Cinta Untuk Alea

Cinta Untuk Alea
Separuh Hidupku


__ADS_3

Tuan Wijaya sebagai dokter pun mengerti dengan kondisi menantunya, ia tidak pernah berfikir jika menantunya tengah koma. Tuan Wijaya hanya bisa berharap jika Adrian akan segera sadar dan kembali pulih.


“Bagaimana Pah, apa yang harus kita katakan pada putri kita?” Mama ngga sanggup kalau harus mengatakan yang sebenarnya”ucap Nyonya Wijaya.


“Apapun kondisi Adrian saat ini, kita harus tetap mengatakannya pada Alea, Papa khawatir kita tidak akan memiliki banyak waktu mengingat kondisi Adrian kemungkinan bertahan sangat sedikit.”ujar tuan Wijaya.


“Apa maksudmu Jay, apa kau mengharapkan menantumu sendiri mati, dan cucu kita akan kehilangan seorang ayah, itu kan maksudmu mengatakan ini Jay.” Teriak Mama Amel sedikit kencang.


“Mel, apa kau lupa dengan posisiku? Aku juga seorang dokter. Dan sebagai seorang dokter aku cukup mengerti bagaimana kondisi Adrian.


Apa kau fikir aku sekejam itu pada keluargaku sendiri Mel? Aku juga seorang ayah, dan aku sangat menginginkan kebahagiaan putriku.”ucap tuan Wijaya lirih.


Tubuh Mama Amel terhuyung lemas, mendapati kenyataan putranya kecil kemungkinannya untuk bertahan hidup.


“Lalu kapan kita akan mengatakannya pada Alea Pah?”tanya Mama Devi


“Tunggu, sampai kondisi putri kita benar-benar pulih, setelah itu kita akan memberitahunya pelan-pelan.”ucap Tuan Wijaya.


Ketiga orang tua itu pun diam, hati dan logika mereka saling beradu memikirkan anak-anak mereka. Ujian yang Tuhan berikan pada keluarga mereka seolah tidak ada habisnya.


“Mel, kau pergilah menyusul Adrian, hanya kau saat ini yang bisa menjaganya,”ucap tuan Wijaya memecah keheningan.


“Lalu, bagaimana dengan Alea?”tanya Mama Amelia balik


“Kau tidak perlu mencemaskannya, Alea biarkan kami yang mengurusnya, aku yang akan mengatakan kepadanya bagaimana kondisi Adrian, setelah Alea benar-benar pulih.


“Baik lah Jay, aku mempercayakan semuanya kepadamu, aku akan segera mengurus keberangkatanku ke Singapore saat ini juga.”ucap Mama Amelia berdiri seraya merapikan bajunya sebelum berlalu pergi meninggalkan rumah sakit keluarga Wijaya.


“Hemmm...., pergilah, jaga dirimu di sana, kami akan menyusulmu di saat Alea sudah siap menerima kenyataan ini.”seru tuan Wijaya


“Baik lah, aku pamit menyusul Adrian.”ucap Mama Amel dan berjalan meninggalkan Tuan dan Nyonya wijaya.

__ADS_1


Setelah Mama Amel berjalan cukup jauh, mereka pun memutuskan kembali ke dalam kamar inap Alea.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Dua hari berlalu, tubuh Alea berangsur pulih. Hari ini dokter yang telah merawatnya pun mengizinkannya pulang ke rumah, dengan catatan Alea harus menjaga kesehatannya dengan baik, mengingat saat ini ia merawat anaknya seorang diri, walau kedua orang tua nya juga ikut membantu mengurus bayi mungil nya.


Tuan dan Nyonya Wijaya, hari ini berencana tidak akan membawa Alea pulang ke rumah mereka ataupun rumah utama keluarga Wijaya. Melainkan mereka akan membawa Alea menemui suaminya.


Sebelum membawa Alea ke Sungapura, kedua keluarga itu sudah menyiapkan apartemen untuk mereka tinggal di sana sementara waktu. Tuan Wijaya juga sudah menyiapkan seorang baby sister, dokter dan perawat khusus yang telah ia siapkan untuk merawat bayi Alea dan berjaga-jaga jika Alea tidak siap menerima kenyataan.


Tuan Wijaya telah mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi di sana dengan matang. Saat tuan Wijaya tengah mempersiapkan kepergian keluarga mereka ke Singapore, Mama Devi yang membantu Alea memasukan semua barang-barang putri kesayangannya, memasukan pakaian dan barang-barang Alea yang lain ke dalam koper.


“Mah, Papa dimana? Kok aku dari tadi ngga lihat Papa sama sekali?”tanya Alea pada Mama Devi sambil menyusui putrinya.


“Papa mu, masih rapat dengan para dewan direksi, sayang.”ucap Mama Devi berbohong.


“Apa kau lapar sayang?”tanya Mama Devi mendudukan tubuhnya di samping putrinya.


“Hemmm....., sudah sayang,” ucap Mama Devi seraya mengambil alih cucunya ke dalam pelukannya.


“Oh iya, dua hari ini Mama Amel ngga datang jenguk Lea ya Mah, apa Mama Amel sedang sibuk?”tanya Alea penuh selidik


Mendapat pertanyaan dari putrinya, membuat Mama Devi sedikit bingung, saat ia akan menjawab tiba-tiba.—


“Mertuamu sedang berada di luar kota, sayang.”jawab tuan Wijaya tiba-tiba masuk kedalam kamar putrinya.


Mama Devi, tampak lega melihat suaminya masuk ke dalam kamar inap Alea di saat ia tengah kebingungan dengan pertanyaan yang Alea ajukan kepadanya.


“Ih, Papa suka bikin kaget aja deh, masuk ke sini ngga ketuk pintu dulu.”ucap Alea pura-pura merajuk.


“Hadu..., putri Papa, udah punya anak masih suka ngambek sama Papanya.

__ADS_1


“Sayang, lihat mommymu dia merajuk pada opa, nanti saat kamu sudah besar jangan suka ngambek seperti mommy mu,”ucap tuan Wijaya pada cucu nya yang di akhiri dengan gelak tawa oleh semua orang yang ada di


sana.


Alea berjalan keluar kamar inap, menuju parkiran yang di sediakan secara khusus untuk keluarga Wijaya.


Setelah menunggu beberapa saat, mobil mereka pun sampai di parkiran. Alea dan buah hatinya, Tuan dan Nyonya wijaya pun berjalan masuk ke dalam mobil. Mobil mereka perlahan keluar dari parkiran dan melaju dengan kecepatan sedang membelah padatnya jalan raya ibukota siang itu.


Sementara Alea terus menatap ke arah jalanan, Alea yang terus memperhatikan jalan yang mereka lewati bukan arah pulang ke rumah miliknya bersama Adrian ataupun rumah utama keluarga Wijaya, melainkan ke arah menuju bandara.


Seketika membuat Alea mengernyitkan kening. Ia merasa bingung kenapa kedua orang tuanya malah menuju arah bandara pun akhirnya memutuskan menanyakannya kepada kedua orang tuanya.


“Mah, Pah, kok kita malah ke arah bandara sih?”bukannya kita akan pulang ke rumah?”tanya Alea dengan raut wajah kebingungan.


“Kita ngga akan pulang ke rumah kamu ataupun ke rumah utama sayang, hari ini Papa akan membawa kalian ke Singapore.”ucap tuan Wijaya


“Apa? Tapi untuk apa kita pergi kesana Pah? Lea juga baru aja keluar dari rumah sakit, anak Lea bahkan masih sangat kecil Pah, kenapa kalian malah membawa kami kesana, udah pak kita puter balik aja. Kita pulang ke rumah, Lea ngga mau pergi ke Singapore.”ucap Alea sedikit kesal.


Ia sama sekali tidak mengerti, apa rencana yang di miliki kedua orang tuanya. Kenapa mereka malah membawanya pergi ke Singapore dan bukan ke rumah utama.


“Kita akan menemui seseorang, dan kau harus ikut dengan kami, karena ini berhubungan denganmu dan juga putrimu.”ucap tuan Wijaya dengan suara tegas.


“Siapa Pah?”tanya Alea.


“Sudah sebaiknya kamu tidur saja, nikmati saja perjalananmu, nanti kau juga akan tahu siapa orang yang kita temui.”ijar tuan Wijaya.


Alea pun memutuskan tidak lagi mempertanyakan ucapan tuan Wijaya. Hati dan fikirannya terus beradu, ia merasa penasaran pada sosok seseorang yang di maksud oleh Papanya.


Terus dukung karya author, vote like dan komentarmu guys.


Semoga terhibur 😘

__ADS_1


__ADS_2