Cinta Untuk Kirana

Cinta Untuk Kirana
Chapter 30


__ADS_3

Setelah banyak drama di meja makan, akhirnya Kirana bisa bernafas lega, dia senang karena Mirza memakan masakan nya, makanan yang benar benar dibuat olehnya sendiri tanpa dibantu siapapun. Kirana sudah pulang kerumah nya diantar oleh Mirza, dan sekarang mereka berdua sedangĀ  mengobrol di gazebo rumah Kirana.


Arga juga sedang jaga malam di Rumah Sakit, dan sebelum piket dia mengantarkan Mika terlebih dahulu ke Apartemen nya. Dinda disibukan dengan tugas deadline, tadi dia bercerita pada Kirana harus mengerjakan tugas 100 halaman, baru saja keluar kelas pukul 15.00 tugas sudah harus dikirimkan ke email pukul 20.00. Tadinya Kirana mau membantu, tapi dilarang Mirza dan malah mengajak nya pulang.


"Mas, maaf ya. " Ucap Kirana memulai percakapan nya


"Maaf untuk apa? " Tanya Mirza sambil menyeruput kopi hitam nya.


"Maaf, karena aku gak bisa masak. " Keluh Kirana


Mirza menaruh cangkir nya dimeja, "Terus, masalahnya apa? Saya gak pernah mempermasalahkan itu. " Jelas Mirza santai


"Ya, tapi tetap aja Mas. Kamu nyesel gak, milih aku ? " Tanya Kirana


"Enggak, semua orang kan punya kelemahan dan kelebihan. Lagian kamu masih punya banyak waktu buat belajar, kan. " Ujar Mirza menenangkan Kirana.


"Iya, aku bakalan terus berusaha. Eh iya, besok kamu kerja? " Tanya Kirana


"Pagi sampai siang saya mau pindahin barang-barang saya kerumah yang baru. Terus siang sampai malem dikantor. " Jawab Mirza


"Dibantuin siapa Mas? "Tanya Kirana


"Ada bi Ani sama mang jajang yang bantuin, terus kalo dirumah yang baru kan ada Bu Ning istrinya Pak Arif tapi katanya Dinda juga mau bantuin juga. " Jawab Mirza


"Kamu mindahin apa sih banyak banget yang bantuin. " Ucap Mirza


"Mindahin barang barang saya, kalau barang kamu nanti aja nyusul ya. "


"Gak nyangka ya sebentar lagi bakal ninggalin rumah ini, " Ratap Kirana


"Berat ya mau ninggalin rumah ini. Nanti kan kalau udah nikah kapan pun kamu mau pulang boleh kok. " Mirza menenangkan Kirana.


"Iya Mas. Oh iya, aku baru inget, katanya tadi kamu mau cerita soal miniatur pesawat terbang yang katanya itu cita cita kamu. "


"Harus cerita ya? " Tanya Mirza


"Aku mau denger aja,Mas. Boleh ya? " Rengek Kirana.


Mirza menghela nafasnya, "Dulu cita-cita saya mau jadi pilot, tapi papa sama mama gak mendukung nya. Ditambah dulu kondisi keuangan papa kurang baik karena ditipu miliyaran sama rekan bisnisnya, apalagi sekolah penerbangan harganya mahal kan. " Kata Mirza tersenyum kecut.


"Terus akhirnya kamu kuliah apa?" Tanya Kirana


"Karena saya kasihan lihat bisnis papa yang terus mengalami penurunun, saya bertekad ingin membantu perusahaan papa. Saya ambil S1 jurusan Administrasi Bisnis, setelah lulus saya bantu perusahaan papa sampai bangkit lagi, terus sambil kerja di perusahaan papa saya ambil S2 Managemen Bisnis. Dari situ saya berfikir kalau bisnis itu memang sangat menjanjikan kalau kita bisa mengelola nya, karena saya lebih tertarik bisnis property, saya mendirikan usaha saya sendiri, dulu kantor saya masih sewa ruko yang kecil tapi setelah 5 tahun berjalan usaha saya berkembang pesat dan mempunyai beberapa cabang diluar kota." Mirza menceritakan masa lalu nya pada Kirana.


"Ya terkadang sesuatu yang awalnya terpaksa lama lama akan menjadi hal yang senangi. Berarti dulu mantan kamu juga salah satu orang yang ikut andil dalam usaha kamu ya, Mas. " Ucap Kirana


"Kenapa jadi bahas mantan ya? Ucap Mirza menaikan sebelah alisnya.


" Hm, aku penasaran aja sama mantan kamu sampai kamu susah membuka hati kamu buat perempuan lain. Dia orang bandung juga ? Kirana mencerca beberapa pertanyaan pada Mirza.


"Harusnya kamu bangga, karena kamu, saya bisa lupain mantan saya kan. "


"Ya mana aku tahu, dalamnya hati seseorang kan gak bisa diukur. " Balas Kirana


"Kamu gak percaya sama saya? Kamu ragu sama saya? " Tanya Mirza


"Bukan gitu, aku hanya iri aja sama mantan kamu Mas. "


"Iri? Kenapa harus iri? Bahkan dia hanya masalalu saya. " Ucap Mirza


"Karena dulu kisah cinta kamu itu indah, berkesan sampai teman-teman kamu aja ingat semuanya tentang kalian berdua. Gak kaya masalalu aku, menyedihkan. Pernah suka sama sahabat sendiri tapi sahabat aku suka juga sama dia. Berhasil move on dan menjalin hubungan baru, sudah berharap bahagia ternyata di sia-sia kan. " Lirih Kirana ketir


Mirza memeluk Kirana dan menenangkan dalam pelukan nya.


"Hei, gak usah sedih. Saya gak akan ninggalin kamu. Dihati saya sekarang hanya ada kamu, saya sudah mengubur masa lalu saya dalam-dalam. " Ucap Mirza.


"Maaf, kalau aku belum bisa jadi perempuan seperti yang kamu mau. " Kirana menangis dipelukan Mirza.

__ADS_1


"Kamu itu aneh, bahagia kamu nangis, sedih juga nangis. Saya sampai gak bisa bedain. " Ucap Mirza


"Ih, kamu nyebelin. " Kirana memukul pelan dada Mirza


"Saya pengen ketemu sama laki laki yang udah nyakitin kamu. Kamu ada fotonya gak? " Tanya Mirza


"Gak ada, emang nya kamu mau ngapain? " Ucap Kirana.


"Kalau ketemu saya patahin batang lehernya. " Ucap Mirza kesal.


Kirana tertawa, dia baru tahu kalau Mirza begitu. "Hahaha, anak orang Mas. "


"Nah gitu ketawa, jangan bikin saya khawatir. Beberapa hari kedepan kan kita gak ketemu. Tangan kamu masih sakit? " Tanya Mirza


"Hm, lumayan. Mudah2an nanti pas hari H udah sembuh. Masa banyak tamu undangan tapi gak disalamin. " Ucap Kirana terkekeh


Mirza melihat jam dipergelangan tangan nya, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.


"Udah malam, saya pulang dulu ya. " Ucap Mirza bangkit dari duduknya.


"Aku antar ke depan ya. "


Mirza menganggukan kepalanya.


Setelah sampai dihalaman, Mirza pamit pada Kirana.


"Saya pulang sekarang ya. Sampai ketemu lagi nanti ya. " Ucap Mirza


"Iya, hati hati dijalan nya. Kalau udah sampai rumah kabarin ya. " Ucap Kirana


"Iya nanti saya kabarin. Kamu istirahat ya. " Titah Mirza


"Oke Mas. "


Mirza masuk kedalam mobil dan membunyikan klakson nya dan pergi meninggalkan Kirana. Setelah Mirza pergi, Kirana masuk kedalam rumahnya.


***


Mereka semua sibuk memasukan barang barang kedalam dus. Mulai dari sepatu, baju dan lain lain.


"Mang, yang ini hati hati ya packing nya. " Ucap Mirza mengeluarkan koleksi action figure nya dari lemari.


"Iya mas, ini bawah nya sudah mamang lapisi dengan busa, jadi aman. " Jawab Mang Jajang


"Mas, ini box biru yang didalam lemari mau dibawa juga? " Tanya Bi Ani


"Jangan bi, pisahin aja. " Ucap Mirza


"Iya siap, Mas. " Ucap Bi Ani menaruh box biru diatas kasur.


Saat sedang membereskan barangnya, Mama Karina masuk kedalam kamarnya.


"Dipindahin semua barang nya? " Tanya Mama Karina


"Enggak kok, sebagian gak aku bawa. " Jawab Mirza


"Emang nya habis nikah kamu mau langsung pindah? " Tanya Mama Karina lagi.


"Iya, rumah aku kan udah beres Ma. " Jawab Mirza yang masih sibuk dengan barang barang nya.


Mama Karina melihat sekeliling kamar Mirza, "Nanti kalau kamu udah nikah, rumah bakalan sepi. "


Mirza menghampiri Mama Karina, "Mama gak usah khawatir, nanti aku bakal sering main kesini atau Mama yang berkunjung kerumah aku, lagian jaraknya deket. " Ucap Mirza


"Kalau mama kangen, mama boleh nginep gak? " Tanya Mama nya


"Boleh Ma, boleh banget. " Jawab Mirza tersenyum.

__ADS_1


"Inget sebelum pindahan syukuran dulu Za, undang anak anak yatim. " Mama Karina memperingati anaknya.


"Beres, Ma. Udah diurus sama Pak Arif. Lagain kan Mirza juga sibuk, Ma. Belum ngurusin pernikahan, kerjaan terus sekarang pindahan. " Kata Mirza


"Dinda katanya mau ikut ke rumah kamu ya? " Tanya Mama Karina


"Iya, tapi kebiasaan Dinda gak bisa on time. " Ucap Mirza kesal.


"Mas, semuanya udah beres. " Ucap Mang Jajang.


"Mobilnya udah siap Mang? "


"Mobil udah aman, tadi ada karyawan Mas Mirza yang nganterin mobil box nya. " Jawab Mang Jajang.


"Ok, diangkut ke mobil sekarang ya barang-barang nya. " Perintah Mirza pada Mang Jajang


"Siap grak. " Mang jajang mengangkut beberapa dus.


"Besok pengajian dirumah Za, jangan lupa. "


"Jam berapa? " Tanya Mirza


"Jam 1,jangan lupa ya. "


"Iya siap. "


"Mama keluar dulu ya. " Pamit Mama Karina


"Iya Ma, Mirza juga berangkat sekarang Ma. Abis dari rumah baru ke kantor. "


"Hati hati, jangan lupa makan. " Pesan ibu nya sebelum keluar.


"Bi, nanti diberesin lagi ya kamarnya. Mirza pergi dulu. " Ucap Mirza mengambil kunci mobil diatas nakas


"Iya Mas, hati hati dijalan nya.


" Iya Bi. "


Mirza keluar dari Kamarnya dan bergegas menuju kamar Dinda. Pada saat masuk ke kamar nya Dinda, adiknya itu masih dengan santainya mencatok rambutnya.


"Dek, udah jam berapa ini? Katanya mau ikut. " Ucap Mirza kesal melihat kelakuan adik bungsunya


Karena suara Mirza sudah naik satu oktaf, Dinda buru buru merapikan rambutnya. Setelah itu dia meraih tas diatas kasurnya.


"Iya iya ini udah siap. " Ucap Dinda dengan sedikit gemetar.


"Yaudah ayo, daritadi kamu ngapain aja sih. " Ucap Mirza sambil berjalan keluar dari kamar adiknya.


"Tadi aku sakit perut, bolak balik ke wc. " Jawab Dinda asal menjawab. Padahal dari tadi dia memang hanya leyeh-leyeh dikasur.


"Kenapa gak bilang, kalau sakit perut. Kamu istirahat aja gak usah ikut ya. " Ucap Mirza dengan nada rendah


"Udah baikan kok, udah yuk pergi. " Dinda menggandeng lengan kakaknya.


Sampai didepan rumah, Mang jajang sedang menaikan barang-barang kemobil.


"Mang, Mirza duluan ya. Gak lupa kan sama alamat nya? " Tanya Mirza


"Aman, kan mamang udah beberapa kali kesana. " Jawab Mang Jajang.


"Oke, dus yang pake label warna merah simpan nya didepan ya. "


"Iya, Mas aman. Tenang aja pokoknya. "


"Satu lagi, jangan ditumpuk ya dus nya. " Pesan Mirza


Mang Jajang menggeleng gelengkan kepalanya. Majikan nya yang satu ini memang teliti dan rapi. Dan Perfeksionis, apa apa harus detail.

__ADS_1


"Katanya buru-buru, Cepetan Kak" Dinda berteriak melalui jendela mobil Mirza.


"Iya iya, dasar bawel. " Mirza masuk kedalam mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju rumah baru nya.


__ADS_2