
Diluar Ruangan Mirza tampak semua karyawan sedang berbisik bisik satu sama lain. Sebelum ke Ruangan sebelah, Mirza menegur para karyawan nya.
"Ehem.. Bukannya waktu istirahat sudah selesai ya. Lagi bahas apa? " Tanya Mirza sambil berdiri tegap memperhatikan semua karyawan nya.
Semua karyawan nya tidak ada yang menjawab, hanya menundukan kepalanya.
"Tadi saya gak ada ribut, sekarang saya tanya malah pada diam. " Ucap Mirza lagi
"Kerjakan lagi kerjaan kalian. " Ucap Mirza sambil berlalu meninggalkan karyawan nya
Setelah Mirza pergi semuanya menghela nafas lega. Tidak terkecuali Ayu, salah satu karyawan yang mengagumi Mirza.
"Padahal bawa calon istrinya, tapi masih aja galak. " Gumam Metha menggerutu
"Hari patah hati nasional nih. " Ucap Ayu lesu
"Ya gue kan udah bilang seleranya Pak Mirza bukan lo. Apa lo gak liat calon istrinya cantik banget, mana wajahnya glowing lagi. Emang bener bener sempurna. " Puji Metha
"Iya sih, cuman gue heran aja. Sejak kapan Pak Mirza pacaran ya tau tau udah jadi calon istri aja. " Keluh Ayu
"Lo siapa nya Pak Mirza? Nyokap nya? Yang apa apa harus laporan sama lo. Gila ya lo merhatiin banget. " Ucap Metha ketus
"Lo kok gitu sih Met, gue kan lagi sedih. " Balas Ayu
"Ya ngapain harus sedih Ayu, kalau pun Pak Mirza gak punya pacar ga akan pilih lo juga. Udah deh kan masih banyak yang lain. " Ujar Metha
"Iya sih lo bener Met. Pak Dimas kan masih ada ya, singel lagi. Kayanya gue harus usaha nih buat dapetin Pak Dimas. " Ucap ayu
"Terserah lo deh. " Ucap Metha melengos
Diruang Meeting, Dimas sudah menunggu Mirza. Dan Mirza segera duduk berhadap hadapan dengan Dimas.
"Jadi gimana Dimas? Apa ada benda mencurigakan?" Tanya Mirza
Dimas mengelurkan sesuatu dari kantung kresek berwarna hitam. "Ini Pak, tadi ada orang yang berpakaian serba hitam melempar batu ini pak. " Jawab Dimas
Mirza mengambil 2 buah batu besar yang dibungkus oleh kertas. Pelan pelan Mirza membuka kertas tersebut dan membaca isi dari surat tersebut.
Kertas pertama bertuliskan SAYA TIDAK AKAN MEMBUAT HIDUP ANDA TENANG, ANDA HARUS BAYAR SEMUANYA ! ATAS APA YANG SUDAH ANDA LAKUKAN TERHADAP ANAK SAYA.
Mirza membuka kertas yang kedua dan membaca nya. Isi dalam kertas kedua adalah INGAT, KEKAYAAN YANG ANDA MILIKI ADA HAK CUCU SAYA DIDALAM NYA. DASAR MIRZA BAJINGAN !
Setelah membaca isi surat tersebut Mirza mengepalkan tangan nya, seluruh wajahnya menyala dan pembuluh darah tampak tegang dilehernya. Sepanjang bekerja dengan Mirza, Dimas baru kali ini melihat kemarahan atasan nya yang sudah di ubun ubun.
"Ada apa Pak? " Tanya Dimas memberanikan diri bertanya pada Mirza
"Anak? Cucu? Apa maksud nya. Sialan ! " Ucap Mirza menggebrak meja yang membuat Dimas terhenyak kaget
"Teror macam apa ini, kampungan! " Ucap Mirza dengan nada tinggi
"Apa kita lapor polisi saja Pak? " Dimas memberikan saran pada Mirza
"Jangan, saya menduga ini ada hubungan nya dengan kekacauan yang ada di Banjarmasin kemarin. Kita harus tau dulu siapa bajingan yang sudah teror saya. " Ujar Mirza
"Tapi Pak, mereka sudah membahayakan karyawan di kantor bahkan ada yang sampai masuk Rumah Sakit akibat ulah nya. " Ucap Dimas
"Tingkatkan lagi keamanan dikantor ini, kalau perlu tambah security lagi. Jangan izinkan sembarangan orang masuk ke Kantor ini. Saya yakin bajingan itu masih belum puas. "Perintah Mirza pada Dimas
"Baik Pak, nanti saya urus untuk tambahan petugas keamanan nya. Ada lagi Pak? " Tanya Dimas
"Satu lagi, jangan sampai ada yang tahu tentang teror ini. Saya harus cari tahu dulu siapa dalang dibalik teror ini. "
__ADS_1
"Apa ini ada hubungan nya dengan orang di masalalu bapak? Karna disurat ini tertulis soal anak dan cucu Pak. " Dimas memberikan pendapatnya
"Saya juga gak paham apa maksudnya. Karna perempuan yang pernah ada di kehidupan saya ya cuma Natasha. Kita harus segera cari tahu ini, Dim. Saya gak mau ini sampai berlarut larut apalagi sampai Kirana tahu masalah ini. " Ujar Mirza
"Satu lagi, saya mau kamu cari tahu orang yang bernama Candra, untuk foto nya nanti saya kirim. " Tambah Mirza
"Baik Pak. Saya akan cari orang itu secepatnya." Ucap Dimas
"Bagus. Saya tunggu kabarnya segera. " Ujar Mirza
"Siap Pak. Oh iya Pak, untuk berkas berkas pernikahan Bapak dan Ibu Kirana sudah saya daftarkan di KUA Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu? "Tanya Dimas
" Kamu tolong urus Undangan pernikahan Saya dengan Kirana. Daftar orang-orang yang akan diundang juga tolong disiapkan. Kamu sama Dinda ya yang urus. Terus carikan Photografer dan pengisi acara nya sekalian. "Jawab Mirza
"Ok Pak, untuk pengisi acara nya Bapak mau siapa? " Tanya Dimas lagi
"Nanti saya infokan ke kamu. " Jawab Mirza
"Siap Pak. Untuk barang bukti nya saya simpan ya Pak. Siapa tahu nanti dibutuhkan. " Ucap Dimas
"Ya, simpan di tempat yang aman. Kalo gitu saya kembali ke Ruangan. Kalau ada informasi apapun tentang peneror itu tolong secepatnya kasih tau saya. " Ujar Mirza sambil berdiri dari tempat duduknya
"Iya Pak siap. " Ucap Dimas
Mirza kembali dan berjalan ke Ruangan nya. Pada saat masuk kedalam ruangan nya, Mirza melihat Kirana tertidur di Sofa. Mirza duduk disebelah Kirana, dan membetulkan posisi tidurnya. Kepala Kirana diletakan di pundaknya Mirza. Tanpa sadar Kirana menggeliatkan tubuh nya dan memeluk Mirza dengan erat.
"Untung ini mimpi, gue bisa meluk calon suami gue sepuasnya. Gue candu banget sama wangi farpum nya. " Racau Kirana dengan mata yang masih terpejam
Mirza tersenyum mendengar ucapan Kirana dibawah alam sadarnya. Mirza mengusap usap rambut Kirana lembut.
"Kamu gak lagi mimpi, kamu boleh peluk saya sepuasnya. " Bisik Mirza ditelinga Kirana
Kirana dengan refleks melepaskan pelukan nya danĀ terperanjat ketika melihat Mirza ada disampingnya
"Sejak kamu peluk saya, emangnya kenapa? " Tanya Mirza santai
"Aku kan malu Mas sama kamu. " Ucap Kirana
"Kenapa malu? " Tanya Mirza
"Ya malu aja. " Jawab Kirana
"Malu karena meluk atau malu karena ketauan kalo kamu candu sama farpum saya? " Ledek Mirza
"Dua duanya. Btw, kenapa muka kamu jadi kusut gitu mas? " Tanya Kirana yang melihat muka Mirza yang tidak baik baik saja
"Kenapa emang nya sama muka saya? " Mirza malah balik bertanya pada Kirana
"Kamu lagi ada masalah kan? " Kirana mengerutkan kening nya menyeledik pada Mirza
"Nggak ada, cuma masalah kerjaan. Biasalah. " Kilah Mirza
"Boong pasti, kamu pasti ada masalah serius kan? " Tanya Kirana lagi
"Boleh gak saya peluk kamu? " Mirza meminta izin untuk memeluk
"Boleh Mas. " Ucap Kirana merentangkan tangan nya.
Mirza memeluk Kirana dengan erat. Seakan gak ingin untuk melepaskan nya. Masalah teror ini sungguh menguras tenaga dan fikiran Mirza. Selesai masalah di Banjarmasin, sekarang Kantor nya yang Di Bandung yang jadi sasaran nya.
Kirana, maafkan saya. Awalnya saya memang berniat menyakiti kamu, membalaskan dendam saya pada Kakak Kamu. Tapi saya rasa ini gak adil untuk kamu. Kamu terlalu sempurna untuk saya sakiti. Kirana sungguh, saya sudah mulai mencintai kamu, saya ingin hidup bahagia bersama kamu, ingin membangun keluarga yang bahagia bersama kamu. Kirana, jika suatu saat saya membuat kesalahan tolong maafkan saya dan jangan pernah tinggalkan saya.
__ADS_1
"Mas, kamu baik baik aja kan? " Tanya Kirana masih dipelukan Mirza
Mirza melepaskan pelukan nya dari Kirana.
"Selama kamu ada disamping saya, saya akan selalu baik baik aja. " Jawab Mirza
"Iya Mas, Aku bakalan terus mendampingi kamu apapun keadaan nya. Asalkan kamu harus selalu jujur sama Aku apapun yang terjadi. " Ucap Kirana senyum
"Kalau bohong demi kebaikan gak apa apa kan? " Tanya Mirza
"Tergantung, bohong nya karna apa dulu. " Ujar Kirana
"Iya iya Kirana. Kamu belum makan? " Tanya Mirza melihat makanan yang masih utuh di meja
"Belum, kan aku nungguin kamu Mas. Masa aku makan nya sendirian. " Ucap Kirana
"Ya tapi kan nanti kalo kita nikah, saya kan kerja gak bisa makan sama sama terus. " Balas Mirza
"Kata mama aku, kalo udah nikah setidaknya kita harus makan pagi dan makan malam sama sama. Biar membangun bonding suami istri. " Ujar Kirana
"Kalo saya lembur gimana? Kita gak akan bisa makan malam bersama kalo saya lembur. " Tanya Mirza
"Lembur kan gak tiap hari Mas, ya kali kamu lembur tiap hari. " Ucap Kirana tertawa
"Saya usahain selalu pulang kerja tepat pada waktunya. " Ucap Mirza
"Ya udah kita makan aja dulu ya. Tadi aku minta staff kamu buat beliin aku Sushi. Tapi sushi nya udah dingin, gak apa apa ya Mas? " Ucap Kirana sambil membuka box sushi nya.
"Iya gak apa apa. " Ucap Mirza sambil mengambil sumpit dan mengambil Sushi nya
"Tau gak Mas, staff kamu yang perempuan kok pada jutek ya sama aku. Terus aku iseng tanyain sama Metha, emang pada jutek gini semua staff yang perempuan nya. Tau gak Metha jawab apa? " Tanya Kirana pada Mirza sambil melahap Sushi nya
"Apa katanya? " Tanya Mirza yang juga sedang melahap sushi nya
"Katanya cemburu sama Aku, terus Metha juga bilang karyawan yang perempuan kan pengagum nya kamu Mas. Aku gak nyangka kamu banyak penggemar Mas" Ucap Kirana tertawa
"Masa? Saya biasa aja perasaan. Mereka becanda mungkin jangan ditanggapi ya. " Ucap Mirza datar
"Ya masa becanda sampe pada jealous gitu sama Aku. Lucu karyawan kamu Mas. " Ucap Kirana terkekeh
"Yang lucu tuh kamu bukan mereka. " Ucap Mirza santai sambil meneguk minuman nya
"Kenapa emang nya? " Tanya Kirana bingung
"Ya, harusnya kan yang marah kamu bukan mereka. " Ucap Mirza
"Ya gak apa apa lah Mas, setiap orang kan punya idola. Malah aku seneng, yang di idolakan mereka ternyata sebentar lagi jadi milik aku. Kalo sekarang biarin aja lah, kan belum officialy. " Ucap Kirana tertawa
"Berarti kalau udah Officialy gak boleh punya fans ya? " Tanya Mirza
"Haha pertanyaan macam apa itu? Ya kalo mereka yang kagum sama kamu boleh, asal jangan kamu nya aja yang duluan ganjen sama perempuan. " Ucap Kirana
"Iya sayang, gak akan. " Ucap Mirza lembut
Kirana tersipu malu mendengar Mirza memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Apa sih Mas, biasanya juga panggil Kirana. Gak pernah panggil sayang. " Ucap Kirana
"Bukan gak pernah tapi jarang. Yang gak pernah panggil sayang itu kan kamu. " Balas Mirza
"Iya sayang iya. " Ucap Kirana sambil mencubit gemas kedua pipi Mirza
__ADS_1
Mirza yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum dengan kelakuan Kirana. Malah semakin hari semakin tumbuh rasa cinta Mirza, walaupun dalam hati kecilnya masih ada nama Natasha.