
Ini adalah hari pertama nya di pingit. Daritadi dia hanya diam saja dikamar. Karena bosan dia merencenakan sesuatu dan turun ke bawah untuk mencari Bi Darmi.
Dibawah ibu nya sedang menerima tamu, entah siapa dan darimana Kirana enggan bertanya. Kirana mencari Bi Darmi dibelakang rumahnya, ternyata Bi darmi sedang menyirami tanaman.
"Bi lagi sibuk ya? " Tanya Kirana mengagetkan Bi Darmi.
"Eh, mbak Kia. Udah selesai kok. Kenapa mbak? " .
"Kia boleh minta tolong gak? " Tanya Kirana.
"Minta tolong apa? " Ucap Bi Darmi.
"Bantuin Kia packing baju sama barang barang aku bi, " Ucap Kirana
"Emang mbak Kia mau langsung pindah setelah menikah? " Tanya Bi Darmi sambil mencuci tangan nya.
"Rencana nya gitu, Mas Mirza juga hari ini lagi pindahan. Tapi nanti Kia izin dulu ke Mas Mirza boleh gak barang nya dikirim sekarang, kalo boleh, sekalian minta tolong Mang dayat anterin. " Jelas Kirana.
"Yaudah kalo gitu, ayo bibi bantuin. " Ucap Bi Darmi bersemangat.
"Mang Dayat dimana ya bi?" Tanya Kirana
"Mamang lagi nyuci mobil, kenapa gitu mbak? " Ucap Bi Darmi dengan logat sunda nya yang kental.
"Mau minta tolong, ambilin kardus sama lakban nya bi. " Jawab Kirana.
"Bibi aja yang ambil ya, mbak duluan aja ke kamar nanti bibi nyusul. "
"Ya udah kalo gitu, Kia duluan ya. "
Kirana kembali kekamarnya pada saat akan masuk kedalam kamarnya, Mama Marissa menyapa Kirana.
"Darimana sayang? " Tanya Mama Marissa
"Dari bawah cari bibi, mau minta tolong beresin barang barang aku. " Jawab Kirana
"Mau dipindahin sekarang? " Tanya Mama Marisa lagi
"Mau nya sih gitu, soalnya Mas Mirza kan hari ini pindahan nya biar sekalian aja gitu. " Ucap Kirana.
"Gak dipindahin semua kan barang nya? Sisain, buat jaga jaga kalau nanti kamu mau nginep atau kamu kangen kamar kamu kan. " Ujar Mama Marissa
"Huh, bilang aja takut ditinggalin sama aku. " Goda Kirana.
"Iya sedikit. " Ucap Mama Marissa pura pura tegar
"Mama sayang, rumah baru aku sama Mas Mirza deket dari sini. Gak sampe 10 menit, mama bisa kapan aja main kerumah. " Hibur Kirana.
"Iya, mama tahu sayang. Mama bakal sering jengukin kamu. Kalo gitu mama kebawah ya, mama gak mau liat kamu beresin barang barang kamu, nanti mama jadi melow. " Ucap Mama Marissa berkaca kaca.
"Kia cuman pindah rumah, bukan mau pergi ke medan perang. Untung aja aku nikahnya sama Mas Mirza, kalau sama Mas Bian, aku pindahnya ke Amerika, bisa nangis darah Mama. " Ucap Kirana terkekeh.
"Amit-amit, ditinggal Alpa ke Jakarta aja kalau inget mama suka sedih. Apalagi kalau ditinggal kamu ke luar negeri, gak bisa bayangin Mama. " Ucap Mama Marissa mengetuk jidatnya sendiri.
"Makanya banyak bersyukur, dapat calon mantu nya masih orang Bandung. " Ujar Kirana.
"Udah ah kamu malah ceramahin mama, pengajian nya besok, ceramah nya udah hari ini. " Ucap Mama Marissa melengos pergi meninggalkan Kirana.
Kirana masuk kedalam kamarnya dan mulai mengeluarkan baju-baju dilemarinya. Saat yang bersamaan Bi Darmi datang membawa beberapa dus dan lakban ditangan nya.
"Bi, baju yang dilipat dimasukin kedalam kardus ya. Kalo baju yang digantung tinggal dilapisi plastik aja satu persatu bi. " Ujar Kirana.
__ADS_1
"Siap mbak. " Bi Darmi memasukan baju baju Kirana kedalam kardus.
"Itu tadi sekalian Kia sortir pakaian yang udah gak Kia pakai. Soalnya udah gak muat, ambil aja buat Rani bi, kayaknya kalau dibadan Rani muat. " Ucap Kirana yang sekarang sedang mengeluarkan sendal dan sepatu dari lemari nya.
Rani adalah anak bungsu Bi Darmi yang masih sekolah kelas 3 SMA. Kalau libur, kadang dia bantu-bantu dirumah Kirana. Atau kalau ada waktu, Kirana sering membantu tugas sekolah Rani.
"Ini beneran baju-baju nya buat Rani? " Tanya Bi Darmi memastikan. Karena setahu Bi Darmi baju Kirana harganya tidak ada yang murah.
"Iya, Bi. Itu buat Rani. Ini juga ada sendal yang udah gak dipakai. Ukuran Kaki aku kan sama kaya Rani. "
"Makasih banyak, Mbak Kia dan keluarga selalu baik sama keluarga bibi. Semoga Allah selalu memberikan mbak kia kebahagiaan. " Bi Darmi mendoakan Kirana.
"Aamiin Bi, ini gak ada apa nya dibanding jasa bibi. Dari aku kecil, bibi yang selalu jagain aku kalau mama sama papa gak ada dirumah. "
"Ahh mbak Kia bisa aja, itu kan udah jadi tugas bibi. " Ucap Bi Darmi merendah.
"Itu ada cemilan bi ,dimeja bibi ambil aja ya yang bibi mau. Kemarin Kia beli di mall sama Mas Mirza. Cobain deh. " Kirana menawarkan brownies dan almond crispy yang dibeli nya kemarin.
"Iya nanti kalo mau bibi ambil, Mbak. " Jawab Bi Darmi.
"Kalo tas ini gimana ya bi, kalau dimasukin dus takunya lecet. " Ucap Kirana meminta saran pada Bi Darmi.
Sebenarnya dia bukan tipe wanita yang gila sama tas apalagi tas dengan harga yang gak masuk akal. Tapi koleksi tas tersebut dibelikan oleh Kakaknya, sebagian lagi hadiah ulang tahun, terus ada mini backpack hadiah wisuda dari Arga sahabatnya terusĀ ada handbag dari mantan kekasih Kirana, sebenarnya Kirana ingin membuang nya tapi karena harganya yang mahal dia gak sampai hati membuang nya. Walau bagaimana pun pemberian dari orang harus dihargai.
"Box nya kan masih ada mbak, dimasukin aja lagi tas nya. Jadi gak lecet tas nya. Kalau lecet sayang mbak, harganya mahal. " Ucap Bi Darmi.
"Oh iya juga bi, Kia lupa. " Ucap Kirana menepuk jidatnya.
***
Mirza dan adiknya nya sudah sampai dari tadi, barang barang nya juga sudah diturunkan oleh Mang Jajang dan dibantu oleh Pak Arif.
"Langsung dibawa ke kamar aja pak. " Perintah Mirza.
Mirza melangkahkan kakinya mengikuti Pak Arif dan Mang jajang ke kamarnya. Dikamar Bu Ning dan Dinda sudah Stanby, menunggu barang yang akan ditata.
"Bu, baju saya disimpan nya dilemari yang sebelah Kiri ya, yang sebelah kanan dikosongin aja. "
"Iya den. " Jawab Bu Ning sambil membuka kardus yang berisi baju-baju Mirza
"Terus untuk baju-baju formal, digantung aja Bu. "
"Baik den. " Jawab Bu Ning menganggukan kepala nya.
"Katanya mau bantuin, tapi malah main ponsel. " Ucap Mirza pada adiknya yang dari tadi hanya fokus pada ponselnya.
Dinda menurut dan memasukan ponselnya kedalam tas, "Tugas aku apa? " Tanya Dinda
"Kamu masukin semua sepatu Kakak kedalam lemari, sesuai urutan yang kayak dirumah ya. " Titah Mirza pada Adiknya.
"Okee siap, terus apalagi? " Tanya Dinda
"Terus kalau jam tangan simpan dilaci yang ada kacanya. Ditiap kardus udah kakak tulis sesuai barang yang ada didalam nya. Do you understand? "
"I do understand. " Jawab Dinda
"Anak baik, " Ucap Mirza mengusap kepala Dinda.
"Aku beresin sekarang ya, jangan lupa sama upah nya. " Ucap Dinda
"Udah kakak siapkan, tenang aja. " Jawab Mirza.
__ADS_1
Jadi kemarin Dinda meminta dibelikan tiket nonton konser boyband asal Korea. Konsernya diawal tahun, karena banyak penggemar nya jadi tiketnya pun cepat habis. Makanya dia merengek ke Mirza minta dibelikan. Karena tidak ingin memberikan nya cuma cuma makanya Mirza mengajak Dinda untuk membantunya pindahan. Harga tiketnya juga lumayan sekitar 300 dollar atau kalau dirupiahkan sekitar 4.5 juta.
Mirza mengeluarkan koleksi mainan action figure nya dengan hati hati dan menata nya di lemari kaca yang baru.
Drrtddrrt.. Ponsel disaku celana Mirza bergetar. Ternyata panggilan telpon dari calon istrinya, Kirana. Dengan cepat dia mengangkat telepon dari Kirana.
"Hallo Mas, " Ucap Kirana diujung telpon
"Hallo, ada apa? " Tanya Mirza
"Kamu udah sampe dirumah baru? Jadinya dibantu siapa? " Tanya Kirana
"Udah sampe, ini lagi beres-beres. Ada Mang Jajang, Pak Arif, Bu Ning terus ada Dinda juga. " Jawab Mirza
"Kamu lagi ngapain? " Sambung Mirza
"Ini aku lagi beres-beres sama Bi Darmi. " Jawab Kirana.
"Beres-beres apa? " Tanya Mirza kurang paham maksud Kirana.
"Ini lagi packing barang-barang aku, kalau boleh aku mau minta izin ke kamu, buat ngirim barang aku kesana. "
"Boleh-boleh aja, mau dijemput? " Tawar Mirza
"Gak usah, nanti dianter sama Mang Dayat aja." Tolak Kirana.
"Yaudah sok , saya tungguin. Mau sekalian dimasukin ke lemari? Tawar Mirza
"Kalo gak ngerepotin boleh, nanti aku tempelin note disetiap kardusnya ya. " Jawab Kirana.
"Ok, mumpung ada Dinda yang bantuin. Saya udah bayar mahal, sayang kan kalau gak dikerjain. " Mirza tertawa geli
"Emang nya kamu bayar berapa? " Tanya Kirana penasaran.
"Dia minta dibeliin tiket nonton konser BTS, dari waktu itu dia ngerengek minta dibeliin cuman saya belum turutin. " Ucap Mirza sambil memasukan koleksi mainan nya kedalam lemari.
"Aku juga mau, Mas. Soalnya aku liat tiketnya udah sold out. " Rengek Kirana pada Mirza.
"Kamu kenapa ikut2an kayak Dinda, tiketnya bukan saya yang pesan tapi Dimas. Saya mana tau soal begituan. " Mirza menggerutu.
"Coba tanyain ke Pak Dimas, dia pesan nya berapa tiket. Kalo ada lebih, aku mau Mas. "
"Nanti saya tanyain, salah kayaknya saya ngasih tahu kamu. " Ucap Mirza sedikit kesal
"Kayak yang gak ikhlas gitu sih. "
"Ikhlas kok ikhlas. " Mirza terpaksa senyum untuk menutupi kekesalan nya.
"Oh iya Mas, kalo untuk make up langsung di simpan aja di meja rias ya. Aku bawa sama kotak-kotak nya jadi tinggal di tata aja. Kamu minta tolong aja sama Dinda, pasti dia paham."
"Iya, " Desis Mirza
"Terus kalo tas, aku bawa juga sama box nya. Jadi simpan aja dulu gak usah dimasukin lemari. " Oceh Kirana
"Oke, " Jawab Mirza singkat
"Satu lagi, Mas. " Ucap Kirana
"Apalagi? " Jawab Mirza malas.
"Aku sayang kamu. " Ucap Kirana, setelah itu dia mematikan telpon nya.
__ADS_1
Hati Mirza berbunga bunga mendengar ucapan Kirana yang terakhir. Menjalin hubungan dengan Kirana membuat dia melupakan tujuan awalnya, yaitu dendam.
"Dasar wanita licik, saya belum jawab dia sudah menutup telpon nya. " Gumam Mirza melihat layar telepon nya.