
Pukul 07.30 waktu Amsterdam, pesawat yang di tumpangi oleh Bramantyo Sanjaya itu Lending dengan sempurna di Schiphol Internasional Airport Amsterdam, setelah lebih dari dua puluh empat jam mengudara karena Bramantyo mengambil rute yang mengharuskan beberapa kali transit serta mendapat bonus Delay yang lumayan lama.
Pria paruh baya itu langsung menuju kota Leiden tempat dimana mantan istrinya itu menetap. Menurut pengamatan anak buah nya, siang ini Bramantyo ada kesempatan untuk menemui Marrisa karena wanita itu akan mengadakan sebuah acara amal untuk anak-anak, wanita dan orang-orang penyintas kanker. Sebagai istri pengusaha terkenal tentu saja harus memiliki citra baik, untuk mengimbangi kesuksesan sang suami. Namun Marrisa memilih mengikuti acara amal untuk membantu sesama dan tidak membuatnya sering keluar rumah, karena Marrisa ingin fokus mengurus anak dan suaminya.
"Kau sudah pastikan married akan hadir di acara itu?" tanya Bram pada anak buahnya.
"Ya Tuan, Nyonya Marrisa selalu hadir di acara amal itu, karena itu satu-satunya kegiatan yang beliau lakukan di luar rumah" Jawabnya.
"Baiklah, kita langsung menuju ke tempat acara itu di selenggarakan" ucap nya.
"Apa Tuan tidak lelah? acara itu di mulai pukul dua siang, dan ini masih pukul delapan. tuan bisa istirahat dulu jika lelah" saran salah satu dari mereka.
"Yang di katakan Bobi itu benar Tuan, anda sebaiknya istirahat dulu" sahut yang satunya.
"Baiklah, pastikan kalian cari hotel yang dekat dengan lokasi itu" perintah nya, karena Bram pun juga perlu mengistirahatkan tubuhnya.
"Anda jangan khawatir Tuan, hal itu sudah kami perkenalkan" jawab Bobi.
*
*
*
"Kau akan pergi ke acara amal itu honey" ucap seorang pria memeluk erat istrinya.
"Kita sudah membicarakan ini Albert" sang istri tampak bahagia karena suaminya begitu mencintai nya.
"Lalu bagaimana denganku?"
"Apa maksudnya? kau sudah dewasa Albert, bahkan kau ini sudah tua karena sudah memiliki Richard" mengingat kan sang suami.
"Aku masih muda Marrisa, apakah kau mau aku membuktikan nya?"
"Tidak perlu, aku sudah membuktikan nya"
"Bagaimana kabar putrimu itu?" Albert memeluk posesif Marrisa, pasangan paruh baya itu selalu romantis dan mesra layaknya pasangan muda.
"Entahlah, aku tidak pernah menghubungi nya, tapi dari ceritanya dia hidup dengan baik bersama ayah dan ibu tirinya" tuturnya.
"Kau tidak merindukan nya?"
"Kau ini bicara apa? tentu saja aku merindukan nya, aku yang mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan nya bertaruh nyawa, bagaimana mungkin aku tidak merindukan nya?"
"Tapi kau tidak pernah menemui nya sayang"
"Aku hanya tidak ingin bertemu dengan ayahnya"
"Kau masih mencintai Bram?"
__ADS_1
"Apa aku ini gila? tentu saja tidak, hanya saja Bram adalah orang pertama yang membuat luka terdalam di hatiku, tak semudah itu aku melupakan sakitnya" tuturnya.
"Aku cemburu sayang"
"Kau tidak perlu cemburu Albert, hati dan jiwa raga ku ini hanya milikmu"
"Apakah kau masih mengirimkan uang bulanan untuk putrimu?"
"Ya, masih ku lakukan sesuai perintah mu. Apakah kau akan menghentikan nya?"
"Tidak, dia juga putriku sama seperti Richard" santainya.
"Terimakasih kau sudah menerima Yasmin, meskipun kau belum pernah berjumpa dengannya" Marrisa memeluk suaminya.
"Sayang sekali saat itu aku tidak di rumah, saat dia Berlin kemari" sesalnya.
"Suatu saat kalian pasti bisa bertemu" ucap Marrisa yang juga menyesal karena saat itu tidak meminta Yasmin untuk tinggal di mansion nya.
"Kau tidak punya nomor ponsel nya?"
"Tidak, dia mengganti nomernya dan tidak menghubungi ku" ucapnya.
"Apakah terjadi sesuatu dengannya?"
"Bagaimana mungkin, ayahnya sangat mencintainya, dia pasti baik-baik saja" tuturnya.
"Kau yakin?"
*
*
*
Setelah acara penggalangan dana selesai, Marrisa Andini wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, bahkan penampilan nya semakin modis dan membuatnya terlihat lebih muda dari usianya, wanita yang dulu tidak di inginkan oleh suaminya, kini menjadi idola di kalangan circle nya, selalu menginspirasi dan memotivasi bagi teman-teman nya, sikapnya yang supel dan kerendahan hatinya membuatnya di segani, terlebih mengingat siapa suaminya. Albert Tholense dialah pengusaha yang menggeluti bisnis berlian di kancah internasional.
"Marrisa" suara itu mengehentikan langkah kaki wanita cantik itu dan membawa ingatan nya pada masa enam belas tahun yang lalu, ya terakhir mendengar suara itu adalah enam belas tahun yang lalu ketika ia merasa sangat tersakiti.
"Bram" gumamnya, melihat ke arah suara itu berasal. ya dialah Bramantyo Sanjaya pria yang pernah memporak porandakan hati nya, membuatnya merasa menjadi wanita tak berharga, sosok itu berdiri tegap dan gagah di depan nya.
"Ya, ini aku. Bisa kita bicara sebentar?" Bram mendekati Marrisa.
"Aku tidak bisa, pergilah" Marrisa melanjutkan langkahnya namun terhenti saat mendengar nama putrinya.
"Ini tentang Yasmin, tolonglah" Bram memohon.
"Ada apa dengan Yasmin?"
"Kita bicara di kafe itu" ajaknya, dan di ikuti oleh Marrisa.
__ADS_1
"Katakan ada apa dengan Yasmin?" ucapnya setelah duduk di sebuah kafe.
"Ini yang ingin aku tanyakan padamu, katakan padaku dimana dia sekarang?" tanyanya.
"Apa maksudnya? kau menanyakan Yasmin padaku? serius? kau bercanda Bram?" Marrisa tidak menyangka mantan suaminya akan bertanya seperti itu.
"Aku tahu aku salah, saat itu Yasmin pamit padaku untuk mengunjungi mu, dan dia mengatakan akan tinggal bersamamu jika ia betah hin..."
"Apa maksudnya ini?"
"Aku kemari karena ingin mencari Yasmin"
"Kau gila?" serunya.
"Aku tahu aku salah karena telah mengabaikan nya selama bertahun-tahun, tapi ak.."
"Apa yang kau lakukan pada ya?" Marrisa menatap tajam mantan suaminya itu.
"Hufff..." Bram tak tahu harus berkata apa. "Maafkan aku Marrisa, aku tidak merawat Yasmin dengan baik, aku mengabaikan nya, hingga saat memasuki bangku SMA Yasmin memilih keluar dari rumahku dan hidup sendirian, aku tak bisa berbuat apa-apa karena saat itu Hana mengancam akan meninggalkan ku bersama kedua anaknya jika aku dekat dengan Yasmin dan.."
Byurrrrrrrr
"Brengsek" Marrisa menyiram Bram dengan minum yang di pesannya. "Ternyata selain suami yang tak bertanggung jawab, kau juga ayah yang tak bertanggung jawab, kau pria yang menjijikkan Bram" serunya dengan berurai air mata.
"Maaf" lirihnya.
"Kau tahu apa yang Yasmin katakan saat menemui ku?" Marrisa mengingat percakapan dengan putrinya. "Dia bilang kau sangat menyayangi nya, kau selalu mengurusnya dengan baik, bahkan kau mempercayakan satu proyek untuk di tangani Yasmin yang membuatnya terbang ke Amsterdam, dia meminta ku untuk maafkan mu" Marrisa menjeda ucapannya. "Ternyata itu semua hanya karangan indahnya, putriku sendirian selama ini hiks..hiks...dan sekarang kau tak tahu dia ada dimana?" bentak ya menarik perhatian pengunjung lain.
"Maafkan aku" Bram hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Jika kau tak mampu mengurusnya kenapa tidak menyerahkannya padaku? kau menghancurkan hati istri mu, dan kini menjadi mantan istri. tapi kau menghancurkan hati putrimu, apakah dia juga akan menjadi mantan putrimu?" emosi Marrisa tak terkendali.
"Aku berniat menebus semua kesalahanku padanya"
"Dan kau pikir semudah itu? dengan kata MAAF lalu semuanya selesai? luka dan duka yang kau berikan padanya akan hilang? kau adalah ayahnya Bram, kau cinta pertama bagi putrimu, kau adalah sosok yang ia cari dalam mencari pendamping hidupnya. Tapi apa yang kau lakukan padanya? kau bahkan membuatnya terluka lebih parah dari yang aku rasakan" geramnya.
"Maaf" cicitnya.
"Simpan maaf mu itu, karena aku sangat yakin kata maaf itu tidak akan berguna" Marissa menangis tergugu membayangkan putrinya berjuang sendiri luar sana, tanpa perlindungan ayahnya, tanpa bimbingan ibunya, bagaimana jika ia salah jalan? bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya? siapa yang akan menolongnya dan membantu nya, apakah ada orang lain yang mau mengulurkan tangannya saat orang tuanya sendiri tidak perduli padanya?
*
*
*
*
*
__ADS_1
TBC 🌺