
Pagi ini Alea tengah di sibukan dengan aktivitas baru nya, setelah wisuda beberapa hari yang lalu ia sekarang sibuk mengurus butik miliknya.
Adrian yang tidak ingin istrinya sibuk bekerja di kantor pun akhirnya memutuskan membuat butik untuk istrinya di salah satu pusat perbelanjaan, dan satu lagi berada di kawasan elite yang terletak di sekitaran pusat perbelanjaan yang di jadikan Adrian sebagai toko pusat tempat Alea bekerja.
Adrian tidak ingin Alea terus merengek kepadanya, dan mengatakan jika ia ingin bekerja.
Dengan kondisi Alea yang tengah mengandung lima bulan, Adrian tidak ingin istrinya terlalu lelah bekerja.
“Sayang, bagai mana keadaan mu hari ini, apa masih sakit pinggangmu? Jika masih sakit, sebaiknya kamu tidak usah ke butik dulu” ucap Adrian pada istrinya.
Pasalnya sudah dua hari ini Alea selalu mengluhkan rasa sakit pada pinggangnya, di kehamilannya yang sudah memasuki trimester kedua membuat nya mulai kesulitan bergerak ataupun menemukan posisi tidur yang pas untuknya saat malam hari.
“Tidak sayang, pingganggku sudah sedikit lebih baik.” Jawab Alea.
“Syukur lah, anak Papah jangan nakal ya di sana, kasian Mama nanti Mama kesakitan lagi.” Ucap Adrian seraya mengusap lembut perut buncit Alea.
Lalu ia mencium perut buncit istrinya, ada rasa haru menyelimuti hati Alea saat suaminya selalu bersikap seperti itu. Tak terasa air mata Alea turun membasahi pipi mulus nya.
“Sayang, kenapa kau menangis?” Tanya Adrian kepada istrinya sembari mengusap air mata Alea.
“Aku menangis karena bahagia sayang, terimakasih karena sudah mencintaiku.”seru Alea.
“Aku lah yang seharusnya berterimakasih padamu, kau mau menjadi istri dan ibu dari anaku.” Ucap Adrian menatap lembut istrinya.
“Ya sudah, sekarang kita sarapan yuk.” Ucap Adrian dan di angguki kepala sebagai jawaban oleh Alea.
Mereka berdua pun makan dengan tenang, setelah sarapan Adrian memutuskan mengantar Alea ke butik lebih dulu, setelah itu ia akan pergi ke kantor.
__ADS_1
“Sayang, kamu sudah selesai makan nya?” Tanya Adrian.
“Sudah, ayo kita pergi sekarang.”ucap Alea beranjak dari kursi di meja makan.
Adrian dan Alea pun berjalan masuk ke dalam mobil, Adrian mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang.
Setelah berkendara selama kurang lebih empat puluh lima menit mereka pun sampai di depan butik Alea, Adrian pun ikut turun dari mobil berjalan masuk ke dalam butik bersama istrinya. Ia terperanjat kaget tatkala melihat begitu banyak bucket bunga di ruang kerja Alea.
Saat aku mencoba menghapus semua rasa tentangmu, saat itulah aku semakin terperangkap jauh dalam dasar hatiku. Sketsa wajahmu kusimpan dalam kepingan ingatanku, membuatku begitu tersiksa dengan rasa cinta ini. Aku hanya bisa menatapmu dari jauh, tanpa bisa berkata lantang kepada dunia, rasa ingin memilikimu kembali begitu menyiksaku.
Adrian mengernyitkan kening saat membaca surat terakhir dari puluhan bunga yang sudah memenuhi ruang kerja istrinya, ruangan yang saat ini lebih layak di sebut sebagai toko bunga, dari pada tempat untuk bekerja.
Sudah tiga hari ini ada begitu banyak bucket bunga yang selalu di antar kurir di butik milik Alea.
“Sejak kapan ada banyak bucket bunga di sini.” Ucap Adrian datar, ia mencoba sekuat tenaga menahan gejolak amarahnya di depan Alea, mengingat Alea saat ini tengah mengandung Adrian tidak tega membuat istrinya menjadi semakin stres dan merasa takut kepadanya, yang bisa berakibat fatal pada kandungan istrinya.
“Sudah, tiga hari sayang.”ucap Alea menundukan kepala nya, ia tahu jika saat ini Adrian sedang marah, ia tidak berani menatap wajah suaminya saat berbicara dengannya.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku, sayang.”ucap Adrian lembut seraya mengangkat dagu Alea. Ia tahu jika saat ini Alea pasti merasa takut dengannya, jadi sebisa mungkin Adrian menahan amarahnya di depan Alea.
“Aku-aku, fikir tidak akan sebanyak ini bunga-bunga itu.”ucap Alea gugup.
Sungguh, aku tidak tahu siapa pengirim bucket bunga itu sayang, aku membiarkannya begitu saja karena aku fikir tidak akan sebanyak ini sayang.”ucap Alea mencoba meyakinkan suaminya seraya menunjuk bunga-bunga di pojok ruangan miliknya.
“Aku percaya padamu sayang, kamu tidak akan pernah menghianatiku.” Ucap Adrian seraya mencium pucuk kepala Alea.
__ADS_1
“Aku takut, aku takut pada pengirim bunga itu. Kenapa dia selalu menerorku dengan semua bunga ini.”ucap Alea.
Alea sebenarnya merasa sangat ketakutan dengan adanya teror bunga di butiknya.
“Tak usah kau fikirkan itu, kau tak perlu cemas ataupun takut aku akan mengurus semuanya, aku akan mencari tahu siapa pengirim bunga-bunga ini.
Aku juga akan menempatkan dua orang pengawal di butikmu sayang, untuk berjaga-jaga di sini, dan mulai besok jika kalian masih menerima bucket bunga seperti ini, lebih baik langsung kalian buang saja ke tempat sampah.” Ucap Adrian tegas pada karyawan di butik Alea.
“Baik Tuan.” Jawab kelima karyawan Alea bersamaan.
Adrian pun berlalu pergi meninggalkan butik milik istrinya setelah menelpon Alvin dan meminta nya untuk mencari tahu siapa pengirim bunga itu.
Setelah kepergian Adrian, Alea pun kembali masuk ke dalam ruang kerja miliknya. Ia kembali berkutat dengan setumpuk pesanan milik para pelanggan butiknya, beberapa hari ini ada peningkatan pesanan di butik Alea, mulai dari orang biasa hingga kalangan selebritis pun memesan gaun darinya.
Hingga menjelang jam makan siang Alea baru saja selesai dengan pekerjaannya. Saat ia akan mmemesan makan siang melalui aplikasi online, tiba-tiba ada pesan singkat yang di kirimkan Adrian pada ponselnya yang berisi.
Sayang tunggu aku di butik, sebentar lagi aku akan sampai, kita makan siang bersama.
Isi pesan Adrian pada ponsel Alea. Ia pun tersenyum melihat pesan singkat suaminya, dan mengurungkan niatnya memesan makanan via online.
Alea memutuskan akan menunggu Adrian di depan butik, saat ia baru saja keluar butik tiba-tiba ia mmelihat seorang pria tengah berdiri di depan butik miliknya.
See u next chapter guys 😘
Semoga terhibur, terimakasih pada semua pembaca novel Cinta untuk Alea, mohon dukungan, kritik dan sarannya.
Like dan vote cerita Author
__ADS_1