Cinta Untuk Alea

Cinta Untuk Alea
Duka itu kembali hadir


__ADS_3

Empat puluh lima menit menempuh perjalanan dari Wijaya Hospital, Max sampai di rumah utama keluarga Wijaya. Ia pun memarkirkan mobilnya, dan membuka satu sisi pintu mobilnya untuk Alea.


Rencananya selama sepekan ia akan menginap di rumah itu. Tuan dan Nyonya Wijaya pun selalu menyambutnya setiap kali ia datang berkunjung ke Indonesia.


Max sangat tulus menyayangi mereka, terutama Alexa putri Alea dan Adrian.


Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah utama keluarga Wijaya secara beriringan. Tuan dan Nyonya Wijaya pun langsung menyambut kedatangan mereka dengan membawa Alexa kecil ke dalam gendongannya.


“Selamat sore Max !” Kapan kau tiba?”tanya Nyonya Wijaya.


“Selamat sore tante, tadi siang dan aku langsung menemui Lea di rumah sakit.”sahut Max.


“Oh iya sayang, bagaimana keadaan Amelia? Apa dia sudah lebih baik sekarang?”Tanya Mama Devi beralih menatap putrinya.


“Mama Devi kritis Mah,”ucap Alea dengan nada sedih.


Max sekarang yang mengambil alih Alexa dari gendongan Mama Devi beralih ke dalam gendongannya, memeluk dan mencium pipi gembul Alexa dengan sayang.



“Ayo sebaiknya kita masuk dulu, kita ngobrolnya di dalam saja,” ajak Mama Devi kepada Max dan putrinya.


Mereka berempat pun masuk kedalam rumah. Alea, Papa Wijaya, Mama Devi dan Max pun duduk di sofa ruang tamu. Bercanda, bersenda -gurau bersama layaknya sebuah keluarga.


Max merasa sangat bahagia berada di tengah-tengah keluarga Wijaya, dan di perlakukan dengan sayang.


Begitu pun juga dengan Alea, saat ia sedang melakukan perjalanan bisnis di negara singa dan menyempatkan singgah di rumah orang tua Max, mereka menyambutnya dan memperlakukannya dengan baik.


Selama ini kedua orang tua Max sudah mengetahui perihal perasaan putra nya kepada Alea. Dan mereka juga tidak mempermasalahkan status Alea, mereka selalu mendukung apapun yang putranya lakukan jika itu menyangkut kebahagiaannya.


Ayah dan ibu Max juga seorang dokter. Ibu Max dokter spesialis kandungan dan Ayahnya juga seorang dokter bedah syaraf sama seperti Max.


Rumah Keluarga Wijaya.


“Max, apa kau akan menginap di rumah kami?”tanya Mama Devi

__ADS_1


“Apa boleh tante?”


“Tentu saja boleh, kapanpun kau ingin datang dan menginap, kau sudah kami anggap menjadi bagian dari keluarga kami .”ucap Mama Devi.


“Baik lah, kalau begitu aku akan menginap. Aku masih ingin bermain dengan gadis kecil ini, aku sangat merindukannya.”ucap Max kembali mencium Alexa. Membuat bayi itu tertawa karena geli.


“Kau semakin pintar dan cantik.”puji Max pada Alexa.


“Tentu saja uncle, usia ku sekarang sudah tiga bulan, lihat lah pipi gembil ku ini.”ucap Alea menirukan gaya bicara anak kecil.


Semua orang di sana pun tertawa mendengar ucapan Alea.


Malam pun tiba, semua orang kembali masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Begitu juga dengan Max, ia tidur di kamar tamu yang terletak di lantai bawah.


Sementara Alea di dalam kamar baru saja menidurkan Alexa dan menempatkan Alexa di sampingnya.


Alea sulit memejamkan matanya, walau tubuh nya terasa lelah, namun matanya tak juga mau terpejam, hatinya begitu gelisah.


Jam menunjukan pukul dua dini hari ia akhirnya bisa tertidur. Waktu terus berputar hingga jam pun menunjukkan pukul empat pagi tiba-tiba ponselnya berdering


“Halo, apakah ini benar dengan keluarga pasien Nyonya Amelia?”Tanya seseorang di seberang sana.


“Iya saya putrinya ! Apa yang terjadi dengan Mama saya?”tanya Alea panik.


“Maaf nyonya, ibu anda kondisinya kembali menurun.”ucap seorang suster.


Seketika Alea mematikan sambungan telponnya, bergegas membawa Alexa ke dalam pelukannya. Ia berlari menuruni anak tangga dan membangunkan semua orang yang ada di sana. Alea saat ini tengah di serang kepanikan, membuat Alea tidak lagi bisa berfikir dengan jernih.


“Sayang apa yang terjadi? Kenapa kau sangat panik?” Tanya tuan Wijaya.


Alea masih tidak menjawab pertanyaan Papa nya. Ia masih saja terus berjalan mondar-mandir di dalam rumah, membuat semua orang yang menatapnya merasa bingung dengan sikap Alea.


“Alea, are you oke?” Tanya Max sedikit berteriak.


Tak lama kesadarannya kembali normal, masih dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak tiba-tiba Alea mengatakan jika Mama Amelia kondisinya semakin menurun.

__ADS_1


Seketika tuan Wijaya dan Max membawanya masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumah sakit tempat Mama Amelia di rawat.


“Pah, apa Mama Amelia juga akan pergi, seperti kak Adrian?”tanya Alea masih dengan ke khawatiran.


“Berdo’a lah, semoga Mama Amelia kembali pulih.”ucap Papa Wijaya mencoba menenangkan putrinya.


Sepanjang perjalanan, Alea hanya diam. Fikirannya tentang ibu mertuanya kembali memenuhi kepalanya, berbagai pertanyaan yang tak mampu ia katakan selalu melekat di dalam benaknya.


Mobil tuan Wijaya pun sampai di halaman rumah sakit. Alea bergegas turun dan keluar dari mobil, ia berlari menuju ruang ICU.


Perawat yang sedang berjaga malam itu pun melihatnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan. Mereka menatap tubuh Alea dari atas hingga ke bawah. Sampai di depan ruang ICU perawat yang ber lalu lalang di sekitarnya pun memandang Alea dengan tatapan yang sama.


Tuan Wijaya dan Max, memperhatikan perawat yang menatap Alea pun seketika menoleh ke arah Alea. Mereka berdua terlihat menepuk kening secara bersamaan, pasalnya Alea pergi ke rumah sakit masih dengan menggunakan piyama tidurnya, rambut nya pun di kuncir asal.


Max mendekati Alea dan menutup tubuh Alea menggunakan jaket miliknya. Alea merasakan sesuatu menempel pada tubuhnya seketika menatap jaket dan Max bergantian. Ia tersadar jika saat ini ia tengah menjadi pusat perhatian para perawat dan dokter yang sedang berjaga pagi itu.


“Astaga Pah, Max, kenapa kalian tidak mengatakannya sejak tadi, jika aku masih menggunakan pakaian tidurku saat ke rumah sakit.”sanggah Alea yang merasa malu.


“Salah sendiri, jika sudah panik kau tidak menggunakan logikamu.”ucap tuan Wijaya seraya memijit pangkal hidungnya.


“Sudah, bukan saatnya untuk bertengkar, sebaiknya kita tunggu dokter yang menangani Ibu mertuamu keluar dari sana, tunjuk Max pada ruangan tempat Mama Amelia terbaring. Setelah itu aku akan meminta pada Alvin untuk membawa pakaian baru untukmu.


Alea mengangguk setuju. Tatapannya kembali melihat dokter menggunakan alat kejut jantung yang di gunakan oleh dokter pada tubuh Mama mertuanya.


“Mah, Lea mohon bertahanlah. Aku masih membutuhkan Mama.”gumam Alea pada dirinya yang masih bisa di dengar oleh Max dan Papa nya.


“Tenang lah, Amelia wanita yang kuat, Papa yakin dia akan bertahan.” Ucap tuan Wijaya mengusap lembut bahu putrinya.


“Apa yang di katakan Papa mu benar, kita berdoa saja.”ucap Max ikut menimpali.


Tak lama dokter yang terlihat hampir seumuran dengan tuan Wijaya pun keluar. Dengan menunjukkan wajah sedih yang tidak dapat di tutup-tutupi.


“Maafkan kami tuan, Nyonya, kami sudah berusaha.”ucap dokter dan pamit pergi meninggalkan keluarga wanita itu di depan ruangan ICU


Tubuh Alea seketika lemas, kakinya tidak bisa menopang tubuhnya pun terjatuh di lantai. Beruntung Max berhasil menangkapnya.

__ADS_1


Alea langsung di bawa ke ruang IGD. Max membaringkannya di atas Bed Hospital, menggenggam erat tangan Alea dan terus menemaninya hingga kembali sadar.


__ADS_2