Cinta Untuk Alea

Cinta Untuk Alea
65


__ADS_3

Budayakan setelah membaca, memberikan like jika suka, dan vote jika kalian menyukai karya author ya guys.


Berikan kritik dan saran positif pada kolom komentar


“Sayang,”ucap Adrian seraya mendudukan


tubuhnya di tepi ranjang, menatap dengan tatapan sendu pada istrinya.


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”tanya Alea penuh selidik.


Adrian tampak ragu mengatakan yang sebenarnya pada Alea. Ia tidak tahu bagaimana cara mengatakan pada Alea tentang kondisi yang sebenarnya.


Adrian takut jika apa yang ia katakan akan berpengaruh pada kandungan istrinya.


“Sayang, ada apa?”tanya Alea yang melihat


Kegelisahan di wajah suaminya.


“Sayang, aku harus ke Singapore saat ini juga.”ucap Adrian. Pada akhirnya ia bertekad akan mengatakan yang sejujurnya pada sang istri.


“Apa? Ta-tapi kenapa mendadak begini, kenapa kak Adrian tiba-tiba pergi kesana?”cecar Alea


“Beberapa pekerja kita mengalami kecelakaan saat bekerja, Hotel yang sedang kita bangun, bangunan itu tiba-tiba saja runtuh.”ucap Adrian tidak dapat menutupi kesedihan yang dia rasakan.


“Lalu, bagaimana keadaan mereka saat ini sayang?”tanya Alea cemas.


“Alvin tadi mengatakan jika beberapa pekerja kita meninggal karena tertimpa bangunan.”ucap Adrian menjelaskan situasi yang terjadi pada istrinya.


Alea meraih tubuh suaminya dan memeluknya sangat erat, seakan ia tak akan pernah bisa memeluknya lagi. Ia mencoba memberikan kekuatan pada Adrian dengan memeluknya seperti saat ini.


“Izinkan aku pergi kesana, aku ingin memastikan keadaan mereka.”ucap Adrian seraya mendorong pelan bahu istrinya.


Saat Alea mendengar suaminya memohon padanya, ia tidak mengerti dengan perasaan yang dia rasakan saat ini. Perasaan apa yang merayap di dalam hatinya. Hati Alea seketika berdenyut nyeri seakan Adrian tak akan pernah kembali lagi.


“Apa tidak bisa Jika Alvin saja yang mengurusnya?”tanya Alea dengan tatapan memohon


“Tidak bisa sayang,”ucap Adrian.

__ADS_1


Sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Adrian ia merasa sedih karena harus meninggalkan Alea sendiri.


“Tapi sebentar lagi, anak kita akan segera lahir, bagaimana jika saat aku melahirkan dan kau tidak ada di sampingku?”tanya Alea mencoba mencegah kepergian suaminya.


“Sayang, aku berjanji padamu sebelum buah hati kita lahir aku sudah pulang, aku akan menemanimu.”seru Adrian. Ia mengerti apa yang istrinya rasakan saat ini.


Air mata Alea terus menetes tanpa henti, rasa takut kehilangan suami tercintanya kembali merayap di seluruh tubuhnya.


“Hei Mommy, kenapa kau menangis? Aku pergi hanya sebentar okey.”ucap Adrian mencoba untuk menghibur sang istri.


Adrian mengusap dengan lembut air mata Alea menggunakan ibu jarinya.


“Aku berjanji ini tak akan lama, oke!”ujar Adrian.


“Apa kau berjanji?”tanya Alea seraya mengulurkan jari kelingking.


“Aku janji,” ucap Adrian lalu mengecup singkat bibir Alea.


Adrian kembali memeluk tubuh Alea, mengusap lembut punggung sang istri sebelum beranjak menyiapkan segala sesuatu yang ia butuhkan selama berada di Singapore.


“Aku pergi dulu, jaga dirimu dan anak kita baik-baik, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku, aku akan berusaha untuk segera pulang.”ucap Adrian sebelum beranjak masuk ke dalam pesawat.


“Kau juga jaga dirimu baik-baik selama di sana, aku akan merindukanmu.”jawab Alea seraya memeluk suaminya.


Hingga akhirnya Adrian benar-benar menghilang dari pandangannya, Alea masih tampak enggan meninggalkan tempat itu, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk benar-benar kembali ke rumahnya.


Setelah mengantar kepergian Adrian, perasaan Alea semakin tak menentu, Adrian yang seharusnya sudah sampai di tempat tujuan pun juga tidak ada kabar, Hati Alea semakin gelisah memikirkan suaminya.


Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur kingsize nya, berharap matanya akan segera terpejam. Namun usahanya sia-sia, hati Alea semakin tak menentu ia tidak bisa tidur walau tubuhnya terasa lelah.


Alea semakin sulit memejamkan matanya, tatkala rasa kantuk mendera, mata nya seakan enggan terpejam.


Alea merubah posisi tidur nya menjadi duduk dan bersandar pada sandaran ranjang, ia menatap dengan tatapan kosong pada langit-langit.


Pikirannya kembali menerawang jauh memikirkan keberadaan suaminya, berulang kali ia melihat layar ponsel, barharap akan mendengar suara yang sudah sejak tadi dia rindukan. Namun tidak ada satupun telpon atau pesan yang masuk dari suaminya.


“Tuhan...., kenapa hatiku sangat gelisah, apa yang sebenarnya terjadi disana, kenapa sampai sekarang, kak Adrian belum juga memberikan kabar.

__ADS_1


Lindungilah suamiku dimanapun ia berada Tuhan.” Batin Alea


Sementara di tempat lain, seorang pria sedang terbaring lemah dan berjuang antara hidup dan mati.


Setelah selama lima jam merasakan dinginnya ruang operasi, dokter menyatakan jika pria itu mengalami komplikasi pasca operasi yang menyebabkan dia koma.


Berbagai macam alat medis telah terpasang pada tubuh pria itu, wajah nya yang pucat pasi dan mata nya terus terpejam seakan ia sedang bermimpi.


Saat ini asisten Alvin di rundung rasa bersalah, ia merasa jika dirinya lah yang menyebabkan pria itu dalam kondisi seperti ini.


Ia menangis, meraung di depan ruang ICU.


Ia terduduk lemas di depan pintu dengan memeluk kedua lututnya.


“Maafkan saya tuan, apa yang akan saya katakan pada Nona muda dan Nyonya besar.” Ucap asisten Alvin.


“ Saya mohon sadarlah tuan, saya dan keluarga anda sangat membutuhkanmu.


Alvin kembali masuk kedalam ruang ICU.


Ia menatap nanar pada pria itu, di pandanginya wajah pucat pria itu, dan berharap dia akan segera bangun dari tidur nya.


Dokter yang menangani pria itu mengatakan, jika dalam kurun waktu 24 jam pria itu masih belum juga sadar dari koma nya, maka akan semakin sedikit waktu yang tersisa untuk pria itu kembali sembuh, saat ini tubuhnya hanya bergantung dari alat-alat medis yang di pasang dokter di tubuhnya.


“Apa yang akan saya katakan pada Nona muda tuan, ku mohon sadarlah tuan, tidak kah anda ingin melihat anak anda terlahir ke dunia.”ucap Alvin mencoba membangunkan tuannya.


Walaupun sekarang Adrian tengah koma, dokter yang merawatnya sekarang, mengatakan jika ia masih bisa mendengar dan merasakan keberadaan orang lain di sekitarnya.


Saat Alvin mengatakan tentang anak yang sedang di kandung Alea, membuat Adrian seketika meneteskan air matanya, Alvin yang melihat tuannya meneteskan air mata pun tersenyum bahagia. Ia terus mencoba mengajaknya berbicara, Alvin berharap agar tuannya akan segera sadar.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Sementara di belahan Negara lain, pria itu tampak duduk seorang diri sambil memandang wajah gadis yang masih sangat dia cintai pada selembar foto yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


“Bagaimana kabarmu sekarang, apa kau tahu aku sangat merindukanmu, walaupun aku mencoba segala cara untuk melupakanmu tapi aku masih saja tidak bisa melupakanmu.


“Tuhan....., hatiku sangat tersiksa takdir apa yang kau tuliskan padaku, jagalah dia selalu untukku, jangan pernah biarkan kebahagian nya menghilang dari hidupnya. Monolog Jery memandang wajah seorang wanita pada selembar foto di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2