
Semalam suntuk Alea tidak bisa tidur dengan nyenyak, selain karena kehamilannya, menjelang persalinan Alea semakin sulit tidur nyenyak. Dalam benaknya ia selalu memikirkan suaminya yang sejak kepergiannya kemarin ke negara Singapore tidak bisa di hubunginya.
Dan pagi ini saat mentari mulai memancarkan sinarnya, menembus tirai jendela kamar, Alea pun bangun dengan rasa lelah yang mendera tubuhnya. Semangat seakan pudar menjauh dari tubuhnya.
Namun seketika Alea baru tersadar jika ia akan menanyakan perihal kabar suaminya pada asisten Alvin. Alea segera mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.
Berkali-kali Alea mencoba menghubungi asisten Alvin, namun berkali-kali juga tidak di angkat oleh sang asisten. Alea harus menelan kekecewaan nya saat Adrian tidak juga menelpon ataupun mengirimkan pesan.
Satu minggu berlalu sejak keberangkatan Adrian ke Singapore, namun sejak saat itu juga ia mendapatkan kabar dari suaminya.
Dan selama satu minggu juga Alea memutuskan tinggal di rumah kedua orang tuanya untuk sementara waktu, sampai ia melahirkan buah hatinya bersama Adrian.
Pagi ini kedua keluarga terlihat panik, berdiri di depan sebuah ruangan. Terlihat Papa, Mama dan ibu mertua Alea. Mereka terlihat sedang menemani Alea yang akan melahirkan, pagi tadi bi Ina menelpon Mama Amelia ia mengatakan jika Alea merasakan sakit di perutnya.
Sedangkan Adrian seoala tidak di ketahui keberadaannya.
“Pah, Adrian kemana ya? Kenapa dia belum terlihat datang ke rumah sakit untuk menemani istrinya, padahal sebentar lagi Alea akan segera melahirkan.” Tanya Nyonya Devi
“Sabar Mah, mungkin sebentar lagi dia akan datang.”seru Tuan Wijaya.
Tuan Wijaya saat ini terlihat tengah gelisah, menantikan kelahiran cucu pertama di keluarga mereka. Tuan Wijaya berjalan mondar-mandir di depan ruangan bersalin.
Dari arah lorong rumah sakit, seorang wanita seumuran dengan Tuan dan Nyonya Wijaya sedang berjalan tergesa-gesa mencari keberadaan menantunya yang sebentar lagi akan melahirkan.
“Dev, dimana Alea dan Adrian?” Tanya Mama Amelia.
“Di dalam, tapi Alea sendirian di sana, Adrian belum datang dan sudah sejak satu minggu dia tidak ada kabarnya.”ucap Mama Devi
Mama Amelia terdiam untuk sesaat, ia mencoba mencerna ucapan orang tua Alea.
“Apa maksudmu dengan tidak ada kabar dari Adrian, Dev? Apa dia belum kembali sampai sekarang?”tanya Mama Amel mencoba memastikan keberadaan putranya.
“Belum Mel, sudah satu minggu kami juga belum mendapatkan kabar dari Adrian, ponselnya pun mati tidak bisa di hubungi.”seru Tuan Wijaya.
Kemana sebenarnya perginya anak itu, tidak biasanya dia seperti ini. Batin Mama Amel.
Sementara di dalam ruangan bersalin, wanita itu terbaring lemas. Alea terlihat pucat menahan rasa sakit di perutnya.
“Kak Adrian, kamu dimana?” Anak kita sudah akan lahir, tapi kenapa kau belum juga kembali, teganya kau membohongiku,” lirih Alea.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Alea menahan rasa sakit yang semakin lama semakin bertambah rasa sakitnya.
“Kak Adrian sakit,” rintih Alea dengan mencengkram erat sisi Bed Hospital.
“Ya Tuhan, sakit sekali rasanya.
“Dokter, sakit !” Teriak Alea sedikit kencang.
Dokter yang berada di dalam ruangan pun berjalan menghampirinya, memastikan keadaan kandungan Alea.
“Astaga, anda sudah pembukaan lengkap Nyonya. Anda sudah boleh mengejan.”ucap Dokter
Dengan arahan dari dokter yang membantu persalinannya, Alea terus mengejan dan tidak lama terdengar suara tangisan seorang bayi.
Alea menatap pada bayi mungil yang baru saja di lahirkannya, seorang bayi perempuan cantik dengan kulit putih bersih dan juga memiliki rambut hitam lebat.
Tidak lama seorang suster membawa anaknya, ke dalam pangkuannya.
“Silahkan nyonya, ucap seorang suster memberikan anaknya kepada ibunya.
Alea menidurkan bayi cantiknya pada sisi tempat tidur, wajah cantik anaknya benar-benar mewarisi wajah kedua orang tuanya.
Saat ini kedua orang tua Alea dan Mama mertuanya, terlihat sangat bahagia dengan kelahiran cucu pertama di keluarga Wijaya, dan juga keluarga Sanjaya.
Keluarga mereka saling memuji kecantikan putri Alea dan Adrian.
“Astaga, cucu oma benar-benar cantik dan menggemaskan.”ucap Mama Devi
“Iya dong, lihat aja orang tuanya juga cantik, tentu saja anaknya juga akan cantik, iya kan sayang !” Puji Mama Amelia pada menantunya.
“Oma Amel dan oma Devi juga cantik, ngga mungkin dong cucu nya jelek, ya ngga sayang,”ucap Alea pada anaknya yang di tujukan kepada kedua Mama dan ibu mertuanya.
Dan semua orang di sana pun tertawa mendengar ucapan Alea.
Di saat semua orang berbahagia dengan kelahiran buah hati Alea bersama Adrian tiba-tiba ponsel Mama Amel berdering, membuat mereka yang ada di ruangan itu seketika menghentikan canda tawa mereka.
Dahi Mama Amelia mengernyit tatkala ia melihat nama penelpon yang tertera pada layar ponselnya
“Alvin”? Gumama Mama Amelia lirih
__ADS_1
Dengan cepat Mama Amel menggeser tombol berwarna hijau, seraya berjalan meninggalkan kamar Alea. Saat ini Mama Amel ingin memarahi Alvin dan menanyakan perihal kabar
putranya yang belum juga menunjukan batang hidungnya.
“Halo Vin, dimana Adrian? Kenapa dia tidak datang menemani istrinya saat melahirkan anaknya?”tanya Mama Amelia langsung memberondong Alvin dengan banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
“Saya minta maaf Nyonya, sebenarnya selama satu minggu ini tuan Adrian terbaring di rumah sakit National University Hospital. Dan tuan Adrian koma Nyonya,” ucap asisten Alvin denngan suara sedih.
“Dan dokter yang merawat tuan Adrian mengatakan, jika kondisi tuan Adrian tidak juga menunjukan kemajuan, maka harapannya untuk hidup hanya dua puluh persen saja.”lanjut asisten Alvin menjelaskan kondisi aAdrian.
Bak tersambar petir, tubuh Mama Amelia seketika terasa lemas, dadanya berdenyut nyeri. Ia menangis mendengar putra semata wayangnya tengah koma, dan berada di ambang kematian.
Saat ini Alea tengah tertidur pulas dan anaknya di letakkan di dalam box bayi di samping Bed Hospital Alea.
Sementara kedua orang tua Alea yang melihat gelagat aneh, pada besannya pun memutuskan untuk menyusul nya dan berjalan keluar ruangan Alea.
Betapa terkejutnya mereka, ketika mendapati tubuh Mama Amelia terduduk lemas di lantai, dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
“Ada apa Mel? Apa sebenarnya yang terjadi padamu?”tanya tuan Wijaya.
“Adrian Jay, Adrian.”ucap Mama Amelia di sela isak tangisnya.
“Adrian kenapa Mel? Sebenarnya ada apa ini, menantu ku kenapa Mel, apa yang terjadi dengannya, katakan pada kami.”ucap Mama Devi
“Adrian di rumah sakit National University Hospital Singapura Dev, dia koma. Apa yang harus ku lakukan.”isak Mama Amelia di pelukan Mama Devi
Tuan dan Nyonya Wijaya seketika terdiam, Mama Devi pun tak kuasa menahan air matanyanya, ia pun menangis tatkala wanita itu mendengar kabar buruk yang menimpa menantunya.
Mereka seolah mendapatkan sebuah jawaban kemana perginya Adrian selama satu minggu tidak ada kabar.
“Dan tadi Alvin mengatakan padaku, kalau kondisi Adrian sangat parah, dan selama satu minggu dia koma, Adrian belum menunjukan tanda-tanda akan sadar dari koma nya. Yang itu artinya kesempatannya untuk hidup tidak lebih dari satu persen.”ujar Mama Amelia
Tuan Wijaya sebagai dokter pun mengerti dengan kondisi menantunya, ia tidak pernah berfikir jika menantunya tengah koma. Tuan Wijaya hanya bisa berharap jika Adrian akan segera sadar dan kembali pulih.
Terimakasih atas dukungannya, kepada para pembaca setia novel Cinta untuk Alea 🙏🏻
Maaf saya tidak pandai merangkai kata, semoga kalian menikmati jalan ceritanya guys 😘😘
Terus dukung author, like dan vote novel author
__ADS_1