Cinta Untuk Kirana

Cinta Untuk Kirana
Chapter 15-Kejutan atau Terkejut!?


__ADS_3

Diruang tamu Pak Fahri dan Ibu Marissa sudah siap untuk menyambut tamu yang ditunggu nya. Dan ternyata tamu yang ditunggu nya sudah sampai di depan rumah nya.


"Pak, Bu tamu nya sudah didepan." Ujar Mang Dayat suami Bi Darmi


"Oh, sudah didepan. Yasudah saya kedepan sekarang ." Ucap Pak Askara sambil berjalan kedepan diikuti oleh istrinya


Sampai didepan rumah, tamu yang ditunggu keluar dari mobilnya dan menghampiri orang tua Kirana. Dan ternyata tamu yang ditunggu adalah Pak Askara dan Ibu Karina.


"Assalamualaikum... " Ucap Pak Askara dan Ibu Karina mengucapkan salam


"Wa'alaikumsalam.. " Jawab Pak Fahri dan istrinya


"Apa kabar Pak Fahri? " Tanya Pak Askara sambil mengulurkan tangan nya


"Alhamdulilah Pak Askara, saya baik."


"Mama Kia apa kabar? Lama kita gak ketemu ya? " Ucap Ibu Karina sambil cipaka cipiki


2 keluarga ini memang saling mengenal karena persahabatan kedua anaknya. Jadi panggilan nya pun sudah seakrab ini.


"Alhamdulillah baik, iya sudah lama ya kita gak ketemu." Ucap Ibu Marissa


"Ngobrol nya didalam aja ya biar sambil ngopi atau main catur? " Ucap Pak Fahri tertawa


"Walah, boleh dicoba tuh." Jawab Pak Askara terkekeh


 


Pak Fahri mengajak mereka masuk kedalam dan mempersilahkan untuk duduk.


"Silahkan duduk Pak, Bu. "Ucap Pak Fahri


" Terimakasih pak." Jawab Pak Askara


Mereka duduk dengan posisi saling berhadap hadapan.


"Kirana nya sudah mendingan?" Tanya Ibu Karina


"Sudah mendingan, masih siap siap kayanya."ucap Ibu Marissa


"Iya, mudah2an setelah ini Kirana sehat dan lebih semangat lagi ya Mam." Ucap Ibu Karina


"Iya Mam Arga. Mudah2an. " Jawab bu Marissa


"Berdua aja kesini nya? " Tanya Pak Fahri


"Sebentar lagi seharusnya sudah sampai. Beda mobil Pak Fahri. Dari kantor soalnya,dia." Ucap Pak Askara


"O iya iya.." Ucap pak Fahri sambil menganggukan kepalanya


Bi Darmi datang dengan nampan berisikan beberapa gelas minuman. Dan diletakan nya dimeja


"Makasih bi. O iya sekalian minta tolong panggilin Kia dikamarnya ya bi, bilang kalau tamu nya sudah datang. " Perintah Bu Marissa pada Bi Darmi


"Iya buu, kalau gitu Bibi kekamar mbak Kia dulu ya bu."


Bi Darmi mengetuk pintu Kamar Kirana dan Kirana membukakan pintu nya.


"Kenapa bi? " Tanya Kirana dengan wajah yang sembab


"Mbak Kia baik baik aja? Kenapa matanya sembab begitu?"


"Aku gak apa apa bi. Ada apa bi?"


"Bibi disuruh ibu panggil mbak, tamu nya udah dateng, ada diruang tamu."


"Iya bi, Kia touch up dulu sebentar. Emang tamu nya siapa bi?" Tanya Kirana sambil memoles wajah nya dengan bedak


"Itu mbak, orang tua nya Mas Arga yang datang. " Jawab Bi darmi


Kirana terkejut " Loh, ada apa emang nya ya bi? Arga nya kan ga ada, malahan barusan telponan sama Kia. "Ucap Kirana


" Bibi kurang tau , tapi kalo Mas Arga nya gak ada mbak. Kalo gitu bibi turun duluan ya, mbak Kia langsung ke ruang tamu aja ya."


"Iya bi, sebentar lagi Kia turun kebawah bi."


Setelah selesai mentouch up wajahnya dan merapikan lagi penampilan nya dari mulai baju dan rambutnya. Kirana keluar dari kamarnya dan turun kebawah menuju ruang tamu.


Sampai di ruang tamu, Ibu Karina menyambut kedatangan Kirana.


"Kia cantik sekali.. " Puji Ibu Karina pada Kirana


Kia menghampiri Ibu Karina dan Pak Askara dan mencium tangan mereka. Setelah itu Kirana duduk diantara Papa dan Mama nya.


"Ini ada apa ya paa? " Tanya Kirana bingung


"Pasti Kia bingung ya." Ucap papa nya


Pada saat bersamaan ada yang mengucapkan salam.


"Assalamualaikum... " Ucap laki laki dengan tubuh yang tinggi dan tegap. Laki laki itu terlihat gagah dan tampan memakai batik berwarna senada dengan dress yang dikenakan Kirana


"Walaikumsalam." Ucap semuanya yang ada di ruang terkecuali Kirana yang langsung berdiri dan menatap sosok laki laki itu.


"Mas Mirza.. " Ucap Kirana dengan mata yang berkaca kaca. Dia masih tidak mengerti kenapa ada Mirza dan orang tua Arga dihadapan nya.


Mirza menghampiri orang tua nya setelah itu menghampiri orang tua Kirana dan mencium tangan orang tua Kirana. Pada saat melewati Kirana, dia mengusap rambutnya sekilas. Setelah itu kembali ketempat duduknya


"Mirza apa kabar?" Tanya papa nya Kirana


"Alhamdulillah baik Om." Jawab Mirza sambil menganggukan kepalanya


"Gimana masalah disana sudah beres?" Sambung Mamanya Kirana


"Alhamdulillah, sudah beres tante." Jawab Mirza


"Alhamdulillah, kalau masalah nya sudah selesai. Om senang dengarnya." Ujar papanya Kirana


"Iya, Mohon maaf Mirza datang nya telat paa, maa, om tante."


"Gapapa Nak. Kia kenapa dari tadi diam aja? Ini Mas Mirza nya sudah ada didepan Kia sekarang, bukan nya lagi nunggu kabar dari Mas Mirza mu, sekarang bukan hanya kabar nya saja yang datang tapi orang nya langsung yang datang." Ucap papa Fahri pada anak perempuan nya yang dari tadi hanya diam saja.


"Daripada Kirana bingung, mungkin langsung aja ke intinya mungkin ya pak." Ucap Pak Askara


"Iya baik Pak silahkan. " Jawab Pak Fahri mempersilhkan


"Jadi begini Pak Fahri, Bu Marissa kedatangan kami kesini untuk membahas hubungan diantara anak anak kita. Awalnya saya juga bingung pak, karena seperti yang kita ketahui kalau Kirana bersahabat dengan adiknya Mirza, yaitu Arga. Tapi sepulang nya dari Banjarmasin Mirza datang ke saya, dia minta melamarkan seorang perempuan dan ternyata perempuan itu Kirana. "Ucap Pak Askara menjelaskan maksud dan tujuan nya


"Iya Pak Askara, memang sebelumnya saya belum pernah ketemu Mirza. Saya hanya tau ceritanya saja dari anak saya. Dan saya juga sempat bilang ke anak saya, kalau memang ada laki laki yang serius, datang dan minta ke papa. Dilihat dari kedekatan nya, saya fikir Arga  yang akan datang ke saya, ternyata Mirza lebih gerak cepat. Tapi saya sangat menghargai usaha Mirza untuk bertemu dengan saya, kalau tidak salah asisten Mirza yang menghubungi ke Kantor untuk janji temu, tapi kebetulan saat itu saya memang sedang dilapangan, dan waktu nya cuma di sore hari, Mirza bela belain datang


Ke kantor, padahal saat itu Mirza harus berangkat ke Banjarmasin. " Jawab Pak Fahri


Mendengar ucapan papa nya, Kirana mengerutkan kening nya. Ternyata banyak sekali hal yang dia tidak ketahui.


Mirza daritadi hanya diam, dan menatap Kirana dengan dalam.


"Iya, saya juga kaget Mam. Pulang dari Banjarmasin dia langsung minta dilamarin. Pas tahu Kirana perempuan nya, saya ucap syukur Alhamdulillah." Ucap Bu Karina antusias bercerita


"Iya Mam, saya juga. Pas tahu Mirza kakak nya Arga saya juga ucap syukur, karna saya yakin Mirza juga orang baik apalagi dilihat dari perjuangan nya Mirza yang luar biasa. " Jawab Bu Marissa

__ADS_1


"Sekarang giliran kamu yang bicara langsung ke Kirana. Jelasin maksud kamu datang kesini." Ucap Pak Askara pada anaknya


Mirza menghela nafasnya sejenak, jantungnya berdegup kencang. Ini pertama kalinya dia melamar perempuan, bahkan dulu saat dengan Natasha pun dia belum sempat melamarnya. Dia kira menghadapi situasi ini semudah menandatangani sebuah berkas, nyatanya lebih sulit dari itu.


"Om dan Tante, sebelumnya saya mau mengucapkan terimakasih sudah menerima kehadiran saya disini. Saya juga ingin meminta restu kepada Om dan tante, Saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Kirana, Saya juga sengaja datang dengan orang tua, sekaligus ingin melamar Putri om satu-satunya, dan saya juga ingin menjadikan Kirana menjadi perempuan istimewa di hidup saya setelah Mama saya tentu nya. Maaf kalau ini terkesan terburu buru, bahkan saya juga baru mengenal Kirana, tapi saya yakin Kirana adalah perempuan yang tepat untuk jadi pendamping hidup saya."Ucap Mirza dengan bersungguh sungguh


Suasana pun berubah menjadi haru. Ibu Karina, Ibu Marissa bahkan Kirana sendiri tersentuh sampai menitikin air mata.


"Sebagai orang tua, Om hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Dan untuk jawaban dari lamaran Mirza, biar Kirana langsung yang menjawab nya. " Ucap jawaban dari Pak Fahri


"Sekarang bagaimana jawaban Kia. " Ucap Pak Fahri sambil melihat kearah anaknya


"Kia mau ngucapin Terimakasih untuk Om dan tante yang sudah meluangkan waktu nya. Tapi, jujur disini Kia bingung. Antara Kia harus seneng atau sedih, karena ga ada yang ngasih tau tentang ini. Tapi sebelum Kia jawab, Kia minta ijin untuk bicara berdua sama Mas Mirza diluar, apa boleh?" Tanya Kirana meminta ijin pada semuanya


Pak Askara dan Ibu Karina beradu pandang, lalu menganggukan kepalanya.


"Boleh sayang. " Ujar Ibu Karina


"Terimakasih tante, kalau begitu Kia ijin keluar sebentar. " Ucap Kia sambil beranjak dari tempat duduknya


"Mirza juga ijin keluar sebentar. " Ucap Mirza beranjak dari tempatnya mengikuti Kirana dibelakangnya


"Yakinkan Kirana Za. " Ucap papa nya sambil menepuk pelan bahu Mirza


"Iya paa, pasti. "


Mirza mengikuti Kirana keluar. Pada saat sampai luar Kirana mempersilahkan Mirza untuk duduk. Muka Kirana kelihatan tegang begitupun Mirza.


"Silahkan duduk mas, ada yang mau Kia omongin. " Ucap Kirana, darahnya berdesir merangkak naik ke wajahnya seakan ingin menyemburkan lava panas.


"Ya. Ada apa? " Tanya Mirza sambil duduk tegap di hadapan Kirana


"2 minggu kamu gak pernah kasih kabar ke aku, setelah itu dengan mudahnya kamu bilang kalau aku perempuan yang tepat. Bahkan perkenalan kita pun singkat, kamu belum mengenal aku dan aku juga belum mengenal kamu lebih jauh lagi." Ucap Kirana sambil menahan air matanya dan menyilang kan tangan di dadanya


"Kirana, ada beberapa hal yang harus kamu ketahui. Yang pertama Saya harus ke Banjarmasin karena usaha saya yang disana sedang ada masalah, yang kedua Ketika saya mempunyai masalah, saya memang gak mau ada orang yang menghubungi saya selain tentang pekerjaan, kamu tau alasan nya kenapa? Karena disaat saya sedang marah saya tidak bisa mengontrol emosi saya atau saya berpura pura seakan akan tidak terjadi masalah apapun. Saya hanya ingin fokus menyelesaikan masalah saya sendiri." Ucap Mirza dengan tatapan yang mendalam seakan dia memohon untuk Kirana mempercayai nya.


"Tapi Mas Mirza baca chat saya, apa ga ada waktu sedikitpun buat kabarin saya atau sekedar memberikan kabar ke saya ?" Ucap Kirana dengan bibir yang bergetar, bahkan dia mengganti panggilan nya secara formal


"Saya hanya ingin meyakinkan hati saya, Kirana. Saya juga ingin memantapkan hati saya, apa saya pantas buat kamu." Jawab Mirza  dengan tegas


"Kamu ingat, waktu kamu kirim pesan ke saya untuk memberikan kamu kepastian? Ini alasan saya ada disini hari ini. Pembuktian apalagi yang kamu mau dari saya? Agar kamu percaya kalau saya bersungguh sungguh. " Ujar Mirza


Air mata yang berkilauan dimatanya tidak dapat ditahan lagi. Pertahanan Kia runtuh, dan lolos lah air matanya.


"Maaf. Kia takut akan harapan Kia yang terlalu tinggi sama Mas Mirza. Aku pikir Mas, akan sama seperti kebanyakan laki-laki diluar sana." Ucap Kia menangis tersedu


Mirza menghampiri Kia, dan berjongjok didepan Kia sampai tubuhnya sejajar. Dia mengusap lembut air mata di pipi Kia.


"Jangan nangis ya, saya paling gak bisa liat perempuan nangis." Ucap Mirza


"Lain kali kalau Mas Mirza ada masalah, Mas bisa berbagi dengan Aku. Masalah itu jangan dipendam sendirian Mas, kalau kamu bilang kamu takut gak bisa ngendaliin emosi, banyak hal yang positif yang bisa kamu lakuin ketika emosi. Jangan pernah merasa sendirian lagi ya." Ujar Kia menasihati Mirza


"Kita kedalam lagi ya, semua pasti nungguin kita. Airmata nya hapus ya, nanti orang tua kamu pikir saya nyakitin kamu. " Ucap Mirza sambil berdiri, tetapi tangan Kirana menahan Mirza.


"Tunggu Mas, gimana ceritanya kamu bisa ketemu sama papa?" Tanya Kirana


"Nanti saya ceritain, sekarang masuk kedalam dulu ya. " Ajak Mirza sambil menggenggam tangan kirana


Kirana menganggukan kepala nya dan berjalan mengikuti Mirza. Mereka berdua masuk kedalam menghampiri kedua orang tua mereka. Pada saat sampai diruang tamu, mereka disambut dengan gelak tamu, entah apa yang mereka bahas.


"Sudah bicara nya? " Tanya papa Kirana sambil menghentikan tawa nya


"Udah paa." Jawab Kirana sambil duduk ditempatnya semula


"Kalo gitu kita lanjutkan ya, pembicaraan yang sempat terputus. Sekarang kamu ngomong Za." Seru papa nya pada Mirza


"Iya, tadi kan Mirza sudah ngomong maksud dan tujuan nya. Sekarang tinggal Kia jawab ya sayang. "Ucap Mama nya Mirza


"Mohon maaf Om dan Tante tadi ada hal yang harus diluruskan. Dan untuk Mas Mirza, terimakasih udah mau berjuang untuk Kia, walaupun perkenalan kita belum lama. Tapi Mas Mirza bisa meyakinkan Kia, bahwa keseriusan laki laki itu bukan diukur dari berapa lama kita berhubungan. Dan Kia bersedia jadi pendamping hidup Mas Mirza." Ucap Kirana dengan mata yang berkaca kaca


"Alhamdulillah.. " Ucap semuanya serempak


"Cincin nya udah disiapkan Za? " Tanya Mama nya


"Udah Ma. " Mirza mengeluarkan kotak berwarna biru beludru dengan merk terkenalnya Frank n Co.


"Sekarang masukan ke jari Kia, sebagai tanda kepemilikan." Ucap mama nya


Mirza berdiri dan menghampiri Kirana yang juga sudah siap menerima cincin dari Mirza.


"Boleh pinjem tangan kamu?" Ucap Mirza dengan dada yang berdegup kencang


"Boleh, Mas. " Ucap Kirana tersenyum sambil mengulurkan tangan nya


Mirza menyematkan cincin di jari manis Kirana. Tanpa sadar Mirza mengelus ngelus jari Kirana yang halus dan lentik, mata mereka pun bertatapan dengan begitu dalam.


"Ehemm, iya deh dunia milik berdua, kita semua disini ngontrak. Iyakan Mam. " Ucap Mama Marissa membuyarkan lamunan mereka


Kirana melepaskan tangan nya dan dipegang Mirza. Begitupun Mirza yang tersipu malu dan duduk kembali.


Papa Kirana melihat jam ditangan nya " Udah waktu nya makan siang, Ayo kita makan siang aja dulu ya. Coba Ma di cek, semuanya udah siap? "Ucap papa fahri pada istrinya


"Sebentar Mama liat dulu ya paa. " Ujar bu Marissa sambil beranjak ke ruang makan


Mirza dan Kirana masih seperti tadi, bertatapan dengan Mirza dengan wajah yang berseri.


Mama Kirana datang dan memberitahu kalau makanan nya sudah siap.


"Mari Pak Askara dan Mama Arga, ehm maksudnya Mama Mirza kita makan siang dulu." Ajak Bu Marissa sopan


Pak Askara dan Bu Karina beranjak dari tempat duduk nya menuju meja makan.


"Ayo Mirza, makan siang dulu. Ajak dong Mas Mirza nya makan jangan diliatin terus, tenang aja udah officially kan sekarang. " Ledek papa nya pada Kirana


"Papa duluan aja, nanti Kia nyusul." Ucap Kirana


Setelah papa nya pergi, Mirza senyum senyum sendiri sambil memperhatikan Kirana.


"Mas Mirza kenapa senyum senyum gitu ngeliatin Kia? " Tanya Kirana pada Mirza


"Kamu cantik!." Ucap Mirza singkat membuat pipi Kia berubah menjadi merah


"Udah ah, cepetan kita makan dulu Mas gak enak udah ditungguin. " Ujar Kirana sambil menarik tangan Mirza


"Iya iya ayo. " Ucap Mirza dengan lembut


Mereka berdua berjalan kearah Meja makan dan langsung duduk berhadap hadapan.


Meja makan penuh dengan berbagai macam makanan ada Rendang, Soto Bandung, Ayam Goreng, Telor Balado, Karedok. Itu semua Mama Marissa yang masak sendiri.


"Silahkan Pak Askara dan Ibu dicoba masakan istri saya. " Ucap Papa Kirana mempersilhkan


"Iya pak makasih, rajin ya Bu Marissa. " Ucap papa nya Mirza


"Wah, bisa aja Pak Askara. Cuma masakan sederhana. " Ucap Ibu Marissa merendah


"Papa mau makan sama apa biar mama ambilin. " Ucap Bu Karina pada suaminyaa


"Papa mau Ayam goreng sama karedok nya Ma." Jawab Pak Fahri

__ADS_1


Bu Marissa dan Bu Karina menyiapkan makanan dipiring untuk suami nya masing-masing.


"Sayang kenapa bengong? Ambilin  calon suaminya makan." Tanya Bu Karina yang duduk disamping Kia sambil melebarkan senyumnya


"Hmm, iya tante." Ucap Kirana sambil berinisiatif mengambil piring


"Kamu mau makan sama apa Mas?" Tanya Kirana


"Saya mau soto sama telor aja. " Jawab Mirza


Kia mengambilkan nasi beserta soto dan telor balado nya dan memberikan nya pada Mirza.


"Kamu gak mau makan daging Mas? " Tanya Kirana heran. Karena dari sekian Menu yang ada dia cuma mau Telor dan Soto aja.


"Nggak, ini aja cukup. "


Setelah Mirza, giliran Kirana yang mengambil makan untuk dirinya. Dia mengambil Ayam goreng dan Soto nya aja.


"Nanti kalau udah nikah, jangan aneh ya sayang. " Ujar Bu Marissa


"Aneh gimana tante? " Tanya Kirana


"Mirza emang sukanya makan telor, meskipun ada banyak pilihan makanan tetep telor makanan wajibnya. Mau itu telor ceplok, telor dadar, pokoknya mau diapain telornya pasti Mirza makan. " Ucap bu karina memberitahu Kirana


"Hehehe, iya tante. Beda banget ya sama Arga." Ucap Kirana


Mirza menghentikan makan nya dan menatap Kirana sejenak.


Padahal gue ada didepan nya masih aja bahas Arga. Gumam Mirza


"Iya, beda banget. Kalo Arga kan lebih pemilih soal makanan, karena basic nya dari kesehatan mungkin ya. " Ucap Mama Karina menyunggingkan senyum nya


Setelah selesai Makan siang, mereka kembali ke Ruang Tamu untuk membahas masalah pernikahan Mirza dan Kirana. Dan Papa Askara yang memulai pembicaraan nya.


"Karena Kirana sudah menerima lamaran dari Mirza, kami sekeluarga ingin pernikahan Kirana di laksanakan secepatnya. Gimana Pak Fahri?" Tanya Pak Askara


"Kalau saya gimana anak-anak saja pak. Tapi memang lebih cepat lebih baik. Mirza dan Kia gimana?" Ucap Pak Fahri


"Kalau Mirza setuju aja, karena memang umur Mirza yang sudah gak muda lagi Om, tapi itupun kalau Kirana nya bersedia. " Ujar Mirza tersenyum


"Kia ikut aja. Lagian kan kalau niat baik harus disegerakan. Kia takut Mas Mirza hilang lagi. " Ucap Kirana polos


Semua tertawa mendengar ucapan polos Kirana.


"Tuh dengerin Za, Kia takut kehilangan kamu berarti." Ucap Mama Karina


Mirza tersenyum tipis "Apaan sih Ma. " Ucap Mirza malu malu


"Kalau pernikahan nya dilaksanakan nya 2 minggu dari sekarang gimana? " Tanya Pak Askara memberikan saran


"Apa gak terlalu cepat Pak? Saya takut waktunya terlalu mepet. " Jawab Pak Fahri mengerutkan kening nya


"Kita bagi bagi tugas saja pak, Untuk baju pengantin Mirza dan Kirana bisa di butik saya. " Ucap Bu Karina


"Untuk Makanan saya yang siapkan ya Mam. " Ucap Bu Marissa menimpali


"Iya Mam, tapi sebentar Mama mau tanya Kia pengen konsep pernikahan nya yang seperti apa? " Tanya bu Karina memanggil dirinya dengan sebutan Mama


"Kia maunya pernikahan nya dengan Konsep Intimate Wedding tante jadi lebih sakral acara nya. Tapi gimana baik nya aja. " Jawab Kirana


"Tapi Nak, kebahagian itu kan harus dibagikan. Karena ini pernikahan anak pertama, Papa ingin mengundang relasi papah, belum lagi relasi Mirza dan Relasi nya Pak Fahri. " Ucap Pak Askara memberikan suaranya


"Betul Nak, Papa ingin semua tau kalau anak perempuan satu satu nya menikah. " ucap Pak Fahri bangga


"Kalau menurut Mama gimana kalau Akad Nikah nya pake konsep yang Kia mau Intimate Wedding dan untuk resepsi nya baru kita ngundang relasi2 kita." Ucap Bu Marissa memberikan saran


"Itu lebih bagus Mam, jadi Akad Nikahnya lebih privat ya, hanya keluarga inti yang diundang. " Ujar Bu Karina


Mirza yang daritadi diam, membuka suara dan memberikan pendapatnya "Maaf, Kalo menurut Mirza untuk konsep pernikahan dan tempat nya biar Kirana aja yang tentukan, mungkin Kirana punya Dream Wedding nya sendiri. Kalau untuk yang lain nya, Mirza gak masalah. " Ucap Mirza


Wajah Kirana memerah karena malu. Sebegitu perhatian nya Mirza pada dirinya.


"Ya, Mirza betul. Untuk masalah Konsep pernikahan biar kita serahkan ke Mirza dan Kirana. Selebihnya baru kita bantu. " Ucap Pak Askara bijak


"Iya Pak. Jadi sepakat ya untuk pernikahan nya dilaksanakan tanggal 22 Desember. Karena pernikahan nya waktu nya mepet, jadi mulai besok berkas berkas untuk pernikahan nya harus di siapkan dan di daftarkan ke KUA ya Za. " Ucap Pak Fahri


"Iya Om, besok Asisten saya Dimas yang bantu Urus berkas buat daftar ke KUA nya.


"Ya sudah kalau gitu. Berarti pembahasan hari ini sudah beres ya. Oh iya sampai lupa, Karna anak saya yg di Jakarta belum bisa pulang kita aturkan aja pertemuan keluarga selanjutnya sebelum hari pernikahan. " Ucap Pak Fahri


"Iya pak, anak saya juga Arga masih ada tugas diluar Daerah belum bisa pulang. InsyaAllah nanti kita berkumpul semuanya dalam keadaan sehat, Aamin. " Ucap Pak Askara


Semua mengaminkan ucapan Pak Askara. Setelah semuanya selesai keluarga Pak Askara pamit pulang pada Pak Fahri.


"Kalau begitu Kami pamit pulang dulu, Terimakasih sudah menyambut kami dengan baik Pak. " Ucap Pak Askara menjabat tangan Pak Fahri


"Kami pamit ya Mama Kia, maaf merepotkan. " Ucap Bu Karina sambil memeluk Bu Marissa lalu beralih pada Kirana


"Sayang, Mama pamit yaaa. " Ucap Bu Karina sambil memeluk hangat Kirana seperti pelukan Ibu terhadap anaknya


"Iya tante. " Jawab Kirana


"Mulai sekarang panggil Mama ya, sebentar lagi kan Kia jadi anak Mama juga. " Ucap Bu Karina


"Iya Maa.." Ucap Kirana


Keluarga Kirana mengantarkan Keluarga Mirza sampai ke depan rumah nya. Pada saat sudah diluar Mirza berbicara sesuatu pada Kirana sebelum pulang.


"Kirana, sebelum kesini Mama sempet bilang kalau beberapa hari ini kamu sakit? " Tanya Mirza


"Iya Mas, tapi sekarang udah mendingan. " Jawab Kirana


"Yakin? Gak mau saya antar ke dokter?" Tanya Mirza lagi


"Yakin mas. " Ucap Kirana tersenyum lebar


"Yaudah kalo gitu, saya pamit dulu, saya harus balik lagi ke Kantor. "


"Hati hati, nanti kalo udah sampe kantor kabarin Kia ya Mas. " Ucap Kirana


"Iya nanti saya kabarin kamu. " Ucap Mirza sambil berjalan ke arah mobilnya. Tapi pada saat akan masuk ke mobil Kirana berlari kecil ke arah nya dan menahan tangan Mirza


"Kenapa? Ada apa? "Tanya Mirza heran


Kirana memegang tangan Mirza " Maafin Kia ya Mas, Kia udah salah paham sama Mas Mirza. Kia juga mau bilang Makasih, udah jadiin Kia perempuan paling bahagia hari ini. "Ucap Kirana dengan mata yang berkaca kaca


Mirza tersenyum dan menggenggam tangan Kirana " Sama sama, Saya senang bisa kenal sama kamu. "Ucap Mirza


"Yaudah sok berangkat. Kerja nya yang rajin ya calon suami, cari uang yang banyak buat masadepan kita. " Ucap Kirana tertawa. Ini Kali pertamanya dia memanggil Mirza dengan panggilan Calon Suami.


Mirza menggeleng gelengkan kepala nya dan tersenyum. "Iya Sayang. " Jawab Mirza singkat


"Cieee yang udah gak kaku lagi panggil sayang. " Ucap Kirana meledek


"Udah ya saya berangkat dulu ke Kantor, kamu istirahat. Nanti malam saya kesini lagi. "


"Iya iya Mas siap. "


Setelah Mirza dan keluarga nya pulang, Kirana masuk kedalam kamarnya dengan suasana hati yang berbunga bunga. Mungkin hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dihidupnya.

__ADS_1


__ADS_2