Cinta Untuk Kirana

Cinta Untuk Kirana
Chapter 65


__ADS_3

Jalanan Kota Bandung mendadak ramai dan macet, entah apa yang membuat kemancetan terjadi. Biasanya waktu yang ditempuh dari rumah lama nya menuju rumah baru nya hanya sekitar 15 menit, tapi sore ini sudah 1 jam mobil yang dikendarai oleh Mirza sama sekali tidak bergerak. Badannya sudah sangat lelah sekali ditambah lagi dengan berbagai masalah yang sedang dihadapinya saat ini. Ponsel Mirza berdering, dan ternyata itu adalah kesekian kalinya Kirana menghubungi nya. Dengan lemah dia mengangkat telpon dari istrinya.


"Hallo, " Ucap Mirza.


"Hallo Mas, kamu dimana? " Tanya Kirana khawatir.


"Ini saya masih dijalan, dari tadi mobilnya gak bergerak. " Jawab Mirza lesu


"Uh, padahal aku mau ngasih tau kalau jalan yang biasa ada kecelakaan lalu lintas Mas makanya macet. Kamu sih dari tadi aku telponin gak diangkat-angkat. " Ujar Kirana


"Hehehe, ya maaf sayang. " Ucap Mirza


"Itu masih lama mas? " Tanya Kirana


"Gak, ini udah mulai jalan. Ada apa telpon? "


"Ih kok pertanyaan nya gitu Mas, emang nya aku gak boleh telpon suami sendiri. " Jawab Kirana


"Boleh sayang boleh, tapi ini saya lagi nyetir nanti ketemu dirumah ya sebentar lagi saya sampe rumah. " Ujar Mirza


"Ya Mas, hati-hati ya dijalan nya. " Pesan Kirana


"Iya sayang, " Balas Mirza


Setelah menutup telpon nya Mirza melanjutkan perjalanan nya. 15 menit kemudian Mirza memasuki kawasan komplek rumahnya, tapi sampai didepan rumah ponsel Mirza kembali berdering dan setelah dilihat ternyata panggilan dari Suster Ana.


"Hallo sus, ada apa? " Tanya Mirza


"Hallo Pa, " Jawab Aletha anaknya


"Eh sayang, kenapa nak? " Tanya Mirza seolah bersemangat kembali mendengar anaknya telpon


"Aku mau ketemu papap, hari ini mama marah-marah sama aku Pa. " Adu Aletha pada papa nya.


"Marah-marah kenapa sayang? " Tanya Mirza


"Tadi aku mau minta disuapi mama makan nya, tapi mama bilang aku jangan manja. " Ucap Aletha terisak


"Memangnya mama lagi apa? " Tanya Mirza


"Mama tadi lagi dandan habis itu pergi, " Jawab Aletha


"Pergi kemana? " Tanya Mirza


"Gak tahu, aku mau ketemu papap sekarang. " Ucap Aletha menangis membuat Mirza kebingungan menghadapinya.


"Papap kan lagi kerja, minggu depan kan Ale pindah kesini jadi bisa ketemu papap terus ya. " Ucap Mirza menenangkan anaknya


"Tapi aku tinggal nya sama papap kan? " Tanya Aletha lagi.


"Hm, I—iya sayang liat nanti ya. " Ucap Mirza gugup


"Papap gak mau ya tinggal sama aku? " Tanya Aletha


"Bukan gitu sayang, —"


Tok.. Tok.. Tok


Ucapan Mirza terhenti karena tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya. Mirza membuka jendela mobilnya, dan setelah dibuka ternyata istrinya Kirana. Dengan sigap dia mematikan telpon nya dan menyimpan ponsel nya.


"Mas, kenapa gak masuk? " Tanya istrinya

__ADS_1


"Eu— anu, ini saya angkat telpon dulu dari klien. Kamu ngapain keluar, ini udah gelap kan. " Ucap Mirza


"Ini aku lagi buang sampah Mas, " Balas Kirana


"Pak Arif kemana memang nya? " Tanya Mirza


"Lagi beli galon Mas ke minimarket. Yaudah aku bukain ya gerbang nya. " Ucap Kirana


"Nggak, Nggak usah. Biar saya aja yang buka. Kamu masuk kedalam " Ujar Mirza turun dari mobilnya dan membuka gerbang rumah. Setelah itu dia mengendarai mobil nya untuk dimasukan kedalam Carpot.


Kirana menunggu suaminya memarkirkanMika mobilnya dan menyambut suaminya, setelah itu mereka masuk kedalam bersama-sama.


...****************...


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Mirza melangkahkan kaki nya menuju meja makan. Disana sudah ada Kirana yang menunggu nya.


"Kenapa gak makan duluan aja, " Ucap Mirza sambil duduk dikursi meja makan.


"Gak apa-apa, kamu dari rumah mama tadi? " Tanya Kirana sambil menuangkan nasi kedalam piring suaminya


"Iya tadi mampir dulu,mama ya yang ngasih tau kamu? " Jawab Mirza


"Aku yang nanyain ke mama, hehehe. " Ucap Mirza


"Oh, kangen ya? " Ledek Mirza pada istrinya


"Nggak, cuman khawatir aja. Ini makan dulu Mas." Ujar Kirana memberikan piring nya


"Hmm, bohong. Pasti kangen ya. " Mirza kembali meledek istrinya


"Apaan sih kamu, udah ah kita makan dulu. "


"Iya-iya sayang ini makan. " Balas Mirza


"Ini udah malem, besok aja dicuci nya sama Bu Ning. " Tegur Mirza pada istrinya


"Tanggung, mas. Kamu duluan aja naik keatas nanti aku nyusul. " Ucap Kirana.


"Kita pindah kekamar atas lagi? " Tanya Mirza sumringah


"Iya, kamar bawah mau diisi sama Dinda. " Jawab Kirana sambil membersihkan tangan nya setelah mencuci piring


"Dinda mau pindah kesini? " Tanya Mirza


"Nanti aja ngobrol nya dikamar. " Ucap Kirana


"Yaudah kita istirahat sekarang, saya capek banget hari ini. " keluh Mirza


"Iya Mas. "ucap Kirana.


***


Sampai dikamar Mirza langsung naik keatas tempat tidur dan mengecek ponselnya. Berbeda dengan Kirana yang berganti pakaian terlebih dahulu dan seperti biasa sebelum tidur dia memakai rangkaian skincare nya. Setelah selesai barulah dia naik keatas tempat tidur.


Kirana meletakan bantal dikepala ranjang nya untuk menumpu punggung nya. Melihat suaminya fokus dengan ponselnya, lantas Kirana menegur suaminya.


"Ini dirumah loh Mas, bisa gak ponsel nya disimpan. " Tegur Kirana secara halus


"Iya sayang, sebentar saya ngecek email dulu takutnya ada yang penting. " Jawab Mirza masih fokus pada ponsel nya.


"Katanya mau ada yang kamu omongin sama aku? Kalo gak jadi aku mau istirahat. " Jawab Kirana

__ADS_1


Mendengar istrinya ngomong seperti itu, Mirza meletakan ponselnya di nakas sebelah tempat tidur.


"Maaf ya. " Mirza membalikan badannya menghadap kearah Kirana dan mengelus kepala istrinya perlahan.


"Iya, lain kali kalau dirumah jangan fokus sama ponsel ya Mas. Aku juga kan mau diperhatiin sama kamu. " Ujar Kirana mencurahkan isi hati pada suaminya


"Iya sayang iya. Oh ya soal dinda yang mau nempatin kamar bawah itu ada apa ya? " Tanya Mirza


"Oh itu, Dinda kan habis penelitian sekarang lagi nyusun laporan nya. Terus dia minta aku jadi pembimbing nya, jadi aku suruh aja Dinda tinggal sementara disini. Maaf ya aku gak izin dulu sama kamu Mas. " Ujar Kirana


"Kenapa harus izin, kamu juga kan tuan rumah nya disini. Tapi ingat ya dibimbing aja jangan dibantuin nanti dijadiin kesempatan sama Dinda. " Ucap Mirza memperingati istrinya.


"Iya kamu tenang aja Mas. Terus kamu mau ngomong apa sama aku, apa ada hal penting? " Tanya Kirana serius.


"Hmm, i—itu." Ucap Mirza terbata-bata


"Itu apa Mas? " Tanya Kirana kurang paham


"I—itu saya liat pembalut dikamar mandi, kamu lagi datang bulan ya? " Tanya Mirza ragu-ragu


"Oalah, kirain kamu mau tanya apaan Mas. I—iya aku lagi datang bulan Mas. Kamu mau minta jatah ya? " Tanya Kirana menggoda suaminya


"Hmm, Enggak bukan itu. " Ucap Mirza


"Terus ada apa Mas? Kamu kecewa ya karena aku datang bulan. " Ucap Kirana


"Enggak, justru ada hal serius yang mau aku omongin tapi kamu jangan marah ya. "


"Tergantung Mas. Tentang apa? " Tanya Kirana penasaran


"Tapi saya minta maaf ya sebelumnya. Kalau saya minta kamu untuk menunda kehamilan gimana? " Tanya Mirza dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan istrinya.


"Emang nya kenapa Mas? Kamu gak mau ya punya anak dari aku? " Tanya Kirana


"Bukan nya gitu sayang, kamu jangan salah paham ya. Saya cuma mau menikmati masa-masa berdua dulu dengan kamu terus bukan nya kamu juga mau berkarir dulu kan. Tapi kalau kamu gak mau menunda juga gak apa-apa, senyamannya kamu aja. " Ujar Mirza tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya.


"Ya kalau itu mau nya kamu, aku nurut aja Mas. Kalau alasan nya seperti itu ya udah, yang penting apa yang kamu ucapin itu bener bukan karena alasan yang lain. " Balas Kirana tegas


Jlebb.. Wajah Mirza langsung berubah menjadi khawatir, entah kenapa yang diucapkan Kirana itu mengganggu pikiran nya. Tapi dihadapan Kirana dia mencoba menormalkan lagi wajahnya seperti tidak ada apa-apa.


"Alasan yang lain apa sayang gak ada. Tapi kalau kamu mau punya anak sekarang juga aku udah siap. " Ucap Mirza


"Iya Mas iya. Sebenernya aku juga belum siap Mas untuk punya anak. Walaupun dalam segi Finansial kita sudah mampu tapi jujur mental aku belum siap juga. Tapi kalau boleh jujur dari dalam hati aku yang paling dalam, aku mau punya anak dari kamu Mas. Gak sabar sebenernya menunggu Mirza Junior. " Ucap Kirana pada suaminya.


"Nanti setelah kita bener-bener siap, kita program hamil ya kalau perlu program anak kembar. " Ucap Mirza menghibur istrinya


"Kalau gitu kapan kamu ada waktu Mas, aku mau konsultasi ke dokter kandungan soal kontrasepsi yang cocok untuk aku. " Ujar Kirana


"Besok saya ada waktu, kamu telpon dulu Arga minta rekomendasi dokter kandungan terbaik. "


"Emang nya aku gak apa-apa telpon Arga? " Tanya Kirana


"Kalo gitu kamu tanyain aja sama Mika jangan sana Arga nanti berlanjut. " Ujar Mirza kesal.


"Posesif banget sih suami aku. " Ucap Kirana gemas sambil mencubit pipi suaminya.


"Udah ya saya mau istirahat, oh iya satu lagi untuk keperluan selama di Bali besok setelah dari Rumah Sakit kita mampir ke Mall ya, saya janjian sama Arsen buat belanja. "


"Iya pak bos siap. Yaudah kamu istirahat ya. "


"Iyalah istirahat aja, mau ngapa-ngapain juga gak bisa kan. " Ucap Mirza sambil merebahkan badan nya begitu pula dengan Kirana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Mirza melihat kearah Kirana yang sudah tertidur, dia memandangi istrinya yang begitu cantik ketika tidur. Dia mengusap rambut Kirana perlahan.


Maafkan saya Kirana, bukannya saya tidak ingin memiliki anak dari kamu tapi saya takut ketika saya memiliki anak dari kamu papa dan mama semakin tidak bisa menerima dengan kehadiran Aletha. Dan saya juga minta maaf kalau saya belum memiliki nyali untuk jujur tentang masalalu saya dan tentang Aletha. Saya takut kamu meninggalkan saya, tapi saya juga takut kalau saya harus kehilangan Aletha. Walaupun saya baru tahu kalau Aletha itu anak saya, saya merasa ada ikatan antara kita berdua. Jujur, ini berat untuk saya, Kirana. Saya harap ketika suatu saat nanti kamu mengetahui ini semua, kamu bisa mengerti dan bisa memahami masalalu saya. Kirana, betapa saya tidak ingin kehilangan kamu di hidup saya, kamu bukan hanya tulang rusuk untuk saya, tapi kamu juga seperti darah ditubuh yang tanpamu saya akan kehilangan nyawa saya.


__ADS_2