
🌺Two years later🌺
Yasmin menikmati kehidupan nya di negara seribu sungai itu, Yasmin bukan lagi wanita karir yang bekerja di kantoran. Ia hanya membantu Jennie di toko bunga yang dua tahun belakangan ini baru di buka olah wanita paruh baya itu untuk mengisi kekosongan hidupnya.
Yasmin dalam perjalanan menjemput putranya di sebuah tempat penitipan anak, sebenarnya bisa saja Yasmin mengasuh Aiden seharian, tapi kasihan Aiden yang tidak punya teman bermain seusia nya. Karena memang tidak ada anak tetangga yang bermain di rumah tetangga lainya, kecuali di taman, play ground, atau tempat penitipan anak seperti yang Yasmin tuju ini.
Sebagai seorang ibu, Yasmin ingin putranya bisa bersosialisasi dengan lingkungan, tidak takut bertemu orang baru, mudah bergaul dan bisa berinteraksi dengan banyak orang. Yasmin tidak ingin putranya menjadi seperti dirinya yang terkesan membatasi diri dengan lingkungan meskipun tertutup dengan sikap supel yang selama ini ia tunjukkan.
"Hai boy, miss you" Yasmin menyambut putranya dengan pelukan hangat, naluri keibuan nya benar-benar keluar dan tercurahkan pada buah hatinya.
"Mom stop it" ucap Aiden melepaskan diri dari pelukan Yasmin.
"Why?" Yasmin tak mengerti kenapa putra tiba-tiba bersikap seperti itu.
"Aiden sudah besar Mom, jangan memperlakukan Aiden seperti anak kecil" protes bocah yang belum genap berusia empat tahun itu.
"What?" Yasmin di buat tak percaya dengan pernyataan putranya itu. "Sayang, kau ini masih termasuk balita" Yasmin mengingatkan.
"Aku tahu itu, tapi aku ini balita yang luar biasa. Jika Mommy seperti ini, maka teman-teman wanita ku tidak akan mau berteman denganku lagi nanti" tuturnya melirik kesana kemari melihat banyak anak seusianya yang juga di jemput orang tua mereka.
"Oh ya ampun Aiden" gemas Yasmin mencubit manja kedua pipi putih putranya itu.
"Mom, please. Lihat mereka semua menertawakan ku" Aiden menepis tangan Yasmin.
"Baiklah" Yasmin tersenyum geli melihat tingkah putranya itu. "Ayo kita pulang" Yasmin mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan mungil pria kecil itu.
*
*
*
Yasmin menemani Aiden di kamarnya, seperti biasa ibu dan anak itu akan berbincang ringan sebelum tidur. Mereka membicarakan semua hal, hingga hal-hal yang tak masuk akal, karena putranya itu sangat kritis terhadap semua hal, banyak sekali pertanyaan Aiden yang tidak bisa Yasmin jawab, dan terpaksa Yasmin mengalihkannya ke hal yang lain. Sepertinya memang benar jika Aiden adalah balita yang luar biasa.
"Jadi kau belajar apa tadi?" tanya Yasmin, ia berbaring di samping putranya dan mengelus-elus kepalanya.
"Tidak banyak, hanya menanam blueberry, dan menyemai strawberry, menyiram tanaman yang lainya, bermain dan menyusun puzzle" tutur Aiden.
"Itu banyak sayang, kau menyukainya?" Yasmin memberikan kecupan di kening Aiden.
"Ya aku suka di sana, karena banyak teman dan Miss nya sangat baik" ungkapnya. "Mom, Tannie melahirkan empat ekor kitten" ceritanya.
"Benarkah? wah hebat sekali Tannie" puji Yasmin pada seekor kucing yang ada di tempat penitipan anaknya.
"Ya Tannie hebat seperti Mommy" tutur Aiden.
__ADS_1
"Jadi Mommy mu yang cantik ini sama seperti kucing begitu?" Yasmin pura-pura merajuk.
"Bukan itu maksud Aiden, Tannie melahirkan sendirian tanpa di dampingi oleh suaminya. Dan kata Miss Anne Tannie juga akan membesar kitten itu sendirian, sama seperti Mommy yang melahirkan dan membesarkan ku sendirian" tuturnya membuat Yasmin tertegun menatap sendu wajah tampan putranya.
"Menurut mu begitu? apakah Mommy sehebat itu?" tanya Yasmin.
"Of course Mom, you are the best Mommy" puji Aiden mencium kedua pipi Yasmin.
"Kau membuat Mommy menangis sayang" tutur Yasmin yang memang menitikkan air matanya.
"Mom, bolehkah Aiden bertanya tentang Daddy?" lirih Aiden. Dan di angguki Yasmin, sebab tidak mungkin Yasmin terus-menerus menyembunyikan tentang keberadaan Marcell, dan Aiden juga pasti semakin ingin banyak tahu mengingat anak itu sangat cerdas.
"Apa yang ingin kau tahu?" Yasmin menatap intens putranya.
"Apakah Daddy orang yang baik?" Aiden menatap Yasmin.
"Tentu Daddy orang baik, jika tidak baik maka Mommy tidak akan mau dengan Daddy mu itu" tutur Yasmin, tersenyum mengingat pertama kali bertemu dengan Marcell.
"Apakah Mommy sangat mencintai Daddy?"
"Kenapa bertanya begitu?"
"Uncle Arthur yang mengatakan nya, maka nya uncle Arthur tidak bisa menjadi Daddy Aiden" ucap Aiden.
"Dasar Arthur" gumam Yasmin. "Ya Mommy sangat mencintai Daddy, selalu selamanya dan akan tetap mencintai Daddy" jawab Yasmin.
Deg....
Yasmin membeku mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut mungil putranya itu.
"Mommy tidak tahu sayang, kan kita tidak bisa melihat isi hati orang lain?" jawab Yasmin realistis, padahal ia sangat tahu jika Marcell tidak pernah mencintainya.
"Benar juga" ucap Aiden mencerna kalimat Yasmin menggunakan logikanya.
"Jadi, kapan Daddy akan datang Mom?"
"Jika Daddy sudah ingat jalan pulang" sahut Yasmin.
"Kenapa Daddy payah sekali? Daddy pergi bekerja hingga lupa jalan pulang" gerutu Aiden kesal mendengar karangan cerita Yasmin, jika Daddy nya pergi bekerja tapi lupa jalan pulang, sehingga sampai sekarang ia belum bisa bertemu dengan Daddy nya.
"Daddy sibuk mencari banyak uang untuk mu sayang" tutur Yasmin.
"Bolehkah aku marah pada Daddy Mom?"
"No, seorang anak tidak boleh marah pada orang tuanya" ucap Yasmin. "Lagi pula Daddy tidak bersalah jika sampai sekarang belum bisa menemukan kita, karena Daddy sedang bekerja untuk kita juga" bohong Yasmin, karena menurutnya sangat tidak mungkin jika Marcell mencarinya.
__ADS_1
"Apakah aku boleh menghukum Daddy jika Daddy sudah datang?"
"Hukum? kau mau menghukum Daddy seperti apa?"
"Ini urusan pria Mom, Mommy tidak perlu tahu, tapi cukup izinkan Aiden untuk menghukum Daddy" ucap Aiden seperti pria dewasa saja.
"Baiklah, kau bisa menghukum Daddy, tapi jangan terlalu keras, atau Daddy akan pergi lagi" tutur Yasmin. memeluk erat putranya.
"Itu tidak akan terjadi" sahut Aiden yakin dengan hukuman yang akan di berikan pada Daddy nya. "Mom, seperti apakah wajah Daddy? apakah mommy tidak punya foto Daddy?" tanyanya.
"Mommy tidak menyimpan foto Daddy mu, karena Mommy menyimpan nya salah hati. Tapi Daddy adalah pria yang sangat tampan" tutur Yasmin yang tidak pernah menunjukkan wajah Marcell pada Aiden.
"Benarkah? setampan apa?" Aiden penasaran.
"Setampan dirimu sayang" ucap Yasmin membelai wajah putra.
"Apakah itu benar? tanyanya dan di angguki Yasmin.
"Lalu siapa nama Daddy?"
"Untuk apa kau tanyakan itu?"
"Aku ingin tahu Mom, setidaknya aku bisa menyebutkan namanya di hadapan teman-teman ku" lirihnya.
"Nama Daddy mu, Regan" tutur Yasmin.
"Nama yang bagus, sepertinya Daddy memang tampan seperti ku" ucap Aiden sombong persis seperti Marcell.
"Tentu, tapi kau yang mirip dengan Daddy mu, bukan Daddy yang mirip denganmu" sahut Yasmin tersenyum.
"Apakah nanti Daddy akan mengenaliku Mom?" tanyanya.
"Jika Daddy tidak mengenalimu, maka kau lah yang akan mengenali Daddy" sahut Yasmin.
"Bagaimana cara nya? aku bahkan belum tahu bentuk hidung Daddy" tuturnya.
"Karena kau adalah putra Daddy yang pintar, jadi kau akan tahu, dan hatimu pasti akan mengatakan jika dia itu Daddy mu" ucap Yasmin penuh kelembutan meskipun entah kapan Aiden bisa bertemu dengan Marcell, Yasmin tidak tahu. Tapi Yasmin berharap jika suatu saat Aiden benar-benar bisa mengenali Marcell sebagai ayahnya kapanpun dan di manapun itu, dan semoga saja Marcell bisa berbesar hati menerima Aiden sebagai putranya.
*
*
*
*
__ADS_1
*
TBC 🌺