
Sudah beberapa hari ini Marcell uring-uringan marah tak jelas, semua pegawai kantor pun kena imbasnya. Sejak Yasmin tak bisa di hubungi, kerjanya pun menjadi kacau meskipun Nadya dan Dion menghandle dengan baik.
Entah apa yang di rasakan Marcell, sepertinya pria itu sangat bergantung dengan keberadaan Yasmin baik di kantor, di rumah, juga di ranjang. Tidak tahu bagaimana nasibnya nanti jika Yasmin mengambil keputusan untuk benar-benar meninggalkan nya, sebab memberi kepastian pun tidak bisa Marcell lakukan.
Tap...tap...tap...
suara langkah kaki high heels beradu dengan keramik lantai keluar dari lift begitu menggema di ruangan yang sepi ini.
"Bu Yasmin" sapa Nadya merasa lega juga senang karena atasannya ke kantor.
"Ada apa? kau seperti mendapatkan lotre saja" melihat aura bahagia di wajah asisten nya.
"Ini lebih besar dari sebuah lotre Bu, untung saja Ibu Yasmin datang, sebab sejak Bu Yasmin tidak ke kantor Tuan Regan selalu marah-marah, bahkan divisi keuangan dan divisi marketing tak luput dari amarah nya" cerita Nadya. Menghampiri Yasmin di mejanya.
"Apakah dia sudah datang? Emm... maksud ku Tuan Regan?"
"Sudah Bu, bahkan beliau datang sebelum saya datang tadi, dan sudah beberapa kali
orang pantry keluar masuk membawa pesanan Tuan Regan tapi selalu salah" lapor Nadya.
"Baiklah, kau bisa kembali ke tempat mu. Apakah kau mengerjakan semua sesuai arahan ku?"
"Tentu Bu. Ibu bisa memeriksa nya"
"Tidak perlu, saya percaya kau bisa di andalkan" yakin Yasmin.
"Terimakasih atas kepercayaan Ibu, saya permisi" Nadya kembali ke meja kerjanya, dan kembali bergelut dengan lembaran kertas yang menumpuk.
Yasmin menatap pintu ruangan Marcell, menimbang-nimbang untuk menemui Marcell atau tidak. Namun kakinya melangkah begitu saja ke arah ruangan Marcell.
Tok...tok...tok...
Yasmin mengetuk pintu itu sebelum membukanya.
Ceklek...
suara pintu terbuka sebelum ada perintah masuk dari dalam membuat sang penghuni ruangan menatap tajam ke arah pintu.
Namun setelah mengetahui siapa yang datang aura suram itu menguap pergi begitu saja.
"Yas.... kau kemana saja?" Marcell menghampiri Yasmin dan langsung memeluknya.
"Ada apa?"
"Ada apa? apa maksudnya ada apa?" Marcell menatap tak percaya pada Yasmin yang terkesan biasa saja padahal beberapa hari tidak berjumpa.
__ADS_1
"Nadya bilang kau memarahi beberapa staf divisi, kenapa?" Yasmin bicara santai.
"Oh... mereka saja yang tidak becus bekerja, aku bisa apa selain memarahi nya?" kilah Marcell tentang masalah sepele yang di buat bawahannya.
"O...baiklah kalau begitu aku akan kembali ke ruangan ku" Yasmin mengurai pelukan Marcell.
"Yas kau tidak merindukan ku?"
"Tidak" Yasmin memutar tubuhku namun tertahan oleh Marcell.
"Tapi aku sangat merindukanmu Yas, kau kemana saja beberapa hari ini tak mengabari ku?" Marcell menarik Yasmin duduk di sofa.
"Aku hanya lelah dengan gunungan kertas yang ada di mejaku, jadi aku memutuskan untuk berlibur sejenak. Karena kau tak pernah memberikan hari libur untuk ku" keluh Yasmin.
"Hei bagaimana bisa kau bicara seperti itu? setiap weekend kita selalu di apartment dan menghabiskan waktu bersama, aku juga tidak memberikan selembar kertas pun padamu" Marcell tak terima dengan tuduhan Yasmin.
"Ya kita di dalam Apartment menghabiskan waktu bersama, tapi kau selalu membuatku bermain kamasutra denganmu, dan ya kau tak memberikan selembar kertas untuk ku tapi kau juga tak membiarkan selembar kain menutup tubuhku, jadi singkatnya kau tak pernah memberikan ku istirahat dengan tenang Tuan Regan" kesal Yasmin.
"Benar juga. Tapi sekarang kau sudah selesai berlibur kan?"
"Kenapa?"
"Aku rindu bermain kamasutra dengan mu Yas, ayolah kita hampir satu minggu tidak melakukan nya" bujuk Marcell.
"Sudah ku duga. Maaf Tuan Regan hari ini pekerjaan saya banyak dan saya tidak bisa membuang waktu lagi setelah kembali dari berlibur" Yasmin hendak bangkit namun Marcell menahannya.
"Aku tidak menerima penolakan Yas dan aku sudah sangat lama menahannya" Marcell mencondongkan tubuhnya pada Yasmin.
"Marcell ini di kantor dan masih pagi" Yasmin mencoba mengingat kan Marcell.
"Who cares" ucap Marcell, lalu membawa Yasmin masuk kedalam kamar pribadinya yang ada di balik lemari buku.
"Kau terlihat semakin seksi Yas" ucap Marcell di sela kegiatan panasnya.
"Kau tak suka?" Yasmin memandang Marcell yang kini menguasai nya.
"Aku tidak pernah tidak menyukaimu, dan favorit ku ini terasa lebih kencang" Marcell bermain di tempat favorit. membuat Yasmin mengeluh nikmat.
"Kenapa pintu ruangan Tuan Regan terkunci?" Dion menatap heran di depan pintu Boss nya.
"Tuan Dion, apakah Tuan melihat Bu Yasmin?" Nadya berada di belakang Dion tiba-tiba. Atau Dion yang tak menyadari langkah wanita itu.
"Apakah Nona Yasmin sudah kembali bekerja?" Dion belum melihat Yasmin.
"Ya, Bu Yasmin datang sekitar pukul 08.40 tadi, tapi tiba-tiba saja menghilang. padahal ini masih jam 10.50 kemana perginya ya?" heran Nadya karena Yasmin tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
"Pantas saja pintunya di kunci. rupanya mereka sedang bekerja keras mendaki puncak nirwana. Dasar tak tahu waktu, aku harus mengatakan apa pada Tuan Robert?" gerutu Dion dalam hati, yang sudah bisa menebak apa kini di lakukan oleh Boss nya.
"Nona Yasmin pasti ada keperluan yang mendesak dan tidak bisa di tunda, nanti siang pasti kembali" ujar Dion.
"Tapi Tuan, tas dan ponsel Bu Yasmin ada di meja kerjanya. jika memang ada pekerjaan penting pasti akan membutuhkan tas dan ponsel nya kan?" Nadya sempat memeriksa tas Yasmin yang ada di atas meja.
"Tentu saja nona tidak membawa benda tak berguna itu, bahkan nona Yasmin kini tak membutuhkan selembar kain pun" gumam Dion dalam hati.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, kembalilah ke ruanganmu" perintah Dion.
berlalu pergi. "Kini aku harus menyiapkan baju ganti untuk dua anak manusia yang sedang mabuk kenikmatan" gerutu Dion, dan menggelengkan kepalanya, meratapi nasibnya yang sampai sekarang belum tahu rasanya terbang ke nirwana.
"Terimakasih Yas" ucap Marcell memeluk Yasmin setelah mencapai puncak beberapa kali.
"Hem... kau membuatku kelelahan" malas Yasmin karena Marcell menghajarnya hampir tiga jam.
"Ini hanya pembukaan Yas, nanti malam kita masuk ke permainan inti" Marcell bangkit menuju kamar mandi.
"Apa kau sudah gila?" Yasmin kurang setuju dengan rencana Marcell.
"I'm not crazy honey, I'm a normal guy" sahut Marcell menutup pintu kamar mandi.
"Baiklah, aku akan tidur seharian ini, aku tidak akan pergi dengan timpal kerja yang semakin menggunung di mejaku" Yasmin menutup tubuhnya dengan selimut.
Tok..tok...tok...
Ceklek...
Dion masuk kedalam ruangan Boss nya dengan menenteng dua paper bag di tangannya sesuai perkiraan nya tadi, Dion sudah menyiapkan sebelum Marcell memerintahkan nya.
"Kau cepat sekali Dion" ucap Marcell yang hanya mengenakan lilitan handuk di pinggang nya.
"Anda sudah di tunggu Tuan Robert, Tuan" sahutnya. memberikan kedua paper bag itu pada Boss nya.
"Ada apa?"
"Sepertinya akan ada pembahasan penting, sebab beberapa dewan komisaris juga datang" jelasnya.
"Baiklah, 10 menit lagi saya sampai" ucap Marcell kembali masuk kedalam kamar pribadinya.
Di lihatnya Yasmin masih tidur karena kelelahan akan ulahnya, Marcell pun membiarkan wanita itu menyelami alam mimpinya setelah meletakkan satu paper bag yang berisi pakaian untuk Yasmin.
Lalu pergi menemui sang CEO dari Regananta Group itu, Entah ada pembahasan apa hingga Tuan Robert mengundang nya dan beberapa dewan komisaris.
TBC 🌺
__ADS_1