
“Tidak mas, aku tidak akan pernah menandatangani surat cerai ini.
Aku tidak akan pernah mau berpisah denganmu.” Ucap Hera marah.
“Apa kau bahagia Hera dengan pernikahan ini?” Tanya Jery.
Hera seketika wajahnya berubah pucat pasi, ia tidak tahu harus berkata apa, sejujurnya ia juga merasa tidak bahagia dengan pernikahannya, namun perasaan itu selalu ia tepis, karena rasa takut akan kehilangan Jery jauh lebih besar dari rasa tidak bahagianya sendiri.
“Sejujurnya aku juga tidak bahagia mas, tapi setidaknya aku masih memilikimu sebagai suamiku. Aku tak akan pernah rela kau bersama dengan wanita lain mas.” Teriak Hera
“Akalmu benar-benar sudah tidak sehat Hera, kau sama sekali tidak pantas menjadi pendampingku, sama sekali tidak !” Ucap Jery penuh amarah dan penekanan dalam setiap katanya.
“Oh ya, lantas siapa yang pantas menjadi istrimu, apa wanita bernama Alea itu yang pantas mendampingimu.” Kata Hera lagi
“Iya, hanya dia wanita yang pantas menjadi istriku.” Jawab Jery tak mau kalah.
“Lalu, kenapa kau justru memilih meninggalkannya dan menerima perjodohan kita? Apa kamu fikir akan semudah itu dia memaafkanmu, bahkan kau juga tahu kan mas jika Alea juga sudah menikah dengan orang lain, apa kau akan merebutnya dari suaminya.” Tanya Hera
Hera berfikir jika ia mengatakan hal itu, mungkin saja hati Jery akan sedikit melunak setidaknya ia akan mengurungkan niatnya menceraikan Hera.
“Aku tahu, dia sudah menikah, itu semua tidak akan merubah sedikitpun niatku untuk mendapatkan maaf dan pengampunan darinya, bahkan jika dia memiliki anak sekalipun dari suaminya, aku akan menerima mereka dan menganggap anak itu seperti anakku sendiri.
Aku akan tetap menunggu Alea, karena aku sangat yakin jika dia adalah jodoh terbaik yang Tuhan berikan padaku.” Ucap Jery mantap.
Walau sebenarnya juga juga tidak mengetahui secara pasti jika Alea saat ini tengah mengandung anak Adrian.
Hera terkesiap, tubuhnya seakan membeku, lidahnya terasa keluh, dada nya terasa nyeri seakan tertusuk ribuan jarum. Ia terdiam beberapa saat sebelum kembali mengatakan sesuatu yang ia tahan sedari tadi.
“Kamu sungguh keterlaluan mas, kenapa kau tega padaku?”
Kenapa, kamu tidak memberikan satu kesempatan untukku mas.” Isak Hera depan Jery.
__ADS_1
“Maafkan aku Hera, sekeras apapun aku mencoba untuk mencintaimu, aku tetap saja tidak bisa mencintaimu. Kalau saja dulu kamu tidak pernah menghancurkan masa depanku, mungkin saja kesempatan itu ada.” Ucap Jery mulai melunak.
“Maafkan aku mas, aku hanya ingin kau terus bersamaku, mencintaiku dan hidup bahagia selamanya.” Jawab Hera
“Apa kau tahu Hera, hatiku sangat terluka, aku harus menerima hukuman yang seharusnya tidak pernah aku terima. Tuduhanmu dan semua perbuatanmu itu sangat menyakiti hatiku.” Seru Jery
“Mas, aku mohon jangan ceraikan aku, tangis Hera seketika pecah, bahkan ia juga bersimpuh di bawah kaki suaminya.
“Aku mohon mas, ampuni aku berikan aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya.” Raung Hera mendongak menatap suaminya.
Jery masih bergeming, bahkan saat ini ia enggan menatap wajah Hera, ia sama sekali tidak tersentuh dengan sikap Hera yang terus memohon bahkan Hera juga bersimpuh di bawah kaki Jery.
“Maafkan aku ....., semuanya sudah terlambat Hera, aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan laki-laki seribu kali lebih baik dariku, rumah tangga kita sudah tidak layak lagi untuk di pertahankan.
“Tidak mas, ku mohon jangan ceraikan aku, hanya kau satu-satu nya pria yang ku cintai.” Raung Hera bersikukuh agar tidak di ceraikan suaminya.
“Kita hanya akan terus saling menyakiti, jika hubungan kita terus di pertahankan, ku mohon mengertilah Hera.” Ucap Jery seraya mengangkat tubuh wanita yang masih ber status sebagai istrinya itu.
“Tapi mas, aku sangat mencintaimu.” Seru Hera.
Hera pada akhirnya hanya mengangguk pasrah sebagai jawaban atas permintaan perpisahan dari suaminya.
“Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali nya mas?” Tanya Hera pada Jery.
Jery pun memeluk tubuh Hera, mendekapnya dengan erat, Hera tak kuasa membendung perasaannya, tangisnya pecah di pelukan laki-laki yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya. Hera hanya bisa pasrah menerima keputusan Jery menceraikannya, walau tidak dapat Hera pungkiri ia sangat mencintai Jery.
Besok pagi Hera dan Jery akan mulai menghadap pada komandan Jery di tempat pria yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya bertugas.
Besok pagi merupakan hari pertama proses perceraian mereka secara hukum militer. Baik Jery maupun Hera sama-sama memimpikan memiliki keluarga yang utuh dan bahagia, namun takdir berkata lain, hubungan yang di dasari dengan kebohongan selamanya tidak akan pernah bisa bertahan lama.
Setelah mendapatkan tanda tangan dari istrinya, Jery melangkah pergi dari rumah pemberian kedua orang tua Hera sebagai hadiah pernikahan mereka.
__ADS_1
Sebenarnya Jery tidak menyukai rumah itu, ia tidak enak dengan atasan dan juga bawahannya. Ia merasa gagal tidak bisa memberikan contoh yang baik bagi para anggota nya di batalyon, karena seharusnya di sana lah ia akan tinggal bersama dengan Hera istrinya.
Walau ia merupakan seorang dokter namun tidak dapat di pungkiri jika Jery juga seorang anggota Tentara, ia selalu di gembleng di ajarkan untuk hidup dalam kesederhananaan.
Namun tidak dengan Hera, ia tidak mau jika harus tinggal di dalam asrama. Karena menurut Hera jika ia hidup di dalam lingkungan keluarga militer seperti itu, hidup nya tidak akan bisa bebas.
Hera adalah wanita yang menyukai kebebasan, untuk itu ia selalu memaksa Jery untuk tidak hidup di dalam asrama, mau tidak mau Jery pun mengalah dengan mengikuti keinginan istrinya itu untuk tinggal di luar asrama.
Bahkan saat giat bulanan yang di laksanakan di dalam batalyon pun Hera selalu pergi dengan terpaksa, ia juga tidak pernah mau membaur dengan yang lainnya selayaknya istri Tentara.
Jery sebenarnya merasa malu dengan sikap istrinya, ia selalu menutupi kesalahan istrinya saat ia mendapatkan teguran dari para senior maupun atasannya.
“Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik persiapkan dirimu. Besok pagi aku akan menjemputmu kita akan menghadap komandan setelah apel pagi.” Ucap Jery seraya membereskan semua barang-barang miliknya.
“Kamu akan tinggal dimana mas, kenapa semua barang-barangmu kamu bawa? Bukankah menurut hukum kita masih sah sebagai suami istri.” Ucap Hera bingung karena Jery membereskan semua barang-barang miliknya.
“Iya secara hukum kita memang masih sah suami istri, tapi tidak ada salahnya kan kalau aku angkat kaki dari rumah ini.” Jawab Jery
“Ta-tapi kenapa mas?” Tanya hera.
Sejenak Jery menghentikan aktivitas membereskan barang-barangnya, ia menatap lekat wanita di depannya saat ini. Ia tak habis fikir dengan jalan pikiran wanita itu.
“Kenapa kau masih belum juga paham Hera.”ucap Jery
“Paham tentang apa mas? Ini rumah mu, rumah kita, lalu kau akan pergi kemana setelah ini?” Tanya Hera.
“Aku akan kembali ke rumah yang ku beli dari tabunganku sendiri.” Jawab Jery berlalu pergi meninggalkan Hera.
Bersambung
Berikan saran dan kritik juga ya reader, biar author semangat nulisnya.
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan memberikan like, vote author juga ya
Caranya masuk ke dalam akun author dan follow juga vote karya author