
Plakkk....
Tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Ia menatap dengan tatapan penuh kebencian kepada pria yang berani memeluknya tadi.
“Beraninya kau mengambil kesempatan memelukku.”teriak Alea sedikit kencang pada pria itu.
“Ma-maafkan aku, aku hanya.— ucapan pria itu terpotong.
“Hah...., Alea menghela napas panjang dan membuangnya kasar.
Maaf mu tak akan membuat ku kembali bersimpati kepadamu.”ucap Alea sarkas.
“Aku merindukanmu, aku tersiksa tanpamu.” Ucap pria itu di hadapan Alea.
“Aku merindukanmu, aku ingin melihatmu dan menemuimu, untuk itu aku ada di sini. Apa kau tidak menyayangiku lagi?”tanya pria itu.
“Cih...., rindu? Simpan saja sendiri kata itu. Aku tak membutuhkannya, bahkan mendengarnya saja aku muak.”
Pria itu menatap nanar kepada Alea. Alea di hadapannya kini tak lagi sama dengan Alea yang dulu ia kenal.
“Kau sudah berubah, apa kau tidak mencintaiku lagi?”
“Apa kau tahu, bagaimana rasanya mencintai namun tetap bertahan untuk tidak memiliki?
Kau bahkan tidak tahu apa arti bertahan.”ucap Alea sinis.
Lalu pria itu menangis. Tangisan yang terdengar sungguh memilukan, tangisan yang keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.
Tangisan yang mewakili hati pria itu, yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Rasa kehilangan dan kesedihan yang ia simpan selama satu tahun akhirnya tercurahkan lewat tangisannya itu.
“Pergilah, aku tidak ingin melihatmu !”ucap Alea ketus.
Pria itu menatap penuh pada Alea. Ia sadar, mungkin benar Alea telah melupakannya. Namun kenyataannya masih saja tetap terasa sulit di terima oleh akal fikirannya.
Dia selalu beranggapan, jika Alea masih menyimpan perasaan untuknya.
“Kau tahu, ketika kau telah memutuskan untuk mencintai seorang wanita, dan kau menyakitinya, menyakiti orang yang kau cintai, dengan cara meninggalkannya. Sama halnya dengan kau menyakiti dirimu sendiri.
“Belajarlah untuk melupakanku, carilah kebahagiaanmu sendiri, maafkan aku, aku tak bisa kembali membalas cintamu. Cintaku untuk mu sudah lama mati.”ucap Alea lalu pergi meninggalkan pria itu dan kembali masuk ke dalam ruang ICU.
Kembali ada di dalam ruangan ini, terasa sangat menyakitkan untuknya. Pasalnya di dalam ruangan yang sama namun di negara yang berbeda, maut merenggut hidup suaminya.
__ADS_1
Bayangannya tentang Adrian saat menghenbuskan nafas terakhirnya, kembali membuat dada nya terasa sesak. Alea selalu berusaha keras melupakan dan mengubur dalam-dalam kejadian mengerikan itu.
Ketegaran yang selama ini ia tunjukkan pada dunia akhirnya runtuh. Ia tak sanggup lagi menutupi luka di hatinya.
“Aku membenci tempat ini Tuhan, aku benci mengingat kenangan buruk itu lagi, dan aku benci harus kembali menunjukkan sisi terlemahku di depan orang-orang yang aku cintai.”
Air mata Alea mengalir deras membasahi pipinya. Ia tak sadar jika sejak tadi seorang pria tengah berdiri di ambang pintu dan terus memperhatikannya.
Pria itu menghampiri Alea, lalu membawanya ke dalam pelukannya, saat itu lah ia tersadar jika sejak tadi sedang di perhatikan.
Alea mendongak, menatap pada pria yang memeluknya tadi. Menyipitkan kedua matanya seraya berkata.—
“What are you doing, Max?” Tanya Alea pada Max, pria yang memeluknya dengan sayang.
“Hugging you, what else can I do right now besides hugging you?”
“I know you hugged me, but what are you doing here?”
“Of course I am entertaining the woman I love !”
“Maksud kamu?” Alea mengernyit mendengar ucapan terakhir Max kepadanya.
“Sudah lah lupakan saja, ucapanku tadi kepadamu.”ujar Max
Alea yang masih merasa penasaran dengan ucapan Max pun kembali menanyakannya, kepada pria itu.
“Ayo lah Max, aku tahu bukan itu maksudmu. Kau cukup mengenalku kan? Aku tidak suka di bohongi Max.”ucap Alea pura-pura merajuk padanya.
“Oke, aku akan jujur kepadamu, aku akan mengakatakannya, tapi tidak untuk saat ini, dan tidak juga dengan hari ini.”ucap Max pada Alea.
“Lantas, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau bisa tahu jika aku ada di sini, di ruangan ini !” Cecar Alea dengan berbagai pertanyaan di dalam kepala nya yang ia tanyakan kepada Max.
“Aku cukup mengenal mu, jadi tentu saja aku tahu dimana kau berada.”ucap Max mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Alea.
“Ayo lah Max, aku sedang tidak ingin bercanda, atau aku akan benar-benar marah kepadamu.” Ucap Alea kepada Max.
“Oke-oke, maafkan aku, sebenarnya kemarin tante Amelia sempat menelponku,”Max melepaskan pelukannya kepada Alea dan beralih duduk di samping ibu Adrian.
“Apa yang Mama katakan kepadamu?”tanya Alea langsung pada intinya.
“Dia.—
__ADS_1
Max terlihat ragu-ragu mengatakannya, ia takut jika mengatakan yang sejujurnya akan membuat Alea semakin sedih. Sementara Alea semakin di buat bingung denga sikap Max, dan ia terus memaksa Max untuk mengatakan yang sejujurnya kepadanya. Hingga akhirnya Max pun mengangguk menyetujui permintaan Alea.
“Sebelumnya maafkan aku, jika apa yang akan aku katakan ini akan membuatmu sedih. Namun berjanjilah apapun yang akan ku katakan kepadamu, berjanjilah untuk tidak meneteskan air matamu tukas Max.
Karena aku tidak ingin lagi melihat kesedihan di matamu, aku ingin kau selalu tersenyum bahagia.”ucap Max tulus dari dalam lubuk hatinya.
“Baiklah, aku berjanji kepadamu !” Sekarang cepat katakanlah.
“Kemarin saat aku baru saja selesai melakukan operasi pada pasienku, tiba-tiba saja tante Amelia menghubungiku, tante Amelia menelponku.
Dia berpesan kepadaku, untuk selalu ada di sampingmu, ntah aku pun pada awalnya juga tidak mengerti maksud dari ucapannya, dan aku juga tidak terlalu menanggapinya.
Namun saat ia mengatakan, jika aku harus selalu menemanimu dan menjagamu juga Alexa. Detik itu juga aku langsung menanyakan maksud dari ucapannya itu.
Ia mengatakan kepadaku jika ini permintaannya yang terakhir, seketika naluriku sebagai seorang dokter mengatakan, pasti telah terjadi sesuatu dengan tante Amelia. Dan aku pun langsung memutuskan untuk mengosongkan jadwalku hingga sepekan.
Ternyata benar dugaanku, setelah aku menemukanmu di ruangan ini, aku baru mengerti maksud dari perkataan tante Amelia kemarin.
Alea yang mengerti maksud ucapan Max pun, mencoba sekuat yang ia bisa untuk menahan agar tak meneteskan air matanya. Namun air mata nya tetap saja tak bisa ia bendung, kini air matanya terus merembes membasahi kedua pipinya.
Max yang melihatnya pun kembali memeluknya.
“Cukup, jangan menangis lagi ! Kau sudah berjanji kepada ku untuk tidak menangis.”ucap Max seraya menarik kedua bahu Alea dan menatapnya dengan tatapan lembut, sebelum akhirnya dia sendiri yang menghapus air mata wanita itu dengan kedua ibu jarinya.
Alea yang menyadari perlakuan lembut Max kepadanya pun, untuk sesaat ia kembali mengingat mendiang suaminya. Di perlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang oleh Adrian, membuat nya selalu menjadi wanita beruntung karena selalu di perlakukan istimewa.
Max pun selalu melakukan hal yang Adrian lakukan kepadanya, jika saat sedang bersama Alea seperti saat ini.
“Maaf, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menangis.”
“Sudah lah, tak apa !” Aku mengerti, aku memahami apa yang kau rasakan saat ini.
“Aku rasa, kau harus belajar untuk merelakan tante Amelia,” ucap Max menoleh kepada Alea.
“Aku tahu, jika hal seperti ini pasti akan kembali terjadi kepadaku, untuk itu aku akan belajar perlahan merelakannya, jika suatu saat Tuhan kembali mengambilnya dariku.
“Dan, aku akan memenuhi janjiku kepadanya, aku akan menjagamu dan Alexa sepanjang hidupku.”ucap Max menampilkan senyum terbaik nya kepada Alea.
“Terimakasih Max, kau selalu saja melihat bagian sisi terlemah dalam diriku.
“No !” Itu bukan sisi terlemahmu, melainkan sisi terlembut dari dalam hatimu. Dan aku bangga kepadamu, kau wanita yang sungguh luar biasa bagiku.
__ADS_1
“Ayo, sebaiknya kita segera keluar dari ruangan ini, sebaiknya kita pulang. Biarkan tante beristirahat. Kita jangan mengganggunya, dan sekarang lebih baik kau membawaku menemui gadis kecilku, aku sudah sangat merindukannya.”ucap Max yang selalu saja bisa membuat Alea tersenyum, walau hal buruk kembali menerpa ketenangan hidupnya. Max selalu saja bisa membuatnya kembali tegar menjalani pahitnya kehidupan.
Dan mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit keluarga Wijaya, untuk menemui keluarga Alea dan putri kecilnya di rumah utama keluarga Wijaya.