Cinta Untuk Kirana

Cinta Untuk Kirana
Chapter 51


__ADS_3

Mirza sampai disebuah rumah dan berjalan menuju pintu rumah tersebut. Dia menekan bel dan tidak lama ada seorang ibu paruh baya yang membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Mirza untuk masuk.


"Silahkan duduk tuan, saya mau panggil Ibu dulu. " Ucap ibu tersebut


"Baik, terimakasih bu. " Balas Mirza


Mirza memperhatikan dinding ruangan itu, terdapat banyak sekali foto anak perempuan. Rasanya dia seperti tidak asing dengan anak yang ada difoto. Sekilas wajahnya mirip dirinya waktu kecil dengan versi perempuan. Pada saat pandangan nya sedang fokus pada foto anak tersebut, seseorang membuyarkan lamunan nya.


"Hai, apa kabar? " Tanya Clara dengan sedikit angkuh menghampiri Mirza


Mirza berdiri mensejajarkan dirinya dengan Clara.


"Gak usah banyak basa-basi Clara, saya butuh penjelasan atas semua teror yang kamu lakukan. Bukan nya urusan kita sudah selesai, apalagi yang kamu inginkan dari saya hah? " Ucap Mirza membentak Clara.


"Santai dong, saya tuan rumah disini. Tolong jaga kesopanan kamu. " Ucap Clara tak kalah keras


"Oke apa yang kamu inginkan dari saya sekarang? " Tanya Mirza


"Saya ingin mencari keadilan untuk anak saya. " Ucap Clara


"Keadilan? Anak? Apa yang kamu bicarakan, saya gak ngerti. " Ucap Mirza mengerutkan kening nya.


"Kamu lupa dengan kejadian 5 tahun yang lalu? Dimana hari itu kamu menodai saya Mirza dan mencampakan saya. Kamu masih ingat Mirza? "


"Bukan nya permasalahan itu sudah selesai dan kamu tidak menuntut apapun dari saya? Dan kamu jangan lupa, kalau kamu turut andil dalam insiden itu. Clara.. Clara kamu fikir saya gak tahu, kalau dulu kamu yang menjebak saya kan. " Ucap Mirza geram


"Saya tidak menuntut kamu, karena saat itu saya belum tahu kalau saya mengandung anak kamu. Dan kamu tahu, saat saya sedang mengandung anak kamu saya mencoba menghubungi kamu tapi tidak pernah ada jawaban. Hanya Natasha yang kamu fikirkan saat itu, kamu tidak pernah melihat saya sedikitpun. Setiap hari saya mencoba untuk sabar, sampai ada saatnya kesabaran saya habis. Saat itu saya datang kerumah kamu dan hanya ada ibu kamu disitu. Kamu tahu apa yang dilakukan ibu kamu? Dia memberikan saya sejumlah uang untuk merawat kandungan saya dan pergi dari kota ini. Dia berjanji setelah keadaan kamu membaik dia akan memberitahukan semuanya pada kamu tapi sampai anak kita lahir ibu kamu selalu memberikan seribu alasan. Dari anak kita lahir saya selalu mengirimkan foto pada ibu kamu, bagaimana perkembangan nya. Ibu kamu tidak memungkiri kalau anak ini adalah darah daging kamu, karena dia sangat mirip sekali dengan kamu. " Ucap Clara menjelaskan panjang lebar dengan nafas yang sesak dan air mata yang bercucuran dia seperti mengingat luka lama.


Mirza mengusap wajahnya, mendengar semua penjelasan dari Clara membuat dirinya tidak bisa berfikir. Mirza bingung harus bagaimana dirinya saat itu.


"Kenapa kamu harus datang disaat saya sudah mempunyai istri? Kenapa gak dari dulu kamu datang Clara. " Ujar Mirza frustasi


"Ibu kamu yang mengancam saya, Mirza. Setiap saya akan datang dia selalu bilang kalau kamu sedang tidak baik-baik saja. Sebelum kamu menikah, kamu sempat mencari tahu dimana keberadaan saya dan orang kepercayaan kamu bilang kalau saya dirawat disingapura karena depresi itu juga skenario ibu kamu. " Ucap Clara


"Oke untuk semua kesalahan saya dimasalalu saya minta maaf yang sebesar-besarnya begitu juga dengan mama saya. Saya tidak bermaksud melakukan itu semua dan kalaupun dulu saya tahu, saya pasti akan bertanggung jawab. Apa yang harus saya lakukan untuk menebus semua kesalahan saya dimasa lalu. Tapi saya cuma minta jangan pernah libatkan Kirana dalam masalah ini, dia gak tahu apa-apa. Kirana hanya orang baru dihidup saya." Ucap Mirza merendahkan dirinya dihadapan Clara


"Justru karena dia orang baru di hidup kamu, saya iri dengan dia, dia gak perlu susah payah mendapatkan kamu dan menjadi istri kamu. Tapi gimana dengan saya, bahkan untuk mencari pengakuan saja sulit rasanya. "


Mirza terdiam sejenak, dia mencoba mencerna kata-kata dari Clara. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari atas. Ada seorang anak perempuan yang berlari kearah Mirza.


"Papap.. " Ucap anak perempuan tersebut mengahambur kearah Mirza dan memeluk nya sangat erat sekali.

__ADS_1


Mendapat perlakuan seperti itu Mirza bingung, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan nya.


"Dia anak kamu, namanya Aletha Clemira Bastian. Ibu kamu sudah mengijinkan saya untuk menggunakan nama itu."


" Papap gak inget ya sama aku. Kata mama, papap kerja nya jauh banget. Jadi papap gak pulang-pulang. "Ucap anak itu berceloteh bahagia.


Mata mereka beradu pandang, tanpa disadari mata Mirza berkaca-kaca melihat gadis kecil dihadapan nya. Ketika menatapnya, dia seolah seperti melihat dirinya sendiri.


"Kamu cantik sekali, nak, " Mirza memegang pipi Aletha dengan kedua tangan nya.


"Iya dong, papa kan ganteng mama juga cantik. " Ucap Aletha tertawa


Clara bahagia sekali melihat putri nya tertawa lepas seperti itu.


"Sayang, kamu ke kamar dulu ya sama suster. Mama mau bicara dulu sama papap ya. " Ucap Clara


"Tapi aku masih mau sama papap, aku masih kangen Ma. " Ucap Aletha pada Clara


"Iya nanti ya sayang. " Bujuk Clara pada anaknya.


"Tapi nanti papap tidur sama aku kan, Ma. " Ucap Aletha memohon


"Janji ya pap? " Aletha menyodorkan jari kelingking nya pada Mirza


"Iya janji. " Mirza mencantelkan jari kelingkingnya dan jari kelingking Aletha.


Aletha dibawa suster nya kekamarnya, sementara Mirza dan Clara melanjutkan pembicaraan nya.


"Jadi gimana Mirza? Apa kamu tidak kasihan melihat Aletha yang merindukan kasih sayang seorang ayah. Kamu tahu, sepanjang hidupnya dia tidak pernah tertawa lepas seperti itu. Bahkan setiap kali dia tidur, dia selalu memeluk foto kamu,Foto yang dikirim oleh ibu kamu. Mirza, ini sama sekali gak adil untuk Aletha. "


"Saya bingung, saya perlu waktu untuk memikirkan semua ini. Rasanya saya gak bisa membayangkan kalau istri saya tau tentang semua ini. Kepala saya pusing, dan saya gak bisa berfikir. " Mirza memijat kepalanya.


"Gak sulit, kamu hanya perlu membagi waktu antara istri kamu dan Aletha. "


"Gak semudah itu Clara. Kalau saya pernah menikah dan mempunyai anak mungkin Kirana akan menerimanya. Tapi gimana dengan saya, apa Kirana bisa menerima kesalahan saya di masa lalu. "


"Sudahlah Mirza, saya tidak ingin berdebat dengan kamu. Saya gak peduli gimanapun caranya, kamu harus bisa membagi waktu kamu dengan Aletha. "


"Dimana kamar Aletha? Tolong antarkan saya kesana. " Ucap Mirza


"Kamar Aletha ada diatas. " Jawab Clara.

__ADS_1


Clara naik ke lantai atas diikuti oleh Mirza. Sampai didepan kamar, ternyata pintu kamarnya Aletha terbuka. Mirza melihat Aletha sedang bercerita pada susternya.


"Aletha tidur ya, ini sudah malam. "Ucap Susternya


"Aku lagi nungguin papap sus, aku mau tidur sama papap. " Ucap Aletha


"Iya, tapi papap nya lagi bicara sama mama. Nanti papap pasti kesini, besok kan Aletha harus sekolah jadi tidur ya sayang. " Ucap Suster itu lagi


"Aku gak sabar pengen sekolah, aku mau cerita sama teman-teman kalo papap aku udah pulang. Abisnya aku sebel diledek terus sama temen-temen, mereka bilang aku gak punya papa. " Raut wajah Aletha berubah menjadi sedih.


"Jangan sedih kan sekarang papa nya Aletha udah pulang, kumpul sama Mama dan Aletha ya. " Ucap Suster


Mirza masuk kedalam kamar Aletha dan menghampiri Aletha.


"Suster bisa istirahat biar Aletha sama saya disini. " Ucap Mirza pada susternya Aletha


"Baik pak kalau gitu saya permisi. "


"Iya, silahkan. " Ucap Mirza


Setelah suster nya pergi, Mirza duduk disamping anak perempuan tersebut.


"Kenapa belum tidur? "Ucap Mirza mengelus rambut Aletha


"Aku takut. " Ucap Aletha dengan wajah yang cemberut.


"Takut kenapa? "Tanya Mirza lembut


" Aku takut papap pergi lagi terus aku takut papap ninggalin aku lagi. "Ucap Aletha


Mirza memeluk anaknya dengan penuh kehangatan, walaupun ini pertama kali nya dia bertemu, tapi hatinya merasa tenang berada dekat dengan anak ini.


"Kamu tidur ya, besok papap antar ke sekolah ya. " Ucap Mirza


"Iya pap, tapi temenin aku tidur ya disini. " Ucap Aletha memohon pada Mirza


"Iya papap temenin kamu tidur disini ya. " Ucap Mirza


Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Aletha tidur dengan dengan tenang dipelukan Mirza.


Mirza memijat pelan pelipisnya, dia bingung apa yang harus dia lakukan saat ini. Disatu sisi ada seorang anak kecil yang merindukan seorang ayah, disisi lain ada perasaan istrinya yang harus dijaga. Karena lelah dengan segala yang terjadi hari ini, Mirza tertidur disamping anaknya.

__ADS_1


__ADS_2