
Mirza sudah selesai mengganti pakaian nya dengan kaos oblong berwarna putih. Badan nya memang masih tidak enak badan tapi dia memaksakan dirinya agar tidak membuat istrinya sedih. Kirana yang dari tadi masuk kamar mandi masih belum keluar, karena khawatir Mirza lantas melangkahkan kakinya dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Kirana, kamu masih ngapain didalam? " Tanya Mirza sedikit berteriak.
"Sebentar Mas, " Jawab Kirana dari dalam
"Ya udah cepetan, saya tungguin. " Mirza membalikan badannya dan melangkahkan kaki tetapi baru 2 langkah ada yang menaha tangan nya.
"Mas." Panggil istrinya.
Mirza membalikan lagi badan nya, dia dibuat terpesona oleh istrinya dan matanya tidak berhenti memandangi istrinya. Seketika jantung nya tidak bisa dikendalikan. Saat keluar dari kamar mandi dia memakai baju tidur berbahan satin tanpa lengan dan panjang nya diatas lutut. Sebenarnya pakaian itu membuatnya tidak nyaman, tapi entah kenapa hanya ada baju ini yang ada di koper nya.
"Mas, kenapa bengong? " Ucap Kirana.
"Ehm gak apa-apa. Yaudah kita istirahat ya. " Ucap Mirza sambil menuntun Kirana.
Mereka berdua naik keatas kasur dan membaringkan tubuh nya, ada rasa canggung diantara kedua nya. Rasanya ada sesuatu yang aneh.
"Kirana? " Panggil Mirza
"Iya Mas. " Jawab Kirana.
"Terimakasih ya. " Ucap Mirza
"Terimakasih untuk? "
"Terimakasih karena kamu udah mau menjadi istri saya dan sudah mau menerima segala kekurangan saya. " Ucap Mirza.
"Iya mas. Kamu istirahat ya tubuh kamu masih belum fit. " Ucap Kirana.
Mirza mendekatkan tubuh nya ke dekat Kirana, dia merentangkan sebelah tangan nya dan memindahkan kepala Kirana pada tangan nya. Kirana juga meletakan kepala nya pada dada bidang suaminya.
"Kamu sudah siap? " Bisik Mirza pada telinga istrinya yang membuat Kirana merinding.
"Harus sekarang Mas? " Kirana balik bertanya pada suami nya.
"Saya gak maksa, saya akan tunggu kamu. " Ucap Mirza sambil mengusap rambut istrinya.
Kirana membalikan badan nya hingga tatapan mereka bertemu. Dia mengusap perlahan pipi suami nya.
"Aku sudah siap menyerahkan semuanya sama kamu, Mas. "
"Terimakasih." Mirza mencium puncak kepala istrinya.
"Mas, ini pertama kalinya buat aku. Jujur aku takut melakukan nya. "
"Kalau takut jangan dipaksa. " Ucap Mirza
"Sekarang atau pun nanti tidak ada bedanya kan Mas. Aku siap menerima nafkah bathin dari suamiku. " Ucap Kirana dengan mata yang sayu.
"Saya janji, akan melakukan nya pelan-pelan. " Ucap Mirza meyakinkan istrinya.
Kirana menganggukan kepalanya. Setelah itu Mirza mematikan lampu kamar dan terjadilah penyatuan cinta dua insan dalam ikatan yang sah.
***
__ADS_1
Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela,itu menujukan bahwa hari mulai terang. Tapi didalam kamar, sepasang insan yang masih terjaga dalam tidurnya. Sampai ada ketukan pintu yang menyadarkan mereka berdua.
Tok.. Tok.. Tok
Kirana menggeliatkan tubuhnya, tapi tangan suaminya melingkari perutnya membuatnya susah untuk beranjak.
Tok.. Tok.. Tok..
"Mas, itu ada yang ngetuk pintu. " Ucap Kirana sambil membangunkan suami nya.
"Hmm.. " Jawab Mirza masih dengan menutup matanya
Tok.. Tok.. Tok
"Mas itu daritadi gak berhenti yang ngetuk pintu. Kamu kan tau aku gak pake apa-apa emang nya kamu mau aku buka pintu sambil—, " Belum sempat menyelesaikan kata katanya, Mirza terperanjat bangun dari tidurnya dan memakai baju nya yang berserakan dilantai.
Mirza membuka pintu dengan muka bantal dan penampilan nya yang acak-acakan.
"Ada apa bi? " Tanya Mirza sambil mengucek matanya.
"Maaf Mas bibi ganggu, bibi cuma mau anterin sarapan sama nganterin ini. " Ucap bi Ani sambil memberikan paperbag.
"Ini sarapan nya bibi simpan dimeja ya Mas. " Ucap Bi Ani.
"Jangan bi, biar Mirza aja yang bawa kedalam. " Ujar Mirza panik.
"Gak apa apa nanti Mas Mirza repot. " Ucap Bi Ani
"Gak apa-apa biar Mirza aja yang bawa kedalam, Kirana masih tidur soalnya. "
"Ya sudah kalau begitu, bibi kebawah lagi ya mas. "
"Anu Mas, kata ibu Mas Mirza dan Mba Kirana disuruh siap-siap jam 12 mau check out katanya. "
"Iya bi. Kalo gitu Mirza masuk dulu kedalam ya. " Ucap Mirza sambil menutup pintu nya.
Mirza meletakan sarapan dimeja setelah itu menghampiri Kirana yang masih diatas kasur dengan selimut membaluti tubuhnya.
"Mas, tolong bawain baju aku. " Ucap Kirana.
Mirza mengambil baju tidur istrinya yang berserakan dilantai dan memberikan nya pada Kirana.
"Ini baju nya. " Ucap Mirza
"Iya, kamu bisa kesana dulu gak? Aku mau ganti baju soalnya. "
"Ya ganti aja, ngapain suruh saya pergi. " Ucap Mirza lagi.
"Aku malu mas. " Balas Kirana
"Ngapain malu, saya udah liat semuanya Kirana. "
Tidak ingin berdebat dengan suami nya Kirana memakai pakaian nya. Setelah itu dia turun dari ranjang dengan pelan-pelan.
"Aww... Aduuuh. " Kirana meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kenapa? " Tanya Mirza khawatir
"Ini Mas, anu. " Kirana ragu-ragu mengatakan nya.
"Ada yang sakit? " Mirza menghampiri istrinya.
"Ini aku sakit Mas. " Ucap Kirana menunjuk daerah kewanitaan nya.
"Sakit banget? " Tanya Mirza
"Iya Mas. Ini aku susah jalan nya. " Ucap Kirana.
"Saya liat ya, takutnya ada apa-apa. "
"Gak mau, nanti kamu pengen lagi. " Ucap Kirana.
"Saya cuman mau liat aja, Kirana. Udah kamu diem jangan bantah suami. " Ucap Mirza sambil berlutut dihadapan istrinya untuk melihat area sensitif istrinya.
"Daerah kewanitaan kamu luka, maafin saya ya mungkin saya terlalu bersemangat. "
"Iya gak apa-apa, ini kan salah satu kewajiban istri, jadi kamu gak usah minta maaf. "
Mirza tersenyum menatap Kirana dan perlahan tangan nya meraba dan mengelus perut Kirana yang masih rata.
"Semoga Allah segera menitipkan kita malakait kecil penerus keluarga Bastian. " Ujar Mirza.
"Aamiin, semoga doa kita secepatnya dikabulkan. " Kirana mengusap rambut suami nya.
"Kalo gitu kita mandi, sarapan terus siap-siap untuk pulang kerumah ya. " Ucap Mirza
"Iya Mas. Aku mandi dulu ya. " Kirana beranjak dan melangkahkan kakinya pelan-pelan.
Setelah istrinya masuk kedalam kamar mandi, dia meraih ponsel yang ada diatas nakas. Mirza membuka email untuk mengecek beberapa pekerjaan nya. Tapi diantara banyak email yang masuk, ada email yang mencuri perhatian nya.
Mirza membuka dan membaca email tersebut.
From:
Mrs. Cley
Clemira_b@yahoo.com
Selamat atas pernikahan nya Tn. Mirza. Saya harap istrimu tidak mengalami apa yang saya alami. Dengar-dengar kamu ingin mencari saya ke Singapore ya, tidak usah repot mencari kesana karena saya sudah pulang ke Indonesia. Kalau kamu tidak ingin istrimu tahu apa yang sudah terjadi dimasa lalu kamu bisa temui saya di Banjarmasin atau kalau tidak, mungkin saya yang akan menemui kamu di Bandung. Kamu bisa mencari tahu sendiri alamat rumah saya, itu hal yang sangat mudah untuk kamu.
Salam,
Dari perempuan yang sudah kamu campakan.
Tidak butuh waktu untuk berfikir, Mirza membalas pesan tersebut.
To:Mrs. Cley
Clemira_b@yahoo.com
Saya tahu ini pasti kamu Clara, bukannya kejadian 4 tahun yang lalu sudah selesai dan kamu tidak menuntut apapun dari saya. Untuk apa kamu datang lagi ke kehidupan saya? Apa belum puas kamu menghancurkan hidup saya?
__ADS_1
Tunggu saya Di Banjarmasin, saya akan menemui kamu disana. Dan ingat jangan pernah coba-coba permainkan saya!
Setelah membalas pesan tersebut, Mirza melemparkan ponselnya ke tempat tidur. Saat ini fikiran nya sangat kacau. Masalalu yang sudah dikuburnya dalam-dalam sekarang datang kembali dan siap menghancurkan masa depan nya.