Cinta Untuk Kirana

Cinta Untuk Kirana
Chapter 28


__ADS_3

Mirza sudah mandi dan wangi. Dikamarnya dia mengerjakan beberapa pekerjaan di laptop nya. Setelah selesai dia menutup laptopnya dan turun kebawah. Sesampainya diruang tamu, hanya terlihat Arga disana. Dia melewatinya dan berjalan ke arah dapur, tapi tiba tiba Arga menghalangi nya.


"Tunggu, gue mau ngomong, " Ucap Arga


Mirza berbalik arah menghampiri Arga, "Ada apa? " Tanya Mirza menyilangkan tangan nya


"Ada maksud apa lo tiba tiba nikahin Kirana? " Tanya Arga tegas


"Sejak kapan lo urusin semua urusan gue? " Mirza balik bertanya pada Arga


"Gue yakin ada sesuatu yang buat lo tiba tiba nikahin Kirana. " Ucap Arga


Mirza tersenyum sinis, "Kenapa, lo marah karena Kirana lebih milih gue dibanding lo. "


Arga mengepalkan tangan nya, "gue bakalan cari tahu apa tujuan lo nikahin Kirana. "


"Silahkan cari tahu, karena gue emang bener cinta sama Kirana dan gak ada maksud apapun. " Balas Mirza


"Gue gak percaya, dan satu lagi lo jangan coba coba buat nyakitin Kirana atau gue bakalan—, " Ucap Arga dengan bibir yang bergetar menahan amarah nya


"Atau apa? Lo gak usah ngurusin hubungan gue dengan Kirana. Mending lo urusin hubungan lo sendiri. Gak usah ikut campur. " Mirza mendorong Arga dengan ujung jarinya.


Satu jam lebih Kirana dan Mika berkutat di dapur. Akhirnya mereka selesai dengan masakan mereka, walaupun mereka sendiri kurang yakin dengan hasil masakan nya. Wajah Mika memerah karena terlalu lama berada di dapur dan didagu nya terlihat melepuh karena terkena cipratan minyak. Begitupun Kirana yang telapak tangan nya melepuh, karena terkena air panas.


Mama Karina dan Bi Ani sedang menata piring dan makanan di meja makan. Sebelum kembali ke ruang tamu, Mika dan Kirana menghampiri Mama Karina dimeja makan.


"Ma, Kia sama Mika mau mandi dulu ya. " Ucap Kirana menyembunyikan tangan nya dibelakang.


"Iya sayang, dandan yang cantik ya. " Ucap Mama Karina


"Iya Ma. " Ucap Mika


Mama Karina menyadari ada luka diwajah mulus Mika, "Muka kamu kenapa? "


"Tadi kena cipratan minyak waktu numis bawang putih, Ma. Tapi gak apa apa  " Jawab Mika


"Diobatin ya sayang sama Arga. " Ucap Mama Karina


Karena takut ketahuan Mama Karina khawatir dengan luka nya, Kirana buru buru izin ke ruang tamu untuk mengobati luka nya.


"Ma, Kia langsung ya. Mau mandi gerah. "


"Iya iya, Kia mandi di kamar Mirza terus Mika mandi dikamar Arga. Kamar tamu lagi direnovasi soalnya, terus kalau dikamar dinda, dia lagi ngerjain tugas, deadline katanya. "


"Iya Ma, makasih. " Ucap Mika dan Kirana serempak dan buru buru meninggalkan ruang makan.


Sampai diruang tamu, ada Arga dan Mirza sedang berbicara dengan posisi berdiri. Terlihat ketegangan diwajah mereka berdua. Mika menghampiri Arga, Kirana menghampiri Mirza.


"Kenapa muka nya pada tegang? Ada apa? " Tanya Kirana


"Iya ada apa, Ga. " Mika menggenggam lengan Arga


"Gak ada apa apa. Kamu udah abis ngapain dari tadi? " Tanya Mirza

__ADS_1


"Tadi bantuin masak didapur Mas. " Jawab Mirza.


"Muka kamu kenapa? " Tanya Arga pada Mika


"Tadi kecipratan minyak, tapi gak apa apa. Tangan Kia malah yang parah tadi kena air panas. " Ucap Mika


Wajah Mirza berubah seketika menjadi khawatir, dan menarik perlahan tangan Kirana.


"Tangan kamu melepuh, kita ke dokter sekarang ya. " Ucap Mirza panik


"Disini ada dua dokter Mas, kenapa harus jauh jauh cari dokter. " Ucap Kirana santai


"Sini gue obatin luka nya sekalian sama Mika juga. " Ucap Arga menawarkan dirinya


"Tadi udah dikasih pertolongan sama Mika, dialiri sama air mengalir Mas, jadi gak terlalu perih. " Ucap Kirana


"Kasih salep aja Kak. Kamu ada salep Bioplacenton gel gak? Tanya Mika pada Arga


" Ada, bentar gue ambil dulu salepnya. "Ucap Arga sigap beranjak dari ruang tamu.


"Kamu duduk dulu disini ya. " Mirza menuntun Kirana untuk duduk.


"Aku bisa sendiri, Mas. " Ucap Kirana tidak ingin merepotkan Mirza


Arga datang membawa salep, cairan nacl, kapas dan kain kassa.


"Gue obatin ya." Ucap Arga


"Gak usah! Gue juga bisa, lo obatin aja pacar lo." Tolak Mirza dengan sinis


"Iya Ga, Kia kan udah ada yang Kak Mirza yang obatin. Mentang2 aku dokter, aku harus obatin luka aku sendiri. " Ucap Mika menyindir Arga


"Yaudah kamu duduk biar luka nya, aku kasih salep. " Ucap Arga beralih pada Mika


Mirza mensejajarkan dengan tubuh Kirana yang duduk dikursi supaya memudahkan untuk Mirza mengobati luka Kirana. Dengan telaten Mirza membersihkan dulu lukanya dengan larutan nacl dan dikeringkan dengan kapas. Baru setelah itu mengoleskan nya dengan salep. Telapak tangan sebelah kanan dibungkus dengan kain kassa, dan Punggung tangan sebelah kiri ditempeli Kassa.


"Selesai." Ucap Mirza menatap Kirana.


Jarak diantara mereka sangat dekat, sampai Mirza mendengar deru nafas Kirana. Sangat terasa sekali, kalau jantung Kirana berdegup kencang.


"Harus banget ya diliatin? " Kirana memalingkan wajahnya dari Mirza.


"Kenapa emang nya? Deg degan ya? " Goda Mirza


"Nggak, biasa aja. " Kilah Kirana


Arga daritadi melihat pemandangan yang sungguh membuat hatinya tersiksa. Disatu sisi dia belum sepenuhnya melupakan Kirana, disisi lain ada Mika yang harus dia jaga hatinya. Tidak ingin terlalu lama melihat pemandangan didepan nya, Arga mengajak Mika untuk mengantarnya ke kamar Arga.


"Mau mandi sekarang? " Tanya Arga


"Boleh, aku udah gerah banget ini. " Mika mengipas ngipas tangan didepan muka nya


"Aku anter ke kamar ya. Jangan lupa baju nya dibawa. " Ucap Arga mengingatkan Mika

__ADS_1


"Iya ini udah Pak dokter, " Ucap Mika meraih tas di sofa tempat nya duduk


"Yaudah ayok. " Ajak Arga


"Sabar dong sebentar, Kia gue duluan ya. " Ucap Mika bergegas mengikuti Arga


"Iya Mik,gue juga bentar lagi mau mandi. " Jawab Kirana


"Bisa gak mandi nya? Tangan kamu kan luka. " Ucap Mirza


"Bisa, pake tangan kiri. " Kirana mengacungkan tangan kiri nya


"Kita keatas sekarang, ke kamar saya. " Ucap Mirza


"Mama juga tadi nyuruh aku mandi dikamar kamu, emang kamar tamu lagi di renovasi? " Tanya Kirana berdiri dari duduknya.


"Iya lagi di renovasi. " Ucap Mirza


"Mas, boleh minta tolong bawain tas aku sama paper bag nya. " Ucap Kirana


Mirza meraih tas dan paperbag milik Kirana. Mereka berjalan menuju kamar Mirza.


Mirza membuka pintu kamar nya dan mempersilahkan Kirana untuk masuk kedalam. Pada saat masuk kedalam, Kirana melongo melihat kamar Mirza. Kamar nya didominasi warna biru dan krem. Tidak terlalu luas seperti kamar dirumah baru Mirza, tapi menurut Kirana kamarnya Aesthetic dan tertata rapi. Mulai dari ranjang, meja kerja semuanya rapi untuk ukuran laki laki. Dikamarnya juga ada beberapa lemari, yaitu lemari khusus pakaian, lemari khusus koleksi sepatu dan ada satu lemari yang isinya koleksi action figur favorit Mirza.


"Kenapa malah bengong? " Mirza memperhatikan Kirana yang sejak tadi hanya bengong saja


"Kamarnya rapi banget, Mas. " Puji Kirana melihat kamar Mirza


"Asli nya nggak, ini udah diberesin aja sama Bibi. " Ucap Mirza menyimpan tas Kirana diatas kasur.


"By the way kamu koleksi action figure banyak banget mas. " Ucap Kirana sambil melihat action figure superhero yang berjajar rapi di lemari kaca.


"Lumayan, ini tinggal sisa nya aja. Sebagian diminta sama sepupu saya kalau kesini. " Ujar Mirza


Kirana melihat di nakas dan meja kerja nya terdapat miniatur pesawat terbang dan roket. Karena penasaran, kirana menanyakan nya pada Mirza.


"Terus koleksi miniatur pesawat juga hobby? " Tanya Kirana


"Bukan hoby, tapi cita-cita saya pengen jadi pilot tapi gak kesampaian. " Ucap Mirza tersenyum ketir.


"Kenapa emang nya? " Tanya Kirana


"Katanya mau mandi, udah jam berapa ini. " Ujar Mirza mengeluarkan handuk baru dari lemari nya dan memberikan nya pada Kirana.


"Iya, tapi udah mandi cerita ke aku ya Mas. " Kirana mengeluarkan baju ganti yang tadi dibelinya di mall.


"Iya nanti saya cerita. " Jawab Mirza datar


"Apalagi? " Sambung Mirza menatap Kirana


"Kamu keluar mas, masa nunggu didalam kamar kan gak enak. " Sahut Kirana.


"Saya mau ngerjain kerjaan saya disini. Lagian pintunya saya buka, kamu tenang aja. " Ucap Mirza duduk dimeja kerja dan membuka laptop.

__ADS_1


"Yaudah, aku mandi dulu ya. " Ucap Kirana melengos pergi


Mirza tidak menghiraukan Kirana dan fokusnya hanya pada laptop saja. Mirza memang orang yang ambisius dan gila kerja. Makanya tidak heran usaha nya berkembang pesat, karena kemampuan nya menarik investor baik dalam maupun luar negeri tidak diragukan lagi.


__ADS_2