Cinta Untuk Alea

Cinta Untuk Alea
Jangan tinggalkan aku


__ADS_3

“Masuklah sayang, nanti kau akan tahu siapa yang ada di sana.”ucap Mama Amelia semakin tak kuasa menahan air matanya.


Alea pun membuka pintu kamar pria itu, setelah sebelumnya ia memakai baju steril khas rumah sakit tersebut.


Rasa penasaran terus menggelitik pikirannya, jantungnya berdegub semakin kencang. Tubuhnya bergeming di ambang pintu ICU tatkala meliahat sosok yang terbaring lemah di atas Bed Hospital dengan berbagai selang yang menempel pada mulut dan dada pria itu.


Alea berjalan menghampiri Adrian dan memeluknya. Air mata tak tertahan jatuh membanjiri pipinya.


“Sayang, kamu kenapa? Bangunlah, aku di sini,” suara Alea lirih bercampur dengan isaknya.


“Adrian...., sayangku, bangunlah! Putri kita sudah lahir, bangun lah lihatlah putri kita sangat cantik.” Berkali-kali Alea memanggil namun tidak ada respon sedikitpun dari Adrian.


Lama Alea menangisi keadaan suaminya, hingga akhirnya ia pun dapat menguasai diri.


“Asisten Alvin, kenapa kak Adrian tidur terus? Apa karena pengaruh obat? Apa yang terjadi padanya?” Alea memberondong pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


“Maaf Nona, karena semua terjadi karena kesalahan saya.”


“Hari itu, saat tuan Adrian melihat lokasi kecelakaan kerja yang menimpa pekerja kita, tiba-tiba tuan Adrian berlari menyelamatkan saya, saat bangunan Hotel kembali runtuh.


Kepala tuan Adrian terbentur cukup keras. setelah saya membawa tuan ke rumah sakit. Dokter yang menangani tuan Adrian, memutuskan melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawanya.


Namun setelah operasi di lakukan, ternyata tidak membuat tubuhnya pulih kembali, saat operasi sedang berlangsung, tiba-tiba terjadi pendarahan jaringan pada otak tuan Adrian.


Dan itu membuat tuan Adrian menjadi koma. Maafkan saya Nona, karena tidak bisa menjaga tuan dengan baik.”ucap Alvin dengan suara yang terdengar getir.


Penyesalan Alvin pada tuannya tidak dapat ia tutupi.


“Apa kak Adrian bisa sembuh Vin?” Tanya Alea pada asisten suaminya.


“Selain terjadi pendarahan otak, menurut keterangan dokter, terjadi komplikasi pasca operasi pada tubuh tuan Adrian. Dan otak tuan Adrian mengalami kematian.


“Maksud kamu, kak Adrian sudah meninggal?”tanya Alea.


“Tuan masih hidup Nona, hanya saja tuan Adrian hidupnya bergantung pada semua alat-alat yang terpasang di tubuhnya.”asisten Alvin mencoba menjelaskan kondisi Adrian pada Alea.

__ADS_1


Tubuh Alea seketika merasa lemas, air matanya terus mengalir deras tatkala ia mendapati kenyataan suaminya telah di nyatakan mengalami kematian pada otaknya.


Selama ini tubuh Adrian bisa bertahan, karena bantuan Ventilator yang terpasang di mulut dan tubuhnya. Walaupun tubuh Adrian masih sanggup untuk bertahan, tidak berarti dia masih hidup.


Alea kembali memeluk suaminya, ia terus memanggil lirih nama suaminya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Sudah tiga hari Alea berada di Singapura, selama itu juga Alea dengan setia menemani Adrian. Tuan Wijaya sengaja meminta bantuan orang kepercayaannya mengurus rumah sakit miliknya sementara waktu.


Dan sejauh ini belum ada perkembangan yang berarti dari kondisi Adrian. Bahkan dokter sudah menyerah dan menunggu keputusan pihak keluarga, untuk melepas Ventilator dan semua alat yang terpasang pada tubuh Adrian.


Alea memandang wajah suaminya dengan sendu. Ia tak sanggup memutuskan untuk melepas Ventilator sebagai penyambung hidup Adrian saat ini.


Ia tidak ingin putrinya tumbuh besar tanpa seorang ayah, dan Alea juga tidak sanggup jika harus kehilangan suaminya untuk selamanya. Jika ia benar-benar memutuskan melepas Ventilator, maka ia akan menyesalinya seumur hidup.


Beruntung Alea di kelilingi keluarga yang sangat mencintai dan mendukung setiap keputusan yang ia lakukan. Membuat Alea merasa sedikit terhibur.


Selama Alea menemani Adrian di rumah sakit, Mama Amelia dan kedua orang tuanya yang menjaga putri kecilnya.


Beberapa hari merawat Adrian di tambah rasa sedih yang menggelayuti hati, kondisi Alea pun sempat menurun. Saat Alea berjalan keluar dari kamar Adrian, tubuh Alea terhuyung hampir terjatuh.


Dokter itu meminta bantuan pada salah satu dokter yang sedang bertugas di ruang IGD untuk memeriksa kondisi Alea.


Ia merasa lega karena Alea hanya kelelahan dan tidak cukup istirahat yang menyebabkannya hampir jatuh pingsan.


Pria itu tersenyum saat menatap wajah Alea. Entah apa yang membuat dokter itu tersenyum, saat ia memandang wajah gadis cantik itu.


Dan membuat para dokter, perawat yang sedang berjaga di ruangan IGD pun di buat heran. Ia terus tersenyum pada Alea.


“Beautiful” satu kata yang terlontar dari bibirnya, saat melihat kecantikan yang dimiliki Alea sangat sempurna di matanya.


Walau Alea sudah memiliki seorang putri, namun wajah Alea masih sangat terlihat cantik layaknya gadis remaja.


“Are you satisfied enough looking at my face doctor?”tanya Alea pada pria itu.

__ADS_1


Suara Alea seketika membuyarkan lamunan pria itu. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu pun mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, ia merasa malu dan merutuki kebodohannya, sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan Alea.


“What is your name?” why did you not pay attention to your own health,”tanya balik dokter itu pada Alea.


“lucky you're just exhausted !”ucap dokter itu menjelaskan.


“Good thank you for the help doctor.”ucap Alea pada dokter yang menolongnya tadi.


Alea seketika turun dari Bed Hospital. Ia bergegas pergi ke kamar perawatan.


Pria itu terus menatap kepergian Alea. Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Dan sejak saat itu ia memutuskan untuk mencari tahu tentang Alea.


“Sayang..., bangunlah, aku dan putri kita menunggumu. Ayo dady buka matamu, lihatlah anakmu.


Alea berbicara dengan lembut dan senyum bahagiayang ia paksakan di telinga Adrian, memeluknya dengan hangat seolah dengan begitu, Alea berharap Adrian membuka matanya.


“Miss Alea!” Panggil dokter yang menolongnya tadi.


Alea menoleh, di lihatnya ada Max berdiri tak jauh darinya. Pria yang di ketahui sebagai dokter. Max yang menolong Alea saat akan jatuh pingsan.


Ia merupakan dokter bedah saraf yang terkenal handal, cekatan saat menangani pasien-pasiennya. Ia juga memiliki segudang prestasi, membuat Max mendapatkan julukan sebagai dokter bertangan dingin. Karena kemampuannya mengoperasi tubuh pasien sangat cepat dan tepat.


Max juga turut andil dalam kesembuhan Adrian. Setelah kepergian Alea, ia merasa tertarik pada Alea. Dan memutuskan mencari tahu siapa Alea sebenarnya.


Saat ia tahu jika pasien yang ada dalam pengawasannya itu adalah Adrian, suami Alea pasien dengan kondisi mati otak seketika membuatnya semakin ingin menjaga Alea.


Ia ingin perlahan-lahan mendekati Alea. Ia tahu jika ini bukan cara yang tepat, tapi ia tidak punya pilihan lain, karena Max merasa takut tidak bisa bertemu dengannya. Jika suatu saat Alea kembali ke negara asalnya.


“Doctor?!”


“Miss Alea, I am very concerned about your husband's condition, let me introduce you to a doctor Max. I'm a neurosurgeon treating your husband.


Setelah memperkenalkan dirinya, dan memeriksa keadaan Adrian. Max pun pergi meninggalkan ruang ICU.


Terimakasih banyak kepada para pembaca setia cinta untuk Alea. Maafkan ketidak sempurnaan author dalam penulisan, masih banyak typo bertebaran dimana-mana 😄

__ADS_1


Like dan vote sebanyak-banyaknya jika kalian menyukainya.


See u semoga terhibur, dan selamat membaca teman-teman semua 🤗


__ADS_2