
"Kau terlihat sangat tampan" puji Yasmin yang merapihkan dasi dan jas Marcell.
"Aku akan selalu terlihat tampan" sahut Marcell dengan kedua tangannya berada di pinggang Yasmin.
"Bisakah kita tetap di dalam Apartment?" Yasmin menyandarkan kepalanya di dada bidang Marcell.
"Hei, ada apa dengan mu?"
"Rasanya aku tak rela jika ketampanan mu di lihat wanita lain" keluh Yasmin.
"Oh ayolah.... kau adalah satu-satunya wanitaku yang bisa menikmati ketampanan ku kapanpun itu" Marcell menepuk-nepuk punggung Yasmin.
"Jika sekali saja aku melihatmu bersama dengan wanita lain, maka aku takkan segan meninggalkan mu. Ingat itu" ancam Yasmin menatap tajam Marcell.
"Bagaimana jika aku bertemu klien wanita?"
"Apakah aku pernah membiarkan mu menemui klien sendirian?" tanya Yasmin.
"So maksud kamu bersama wanita yang seperti apa?"
"Pergi bersama, makan bersama, apapun yang sengaja kau lakukan bersama dengan wanita itu. Jadi pastikan jika kau ingin bermain api di belakang ku, jangan sampai aku mengetahui nya" tutur Yasmin membelai wajah Marcell.
"Baiklah, itu semua tidak akan terjadi selama kau ada di sisi ku" Marcell merengkuh wajah Yasmin dan memberikan kecupan singkat di bibir wanita itu.
...
"Sorry banget lama nunggu" ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja datang.
"Gak apa-apa, aku juga belum lama" jawab temannya.
__ADS_1
"Kamu apa kabar" basa-basi nya.
"Aku baik, kamu sendiri bagaimana? gimana kabar anak dan suami mu?"
"Aku baik juga, anak dan suami ku juga baik. Dan sekarang kami kumpul kembali setelah putri ku menyelesaikan pendidikan nya di Korea" cerita temannya.
"Oya..? pasti sekarang putri mu sudah dewasa dan cantik" pujinya.
"Kau bisa saja Helen" sahutnya tersenyum. Ya Mama Helena sedang bertemu dengan teman lamanya.
"Kapan-kapan kenal kan putramu dengan putriku, siapa tahu mereka cocok dan berjodoh" harap nya.
"Boleh, asalkan tahan dengan sifat Marcell yang selalu di kelilingi wanita cantik" ucap Mama Helena.
"Aku tahu itu adalah resiko nya sebagai pebisnis muda tampan dan kaya haha.." sahutnya.
"Ya begitulah, tapi jika sudah menemukan wanita yang tepat aku yakin Marcell akan seperti Robert. Yang tidak akan melirik wanita lain kecuali aku" Mama Helena tersenyum mengingat suaminya.
"Lalu bagaimana dengan mantan istrinya? bukankah mereka memilih seorang anak?"
"Mantan istrinya pergi ke luar negeri, dan menyerahkan anaknya di bawah pengasuhan Bram. Tapi sudah lama anak itu meninggalkan rumah kami, mungkin merasa tak nyaman hidup bersama kami" tuturnya.
"Malang sekali... laki-laki atau perempuan anaknya?"
"Perempuan, aku berharap dia hidup dengan baik di luar sana" bual nya.
...
"Bagaimana dengan pembebasan lahan proyek Nantara Hospital?" tanya Marcell.
__ADS_1
"Sudah mencapai kesepakatan Tuan, pihak yang bersangkutan sudah bersedia melepas lahan mereka sesuai dengan harga yang kita tawarkan juga kemudahan untuk berobat di Nantara Hospital jika nanti sudah beroperasi" jelas Yasmin.
"Kerja bagus, pastikan Dion selalu memantau perkembangan nya. Aku tidak ingin ada ular yang tumbuh subur dalam proyek Nantara Hospital" pesan Marcell.
"Baik Tuan" Yasmin memandang Marcell yang berada di kursi kebesarannya.
"Ada apa?"
"Bolehkah saya minta sesuatu Tuan?" izin Yasmin.
"Katakan lah" Marcell melambaikan tangannya agar Yasmin mendekat.
"Bolehkah saya meminta bantuan?" Yasmin masih formal, lalu Marcell menarik nya hingga tubuh Yasmin jatuh di pangkuan Marcell.
"Katakan bantuan seperti apa" Marcell mulai menciumi pipi Yasmin.
"Aku ingin seorang asisten yang membantu pekerjaan ku Cell, jika tidak aku pasti akan tertimbun berkas-berkas proyek Regananta Group yang semakin banyak" keluhannya. karena selain pekerjaan semakin banyak Yasmin merasa tubuhnya mudah lelah.
"Baiklah, kau bisa langsung meminta nya kepada HRD kita" Marcell mengecup bibir Yasmin.
"Aku akan langsung meminta nya" ujar Yasmin hendak berdiri.
"Kau tak memberikan imbalan nya padaku?" Marcell menahannya.
"Kau sangat perhitungan Cell" keluh Yasmin namun dengan segera melu mat bibir Marcell dan segera berlari keluar ruangan.
"Aku akan menagih sisanya nanti malam" seru Marcell yang masih bisa di dengar Yasmin.
Marcell pun kembali menatap komputer nya, dia masih di sibukkan dengan deretan angka-angka yang nilainya mencapai triliunan. Bukan hanya satu dua proyek yang harus Marcell pastikan operasional nya berjalan lancar, namun puluhan proyek baik yang ada di dalam negeri juga luar negeri. Marcell harus selalu memantau perkembangan, pengeluaran dana dan harus melaporkan nya kepada sang CEO yang tak lain adalah Papa Robert.
__ADS_1
TBC