CINTA YASMIN

CINTA YASMIN
Nasehat Dion


__ADS_3

Marcell kembali ke apartment miliknya, ia perlu menenangkan diri untuk berpikir jernih mencari keberadaan Yasmin, sudah dua hari Marcell tidak bertemu Yasmin, tidak mendengar suaranya, tidak juga melihat wajah cantiknya dan itu sudah membuatnya hampir gila.


Marcell mengambil sebotol Whisky dan gelas berisi batu es, ia membawanya ke mini Bar yang ada di dapur, pria itu menuang minuman keras yang ada di dalam botol kedalam gelasnya, ia langsung menenggak minuman itu. Rasa pahit, manis, juga ada rasa buah itu menyapa indra pengecap nya dan melewati tenggorokan nya.


"Kau kemana Yas? kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan ku, lalu apa ini?" gumamnya lalu menuang kembali isi botolnya dan langsung di minum sekali teguk.


"Jangan coba-coba mempermainkan ku Yas, karena aku pasti bisa menemukan mu dimana pun kau berada" geram Marcell membanting gelas yang ada di tangannya


Pyarrrr......


Gelas mahal itu hancur berserakan di lantai dapur. Marcell kembali menenggak minuman beralkohol itu langsung dari botolnya, entah sudah berapa botol yang ia habiskan, hingga membuatku terkapar di bawah meja mini Bar.


*


*


*


Ting...tong....


Ting...tong...


Ting....tong...


Sudah kesekian kalinya Dion menekan tombol bel yang ada di unit apartment Marcell, namun belum ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka, sepertinya tidak ada kehidupan di dalamnya, tapi Dion sempat melihat Mercedes-Benz C-Class E 200 Avantgarde Line hitam milik Marcell masih terparkir manis di posisinya, tidak mungkin Marcell keluar tanpa mobil kesayangannya itu.


Dion memutuskan untuk menjemput Tuan nya karena hingga pukul 09.30 sang Tuan belum sampai di kantor, begitu juga sang sekretaris belum ada tanda-tanda muncul di kantor, hal inilah yang membawa Dion kini berada di depan pintu apartment Marcell.


Dengan ragu-ragu Dion menempelkan kay card yang memang ia pegang di pintu apartment Marcell. dan


Ceklek...


pintu itu langsung terbuka, namun seperti dugaannya, yaitu sunyi sepi seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.


"Tuan Regan" serunya melangkahkan kaki memasuki ruang tamu.


"Nona Yasmin" seru Dion, yang tahu jika keduanya tinggal bersama.


"Kemana mereka berdua? jangan sampai aku mendengar suara lacknut itu lagi" gumam Dion , tapi tetap melangkah maju.


"Tuan Regan" ulangnya berseru manggil sang Boss. "Ini kenapa dapur berantakan sekali? ada pecahan gelas, apa mereka berdua bertengkar?" gumam Dion dalam hati melihat serpihan gelas yang menjadi berkeping-keping.


"Banyak sekali botol kosongnya" Dion melihat botol whisky yang berserakan di atas meja mini Bar.


Brukkk....


Dion terjatuh karena tak sengaja kakinya tersandung sesuatu.


"Sial..." umpatnya lalu melihat apa yang di sandungnya tadi. "Tuan Regan" serunya melihat sang Boss terkapar di lantai.

__ADS_1


"Ada apa ini? apa yang terjadi? Tuan Regan" Dion menepuk-nepuk wajah Marcell namun tetap ada reaksi apapun. Hingga akhirnya Dion memapah sang Boss itu ke kamar tidurnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Tuan Regan sampai mabuk seperti ini? Dion menatap Marcell yang terbaring lemah tak berdaya.


*


*


*


"Bagaimana keadaan Marcell Rom?" Dion memanggil seorang dokter yang memang sahabatnya dan juga dokter pribadi keluarga Regananta.


"Dia hanya terlalu banyak minum, apa yang terjadi padanya? terakhir dia seperti ini lima tahun yang lalu" ujar dokter yang bernama Romi itu.


"Aku juga tidak tahu, kemarin dia masih baik-baik saja. Dan pagi ini aku menemukan nya sudah seperti ini" tutur Dion menatap iba pada Marcell.


"Baiklah biarkan dia istirahat, aku yakin setelah dia siuman keadaan nya pasti baik-baik saja, dan jangan lupa kau tebus obatnya" pesan dokter Romi.


"Terimakasih sudah memeriksa nya" ucap Dion.


"Dia sahabat ku juga, kalau ada apa-apa langsung kabari aku" ucap Romi sebelum keluar dari kamar Marcell.


"Kemana Nona Yasmin?" Dion masih bertanya-tanya kemana perginya partner ranjang sahabat nya itu. Dion pun keluar untuk menebus obat dan membelikan makanan untuk Marcell, Dion tidak mengabari orang tua Marcell karena ia masih bisa menghandle Marcell.


*


*


*


"Makanlah setelah itu kau harus minum obat" Dion meletakkan nampan berisi makanan itu di atas nakas sebelah ranjang Marcell.


"Apakah di belum kembali" tanya Marcell menatap lurus ke depan.


"Jika yang kau maksud Yasmin, aku belum melihatnya sejak aku menemukan mu di lantai dapur" Dion berbicara layaknya seorang teman, bukan seperti atasan dan bawahan.


"Kau tahu kemana dia pergi?"


"Memang sejak kapan Yasmin pergi?"


"Ini sudah hari ketiga aku tidak melihatnya, bahkan aku tidak bisa menghubunginya" tutur Marcell.


"Memang apa yang kau lakukan sehingga dia pergi meninggalkan mu?"


"Aku juga tidak tahu, semuanya baik-baik saja, dia tidak marah ataupun merajuk, bahkan sebelum dia pergi kami bercinta semalam penuh di kamar ini" ceplos Marcell.


"Ck...ck..." Dion menggelengkan kepalanya. "Yang itu tidak usah kau beritahu kan padaku" Dion menatap kesal pada sahabatnya.


"Aku hanya bicara apa adanya" polosnya.

__ADS_1


"Ya tapi tidak perlu sedetail itu Tuan Regan" dipan benar-benar kesal pada Marcell. "Setahuku Yasmin sangat mencintaimu, tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa alasan yang kuat" tutur Dion.


"Sudah ku katakan, aku tidak membuat nya marah" kekeh Marcell.


"Lalu pertunangan mu dengan Laura? kau yakin Yasmin tidak marah? kau yakin Yasmin pergi bukan gara-gara itu?" Dion menatap remeh pada Marcell.


"Aku sudah membicarakan nya dengan Yasmin" yakin Marcell.


"Lalu apa pendapat nya?"


"Yasmin tidak akan marah padaku, dia bilang tidak punya hak untuk.


marah padaku, hubungan kami terjadi atas dasar suka sama suka, tidak ada paksaan dan ikatan, Yasmin juga tidak keberatan jika aku bertunangan dengan Laura, dan Yasmin berjanji tidak akan meninggalkan aku hanya karena aku sudah bertunangan dengan wanita lain" jelas Marcell panjang lebar.


"Aku yakin kau pasti sudah gila" gumam Dion tapi Marcell mendengar nya.


"Apa kau bilang?"


"Kau sudah tidak waras Marcell" serunya dengan jelas.


"Beraninya kau" Marcell menatap tajam Dion.


"Bagaimana kau bisa tidak tahu kalau Yasmine marah padamu? Yasmin itu sangat mencintaimu, dia marah dan sakit hati mendengar kau akan bertunangan dengan wanita lain, hingga dia pergi darimu, aku yakin itu" ucap Dion.


"Bagaimana kau seyakin itu?" Marcell menjadi cengo.


"Ck...ck..." Dion berdecak heran. "Jika kau mencintai seorang wanita dengan sangat, lalu wanita itu akan bertunangan dengan pria lain, apakah kau tidak akan marah? kau yakin tidak akan sakit hati? kau bisa melihat wanita yang sangat kau cintai itu bertunangan dengan pria lain?" penuturan Dion membuat Marcell bungkam, Marcell kini seolah tersadar telah melakukan kesalahan besar.


"Kau benar juga" lirih Marcell.


"Sudahlah biarkan Yasmin pergi, toh hubungan kalian atas dasar suka sama suka, tidak ada ikatan dan kau juga tidak mencintai nya bukan?"


"Tapi aku terbiasa dengan Yasmin" ucap Marcell.


"Itu hanya masalah waktu, nanti kau juga akan terbiasa tanpanya. Biarkan dia pergi mencari kebahagiaan nya, mencari pria yang bisa mencintai nya dengan tulus, biarkan Yasmin hidup bahagia. Karena aku yakin Yasmin sudah banyak menderita dan sakit hati ketika bersamamu" Dion melirik Marcell.


"Kau ini sok tahu sekali, Yasmin tidak semenderita itu ketika bersamaku, dia sangat bahagia. Apalagi ketika berada di bawah Kungkungan ku, dia sangat bahagia mende sahkan namaku" bangga Marcell mematahkan apa yang di ucapkan Dion.


"Kau memang benar-benar sudah gila" Dion keluar dari kamar Marcell, sebab berbicara terlalu lama dengan Marcell akan membuatnya menjadi tidak waras dan Dion tidak mau itu terjadi.


*


*


*


*


*

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2