
Setelah lama menangisi wanita yang ia cintai, Jery berjalan keluar dari ruang kerja miliknya. Ia berjalan ke arah meja makan, di lihatnya makanan sudah tersaji di atas meja dan belum tersentuh sedikitpun.
Saat ia akan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba Jery teringat istrinya, lalu meletakkan kembali makanannya beranjak pergi dari meja makan mencari keberadaan Hera.
Jery mencari keberadaan Hera di semua sudut ruangan yang ada di dalam rumahnya, namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya disana.
Jery pun berjalan menuju arah taman belakang rumah mereka, di lihatnya Hera sedang duduk termenung di sana. Dia berjalan menghampiri istrinya sedang duduk di bangku taman.
“Kamu sedang apa di sini? Ayo temani aku makan, kamu juga belum makan kan !” Ucap Jery pada istrinya.
“Apa masih penting kehadiranku untukmu, mas?” Tanya Hera seraya menghapus sisa air mata nya.
Jery mengernyit tidak mengerti maksud dari perkataan Hera.
“Apa maksudmu bicara seperti itu, Hera? Sudah lah kalau kau tak mau menemaniku makan, aku tidak akan memaksamu, aku tidak mau terus bertengkar denganmu, aku lelah.” Ucap Jeri memutar tubuhnya.
Saat Jery akan berjalan meninggalkan Hera sendiri, tiba-tiba saja Hera mengatakan sesuatu yang membuat langkah Jery kembali berhenti dan menatap tajam pada istrinya.
“Apa aku sedikitpun tidak memiliki tempat di hatimu, mas?” Tanya Hera.
“Sudah lah, Hera kau jangan mulai lagi. Kau bahkan sudah tahu persis apa jawabannya bukan?” Tanya Jery balik pada istrinya.
“Bahkan kau juga yang telah menjebakku agar aku menikahimu, padahal saat itu aku sudah membatalkan perjodohan kita.
Dan aku juga sudah mengatakan apa alasanku pada kedua kedua keluarga besar kita, bahkan keluarga ku dan kedua orang tuamu pun sudah menyetujuinya, apa kau lupa dengan semua itu Hera.” Bentak Jery pada Hera.
Hera tersentak dengan perkataan suaminya, hatinya seakan tertusuk ribuan jarum, hatinya sangat sakit mendengar perkataan kasar dari suaminya, bahkan Jery tega membentaknya.
Ya, saat itu Jery memang sudah memutuskan untuk membatalkan perjodohannya dengan Hera pada nenek dan keluarga besar Hera. Karena saat itu Jery sudah bertunangan dengan Alea, dan ia bertekad akan memperjuangkan cinta nya pada Alea.
“Ya, aku memang melakukan semua itu agar kau menikahiku mas, karena aku sangat mencintaimu.” Jawab Hera.
__ADS_1
“Apa? Cinta kamu bilang? Kamu bahkan dengan tega nya memfitnahku, sekarang kamu mengatakan melakukan semua itu karena mencintaiku?” Jawab Jery tidak percaya dengan wanita di hadapannya.
Dulu, saat Hera mendengar Jery telah membatalkan perjodohan dengannya, Hera merasa sangat sedih dan kecewa. Karena Hera sudah terlanjur jatuh cinta pada Jery sejak awal pertemuan mereka.
Hera merasa sangat putus asa, saat itu ia melaporkan Jery pada atasanya, ia mengatakan jika ia sedang mengandung anak Jery, membuat atasan Jery murka dan menunda kepangkatan Jery saat itu.
Bahkan Hera dengan tega membuat bukti-bukti palsu, menyebabkan Jery harus benar-benar menikahinya. Entah apa yang telah Hera lakukan sehingga semua bukti yang ia tunjukkan sepenuhnya mengarah pada Jery.
“Saat itu di pikiranku hanya ada kamu mas, aku ngga mau kehilangan kamu.” Jawab Hera di sela isak tangis nya.
“Sudah lah, bukankah tujuanmu sudah tercapai, kamu sudah berhasil menghancurkan karier, cinta ku dengan menuduhku telah menghamilimu saat itu, dan kau juga telah berhasil membuatku menikahimu. Lalu apa lagi yang kamu inginkan dariku sekarang.” Jawab Jery sarkas.
“Kamu juga membuat wanita yang sangat ku cintai pergi meninggalkanku, apa kau belum juga puas Hera? Kenapa kau sangat serakah, membuat diriku menikahimu saja tidak cukup untukmu, sampai-sampai kau juga menginginkan cintaku?” Ucap Jery semakin marah pada wanita yang sudah menjadi istrinya.
Sebenarnya Jery sosok pria penuh perhatian dan penyayang, ia juga seorang dokter tentara yang sangat cerdas dan berbakat.
Namun sayang, perjodohan yang di lakukan oleh keluarganyanya menjadi penyebab dari hancurnya karier yang ia bangun dengan susah payah, kesempatannya mendapatkan karier cemerlang pun harus terhambat karena perbuatan Hera.
Hera tersentak, tubuhnya bergeming kenyataan yang membuatnya semakin jauh pada cintanya, tubuhnya merosot terduduk di lantai.
Dinginnya udara sore hari ini, seakan tak bisa menembus kulit putih Hera. Ia terus menangis meratapi hasil dari perbuatannya dulu pada suaminya.
Ia berfikir, seiring berjalannya waktu akan membuat Jery perlahan menerima pernikahan mereka dan berharap jika suaminya akan belajar mencintainya.
Namun kenyataan seakan meruntuhkan semua keyakinannya, cinta tidak akan pernah tumbuh di hati Jery, luka yang Hera torehkan pada hati Jery membuatnya begitu terluka.
“Maafkan aku mas, aku hanya takut kehilanganmu saat itu, aku tidak pernah berfikir kau akan membenciku seperti ini.” Ucap Hera dengan tangis yang semakin tak bisa ia tahan.
Setelah lama menangis di taman, Hera perlahan bangkit ia pun menyeka air matanya, ia bertekad akan menemui suaminya dan akan tetap mempertahankan rumah tangga nya apapun yang terjadi.
Ia berlari mencari keberadaan suaminya, ia masuk ke dalam kamar, di lihatnya semua pakaian suaminya masih utuh pada tempatnya, ia merasa sedikit lega karena suaminya tidak pergi membawa pakaiannya.
__ADS_1
“Apa mas Jery kembali ke ruang kerjanya.” Monolog Hera pada dirinya.
Ia melangkah kembali ke depan ruang kerja suaminya, di pegangnya knop pintu, ruangan itu ternyata terkunci dari dalam. Di gedornya pintu itu, berharap suaminya akan segera membuka pintu ruang kerjanya.
“Mas, kumohon buka pintunya, jangan bersikap seperti ini.
“Pergilah, jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri dulu.
“Mas, kumohon jangan seperti ini.
Jery berdecak dalam hati mendengus kesal mendengar suara Hera terus berteriak memanggilnya, lalu ia beranjak dari duduknya, berjalan membuka pintu ruangannya.
Clek..
Jery keluar membawa selembar kertas yang ia berikan pada Hera, Hera yang tidak mengerti maksud Jery pun memberanikan diri bertanya pada suaminya.
“Apa ini mas?” Tanya Hera.
“Kau baca saja, dan tanda tangani kertas itu tepat di bawahnya.” Ucap Jery datar.
Mata Hera membelalak, membulat sempurna tat kala ia membaca surat yang di berikan suaminya tadi.
“Su-surat cerai, jawab Hera terbata.”
“Iya, itu surat cerai yang harus kau tandatangani, segera lah kau tanda tangani agar secepatnya bisa ku urus. Aku ingin secepatnya berpisah denganmu.” Jawab Jery sekenanya.
“Tidak mas, aku tidak akan pernah menandatangani surat cerai ini.
Aku tidak akan pernah mau berpisah denganmu.” Ucap Hera marah.
“Apa kau bahagia Hera dengan pernikahan ini?” Tanya Jery.
__ADS_1
Hera seketika wajahnya berubah pucat pasi, ia tidak tahu harus berkata apa, sejujurnya ia juga merasa tidak bahagia dengan pernikahannya, namun perasaan itu selalu ia tepis, karena rasa takut akan kehilangan Jery jauh lebih besar dari perasaan nya sendiri.