
Max tersenyum menanggapi ke khawatiran yang di rasakan istrinya saat ini. Max sangat mengerti apa yang Alea fikirkan. Pria itu pun sependapat dengan istrinya, ia tidak ingin sampai salah dalam hal mendidik dan mencurahkan kasih sayang pada anak-anak mereka.
Setelah Alea berhasil mengontrol emosi dan perasaannya, mereka berjalan ke ruangan dokter kandungan. Max ingin memeriksakan kandungan istrinya dan mengetahui usia kandungan Alea sesuai arahan dari dokter Lisa yang memeriksa Alea di ruang UGD tadi.
“Selamat siang dokter Ratna.”ucap Max setelah sebelumnya ia sudah mengetuk pintu ruangan dokter Ratna. Wanita paruh baya yang di pilih Max sebagai dokter kandungan yang membantu Alea menjalani masa kehamilannya.
“Ah, selamat siang tuan, silahkan duduk.”ucap dokter Ratna mempersilahkan Max dan Alea duduk di kursi yang ada di depan dokter Ratna.
“Ada apa dokter? Apa anda membutuhkan bantuan saya?”Tanya dokter Ratna ramah.
“Iya, saya ingin dokter memeriksa istri saya, tadi dia sempat pingsan, dan menurut dokter Lisa, pingsannya istri saya itu di sebabkan karena dia sedang mengandung.”jawab Max menjelaskan kejadian di UGD tadi dengan penuh semangat.
“Begitu rupanya, baik lah silahkan nyonya. Anda baringkan tubuh anda di sana, dan saya akan memeriksa kondisi anda lebih dulu, setelah itu kita akan segera mengetahui hasilnya.
Rupanya suami anda juga sudah tidak sabar ingin segera menimang bayi.”ujar dokter Ratna sambil terkekeh melihat reaksi Max yang sudah penasaran dengan hasil pemeriksaan istrinya.
Max yang malu karena mendengar gurauan dokter Ratna pun, langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan mengarahkan pandangannya ke sembarang arah. Alea membaringkan tubuhnya di atas Bed Hospital sesuai arahan sang dokter dengan di bantu oleh asisten dari dokter Ratna.
Asisten dokter Ratna dengan cekatan mengoleskan gel di ngin di atas permukaan perut Alea. Dokter Ratna memutar-mutar alat USG di atas perut Alea, yang sebelumnya telah di olesi gel. Max terus mengembangkan senyumnya saat pria itu menangkap satu tanda titik di dalam rahim istrinya.
“Wah, rupanya anda benar-benar akan menimang seorang bayi tuan. Selamat ya dokter Max, nyonya.”ucap dokter Ratna sembari tersenyum pada pasangan suami istri di depannya.
“Benarkah? Apa saya benar-benar sedang mengandung dokter?”tanya Alea masih tak percaya.
“Benar nyonya, saat ini kandungan anda sudah memasuki minggu ke 8, dan kondisi janin juga sehat.” ucap dokter Ratna.
“Kau dengar itu sayang ! Kandunganmu sudah berusia 2 bulan.” Ujar Max dengan rona bahagia yang tak dapat ia sembunyikan.
Sementara Alea lebih memilih diam, saat ini hatinya tengah di landa rasa bingung. Haruskah ia bahagia dengan kabar kehamilannya itu, atau rasa sedih yang tengah wanita itu rasakan karena takut Max akan mengabaikan Alexa.
__ADS_1
Alea benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Hatinya gelisah dan perasaannya pun jadi tak menentu.
🍃🍃🍃🍃🍃
Setelah mengetahui kondisi Alea, dan usia kandungan istrinya baik-baik saja, Max membawa Alea keluar dari ruangan dokter Ratna.
Max meminta pada sang asisten menebus vitamin kehamilan Alea, di apotek rumah sakit. Karena ia akan membawa istrinya kembali ke ruangan kerjanya.
Agar istrinya bisa kembali beristirahat di dalam kamar, yang ada di dalam ruang kerja Max.
“Vid, tolong kau tebus obat ini di apotek, aku akan membawa nyonya kembali ke atas.”ucap Max pada David sang asisten dengan menyerahkan satu lembar resep yang di berikan dokter Ratna kepadanya tadi.
Max dan Alea pun berjalan menuju lift yang langsung terhubung dengan ruangan kerja miliknya.
Setelah masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Alea mendudukan tubuhnya di sofa depan meja kerja Max. Tatapan mata Alea kosong, batin dan logikanya terus beradu.
Saat sang suami sudah duduk di sampingnya pun Alea masih belum sepenuhnya menyadari keberadaan suaminya yang sudah duduk di samping nya.
“Apa yang sedang kau fikirkan hem! Kenapa sejak dari ruangan dokter Ratna tadi, ku perhatikan kau terus saja melamun.
Alea menggelengkan kepalanya cepat. Saat ini ia tak tahu harus mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan suaminya.
Max yang menangkap gelagat aneh pada Alea, pun langsung dapat menebak apa yang ada di dalam fikiran istrinya.
“Apa kau benar-benar tak menginginkan anak ini, atau kau takut aku akan berpaling darimu dan Alexa.”
Alea yang mendengarnya pun semakin bingung. Namun ia masih tetap memilih diam tidak menjawab pertanyaan suaminya.
“Sayang, harus dengan cara apa aku membuktikannya padamu? Jika aku tak akan pernah melakukan hal buruk kepadamu ataupun pada Alexa.”ucap Max mencoba kembali meyakinkan istrinya.
__ADS_1
Max membalikkan tubuh Alea mengahadap dirinya dengan memegang kedua bahu istrinya.
“A-aku ..., tak tahu aku bingung.”
Max sejenak terdiam, mendengar jawaban istrinya, yang tidak yakin dengannya. Sebelum akhirnya dia kembali mengatakan sesuatu yang membuat Alea sadar, dan mempercayai ucapan Max.
“Biarkan aku membuktikannya kepadamu, aku tak akan pernah melakukan hal yang ada di dalam fikiranmu.
Aku tahu kau ragu, kau meragukanku aku tahu itu. Aku juga tahu kau kembali takut kehilangan orang yang kau cintai seperti dulu. Namun ada satu hal yang harus kau tahu, aku sangat-sangat mencintaimu. Aku akan selalu menjagamu dan anak-anak kita sampai hanya maut yang dapat memisahkan kita.
“Kau tahu sayang, aku sangat mencintaimu, kehadiranmu, Alexa juga calon anak kita yang sedang kau kandung itu sangat berarti untukku.”
Ku mohon, berikan aku satu kesempatan untuk membuktikan jika aku pantas untuk kau percaya.”ujar Max.
“Iya, aku mepercayaimu.”ucap Alea akhirnya memutuskan mempercayai ucapan suaminya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Rintik hujan, dinginnya udara sore itu mampu membuat hubungan Alea dan keluarga kecilnya kembali harmonis.
Keraguan yang semula Alea tunjukan pada suaminya, nyatanya tidak membuat Max dan Alea lantas kehilangan moment bahagia keluarga mereka.
Dan di tengah-tengah kesibukan Max sebagai CEO dan direktur utama Wijaya Hospital. Pun juga tidak mengurangi kadar kebahagiaan Max dan Alea saat ini.
Di tengah-tengah kebersamaan mereka, Alea dan Max saat ini tengah menantikan kelahiran sang buah hati.
Sore itu Max tengah asik bermain bersama istri dan Alexa putrinya, kini usia Alexa sudah memasuki usia 1tahun. Dan Max semakin hari semakin menunjukkan rasa sayang nya sebagai seorang ayah kepada Alexa.
Pagi tadi tiba-tiba saja Alexa menangis, gadis kecil itu mendadak tidak ingin di tinggal Max bekerja, hingga Max pun akhirnya memutuskan menuruti keinginan putrinya dengan tidak pergi bekerja.
__ADS_1
Mereka bertiga berkumpul, bermain dan menghabiskan waktu bersama di ruang bermain yang sebelumnya sudah di persiapkan Max secara khusus, agar Alexa dan anak yang ada di kandungan Alexa merasa nyaman saat bermain.
Walaupun cuaca di luar sore itu sedang turun hujan, suasana hangat keluarga tetap tercipta. Ikatan batin, kasih sayang yang Max dan Alexa tunjukan, perlahan mengikis keraguan di hati Alea. Membuat perasaan wanita itu seketika menghangat dan menghapus perlahan rasa ragu yang pernah di rasakan Alea pada Max suaminya.