pun dengan seksama jadi penguasa langit.
Alea terbangun dengan rasa lelah di sekujur tubuhnya, perlahan dia singkirkan tangan kekar Max yang masih setia memeluknya.
Alea ingin membersihkan tubuhnya dari sisa peluh yang menempel akibat pergumulan panasnya bersama Max siang tadi.
Senyum terbit dari satu sudut bibirnya, saat ia kembali mengingat adegan panas dirinya bersama Max.
Di belainya pipi Max yang di tumbuhi rambut-rambut halus sekitar wajahnya, tangan Alea terus menari di wajah suaminya dan kini dia beralih mengusap rahang kokoh Max.
“Betapa sempurnanya ciptaanmu Tuhan. Kau memberikan wajah yang tampan, dan hati yang lembut untuk menyempurnakan ketampanannya. Monolog Alea seraya terus menyusuri wajah Max dengan jemarinya.
Max sedikitpun tidak merasa terganggu, pria itu semakin menikmati usapan lembut dari istrinya. Max sebenarnya sudah bangun sejak tadi, namun saat ia mendengar pujian Alea yang di tujukan kepadanya, Max kembali memejamkan matanya.
Pria itu tidak ingin membuat Alea menjadi salah tingkah karena diam-diam mengagumi nya.
Max masih terus berpura-pura tidur, namun saat Alea menyentuh hidung nya, pria itu kembali memeluk pinggang Alea semakin erat.
“Kenapa dia memelukku semakin erat? Apa dia sebenarnya sudah bangun !” Gumam Alea yang mulai menyadari kejahilan Max.
Terus berikan dukunganmu pada author, like, vote dan komentar positifmu guys 😉
__ADS_1